
"Gimana kerjaannya di luar kota tadi, Mas?" tanya Nara sembari membaringkan tubuhnya menyamping menghadap Fatih yang masih sibuk dengan ponselnya di atas ranjang mereka.
"Semuanya lancar kok, Ra. Tapi masih ada beberapa laporan yang harus diteliti dan ditindaklanjuti lagi." jawab Fatih tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Kamu beneran akan kerja lagi besok?" tanya Nara lagi.
"Iya, menyelesaikan yang tadi, Ra. Kenapa?" Fatih menoleh menatap istrinya yang sejak tadi meneliti wajahnya.
"Enggak. Bener kata Bagas, tumben sabtu minggu kamu masih kerja, selama ini boleh dibilang gak pernah kerja di akhir pekan atau di hari-hari libur. Perusahaan bos mu aman-aman aja kan, Mas?"
"Aman kok. Cuma ada ketidaksamaan laporan di kantor cabang dengan kantor pusat aja." Ujar Fatih lagi sembari menatap ponselnya kembali ketika terasa getaran tanda pesan masuk. Ia sedang meladeni Neva yang merengek bilang rindu dan tak sabar ingin kembali bertemu. Fatih tersenyum dalam hati, wanita itu masih sama seperti dulu, manja dan...menggemaskan.
"Mas.." panggil Nara.
Fatih hanya berdehem menyahuti panggilan istrinya, ia masih terlena dengan rentetan pesan manis yang dikirim oleh sang mantan. Nara kembali merasa nyeri di hatinya, sikap Fatih yang cuek membuat kecurigaannya semakin menjadi.
"Mas !." panggilnya lagi dengan nada meninggi.
"Apa sih Ra?" jawab Fatih sambil menatap istrinya.
" Kamu yang ada apa, Mas. Sikapmu semakin mencurigakan, kamu mengabaikan aku, Mas. Aku bicara sama kamu, tapi kamu setengah hati meladeniku. Aku udah berusaha mati-matian lho Mas buat stabilin emosi aku, buat menepis kecurigaan aku, tapi sikapmu semakin menjadi jadi." Ujar Nara setengah berteriak. Dia bangkit dan menyandarkan kepalanya di ranjang sembari membuang muka, berusaha menahan air mata yang akan berderai seakan tak ada habis habisnya.
__ADS_1
" Aku masih gak nyaman dengan kejadian di minimarket beberapa hari yang lalu, kamu bukannya berusaha meyakinkan aku, menghibur dan mencoba ngusir ketidaknyamanan aku, malah semakin abai sama aku. Kamu kenapa sih Mas?" sambungnya lagi sambil menatap lekat netra hitam milik suaminya.
"Aku biasa aja kok, Ra. Kamu aja yang terbawa dengan kecurigaanmu yang berlebihan itu. Gak usah ungkit-ungkit lagi masalah kemarin, gak usah berlebihan deh Ra." ujar Fatih emosi.
"Aku berlebihan?katamu aku berlebihan? Kamu ngaca deh Mas, sikap kamu yang berubah sejak pertemuan dengan mantan terindah kamu itu, semakin aneh dan acuh sama aku, santai dan terkesan tak peduli dengan dinginnya hubungan kita, kamu fikir istri mana yang gak curiga? Itu..itu dari tadi aku lihat fokus banget sama ponsel, ketak ketik dari tadi entah berbalas pesan dengan orang penting mana sampai-sampai aku di samping kamu,yang berusaha mencairkan kebekuan hubungan kita beberapa hari ini, kamu tanggapi dengan acuh tak acuh." Ujar Nara berapi api sembari berdiri di samping ranjang.
"Sini, aku mau lihat siapa yang dari tadi chat kamu, gak mungkin orang kantor, karena ini akhir minggu, jam istirahat pula. Sini, kasi ponselmu ke aku, aku mau lihat." ujarnya lagi sembari mencoba merebut hp yang ada di tangan Fatih.
"Apaan sih kamu, Ra. Ini privasi aku, kamu gak boleh melewati batas-batas privasi aku meskipun kamu istri aku. Ah, pusing aku lihat kamu, apa-apa selalu curiga, udah aku capek kerja, baru pulang dari luar kota, bukannya dipijitin, malah dibuat emosi." Ucap Fatih semakin emosi sambil bangkit berjalan keluar dari kamar membanting pintu dengan keras.
Nara tergugu, meremas baju di dadanya dengan air mata yang kembali jatuh. Sejak kapan ada privasi diantara mereka, sejak kapan ada batas dalam hubungan rumah tangga mereka. Ia terduduk di pinggir ranjang seraya menangis tersedu.
