
Kinara sedang berkutat menyelesaikan memasak sarapan di dapur pagi ini ketika Bagas turun ke dapur.
"Pagi,Bun.sarapannya udah siap,Bun?Abang harus datang ke sekolah lebih awal hari ini,karena ada rapat osis sebelum jam masuk nanti." ujar Bagas sambil meletakkan tas sekolahnya di kursi ruang makan itu.
"iya,Bang.ini udah selesai kok.Adek udah selesai bersiap belum?" jawab Nara sembari menyusun hasil masakannya di meja makan. Semangkuk nasi goreng dan beberapa potong ayam goreng bumbu sudah tertata rapi di meja makan. Nara menuangkan susu kotak yang diambilnya dari dalam kulkas ke gelas anak-anaknya.
"Adek udah siap,Bun.tadi udah mau turun juga kok." jawab Bagas sambil melihat sarapan yang disediakan bundanya dengan penuh selera.
"ya sudah, abang sarapan duluan,Bunda ganti baju dan bersiap siap dulu,nanti Bunda antar abang dan adek sekalian bunda ke kantor." tukasnya seraya menyendokkan nasi goreng beserta ayam ke piring anaknya.
"Ayah mana sih,Bun?belum bangun ya?kok tumben,biasanya ayah udah ada di depan sambil memanaskan mobilnya." tanya putra sulungnya lagi.
Nara melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6.45. Biasanya memang Fatih sudah bangun dan rapi dengan pakaian kerjanya jam segini. Tapi Nara belum melihat batang hidung lelaki itu sejak ia bangun memasak setelah sholat subuh tadi.
"Nanti bunda lihat,mungkin ayah masih bersiap siap di kamar.Abang makan dulu ya." jawab Nara sambil bergegas menuju kamar untuk bersiap pergi kerja.
Di bawah tangga dia berpapasan dengan Fatih yang baru keluar dari kamar tamu. Lelaki itu sudah rapi dengan kemeja warna biru muda, dasi navy dan celana bahan berwarna hitam.
Fatih memang masih tergolong muda, usianya baru 37 tahun, beda 3 tahun diatas Nara. Pekerjaannya juga bagus, yaitu sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan elektronik terkenal di kota ini.
"Anak-anak udah siap, Ra?" tanyanya sambil menatap istrinya.
" Hem.." jawab Nara singkat lalu bergegas menaiki tangga menuju kamar untuk berganti pakaian. Ia masih malas berinteraksi berlebihan dengan suaminya itu.
...****************...
Setelah beberapa menit selesai berganti baju dengan setelan kemeja putih dan blazer biru beserta celana panjang dan hijab yang senada dengan blazernya, Nara melangkah menuruni anak tangga menuju dapur.
Mbak sri, ART nya, sudah ada sedang menyapu di ruang tamu.
"Mbak sri udah sarapan?kalau belum,sarapan dulu,Mbak. Nanti baru lanjut bersih-bersihnya." tegur Nara pada ART nya itu.
__ADS_1
"sudah, Bu.tadi sebelum kesini saya udah sarapan dengan anak-anak dirumah." jawabnya.
Mbak sri sudah menikah dan memiliki dua orang anak, suaminya bekerja sebagai satpam di sebuah bank swasta. Rumahnya tak jauh dari komplek tempat tinggal Nara.
"Oke kalau begitu. Kemarin saya ada belanja bahan-bahan dapur, ada daging, ayam dan ikan juga saya simpan di kulkas. Nanti ikannya tolong dimasak balado dan ayamnya di masak kecap saja ya,Mbak." pesan Nara lagi.
"Baik, Bu." jawab Mbak Sri mengerti.
Nara melanjutkan langkah menuju dapur, anak-anaknya tampak sudah selesai sarapan dan baru akan beranjak menuju depan untuk memakai sepatu sekolah.
"Abang dan adek udah selesai sarapan ya, pakai sepatunya, Bunda ambil bekal bunda dulu,baru kita berangkat." ucap Nara pada Bagas dan Bagus.
"Oke,siap Bun." jawab anak-anaknya serentak.
Fatih masih duduk di meja makan menyeruput secangkir kopi sembari memainkan ponsel di tangan kirinya. Kinara bergegas mengambil kotak bekal untuknya yang sudah ia siapkan sebelum merapikan diri tadi. Ia sengaja membawa bekal dan tak berniat untuk sarapan dirumah, rasa kesal dan amarahnya masih tersisa bias-biasnya di dalam hati.
