
Malam ini jam 00:00 Azimie Hartawan yg akrab d sapa Mimi genap berusia 20 tahun tak seperti gadis pada umumnya yg merayakan pesta ulang tahun dengan keluarga tercinta, melainkan saat ini dia baru saja pulang dari bekerja sebagai pelayan bar.
Di kota sebesar Blitar tak mudah untuk mendapatkan pekerjaan apalagi hanya lulusan SMA seperti mimi, malam ini dia duduk d jendela yg terletak d lantai 10 rumah susun tempat ia tinggal, menatap langit malam yg penuh bintang dan melihat gemerlap lampu kota.
huuuf.....
mimi metiup beberapa lilin yg menyala d atas kue tart kecil yg ukuranya tak lebih besar dari telapak tangannya.
"selamat ulang tahun diriku sendiri, semoga sehat selalu,semangat kerja biar ceper sukses dan bisa membahagiakan Ciko" Mimi memejamkan mata dan berdoa "dan untuk ayah bunda semoga tenang d surga sana " tak lupa memanjatkan doa untuk kedua orangnya yg terlebih dulu pergi meninggalkan Mimi beserta seorang adiknya.
mencoba tak meneteskan air mata, namun apalah daya pelupuk mata tak mampu membendungnya lagi
hiks....
hiks....
tangisnya pecah d keheningan malam "aaah kenapa kamu keluar sih !!! " dia menyeka air mata yang mengalir d pipi dengan kasar"kan aku jadi nangis sendiri" gumamnya menyembunyikan rasa sedih yg teramat sangat dia rasakan bukanya berhenti air matanya justru mengalir lebih deras, hingga dia menaruh kue itu d sisi pengaman balkon jendela, dia melanjutkan tangisnya sampai tak sadar telah tertidur lelap dengan sesekali Isaknya masih terdengar.
Pagi hari dia terbangun akibat cahaya matahari pagi yg menyilaukan matanya "aku tertidur d sini lagi?" gumamnya saat menyadari ia masih terduduk d bawah jendela.
dia pejamkan dan menggelengkan kepala untuk mengembalikan kesadaran sepenuhnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mimi mengeringkan rambutnya dengan hairdryer portabel sembari menyeduh kopi instan.
dret....dret....
derit notifikasi ponselnya
tagihan bulanan dari yayasan d mana adiknya d rawat
huuuf...... dia menghembuskan nafas berat saat tagihan bulanan kembali meningkat, bulan ini kondisi mental adiknya sangat tidak setabil dia sering mengamuk tanpa alasan yg jelas sehingga memerlukan pendampingan ektra oleh karena itu tagihan bulan ini bertambah lagi.
ku cek tabungan ku hanya tinggal sedikit dan lagi tahun depan adiknya harus masuk kelas 7 dan itu membutuhkan dana yg tidak sedikit.
seketika kepala Ki berdenyut begitu banyak rentetan uang yg harus ia kumpulkan, sedang gajinya sebagai pelayan restoran dan d tambah pelayan bar d malam hari hanya pas untuk kebutuhan sehari hari "aku tidak boleh terus begini, aku harus mencari pekerjaan lain yg bisa menghasilkan uang dengan cepat" pikirnya saat melihat nominal tabungan yg d tinggalkan kedua orang tuanya kian menipis.
"kakak tidak akan membiarkan kamu menderita sayang, kakak janji " ai bergumam sambil membuat roti isi keju dan suwiran daging sapi kesukaan Adiknya. setiap hari sebelum berangkat kerja dia selalu menyempatkan mengunjungi adiknya terlebih dahulu untuk memberinya sarapan kesukaannya.
dengan mengenakan Hem putih dengan celana hitam mimi berjalan ke pangkalan ojek yg terletak d samping rusun tempatnya tinggal.
"pagi pak..." Mimi menyapa beberapa tukang ojek yg sudah mangkal
"pagi..." jawab pak Harjo ojek langganan yg selalu mengantar jemputnya saat kerja.
segera ia duduk d jok belakang pak Harjo sambil memakai helm "gimana kabar adiknya? neng" tanya pak Harjo sembari mengendarai motornya "kondisinya kurang baik pak, emosinya sering tak setabil" jawab Mimi yg menikmati indahnya kota d pagi hari "Eneng yg sabar ya... bapak doakan semoga kamu selalu sehat bisa menjaga dan merawatnya " tutur pak Harjo terlihat senyum lewat kaca spion "terimakasih pak..." jawab Mimi yg juga membalas senyuman hangat itu.
