
"Harusnya aku faham,harusnya aku menyadari,sepanjang 10 tahun hubungan ini,tak pernah ada aku dihatimu,Mas." Ujar Nara dengan deraian air mata yang tak berhenti sejak tadi.
"Ra_
" Cukup!!aku tak ingin mendengarkan apapun lagi dari mulutmu. Aku tak membutuhkannya, karena aku tahu,semuanya hanyalah kalimat penghibur untuk luka ini, tak ada kejujuran disetiap kata yang kamu keluarkan,Mas. Tak ada, bahkan sepanjang ikatan pernikahan ini. Aku tak tau, aku yang terlalu bodoh karena cinta ini, atau memang kamu yang terlalu pandai menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya." ucap Nara cepat sebelum Fatih -suaminya- bicara.
" Ayo kita beri jeda hubungan ini,Mas. Agar masing-masing kita bisa memahami apa yang hati kita inginkan." Sambung Nara lagi dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.
Fatih membeku,menatap lekat punggung sang istri yang berdiri membelakanginya sejak awal perdebatan itu terjadi.
Sementara Nara masih betah berdiri membelakangi suaminya, menatap lurus langit senja yang mulai merintikkan hujan seakan ikut merasakan perih dan sesak yg ia rasakan.
"Jangan begini,Ra. Aku menyayangimu, dari dulu hingga saat ini, aku selalu menyayangimu." ucap Fatih lirih,memutuskan hening yang tercipta diantara mereka beberapa detik yang lalu.
Nara berdecih, membalikkan badan menatap suaminya dengan sorot mata terluka. Ah,sialnya air mata itu seakan tak habis-habis meski berulang kali ia hapus dengan punggung tangannya.
"Sayang yang bagaimana,Mas? jika sayang tak akan pernah menyakiti. Jika sayang,akan selalu menghargai dan memahami."
Nara menghela nafas panjang menatap suaminya yang berdiri tertunduk di depannya.
__ADS_1
Jarak mereka memang terlalu jauh, ia yang selalu berusaha memahami dan menjaga perasaan Fatih, ia yang senantiasa mengalah berkali kali meski tak dipungkiri sering pula dilukai.
Nara mendesah seraya menyisir surai hitam sebahunya. Hubungan ini baru terasa rumit, padahal sudah berjalan 10 tahun lamanya.
Andai saja siang tadi mereka tak berpapasan dengan wanita masa lalu sang suami, ia takkan sadar, atau mungkin belum ingin sadar, jika sesungguhnya tak pernah ada ia di hati suaminya.
Nara melangkah perlahan, mendudukkan diri di tepian ranjang, rasa sesak karena kecewa itu ternyata tak hanya menyakiti hatinya, tapi juga membuat lelah fisiknya. Padahal ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri, tak akan menangis lagi jika seandainya sang suami kembali bermain api,mencoba mengkhianati seperti yang pernah suaminya itu coba lakukan dua tahun yang lalu.
Fatih mengangkat wajahnya perlahan,menatap sang istri yang kini berantakan. Ada rasa nyeri di sudut hatinya ketika melihat tetesan air mata dari sudut mata istrinya.
Dia sendiri bingung menyikapi suasana rumit ini, bahkan meski untuk memahami hatinya sendiri. Tapi, ia merasa tak mampu jika harus memberi jeda seperti yang istrinya inginkan, ia takkan sanggup jika harus menahan diri jauh dari kedua putranya.
"Ra_
" Berhenti disitu,Mas. Jangan sentuh aku. Aku juga lelah berdebat terus dari tadi. Ku mohon, sebaiknya kita saling memberi waktu. Pergilah bersihkan dirimu di kamar tamu. Jika lapar, kamu bisa memesan secara online, aku capek." Ujar Nara seraya menatap suaminya.
Ah, sakit itu semakin menjadi saat matanya bersitatap dengan mata Fatih. Kilasan kejadian siang tadi kembali terbayang, saat dengan tak tahu malunya mantan kekasih sang suami menyapa sambil memeluk suaminya itu.
Nara muak, luka itu kembali terasa seperti ditekan lebih dalam, sehingga semakin menimbulkan nyeri di hatinya.
__ADS_1
"Pergilah,Mas, kumohon. Masing-masing kita perlu istirahat dari perdebatan ini." katanya sambil memalingkan wajah kembali menatap rintik hujan yang semakin deras di balik jendela kamar itu.
Fatih menghela nafas panjang sebelum melangkah menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian dan handuk bersih sebelum beranjak keluar dari kamar itu.
Benar kata Nara, mereka butuh istirahat saat ini, pertengkaran yang terjadi hampir dua jam tadi menguras tenaga dan membuat lelah.
Biarlah kali ini ia mengalah, menuruti keinginan sang istri, berharap esok bisa kembali bicara baik-baik.
"Mas keluar,Ra." pamitnya seraya membuka pintu kamar mereka.
Nara tak menyahut,tak pula berniat meski hanya sekedar menatap langkah Fatih yang beranjak keluar dari kamar itu.
Fatih kembali menghela nafas sebelum keluar dari kamar itu sembari menutup pintu.
Nara rebah diatas ranjang, kembali tersedu sambil memukul dadanya, berharap mampu mengurangi rasa sesak yang ada.
"Ya Tuhan, mengapa cinta ini rasanya menyakiti?"gumamnya diantara isak tangis.
Senja beranjak pergi,namun hujan semakin deras. Malam ini takkan ada bintang, seperti perasaan Nara untuk Fatih yang tak lagi sama seperti sebelumnya.
__ADS_1