
"Assalamualaikum,hellow,enibadi hom?" terdengar riuh suara Via dari pintu depan ketika Nara sedang asik memasak di dapur.
"Di dapur,Vi. Aku lagi masak nih, bentar lagi Bagas Bagus pulang sekolah." sahut Nara setengah berteriak. Tangannya masih lincah mengaduk kuah sop yang hampir mendidih.
"Waaah, wanginyaaa, menggugah selera nih, numpang makan nanti ya,Ra." ucap Via sembari meletakkan slingbag nya di atas meja makan sebelum kemudian melangkah mengintip masakan Nara.
"Aman deh, yang penting seharian ini temenin aku ya,Vi. Fatih katanya pulang agak terlambat." sahut Nara melirik sekilas menatap sahabatnya.
"Emang beneran si Fatih kerja ya,Ra?tumben-tumbenan deh. Kantor cabang perusahaan bosnya ada masalah ya?" tanya Via seraya menyandarkan diri sambil bersedekap dengan masih mengamati Nara yang memindahkan sop ayam ke mangkuk untuk diletakkan diatas meja.
"Katanya sih ada pertemuan dengan manajer keuangan kantor cabang aja, itu juga gak di kantor, di salah satu cafe katanya. Kayaknya gak ada masalah deh, cuma pembahasan ringan aja, soalnya Fatih juga perginya dengan setelan kaos dan jeans." jelas Nara sambil menyusun hasil masakannya di atas meja.
"Baju kaos dan jeans? Santai amat, kayak penampilan orang mau kencan aja." ujar Via asal sembari duduk di salah satu kursi di meja makan itu.
Nara tertegun sejenak, gerakannya yang ingin membuka kulkas terhenti begitu saja ketika mendengar kalimat Via. 'Apa benar Fatih kerja, atau jangan-jangan emang dia pergi kencan?'batinnya.
"Ra, hei, Ra."
"Eh, iya,Vi. Kenapa?" sahut Nara tergagap sembari menuang air jeruk dingin untuk Via.
"Kamu aku panggilin gak nyaut nyaut. Ngelamunin apa, wajahnya kok kayak resah gitu." jawab Via sambil meneliti wajah Nara yang semakin terlihat gugup.
"Gak ada sih. Eh, aku minta temenin sama kamu seharian ini, kamu gak ada rencana kemana mana kan, Vi?" jawab Nara mengalihkan pembicaraan sambil mengulurkan segelas air jeruk dingin pada Via.
"Enggaklah,mau kemana aku ini, Ra. Pacar gak punya, suami apalagi, palingan akhir minggu ini biasanya aku rebahan meluk guling. Nasib jomblo miris banget ya,Ra." ujar Via pura-pura sedih.
Nara terkekeh geli melihat wajah sahabatnya yang dibuat memelas seperti itu. "Lebay deh kamu, Vi. Makanya aku bilang,pedekate sama pak Rayyan sana, duresh lho, Vi." ucap Nara sembari terkikik geli.
"Duresh?apaan tu duresh?" tanya Via bingung.
"Duda Fresh." sahut Nara seraya terbahak-bahak diikuti Via.
...****************...
__ADS_1
Baru jam 10 pagi saat Neva dan Fatih tiba di salah satu pantai wisata di kota itu. Suasana sudah cukup ramai mengingat sedang akhir pekan. Ada yang membawa keluarga, ada yang hanya jalan atau duduk berdua di beberapa pondok-pondok yang dibangun disekitar pantai itu.
Neva dan Fatih melangkah menuju salah satu pondok sembari bergandengan tangan. Meskipun tergolong masih pagi,tapi cuaca sudah cukup panas.
"Rame ya,Bang?" ujar Neva seraya menatap sekeliling.
"Iya,Dek. Ini kan weekend, orang-orang mengambil kesempatan untuk berlibur membawa keluarga." sahut Fatih.
"Kamu sering kesini?" tanya Neva menoleh menatap Fatih.
"Gak pernah." jawab Fatih singkat. "Baru kali ini, sama kamu." sambungnya lagi seraya menatap Neva. Sejenak netra mereka bertatapan, seakan ingin menyelami perasaan masing-masing.
"Biasanya weekend kemana sama anak dan istri abang?" tanya Neva lagi.
"Ke taman bermain, atau ke mall." jawab Fatih lagi sembari menyelipkan rambut Neva yang terurai ditiup angin.
Neva merona dan berdehem sebelum mengalihkan pandangannya dari wajah Fatih. Lelaki ini memang romantis sejak masa mereka pacaran dulu. Tiba-tiba dia membayangkan ketika Fatih dan istrinya bersama di rumah, sebuah rasa tak suka menjalari hatinya hanya dengan membayangkannya saja.
"Dek, kenapa?kok melamun?" tegur Fatih sembari meraih tangannya.
"Bahagia ya jadi istri abang, tiap hari diromantisin,dimanjain,diperhatiin sama abang. Gak kayak adek." sambungnya lagi sambil menunduk.
