PEMILIK HATI SUAMIKU

PEMILIK HATI SUAMIKU
Biarku Obati Luka Ini dengan Caraku Sendiri


__ADS_3

Kinara mengerjapkan matanya,mencoba menyesuaikan dengan keadaan disekitar. Gelap gulita, itu yang tertangkap indera penglihatannya.


Hujan tak lagi deras seperti senja tadi, hanya tinggal rintik pelan menyirami bumi.


Nara mendudukkan dirinya, kepalanya sedikit pusing akibat menangis lama. Ia menjejakkan kakinya perlahan,mencoba berdiri dan tertatih meraba dinding mencari saklar lampu kamar.


Klik!


Disapukannya pandangan ke seluruh penjuru kamar itu. Hening dan hampa, itu yang ia rasa. Menoleh ke arah jendela yang gordennya masih terbuka.


Dengan menghela nafas ia berjalan mengunci dan menutup gorden jendela.


Tok tok tok!


Terdengar ketukan di pintu kamarnya.


"Bunda..Bunda,boleh abang dan adik masuk,Bun?"


Terdengar suara Bagas - putra sulungnya- seiring ketukan pintu.


"Sebentar,Bang.Bunda ke kamar mandi dulu." sahutnya.


Lalu ia bergegas masuk ke kamar mandi, mengamati wajahnya di kaca wastafel.


Ah,ia berantakan sekali.matanya memerah dan sembab. Rambutnya kusut.


cepat-cepat ia memutar keran wastafel dan mencuci wajahnya. Ia tak ingin anak-anaknya tahu jika ia baru sudah menangis.


Setelah dirasa wajahnya agak segar, Nara keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya dengan baju bersih di lemari.


Sembari menyisir surai hitamnya dengan jari, ia melangkah membuka pintu kamarnya.


"Hai anak-anak Bunda yang sholeh, udah sholat belum?" sapanya berusaha seriang mungkin.


"Sudah Bun. Bunda sakit ya?" tanya si sulung sambil mengamati wajah bundanya dengan teliti.


"Enggak kok, Bunda kecapekan tadi,jadi ketiduran deh." jawabnya.


" Aneh deh, biasanya Bunda gak pernah ketiduran sampai hampir isya gini,Bun."


Nara tersenyum, anak sulungnya ini memang pengamat yang baik,sangat sulit untuk berpura-pura di depannya.


Ia menoleh ke jam dinding dikamar, ah benar ternyata, sudah jam 7.30 malam.


Nara berdehem berusaha bersikap dan bicara setenang mungkin.

__ADS_1


"Iya,Bang.Bunda capek, tadi siang banyak kerja dikantor,pulangnya udah hampir sore. Abang dan adek udah makan belum?" tanyanya sambil mengelus kepala anaknya.


"Belum Bun, di meja makan cuma ada telur dadar dan tumis kangkung masakan mbak sri siang tadi." si bungsu Bagus yang berusia 6 tahun menjawab.


Mbak Sri adalah ART paruh waktu yang bekerja dirumah mereka. Biasanya ia datang jam 7 pagi dan pulang saat Nara sudah pulang dari kantor.


"Emm...kalau gitu bunda delivery aja ya,bunda capek.kalau masak nanti lama lagi nunggunya." ujar Nara pada kedua anaknya.


" oke deh,Bun. Abang mau nasi padang lauk ayam rendang, sambalnya dilebihin pesannya ya Bun."


"Adek juga nasi padang,tapi lauknya ayam goreng bumbu aja Bun."


Nara mengangguk dan mengambil ponselnya untuk memesan makan malam mereka.


"Bun, ayah kemana Bun?abang gak lihat ayah. Ayah masih tidur ya Bun?" Bagas bertanya sambil melongokkan kepalanya kedalam kamar mencari Fatih.


Nara terdiam sejenak lalu kembali mengelus kepala anaknya seraya tersenyum kaku.


"Mungkin ayah ada urusan dan keluar lagi. Abang dan adek belajar dulu gih, nanti kalau makanannya udah nyampe,bunda panggil." jawabnya.


Bagas dan bagus mengangguk lalu bergegas masuk ke kamar mereka untuk belajar.


Nara mendesah, dia merasa malas untuk keluar kamar, masih belum ingin bertemu dengan Fatih. Tapi anak-anaknya butuh perhatiannya.


"Ra,"


Nara terdiam mendengar suara itu.


Fatih berdiri menatap punggung istrinya yang sedang menuang air minum yang diambil dari kulkas.