Adzan subuh yang terdengar dari ponsel di atas nakas berkumandang membangunkan Nara. Ia menatap sekeliling kamar, tak dilihatnya Fatih ada di kamar itu. Semalam, setelah lelah menangis, ia tertidur dan baru terjaga sekarang. Ternyata Fatih tak kembali ke kamar setelah pertengkaran mereka, entah tidur dimana suaminya itu. Biasanya sehebat apa pun mereka bertengkar, meski Fatih meninggalkannya di kamar menangis sendiri, tapi lelaki itu selalu kembali lagi dan tidur di ranjang mereka sambil memeluknya, meski kadang mereka belum berbaikan. Tapi tidak malam tadi, suaminya keluar kamar dan tak menghampirinya lagi.
Air mata kembali mengalir dimatanya yang bengkak akibat menangis semalam, namun bergegas ia usap dengan punggung tangannya dan bangkit menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Selesai sholat, seperti kegiatannya sehari hari, Nara melangkah menuruni tangga menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Saat ia melewati ruang tamu, tampak suaminya tertidur di sofa panjang yang ada di ruang itu. Nara melangkah menghampiri dan menatap lekat wajah damai suaminya yang sedang tertidur pulas itu. Sejenak diliriknya ponsel sang suami yang ada di atas meja disamping sofa. Dengan ragu-ragu ia meraih ponsel itu, namun sebelum sempat ia ambil, terdengar bunyi langkah kaki menuruni tangga, sepertinya anak-anaknya sudah bangun. Nara mengurungkan niatnya dan berbalik melangkah menuju dapur.
"Abang udah sholat?" tanyanya pada anak sulungnya saat mereka berpapasan di ujung tangga.
" Udah, Bun. Adek juga udah, tapi adek baring lagi, katanya masih ngantuk." jawab Bagas.
__ADS_1
"Ohh.. Ya udah, gak apa-apa. Nanti kalau kita udah mau siap-siap pergi marathon, baru dibangunin lagi adeknya. Bunda buat nasi goreng sebentar untuk sarapan nanti ya." ujar Nara sambil meneruskan langkahnya ke dapur.
" Iya, Bun. Eh, kok ayah tidur di sofa Bun?" tanya Bagas menatap Bundanya ketika ia tak sengaja melihat Fatih yang sedang tidur di sofa.
" Ohh.. Ayah semalam teleponan sama teman kantornya, lama, sampai ketiduran di sofa deh ,hehe." jawab Nara asal. "Abang bantuin bunda ambil baju kotor di kamar bunda dong, bawa ke sini ya,biar bunda masukin ke mesin cuci, sekalian baju kotor yang ada di kamar abang ya." titah Nara mengalihkan perhatian Fatih. Ia tahu, anak sulungnya ini tak akan menerima begitu saja alasan yang ia berikan tadi, pasti nanti akan ada pertanyaan lain jika tak segera ia alihkan perhatiannya.
Bagas mengangguk dan kembali menaiki tangga melakukan yang bundanya perintahkan.
Nara menghela nafas panjang, lalu kembali melanjutkan kegiatannya menggoreng nasi.
"Ini baju-baju kotornya Bun." ujar Bagas sembari membawa sekeranjang baju kotor dan meletakkannya di samping mesin cuci yang ada di sudut dapur.
"Iya,letak aja disitu Bang, bentar lagi bunda masukin di mesin cuci." jawab Nara sambil menata semangkok nasi goreng kecap dan sepiring telur dadar diatas meja makan.
"Abang bangunin adek, ajak siap-siap, kita marathon setelah bunda masukin baju-baju kotornya ke mesin cuci." ujarnya lagi seraya melangkah mendekati keranjang baju kotor yang dibawa anaknya tadi untuk diisi ke mesin cucinya.
"Oke Bun," jawab Bagas lalu berlari kembali ke kamar.
Nara memasukkan satu per satu baju-baju kotor ke mesin cuci sembari memeriksa saku-saku baju dan celana. Ia mengernyit ketika melihat kaos yang dipakai suaminya ke luar kota semalam yang sekarang ada di tangannya, mencium baunya dengan dahi berkerut dalam.
'Ini bukan bau parfum mas Fatih. Juga gak mungkin bau parfum bos atau rekan kerjanya yang di kantor cabang itu, ini bau parfum wanita.' gumamnya dengan wajah sedikit pucat sembari meremas kasar baju kotor Fatih yang ada di tangannya itu.
__ADS_1