
Makan malam berlangsung dalam hening. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring di meja makan itu. Nara dan Fatih memang menerapkan kepada anak-anaknya agar tidak bicara selama makan.
Selesai menghabiskan makan malamnya, Bagas dan Bagus beranjak masuk ke kamar mereka untuk melihat jadwal pelajaran dan PR untuk besok. Sementara Fatih masih duduk di meja makan dengan ponsel di tangan kanannya sambil sesekali melirik ke arah Nara yang sedang mencuci piring kotor bekas makan malam mereka.
Tring !
"Hai, Bang. Udah makan malam belum? Jangan telat makan ya, nanti sakit lho." sebuah pesan baru dari Neva masuk ke whatsapp Fatih.
"Hai juga Dek. Iya, ini baru udah makan. Adek udah makan belum? Jangan telat makan juga, nanti sakit gimana." balasnya cepat sambil melirik Nara.
"Ehem, Ra. Mas ke kamar duluan ya, capek banget nih, mau tiduran dulu." Ujar Fatih sambil mulai beranjak bangun dari kursinya.
"Hem." jawab Nara tanpa menoleh dan menghentikan kegiatannya mencuci piring.
Bergegas Fatih menaiki anak tangga menuju kamar untuk melanjutkan chat nya dengan Neva.
"Abang lagi ngapain? Adek kangen, padahal baru ketemu siang tadi, hehe."
Fatih senyum-senyum membaca pesan yang dikirm Neva. Tangannya lincah menari di keyboard ponselnya membalas pesan wanita itu. " Iya, abang kangen juga nih. Kayaknya gak cukup deh ketemuan siang tadi." balasnya seraya masih senyum-senyum sendiri.
"Besok ketemuan lagi yuk, sekalian jalan-jalan ke pantai. Udah lama deh gak ke pantai sama abang."
" Boleh...boleh, Adek atur aja mau pergi jam berapa, besok kan weekend, abang libur juga." Fatih membalas ajakan wanita itu dengan cepat.
" Hemm..oke deh. Tapi gimana dengan istrimu,Bang?"
Pesan yang dikirim Neva sontak menyadarkan Fatih pada posisinya sebagai seorang suami dari Kinara Prameswari. " Tak apa, nanti Abang bilang ada kerjaan di luar saja sama istri abang." Balasnya menenangkan setelah terdiam selama beberapa menit.
'Gampanglah cari alasan itu, Nara juga tak akan mempermasalahkan.' fikirnya optimis.
__ADS_1
Bunyi pintu kamar yang dibuka menghentikan aktifitas bertukar pesan yang sedang Fatih lakukan. Ia menatap Nara yang melangkah masuk melewati ranjang dan menuju kamar mandi. Tak lama dilihatnya istrinya itu keluar dan langsung mengenakan mukena. Adzan Isya memang sudah berkumandang 15 menit yang lalu.
Fatih menatap istrinya yang sedang melaksanakan shalat disamping ranjang. Ada rasa bersalah di hatinya ketika menatap wajah istrinya dari samping, ia seakan merasa telah melakukan kesalahan dengan berinteraksi kembali dengan Neva. Apalagi siang tadi mereka kembali bertemu dan berjanji akan bertemu lagi keesokan harinya. Namun hatinya menepis rasa bersalah itu dengan meyakinkan bahwa ini hanya sekedar pertemuan teman lama, tidak dengan membawa rasa lebih.
"Ra, besok mas ada kerjaan di luar. Bos minta Mas bertemu manajer keuangan di kantor cabang di kota sebelah. Mas berangkatnya pagi, dan mungkin agak malam baru pulang." Ujarnya ketika Nara sedang melipat mukena. Kebohongan pertama, dan itu lancar ia ucapkan kepada istrinya.
"Tumben weekend masih ada kerjaan, biasanya gak pernah." jawab Nara tanpa menoleh ke arah suaminya. Sejenak ia menghentikan kegiatannya yang sedang menyimpan mukenanya, lalu berbalik menghadap suaminya. " Kamu beneran ada kerja atau..." tanyanya seraya meneliti wajah Fatih.
Fatih mengalihkan pandangannya gugup sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Bener kok, tadi Bos whatsapp ngasi tahu Mas. Kamu kalau gak percaya tanya deh sama beliau." jawabnya mencoba setenang mungkin.
"Dimana?" tanya Nara lagi tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Fatih.
"Kota W."
" Kalau gitu aku ikut, sekalian nanti mengunjungi tante Ambar disana. Udah lama aku gak kerumahnya, aku kangen tante Ambar, Om Rahman, dan anak-anaknya. Aku kangen sepupu-sepupuku disana,Mas." Ujar Nara sambil kembali melanjutkan menyimpan mukenanya.
