
Nara meneliti penampilan Fatih pagi itu dengan intens. Kaos polos berwarna maroon dipadu dengan celana jeans biru tua. Mereka saat ini sedang duduk berhadapan sarapan di meja makan.
"Kamu serius mau ke kantor cabang pakai baju itu, Mas?" tanya Nara masih menatap Fatih dengan intens.
"Iya, Ra. Bos bilang gak usah terlalu formal,karena nanti ketemuannya di salah satu cafe di kota W, bukan di kantor." jawab Fatih sembari masih fokus menatap ponselnya yang menampilkan pesan dari Neva. Wanita itu sedang bertanya baju apa yang harus ia pakai untuk berkencan dengannya hari ini. Kencan? Fatih merasa sedikit geli, mereka seperti remaja yang baru pertama kali PDKT.
"Mas berangkat dulu ya, Ra. Udah ditunggu Bos nih." ujar Fatih lagi seraya buru-buru beranjak keluar.
"Sarapanmu belum habis,Mas." jawab Nara setelah melirik sarapan Fatih yang baru dimakan sedikit.
"Gak keburu, Ra. Takut nanti bos kelamaan nunggunya." ujar Fatih sembari memakai sepatunya dengan tergesa. Neva baru saja mengirimkan pesan kalau ia sudah siap dan minta Fatih untuk menjemputnya.
"Mas pergi ya,Ra." ujar Fatih lagi sambil melangkah menuju mobilnya dan melaju meninggalkan Nara tanpa menoleh lagi.
Nara menarik nafas dalam, ia merasa curiga. Sikap Fatih semakin aneh, biasanya tak pernah suaminya itu berpakaian sesantai itu jika ingin bekerja, kecuali saat berjalan-jalan dengan ia dan anak-anak. 'semoga saja kamu tak sedang membuat masalah baru untuk kita berdua,Mas.' gumamnya lirih.
...****************...
Fatih turun dan membuka pintu mobil di samping kemudi setelah berhenti tepat didepan Neva. Wanita itu tersenyum lebar menyambutnya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Fatih mulai melajukan mobilnya membaur diantara kendaraan yang lain menuju pantai di salah satu kota W.
"Istrimu gak banyak tanya saat kamu pergi tadi, Bang?" tanya Neva sambil memiringkan sedikit tubuhnya menghadap Fatih. Ah,laki-laki ini sangat tampan hari ini, dan semakin membuat hatinya berdebar.
"Enggak, semalam Abang juga udah jelaskan kalau akan kerja ke luar kota sama Bos." jawab Fatih sambil melirik Neva sekilas. Ia tak menceritakan jika semalam Nara sempat bilang ingin ikut ke luar kota.
__ADS_1
"Kamu,bahagia Bang?" tanya Neva sembari menarik tangan kiri Fatih yang bebas untuk ia genggam.
Fatih mengerutkan keningnya, mencoba memahami apa yang sedang ingin mantan kekasihnya itu ketahui darinya. "Maksud Adek?" tanyanya.
"Iya, maksud adek, apa Abang bahagia dengan pernikahan abang ini? Abang benar-benar mencintai istri abang itu?" tanya Neva lagi.
Fatih terdiam.
"Ah, tentu Abang bahagia kan, lihat saja kehidupan kalian baik-baik saja, abang juga udah sukses, anak udah ada, istri cantik dan bekerja." sambung Neva lagi sambil mengubah duduknya menghadap lurus ke depan.
"Kayaknya hanya adek yang tak baik-baik saja sejak perpisahan kita dulu. Adek selalu teringat dengan Abang, teringat dengan semua kenangan kita, Adek yang masih selalu merindukan abang." ujarnya lagi sembari melarikan perhatiannya ke luar jendela disampingnya.
"Dek, abang juga rindu adek, abang juga sakit saat awal perpisahan kita kemarin. Bukan hanya adek yang tersiksa, abang juga. Tak hanya adek yang dihantui kenangan kebersamaan kita dulu, abang pun sama. Tapi abang harus bagaimana, orangtua adek gak suka sama abang, gak mungkin abang meminta adek untuk melawan orangtua." jawab Fatih pelan sembari menatap lurus ke depan. Mereka sedang di hentikan oleh lampu merah saat ini, terjebak dalam antrian kendaraan yang cukup ramai sebab akhir pekan.