"Kok jadi ngomong gitu sih? Adek juga bisa lah romantis-romantisan sama pacar." sahut Fatih.
Neva terkekeh pelan. "Pacar?adek gak pernah bisa buka hati adek untuk cinta yang lain selain abang,Bang. Putusnya hubungan kita ikut menutup rapat pintu hati adek. Pernah nyoba sih, tapi gak berhasil. Secinta itu adek sama abang ya, padahal abang aja gak segitunya sama adek." katanya sambil menatap tepat pada netra hitam pekat milik Fatih.
Fatih membeku. Matanya mencoba menyelami relung hati sang mantan yang sekarang menatapnya lekat. Tangan mereka masih saling menggenggam, tatapan keduanya masih terpaku dalam hening yang mengambil alih diantara mereka.
...****************...
"Vi, aku boleh tanya gak?" ujar Nara ragu-ragu sambil menatap Via yang sedang berbaring sembari memainkan ponselnya. Dzuhur sudah berlalu, Bagas dan bagus juga sudah pulang sekolah dan sedang menonton tv di ruang tamu.
"tumben izin dulu, nanya aja sih,Ra. Gak bakalan aku pungut biaya deh." sahut Via seraya melirik aneh pada sahabatnya itu yang saat ini juga sedang menatapnya lekat.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih,Ra?ada masalah ya?dari tadi aku perhatiin sering gak fokus, nampak resah dan banyak fikiran. Cerita deh,Ra, gak usah disimpan sendiri. Gak apa-apa bagi bebannya sama aku,biar gak mubazir." Ujarnya lagi setengah bercanda.
Nara tergelak seraya menepuk pelan lengan sahabatnya itu. Ia mendesah pelan.
"Kamu kan punya mantan terindah, kalau seandainya tiba-tiba kalian gak sengaja ketemu, apa yang kamu lakukan, Vi?" tanya Nara.
Via mengernyit, mencoba menebak apa yang sedang ingin sahabatnya ini ceritakan. "Ada apa sih,Ra? Kamu ketemu mantan kamu?" tanyanya dengan raut wajah serius.
"Eh,enggak ya. Aku tuh nanya aja, gimana reaksi kamu kalau ketemu mantan terindahmu?" tukas Nara cemberut.
"Habisnya aneh deh pertanyaan kamu. Gak biasanya. Gini ya,Ra, kalau Tuhan mempertemukan aku dan si mantan itu secara gak sengaja, ya aku biasa aja lah, berusaha menghindar jangan sampai bertubrukan. Kalau gak bisa dihindari lagi ya kalo dia negur, aku nyaut. Kalau dia cuek, ya aku apalagi dong." ujar Via panjang lebar seraya kembali men-scroll medsosnya di hp.
"Gak kamu peluk sambil bilang kangen gitu?" tanya Nara lagi.
Via menatap intens wajah sahabatnya itu sebelum bangkit duduk dan bersandar di kepala ranjang Nara. " Sebenernya ada apa sih, Ra?langsung cerita aja deh. Gak usah nanya yang aneh-aneh kayak gini, bikin aku bingung. Kamu tau kalau aku gak suka main tebak-tebakan kan?jadi langsung aja deh." Ujarnya serius dengan masih menatap lekat wajah Nara.
"Dua hari yang lalu, aku dan Fatih ketemu Neva,Vi, mantan kekasih Fatih masa SMA dulu." jawab Nara pelan sambil menunduk menatap lantai kamarnya.
"Terus?si mantan itu meluk Fatih dan bilang kangen, gitu?" tebak Via.
"Kok tahu?" tanya Nara terkejut sambil menoleh menatap Via.
"Aku nebak aja, berdasarkan pertanyaan-pertanyaan pembuka kamu tadi." jawab Via.
"lalu reaksi Fatih gimana?" tanyanya lagi.
Nara menghela nafas dalam, insiden dua hari yang lalu langsung terbayang di matanya. Ia akhirnya menceritakan kejadian hari itu pada Via,semuanya,kecuali bagian pertengkarannya dengan Fatih.
"Gila ya tu mantan. Gak ada malunya, asal peluk dan teriak kangen sama suami orang tanpa melihat ada istrinya disitu." Ujar Via emosi.
"Kalau aku diposisi kamu,udah aku banting tu cewek, sekalian dengan laki-lakinya, udah ada istri di samping, masih juga terpesona dengan teriakan kangen dan pelukan mantan." sungutnya lagi.
Nara bergidik ngeri, sahabatnya itu memang mempelajari ilmu bela diri. Via menoleh menatap Nara, "Jadi kamu resah karena itu?" tanyanya.
__ADS_1
Nara menggeleng, dia menggigit bibirnya pelan sembari menatap lurus kedinding kamar. "Aku kefikiran kata-kata kamu tadi yang bilang Fatih berkencan." jawabnya pelan.
Via terhenyak kaget.