
Nara mengeringkan tangannya setelah selesai membersihkan piring kotor bekas makan malam mereka tadi.
Bagas dan Bagus sudah masuk kamar mereka setelah makan malam dan bercerita sebentar dengan ayahnya.
Dengan membawa segelas air putih Nara melangkah menuju kamar. Hari ini begitu melelahkan, ia ingin segera merebahkan diri di kamar meski belum tentu bisa terlelap dengan mudah malam ini.
Melewati ruang tamu, ia melihat Fatih masih duduk di sofa dengan mata tertuju pada televisi di depannya, tatapannya kosong,menerawang entah kemana.
Nara pun tak berniat bertanya dan ingin tahu apa yang sedang lelaki itu fikirkan.
Kakinya baru menapak di anak tangga pertama ketika Fatih memanggilnya.
"Kamu udah mau tidur,Ra?baru jam 9,Ra. sini temani Mas nonton dulu."pinta Fatih
" Aku capek,besok harus ke kantor pagi-pagi." jawabnya sambil melengos tak peduli,lalu bergegas menaiki anak tangga menuju kamar.
Fatih menghela nafas pelan, pertemuan tak disengaja antara mereka dengan Neva,sang mantan,ternyata bisa berbuntut panjang seperti ini.
Flashback on
"Mas,mampir di minimarket depan itu sebentar ya, aku mau beli bahan makanan, yang dirumah udah habis kayaknya." ujar Nara ketika mereka di jalan pulang dari kantor.
"Oke,yank." jawab Fatih sambil melirik sekilas ke arah istrinya.
Beberapa menit kemudian,mereka tiba di minimarket yang tadi disebutkan oleh Nara. Suasana didalam minimarket itu cukup ramai,mengingat letaknya yang berada di pusat keramaian,sehingga banyak pengunjung yang berbelanja disana.
Nara memilih dan mengambil barang-barang dan bahan makanan yang ia perlukan dengan ditemani Fatih yang mendorong troli disampingnya. Mereka berbelanja sambil diiringi obrolan santai yang kadang membuat mereka tertawa.
"Fatih!" teriak seorang wanita ketika Nara dan Fatih sedang mengantri di kasir dan ingin membayar belanjaannya.
__ADS_1
Serentak mereka menoleh ke asal suara. Tak jauh dari mereka berada, tampak seorang wanita berdiri sambil mendorong sebuah troli. Wajahnya cantik, rambutnya panjang bergelombang diberi warna.
Belum hilang rasa terkejut Nara dan Fatih, wanita itu sudah berjalan setengah berlari menuju mereka dan langsung memeluk Fatih.
"Fatih, astagaa ini beneran kamu?" ujarnya sambil memeluk Fatih dengan erat.
"Neva?" lirih Fatih tak percaya sembari menatap wajah wanita itu.
Ya,ia adalah Zaneva Andara,mantan kekasih Fatih masa mereka di bangku SMA. Tak hanya Fatih, Naya pun terlihat kaget,ia juga kenal wanita ini,tau tentang hubungan yang pernah terjalin diantara suaminya dan wanita itu di masa lalu.
Neva melonggarkan pelukannya dan menatap Fatih dengan tatapan penuh kerinduan.
"Iya, ini adek,Bang. Adek rindu banget sama Abang." ucapnya sambil terus menatap wajah Fatih.
Fatih terdiam dan tanpa sadar tersenyum ketika mendengar panggilan yang Neva ucapkan untuknya.
"Mbak,itu adik suaminya ya?" tanya seorang pengunjung minimarket yang juga sedang mengantri di kasir itu.
Nara tersadar dan tersenyum kaku melihat wanita paruh baya itu.
"Mbak,ini barang belanjaan dan struknya." ucap kasir minimarket itu.
Nara mengambil barang belanjaannya seraya mengucap terimakasih. Dia melihat ke arah Fatih yang masih betah menatap wanita itu. Mereka tak lagi berpelukan,tapi masih bergenggaman tangan. Nara merasa semakin sakit, kehadirannya seperti terlupakan begitu saja. Air matanya sudah hampir tak bisa ditahan lagi, bergegas ia melangkah keluar minimarket tanpa peduli dengan tatapan beberapa orang pengunjung yang menatapnya aneh.