Fatih menghela nafas, lalu menoleh menatap Neva yang masih betah memandang ke luar jendela. Neva mengenakan gaun selutut berwarna senada dengan kaos yang ia pakai, rambut wanita itu digerai dengan ujung-ujungnya yang dibentuk curly. Fatih tersenyum, wanita itu memang pintar berdandan dan memadu padankan outfit sejak dulu. Apapun yang ia kenakan selalu membuat ia tampak mempesona di mata Fatih.
" Kamu cantik." ucap Fatih tulus sambil tersenyum dan meremas lembut tangan wanita itu.
"Apa sih,Bang." sahut Neva seraya memalingkan wajah menyembunyikan rona merah dipipinya akibat pujian Fatih tadi.
Fatih terkekeh pelan sebelum melepaskan genggamannya pada wanita itu dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka hanya punya waktu sehari ini, dan ia tak ingin menghabiskan waktu percuma di jalan.
...****************...
__ADS_1
"Assalamualaikum, Vi." ucap Nara ketika teleponnya diangkat oleh Via, rekan sekantor sekaligus sahabat baiknya.
"Waalaikumussalam, Ra. Tumben nelfon hari libur gini. Biasanya gak pernah menghubungi aku pas weekend, bahkan kadang-kadang aku juga sulit menghubungi kamu kalau masa-masa libur kerja begini." sambut Via.
Nara terkekeh geli, sahabatnya itu paling ceriwis, paling kepo, paling banyak tanya. " Aku suntuk, Vi. Sendirian di rumah, anak-anak masih di sekolah. Ke rumah dong, Vi. Kita ngobrol-ngobrol, nge-gibahin pak Rayyan juga boleh deh hari ini." ujarnya setengah memohon.
"Suntuk? Fatih kemana? Gak mungkin kerja di akhir minggu ini kan? Biasanya kalian ada aja deh kegiatannya berdua. Atau, kamu lagi dicuekin Fatih ya?" jawab sahabatnya itu setengah menggoda.
"Fatih gak ada, ke luar kota sama bos nya,katanya ada pertemuan dengan manajer keuangan di kantor cabang." jelasnya.
'dicuekin apaan, yang ada juga aku yang nyuekin dia.'batin Nara
"Ke luar kota? Sama bos? Tumben. Sejak kapan perginya?" tanya Via lagi.
" pagi tadi, sekitar jam 8 kayaknya." jawab Nara singkat.
"gak tahu juga aku, Vi. Katanya sih bos nya yang ngajak. Awalnya sih aku mau ikut, sekalian mau jenguk tante Ambar, tapi Fatih bilang gak usah, soalnya pergi semobil sama bos nya, gak enak katanya." sambungnya lagi.
"Kamu percaya? Jangan-jangan Fatih pergi sama selingkuhannya." ujar Via sambil tertawa.
Nara terdiam, perasaannya semakin tak nyaman dan dirundung curiga, apalagi mengingat penampilan Fatih saat pergi tadi. "Selingkuhan darimana, jangan ngarang deh, Vi. Tahu Fatih nanti diomelin kamu, dibilang fitnah nanti sama dia." Ujar Nara seraya ikut tertawa, berusaha menepis kecurigaannya sendiri.
"Awas lho, diselingkuhin nanti mewek siang malam kamu. Ngamuk-ngamuk banting barang." goda Via lagi sambil tetap tertawa.
__ADS_1
"Apaan sih, Vi. Udah ah, cepetan kerumah, aku sendirian ni, sepi. Aku tunggu ya. Assalamualaikum sahabatku yang bawel." ucap Nara memutus panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban Via lagi.
Nara mendesah kasar, kata-kata Via menambah kadar ke-negatif-an fikirannya terhadap suaminya itu. Ia mengusap wajahnya kasar, sebelum akhirnya bangkit keluar dari kamarnya menuju dapur. Ia belum masak untuk makan siang, anak-anaknya akan pulang dari sekolah 2 jam lagi. Mbak sri setiap hari sabtu dan minggu memang diliburkan karena Nara dan Fatih ada dirumah.