"Kamu udah pesan makanan?"


tanya Fatih setelah melirik sekilas keatas meja di ruang makan. Hanya ada dua butir telur dadar dan sejumput tumis kangkung sisa siang tadi di atas sana.


"Ra." panggilnya lagi setelah lama tak mendapat respon dari Nara.


Nara meneguk habis air minum yang ia tuang di gelas,lalu menutup kulkas dan meletakkan gelas bekasnya di tempat piring kotor.


Ia masih diam tak berniat menyahut suaminya. Biar saja, biar sesekali Fatih tahu rasanya sedikit tak dianggap ada.


"Ra!Mas lagi ngomong sama kamu, dijawab dong kalau ditanya suami." sentak Fatih dengan nada meninggi.


Nara mendengus sebelum membalikkan badannya menghadap lelaki yang berstatus suaminya itu.


Suami?Nara tertawa getir dalam hati. Apakah lelaki yang didepannya ini masih bisa dianggap suami setelah menyakiti hatinya berkali kali?

__ADS_1


Fatih membeku melihat tatapan tajam yang Nara berikan padanya.


Sepanjang pernikahan mereka,semarah apapun Nara kepadanya,ia tak pernah melihat tatapan tajam dan dingin seperti saat ini dari Nara.


"Bukankah aku udah bilang sore tadi agar kamu delivery sendiri makan malammu?apakah dalam beberapa jam kamu menjadi amnesia meski kepalamu tak terbentur,Mas?" sindir Nara sambil bersedekap menatap dingin suaminya.


"Aku saja masih ingat drama yang terjadi antara kamu dan mantanmu siang tadi,padahal_"


"cukup,Ra. Bisakah kita lupakan masalah itu?aku malas harus bertengkar lagi gara-gara itu." jawab Fatih menyela.


"lupakan?semudah itu Mas?ah,iya,kamu kan memang tak pernah menganggap serius setiap masalah yang terjadi diantara kita baik yang sepele atau yang berat sekalipun." tukas Nara sengit.


Lupakan?enak saja.mudah sekali mulut lelaki itu berucap meminta melupakan masalah itu setelah mereka bertengkar habis-habisan sore tadi.


Fatih mendengus pelan, ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"kita kan ketemu dia gak sengaja Ra.bukan karena mas janjian sama dia." katanya.


"Aku tahu." jawab Nara cepat.


"Aku tahu itu gak sengaja,kalau sengaja udah janjian,gak mungkin kamu ngajakin aku. tapi aku gak suka sikapnya itu, panggil kamu abang,terus berlari memelukmu tanpa melihat ada aku disampingmu. Gak tau malu banget." sambungnya lagi.


"tapi itu bukan mauku,Ra. Dia yang tiba-tiba berlari dan memeluk aku." jawab Fatih membela diri.


"Iya,memang bukan maumu,tapi kamu menikmati saat ia memelukmu,sampai-sampai aku pergi pun kamu gak sadar.


Kamu harus ingat,Mas.sebelum ini pun kamu dan dia pernah mencoba bermain di belakang aku." ujar Nara marah.


"itu lagi yang kamu ungkit,Ra." keluh Fatih frustasi.


"tentu saja,karena sampai saat inipun rasa kecewa yang kamu beri saat itu masih terasa, lalu siang tadi kalian tambah lagi. Berulang kali aku bilang kan,Mas,kalian itu dulunya putus bukan karena perselingkuhan,tapi karena terhalang restu,jadi rasa diantara kalian itu pasti masih ada meskipun sedikit." tukas Nara setengah berteriak.


"Bunda,ayah?"


Terdengar suara putra sulung mereka.


Fatih dan Nara serentak menoleh menatap kedua anak mereka yang berdiri diambang pintu dapur.


"Bunda dan ayah berantem?" sambung Bagas kembali.


"Enggak, Abang ajak adek nonton tv dulu ya, yang delivery masih dijalan sekarang." pinta Nara pada anak sulungnya.


Bagas mengangguk dan menggandeng adiknya menuju ruang tamu untuk menonton tv.


"Sudah Mas, aku tak mau membahas ini lagi. Untuk luka dan rasa kecewa yang kamu beri tadi, biar aku obati sendiri. Kamu tak perlu menjelaskan apa-apa,tak perlu juga meminta maaf. Jika kamu anggap aku terlalu berlebihan menanggapinya, buktikan saja dengan sikapmu agar aku percaya jika semua ini hanya pemikiranku saja.tak perlu berjanji lagi Mas,cukup buktikan saja." tukas Nara sembari berlalu dari hadapan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2