Sejenak ia berhenti di depan gerbang masuk minimarket lalu memberhentikan taksi yang lewat disitu dan pulang.
"Mas,itu adiknya ya?istri mas gak cocok sama adiknya ya,itu kok dia pulang duluan." ucap perempuan paruh baya yang menegur Nara tadi menghentikan interaksi Fatih dan Neva.
Fatih langsung tersadar dan menoleh ke samping tempat istrinya berdiri tadi. Astaga, dia lupa kalau ada Nara juga disana tadi bersamanya. Matanya berkeliling mencari keberadaan Nara,namun tak ditemuinya. Ia langsung menoleh ke ibu-ibu yang bertanya kepadanya tadi. "Dimana istri saya,Bu?" tanyanya.
__ADS_1
"udah keluar dari tadi,Mas. Dan saya lihat tadi udah naik taksi." jawab si ibu dengan tatapan meneliti.
Fatih gelagapan dan bergegas ingin keluar menyusul istrinya.
"Bang,tunggu sebentar,bang.buru-buru banget,ini juga masih siang Bang." ujar Neva buru-buru mencegah kepergian Fatih.
"sorry, Dek. Abang harus pulang duluan, istri abang pasti salah paham, abang harus segera menyusul dan menjelaskan kepadanya." ucap Fatih sambil melangkah tergesa gesa.
"ya udah, kalau gitu nanti kita lanjut lewat Hp aja ya,Bang. Ada banyak hal yang mau adek ceritakan sama abang. Blokirannya di buka ya Bang, adek tak bisa menghubungi abang lagi sejak dua tahun lalu." ucap Neva sambil menahan tangan Fatih.
Fatih menatap Neva beberapa detik sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Neva tersenyum sumringah dan melepaskan pegangan tangannya di tangan Fatih.
Setelah itu mereka berpisah di depan pintu masuk minimarket.
Flashback off
Fatih kembali mengusap wajahnya seraya menghembuskan nafas kasar. Neva, wanita itu masih cantik seperti dulu, bahkan sekarang bertambah cantik ditambah dengan memakai makeup.
Fatih mengambil Hpnya di atas meja lalu mencari kontak Neva yang telah ia blokir dua tahun lalu sejak komunikasi mereka diketahui oleh Nara.
Ya, dua tahun lalu mereka sempat berkomunikasi, bahkan tak dipungkiri saat itu hatinya pun sempat tergoda kembali dengan Neva. Lama dipandangnya nomor kontak Neva yang ada di list daftar kontak yang diblokir sebelum akhirnya dia menekan tombol unblock. Tak mengapa lah,tak akan terjadi apa-apa lagi juga antara dia dan Neva fikirnya.
Fatih kemudian mematikan televisi dan beranjak masuk ke kamar tamu, untuk malam ini dia tak akan mengganggu Nara dulu. Ia tahu sifat istrinya saat cemburu dan marah. Meskipun ada sedikit rasa takut dan resah disudut hatinya yang masih tak ia ketahui apa sebabnya.
Di kamar utama, Nara berbaring telentang menatap kosong langit-langit kamar. Ada sebuah rasa tak nyaman yang ia rasakan sejak pertemuan sang suami dengan mantan kekasihnya siang tadi. Ia cemburu, tentu saja. Istri mana yang tidak akan cemburu saat melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain di depan matanya, apalagi di tempat umum. Ditambah lagi melihat tatapan Fatih untuk Neva, ah rasanya ia sangat benci menyebut nama wanita itu. Tatapan terpesona dan terlihat penuh......rindu?
Sial, Nara merasa sesak kembali di sudut hatinya,mengingat kembali kalimat Fatih yang begitu enteng menyuruhnya melupakan masalah itu alih-alih meminta maaf karena sempat melupakannya di minimarket siang tadi.
Nara tertawa getir, "ternyata kamu masih tak berubah, Mas. Selalu menganggap sepele setiap masalah yang terjadi diantara kita,meski kamu tahu hal itu telah menyakiti hatiku." gumamnya lirih seiring air mata yang kembali berderai.
__ADS_1