
Suasana cafe siang itu cukup ramai. Letak cafe yang strategis membuat tempat itu sering dikunjungi tak hanya oleh karyawan, tapi juga oleh mahasiswa.
Sudah lima menit berlalu sejak Neva datang, tapi keheningan masih menguasai diantara mereka. Jus buah naga yang dipesan oleh Neva pun sudah tersaji sejak dua menit yang lalu.
"Kamu apa kabar, Dek?" untaian kalimat Fatih itu akhirnya menjadi pemutus sepi diantara mereka.
Neva tersenyum, lalu mengaduk jus dan menyeruputnya sebelum menjawab. "Adek baik, seperti yang abang lihat. Tapi perasaan adek tak baik-baik saja, kalau boleh jujur,sejak kabar pernikahan abang 10 tahun yang lalu." sahutnya getir dengan wajah tertunduk menatap gelas jus yang sudah tersisa sedikit di depannya.
Fatih sejenak membeku, mencoba menerka apa yang dimaksud oleh perempuan di depannya ini.
"Mengapa nomor adek abang blokir sejak dua tahun yang lalu?" tanya Neva lagi sembari mengamati wajah Fatih.
Mantan kekasihnya ini masih sama, tak banyak berubah. Tetap tampan dan suka ia pandang, hanya bertambah dewasa saja penampilannya.
Fatih berdehem canggung. " Gak sengaja tertekan menu blokir, Dek." jawabnya.
Neva terkekeh pelan. " Gak sengaja masa selama itu, Bang? Saat itu kan kita sering komunikasi, pagi, siang, malam. Masa abang gak sadar dan gak mikir mengapa sehari saja adek gak menghubungi abang?atau, masa abang tak ingin bertanya duluan mengapa adek tak menghubungi abang?" ia terkekeh kembali. " coba cari alasan yang masuk akal, Bang." sambungnya lagi.
Fatih menghela nafas pelan. "Adek tahu kalau abang sudah menikah kan? Abang cuma gak mau istri abang salah faham dan kami bertengkar. Apalagi dia juga tahu kalau adek itu mantan kekasih abang." ujarnya menjelaskan.
Neva menatap lekat lelaki di depannya itu. "Tapi tak perlu juga abang blokir nomor adek, cukup abang chat dan beri tahu saat abang sedang bersama istri abang, adek gak akan ganggu." katanya.
Fatih mengangkat wajahnya, menatap wanita didepannya. Wanita yang pernah mengisi hatinya selama tiga tahun sebelum akhirnya mereka terpaksa berpisah disaat rasa cinta itu masih merimbun di dalam hati mereka. Ya, terpaksa, karena orangtua Neva yang tak menyukainya.
"Tapi ya sudahlah, sekarang kita sudah bertemu lagi, dan adek senaaaaang banget. Adek rindu, rindu sekali dengan abang." sambung Neva lagi sembari meraih tangan Fatih dan menggenggamnya di atas meja.
Fatih menatap Neva sejenak sebelum akhirnya tersenyum dan membalas genggaman itu. " Iya, sudah lama sekali kita tak bertemu, tak saling memberi kabar. Adek menetap dimana sekarang?" tanyanya sambil menyeruput coffeelatte nya setelah mengurai genggaman tangan mereka.
"Di kota Y." jawab Neva singkat.
"Setelah lulus sekolah dan mendengar abang sudah menikah, adek pergi merantau, mencari kerja sekaligus mencoba mengobati patah hati." sambungnya lagi seraya tertawa.
Ah, Fatih terpesona. Wanita ini selalu cantik dimatanya, atau apakah karena rasa itu sesungguhnya masih ada, sehingga ia selalu merasa terpikat hanya dengan suara tawanya saja.
"Maafkan Abang, Dek. Adek tahu kan_
__ADS_1
" Iya, iya. Adek tahu kalau sebenarnya abang tak berniat menyakiti adek. Adek tahu kalau hubungan kita putus dulu karena orangtua adek. Adek minta maaf ya Bang, untuk semua sikap dan kata-kata kasar yang diucapkan oleh orangtua adek." sela Neva sambil kembali meraih tangan Fatih.
"Iya, abang sudah melupakan semua sikap dan kata-kata orangtua adek ke abang dulu. Melihat adek bahagia dan terus melanjutkan hidup dengan lebih baik saja meski tanpa abang, abang sudah sangat senang." jawab Fatih sambil kembali mngeratkan genggaman tangan mereka.
Sejenak mereka saling tatap dan melempar senyum. Kemudian terus melanjutkan percakapan hingga akhirnya berpisah saat jam istirahat siang Fatih berakhir.
...****************...
Matahari sudah mulai beranjak perlahan menuju ufuk barat disaat Nara keluar dari gedung kantor tempat kerjanya. Dia melirik pada jam tangan yang melingkar di tangannya. Sudah jam 4 lewat sedikit, jam pulang kantornya memang jam 4 setiap hari senin hingga jum'at, kecuali ada rapat atau pekerjaan mendadak yang harus selesai pada hari itu juga.
Nara melihat ponselnya, sejak bicara pagi tadi di rumah, Fatih tak ada menghubunginya seperti yang biasa suaminya itu lakukan setiap hari. Jangankan menelepon, sekedar mengirim pesan whatsapp juga tak lelaki itu lakukan hari ini.
