
Sang surya sudah mulai beranjak semakin menjauh menuju ufuk barat. Fatih melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 3 sore. Senja sudah akan tiba, namun mereka masih belum berniat untuk pulang. Neva menyandarkan kepalanya di pundak sang lelaki dengan tangan masih saling bertaut. Tatapan mereka lurus menatap ombak yang berkejaran di bibir pantai.
"Rasanya adek gak mau pulang, Bang. Karena kalau pulang, pasti kita akan berpisah, adek bakalan sepi lagi dirumah." ujar Neva tanpa menoleh.
Fatih tersenyum, "Kalau gak pulang,nanti harus nyari rumah disini dong,sekalian pindah." candanya.
"Ihh..adek serius, Bang." ujar Neva cemberut seraya menatap Fatih.
Fatih terkekeh sembari merapikan rambut Neva yang diterbangkan angin pantai. "Kamu dirumah tinggal sama siapa aja, Dek?"
"Sendiri. Ada ART, tapi cuma sampai jam 5 sore aja, abis itu pulang." jawabnya masih menatap wajah Fatih dengan teliti. Tangannya terangkat menyentuh pipi mantan kekasihnya itu, mengelusnya pelan dengan mata saling bertatapan.
Fatih menatap lekat netra wanita di depannya itu. Menelusuri setiap jengkal raut wajah sang mantan yang dulu pernah begitu ia puja, bahkan mungkin hingga saat ini. Setiap saat ia berusaha menepis rasa yang ada untuk mantannya ini saat istrinya menggodanya di kala mereka saling bercanda. Tapi akhirnya ia sadar, rasa itu masih ada, debaran itu masih sama dengan saat mereka masih berpacaran dahulu.
Perlahan Fatih mendekatkan wajahnya sembari menarik kepala Neva, mengikis jarak diantara mereka dengan sebuah kecupan di bibir. Ah, ternyata masih ada rindu untuk wanita ini.
Neva mengalihkan wajahnya yang merona setelah sempat kaget menerima kecupan dari sang mantan.
"Dek, Abang rindu." ucap Fatih lagi sebelum menarik Neva masuk ke dalam dekapannya. "Jangan sedih lagi, Dek. Abang janji, sebisa mungkin akan selalu ada untuk Adek." janjinya di senja sore itu seiring dengan eratnya pelukan dari Neva.
...****************...
"Ayah kemana sih, Bun? Dari pagi sampai sekarang gak kelihatan." tanya Bagas kepada Nara yang sedang menata makan malam mereka di atas meja.
"Kerja, Bang. Ke luar kota, sebentar lagi mungkin pulang." jawab Nara. Tak lama terdengar deru mobil yang berhenti di garasi. "Tuh, ayah pulang." sambungnya lagi sambil menatap anak sulungnya.
__ADS_1
Tak lama terdengar sorak Bagus dari ruang depan seiring salam yang diucapkan Fatih. Bagas beranjak dan berlalu dari dapur menuju ruang depan.
"Ayah baru pulang? Ayah dari mana? Kata Bunda dari luar kota ya, ada oleh-olehnya gak?" berondong si sulung sembari mendekati ayahnya.
"Iya, Bang. Tadi ada kerjaan di luar kota, tapi maaf ya, ayah gak sempat beli oleh-oleh, soalnya ayah pergi sama bos ayah, gak enak mau mampir sana sini." kilah Fatih sembari mengelus kepala anak sulungnya itu. " Bunda mana? Abang dan adek udah sholat maghrib tadi?" tanyanya lagi seraya melangkah berniat menaiki tangga dengan diikuti oleh kedua anaknya.
"Udah dong, Yah. Bunda lagi nyiapin makan malam di dapur. Hari ini bunda masak kepiting saus tiram Yah, kesukaan adek." cerita Bagus sembari mengekori langkah si ayah.
"Oh ya?enak dong, ya udah, sekarang adek sama abang tunggu di bawah dulu ya, ayah mau mandi, nanti ayah nyusul, oke?" sahut Fatih seraya mengacak acak rambut putra bungsunya.
"Oke ayah." sahut Bagas dan Bagus serempak lalu kembali berlari menuruni tangga.