Fatih gelagapan, bagaimana bisa ia mengajak istrinya, sedangkan ia ingin jalan-jalan dengan Neva,bukan ingin bekerja. "Gak bisa, Dek. Mas_
"Eh, itu..anu..maksud Mas 'Ra'. Gak bisa, Ra. Mas nanti ke kantor dulu, perginya sama-sama Bos." jawabnya gelagapan. Ingin rasanya ia memukul mulutnya yang salah ucap itu. 'Akibat sering chat sama Neva nih, jadi kebiasaan lagi.' batinnya.
"Perasaan sebelumnya tadi kamu gak bilang pergi sama Bos deh, kok sekarang jadi sama Bos." ucap Nara sembari menutup lemari setelah menyimpan mukenanya.
"Sama Bos kok, ada masalah keuangan di kantor cabang, jadi Bos juga harus datang langsung, gak bisa kalau cuma Mas aja yang datang." ucap Fatih lagi meyakinkan istrinya.
"Ya udah, mau bener sama Bos atau sama siapa terserah kamu. Kalau kamu jujur ya bagus, kalau kamu bohong, nanti bakalan ketahuan juga kok, Allah itu gak tidur, Mas." ucap Nara seraya melangkah keluar kamar untuk melihat anak-anaknya di kamar mereka.
Fatih menghela nafas lega bersamaan pintu kamar yang ditutup oleh Nara dari luar.
...****************...
__ADS_1
Nara menutup pintu kamar anaknya dari luar setelah meminta anaknya untuk tidur lebih awal agar besok tak kesiangan.
Setelah itu ia beranjak menuju balkon yang ada di ujung lantai dua itu. Dengan tangan yang memeluk dirinya sendiri, ia berdiri di pagar balkon sembari mendongak menatap langit. Malam itu langit tak berbintang, akhir-akhir ini cuaca memang sering mendung dan hujan. Angin pun terasa bertiup sedikit kencang menggoyang dahan-dahan pohon mangga di samping rumahnya.
Nara sejujurnya merasa curiga dengan Fatih. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan suaminya itu. Entahlah, sejak insiden pertemuan Fatih dengan Neva di minimarket kemarin, ia kembali merasa ragu dan negative thinking dengan Fatih.
Nara menghembuskan nafas panjang. Biarlah, ia tak ingin lagi mencari tahu, membaca whatsapp dan menyelidiki ponsel sang suami seperti dulu yang pernah ia lakukan. Jika memang Fatih kembali berbohong, maka Nara yakin, cepat atau lambat ia pasti tahu juga. Sekarang lebih baik ia menyiapkan mental dan menentukan sikap yang harus ia ambil jika seandainya apa yang ia fikirkan itu menjadi kenyataan, meski sepenuh hati ia berharap itu hanya praduganya saja.
...****************...
"Belum tidur kamu?serius banget lihat ponselnya." tegur Nara ketika mendapati suaminya masih bersandar di kepala ranjang saat ia masuk ke kamar. "katanya besok mau pergi ke luar kota pagi-pagi." sambungnya lagi seraya naik ke tempat tidur.
"Iya,ini bos nanya berkas yang mau dibawa besok udah lengkap apa belum." jawab Fatih.
"Ohh.." sahut Nara seraya merebahkan diri di kiri ranjang dan menarik selimut hingga ke atas dada.
Fatih meletakkan ponselnya di atas nakas setelah mengirim pesan selamat tidur kepada Neva. Ia ikut merebahkan diri dan menyelimuti tubuh hingga sebatas dada.
Menatap ke samping kirinya,matanya bersirobok dengan netra hitam milik Nara yang telah berbaring menyamping menghadap ke arahnya sejak tadi.
Fatih tersenyum kaku, merasa salah tingkah seperti tertangkap basah melakukan sebuah kesalahan.
"Ra_
" Tidur, Mas. Besok kamu harus bangun pagi-pagi untuk ngurus kerjaan diakhir pekan bersama bos." ujar Nara yang terdengar seperti menyindir di telinga Fatih.
"Kamu gak kangen Mas?" tanya Fatih sambil mencoba mendekap Nara.
" Gak, aku capek malam ini." tukas Nara sembari berbalik membelakangi Fatih. Ia masih merasa tak nyaman jika harus dipeluk Fatih disaat hatinya masih ragu dengan sikap suaminya itu.
__ADS_1
"Mas, aku harap rasa kecewa kemarin tak akan bertambah lagi banyaknya." ucap Nara pelan sebelum ia memejamkan mata.
Fatih terdiam membeku.