" Kamu gak sarapan dulu, Ra?" tanya Fatih ketika melihat istrinya memasukkan mangkuk bekal ke dalam tas.
"hari ini aku dan anak-anak pakai taksi saja, kamu gak perlu ngantar." sambungnya lagi sambil berlalu.
Fatih menghela nafas tanpa ingin menjawab istrinya. Masih pagi dan dia sedang tak ingin bertengkar.
Tring !
Terdengar notifikasi pesan masuk di ponsel yang ia genggam.
Neva
Nama sang pengirim pesan terpampang jelas di layar ponselnya.
" Pagi,Bang. Adek senang banget bisa wa abang lagi."
__ADS_1
Fatih merasa gugup membaca pesan yang dikirim wanita itu, dadanya berdebar.
"pagi juga, Dek. Udah sarapan?" balasnya.
"udah dong, abang udah sarapan belum? Lagi apa?"
"mau siap-siap berangkat kerja,hari ini ada rapat dengan pimpinan jam 9 pagi." balasnya lagi.
" Oh,semangat kerjanya ya,Bang. ya udah, abang berangkat aja, nanti terlambat."
Fatih menarik senyum lebar membaca kalimat penuh perhatian yang dikirim oleh wanita itu, tak dipungkiri hatinya berbunga bunga.
" oke, Adek mandi gih, pasti belum mandi kan? Abis mandi baru wa lagi." perintahnya dalam pesan yang ia kirim ke wanita itu.
Mereka masih fokus berbalas pesan sebelum akhirnya Fatih melajukan mobilnya berangkat ke kantor.
...****************...
"Tumben sarapan di kantor, tumben juga berangkat pakai taksi. Berantem sama Fatih ya Ra?" tanya Via, rekan kerja Nara.
"Enggak kok,lagi ingin saja." jawabnya cuek sembari terus menyuapkan nasi kemulutnya. Matanya fokus menatap layar komputer yang menampilkan laporan keuangan perusahaan yang harus ia laporkan kepada atasannya nanti.
"Aku kenal kamu lho, Ra. Mana pernah kamu sarapan di kantor dan berangkat pakai taksi selama kita kenal." ujar Via kembali setengah menyelidik.
Nara menghela nafas sambil menatap malas pada rekan kerjanya. "udah deh, Vi. Kamu kembali ke mejamu, siapkan laporan yang diminta Pak Rayyan kemarin daripada kamu kepo-in aku." katanya kesal.
Via masih menatap sahabatnya dengan lekat selama beberapa detik sebelum dia beranjak menuju mejanya.
Nara menghela nafas lega ketika Via telah kembali ke mejanya. Ia yakin,jika tak diusir seperti itu, via akan terus memberondong dan mendesaknya dengan banyak pertanyaan yang akan membuatnya semakin pusing saja. Ia butuh sendiri sekarang untuk menjernihkan fikirannya dan memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk kembali biasa bersikap dengan suaminya seperti sebelum adanya pertengkaran mereka. Nara berusaha menganggap ini hanya kecemburuannya semata meski hatinya masih menolak untuk mengalah. Biarlah untuk beberapa hari ini ia mengamati secara diam-diam sikap suaminya, jika memang apa yang ia takutkan itu tak terbukti, maka ia akan melupakan kejadian tersebut.
Sementara itu di sebuah cafe siang itu tampak Fatih duduk di salah satu meja di sudut cafe itu sambil menyeruput segelas coffeelatte yang ia pesan beberapa menit yang lalu. Sesekali ia melirik pintu masuk dan melihat jam tangan, menanti kedatangan seseorang yang tadi membuat janji temu dengannya siang ini.
__ADS_1
"Hai, Bang. Maaf telat, adek mampir ke butik dulu tadi." ujar seorang wanita yang kini berdiri menatapnya sambil tersenyum manis. Fatih mendongak menatap si wanita dan sejenak tenggelam dalam pesonanya. Sedangkan si wanita yang tak lain adalah Neva masih mengulas senyum menatapnya. Ya, wanita itu adalah Neva, yang satu jam lalu mengajaknya bertemu sekaligus makan siang.