Fatih melangkah memasuki kamar dan langsung mengambil handuk untuk kemudian membersihkan diri.
...****************...
Mereka sekeluarga sedang duduk menonton televisi setelah makan malam tadi. Nara fokus mengamati Bagus yang sedang mewarnai sambil sesekali melihat acara tv kesayangannya.
"Wah, besok ayah masih ada kerjaan Bang, kerjaan tadi ada yang belum selesai." jawab Fatih sambil sedikit melirik Nara.
"Yaaaaaaaah, kok kerja lagi sih Yah? Biasanya ayah gak pernah kerja di akhir pekan." ujar Bagas kecewa. "Abang pengen ke taman hiburan Yah, besok Dito dan Rian juga kesana." rengeknya lagi.
"Gak bisa Bang, ayah harus nyelesaian kerja ayah tadi siang, minggu depan deh ya." bujuk Fatih ke anak sulungnya.
Bagas menunduk cemberut.
__ADS_1
Nara menghela nafas pelan, "Abang sama adek masuk kamar gih, cuci kaki tangan terus tidur. Besok pagi-pagi Bunda ajak maraton keliling komplek." titahnya pada kedua anaknya.
" Beneran, Bun?" tanya Bagas dan Bagus semangat yang diangguki oleh Nara. "Yeayyy, oke deh Bun. Abang sama adek tidur duluan ya, biar besok gak kesiangan." ujar Bagas seraya mengajak adiknya masuk ke kamar mereka.
Fatih ikut beranjak menaiki tangga menuju kamar setelah sebelumnya mendapat pesan dari Neva yang ingin melakukan VC dengannya. Nara menatap punggung suaminya yang melangkah menaiki tangga tanpa bicara sepatah kata pun dengannya. 'Kamu bahkan mengabaikanku,Mas.' batinnya getir bersamaan dengan air mata yang jatuh di sudut matanya tanpa ia sadari.
Nara teringat percakapannya dengan Via siang tadi sebelum sahabatnya itu pulang.
Flashback on
"Aku harus gimana,Vi? Sekarang perasaanku jadi gak nyaman. Selalu dipenuhi dengan kecurigaan, ditambah lagi Fatih minta maafnya terkesan ogah-ogahan." ujarnya pada Via sambil menatap sendu wajah sahabatnya itu.
"Kamu perhatikan aja beberapa hari ke depan,Ra. Yaaaa,harapannya sih apa yang kamu curigai itu gak terjadi. Tapi kalau menurut kamu Fatih semakin berubah sejak insiden kalian dua hari yang lalu, kamu cari tahu dulu sebelum mengambil keputusan atau menuduh. Semua tuduhan bisa dipatahkan dengan mudah jika tak ada bukti,Ra. Cari dan kumpulkan buktinya, baru kita fikirkan langkah berikutnya lagi." Ujar Via panjang lebar.
"Tapi jika sikapnya masih seperti sebelum-sebelumnya, berarti semuanya hanya kecurigaanmu semata yang disebabkan oleh kecemburuanmu yang semu itu." sambungnya lagi.
Nara menatap langit siang itu yang panasnya begitu terik. Angin berhembus sesekali, namun masih belum mampu mengimbangi teriknya panas siang itu.
"Kamu jangan menduga dan berfikir yang bukan-bukan dulu,Ra. Kamu harus tetap menjaga kestabilan emosimu, jangan sampai anak-anakmu sedih melihat bundanya bersedih tanpa sebab yang jelas. Jangan khawatir, Ra, kalau Fatih macam-macam, biar nanti aku karate dia sampai babak belur gak tampan lagi." Ujar Via setengah bercanda sembari mengelus pundak sahabatnya yang sedang resah itu.
Nara tertawa mendengar kata-kata sahabatnya. Hatinya sedikit lebih tenang setelah bercerita dengan sahabatnya itu, dia bersyukur dianugerahi sahabat yang memahami suka dukanya dengan baik seperti Via.
Flashback off
'Apakah sikapmu ini menandakan apa yang aku curigai itu benar, Mas?' gumamnya lirih.
__ADS_1