'Ah,biar saja. Kalaupun dia ngirim pesan juga tak akan aku balas.' batinnya.
Nara kemudian memberhentikan taksi yang lewat untuk pulang kerumah.
"Assalamualaikum." ucap Nara seraya membuka pintu ketika ia tiba di rumahnya.
"Waalaikumussalam, Bunda." terlihat Bagus berlari menyambut dan mencium tangannya diikuti oleh si sulung dibelakang adiknya.
Nara tertegun,suaminya ternyata belum pulang. Dia memang tak melihat mobil suaminya di garasi tadi.
"Mungkin masih di jalan, Bang. Sore-sore gini kan jalanan macet. Bunda tadi pulang naik taksi,capek kalau harus nunggu ayah jemput." kilah Nara memberi alasan kepada anaknya.
"Mbak sri udah pulang, Bang?" tanyanya lagi.
"Udah,Bun,baru aja. Tadi mbak Sri mau nunggu sampai bunda pulang,tapi abang bilang gak apa-apa,mbak sri pulang aja. Soalnya tadi anaknya yang sulung nelpon,katanya adiknya jatuh dari sepeda." jawab Bagas panjang lebar sambil mengekori bundanya yang sudah melangkah masuk menuju dapur.
"Ohh,begitu. Mudah-mudahan anaknya mbak sri gak luka terlalu parah ya." ujar Nara sambil minum air putih yang ia ambil dari dispenser.
"Bunda naik dulu ke kamar, abang dan adek sebentar lagi mandi ya. Tadi udah ashar kan?" tanyanya lagi sambil menatap anak sulungnya itu.
"Udah,Bun." jawab Bagas singkat.
"Ya udah,temani adek dulu di depan, sebentar lagi ajak adeknya mandi, Bunda mau mandi juga." ujar Nara sambil mengelus kepala Bagas sebelum ia melangkah menuju kamarnya di lantai atas.
__ADS_1
Hampir maghrib saat Nara mendengar bunyi mobil Fatih berhenti di luar rumah. Ia sedang menemani anak-anaknya menonton televisi sembari menunggu waktu maghrib.
"Assalamualaikum." ucap Fatih sambil melangkah masuk.
"Waalaikumussalam. Ayah kok baru pulang?" si bungsu Bagus bertanya sembari berdiri menyalami ayahnya diikuti abangnya.
"Iya, ayah ada pekerjaan yang harus selesai hari ini juga, jadi ayah terlambat pulangnya." jawab Fatih seraya melirik Nara yang tampak acuh menatap televisi di depannya.
Fatih melanjutkan langkah menaiki tangga menuju kamar utama, badannya gerah dan ia ingin segera membersihkan diri.
Tak lama terdengar adzan maghrib berkumandang, Nara memerintahkan anak-anaknya untuk shalat dan ia pun melangkah menuju kamar untuk melaksanakan shalat juga.
Fatih sedang bersandar di kepala ranjang saat Nara membuka pintu dan masuk ke kamar. Dengan acuh ia menuju kamar mandi untuk berwudhu. Fatih menatap istrinya yang menuju kamar mandi tanpa melihatnya sedikitpun. Wanita itu masih dalam mode marah ternyata, fikirnya.
Beberapa menit setelah melaksanakan shalat, Nara berniat menuju dapur untuk memanaskan lauk untuk makan malam mereka.
"Ra." tegur Fatih menghentikan gerakan Nara yang sudah akan membuka pintu untuk keluar dari kamar. Ia merasa tak nyaman duduk di kamar lebih lama dengan Fatih.
"Kamu masih marah sama Mas, Ra?" tanya Fatih.
Nara masih terdiam tanpa menoleh sedikitpun.
"Udah dong, Ra. Nanti anak-anak gimana kalau tahu kita bertengkar dan diam-diaman seperti ini. Mas juga gak nyaman dengan situasi seperti ini, Ra. Mas minta maaf deh kalau Mas salah." sambung Fatih lagi dengan nada sehalus mungkin.
Nara menghela nafas panjang sebelum berbalik menatap suaminya.
"Aku gak marah ,aku kecewa. Marah dan kecewa itu berbeda, Mas." jawab Nara sambil bersandar di pintu kamar dengan tangan bersedekap di dada. "Sekarang aku tanya deh, gimana perasaan kamu setelah bertemu kembali secara langsung dengan mantan terindahmu itu?" tanyanya sarkas sembari mengamati wajah Fatih.
Fatih membeku dan mengalihkan perhatiannya ke sembarangan arah. Ia sendiri tak mengerti dengan perasaannya terhadap Neva sejak mereka bertemu kembali.
" Kamu gak bisa jawab. Gak tahu jawabannya, atau sedang mencari alasan untuk menutupi perasaanmu yang sebenarnya?" tanya Nara lagi setelah lama Fatih tak kunjung menanggapinya.
"Udah ah, Ra. Jangan cari tema untuk bertengkar lagi. Yuk ke dapur, anak-anak mungkin udah menunggu di meja makan." jawab Fatih sembari beranjak keluar kamar melewati Nara.
Nara menggeleng kepalanya pelan dengan hati yang sesak. 'Kamu membuatku semakin tak percaya,Mas.' gumamnya getir menatap punggung suaminya yang melangkah menuruni tangga.
__ADS_1