Tak terasa keduanya pun sampai d depan yayasan
"trimakasih pak" ucap mimi sembari memberikan selembar uang 10 ribu sebagai ongkos ojek
"sama sama neng" jawab pak Harjo sambil menaruh helm pada bagian depan motornya "semangat....!" tak lupa memberikan dukungan pada mimi.
menerima perlakuan hangat sesosok ayah adalah kebahagian tersendiri untuknya "trimakasih pak... bapak juga semangat !!! jangan lupa hati hati jaga keselamatan" balas Mimi seraya melambaikan tangan,
dan menatap pak Harjo yg semakin menjauh memacu motornya.
"Ciko....." Mimi memanggil seorang anak yg tengah bermain dengan beberapa temannya.
"ka..ka..kakak" seorang anak berusia 10 tahun berlari ke arahnya dengan merentangkan kedua lengannya dan menenggelamkan tubuh mungilnya dalam pelukannya
cups.....
cups.....
"apa kabar sayang " Mimi mengecup kedua pipinya, melihat dia tersenyum tanpa beban membuat hatinya sangat bahagia "lihat kakak bawa makan kesukaan kamu lagi" Mimi memperlihatkan paper bag d hadapan adiknya "mau....mau..." dengan cepat ia merampas dan membawanya lari ke arah teman temannya bermain, Mimi hanya bisa tersenyum bahagia melihat tingkah lucu adiknya.
"kondisinya semakin baik, kamu jangan khawatir" ujar seseorang yg berdiri tepat d sampingnya sambil menatap kepergian Ciko.
"eeeh... dr Adrian " seketika mimi menoleh ke sumber suara "iya dok... semoga saja emosinya tetap setabil " sambungnya.
dr Adrian adalah orang yg punya andil penting dalam proses perawatan Ciko. tak heran jika mereka terbilang cukup dekat.
sementara mereka berbincang bincang terlihat Ciko yg membagikan beberapa roti pada teman temannya.
setelah menjenguk adiknya Mimi segera pergi untuk bekerja sebagai pelayan d sebuah restoran yg tak jauh dari yayasan adiknya,hanya berjalan kaki beberapa menit sudah sampai d halaman restoran.
__ADS_1
Saat berada d ruang ganti tak sengaja ia mendengar beberapa karyawan tengah membicarakan pekerjaan sampingannya menjadi seorang simpanan sugar Daddy.
mereka bercerita dengan tertawa terbahak bahak setelah berkencan mereka selalu mendapatkan barang branded uang dan penunjang finansial lainnya.
Mimi hanya mendengarkan dari balik bilik ganti "apa aku harus melakukannya juga?" tiba tiba terbersit pikiran kotor d kepalanya
"ah... gila, jangan gila ya Mimi!!" ia memakai dirinya sendiri sembari mengancingkan rompi hitam seragamnya bekerja.
"tapi jika bisa mengumpulkan uang dengan cepat itu akan lebih enak bukan?" Mimi menatap dirinya d dalam kaca "gajiku d 2 tempat berbeda tak ada apa apanya jika d bandingkan dengan yg mereka katakan" kini justru semakin jauh lamunan mimi melayang tak karuan.
"haiiis....kamu ini jelek !!! mana ada yg mau sama kamu Mimi,Mimi !!!" ia menyadarkan dirinya dengan menunjuk wajahnya sendiri d dalam cermin.
kemudian ia segera keluar dari bilik dan d saat itu pula para wanita yg sedari tadi heboh dengan cerita masing masing kini terdiam seketika, ruang ganti yg semula ramai kini menjadi senyap.
saat berjalan ia masih sibuk dengan pikiran masih melayang tentang sugar Daddy
"waiters" panggil seseorang d meja nomor 14 segera aku mengambil buku menu dan pesanan kemudian ku hampiri mereka
"selamat pagi tuan" sapa Mimi dengan wajah ramah
"ini buku menunya" ia menyerahkan buku menu kepada ketiga pria tampan itu.
kedua pria yg duduk bersebrangan menerima dan mulai membuka untuk memilih menu makanan, sedang seseorang duduk d atas kursi roda mewah hanya fokus pada ponselnya, diam seribu bahasa dengan wajah kaku dan menyebalkan
"pria aneh" batin Mimi dengan sesekali melirik ke arahnya, saat Mimi mulai menghujatnya dalam hati tiba tiba
Sring...... pria itu menatapnya dengan sangat tajam, dengan reflek segera mimi menundukkan kepalanya
"aku pesan....roti sosis, sosis McMuffin dengan telur dan keju, daging asap, telur dan biskuit keju" ucap pria yg berambut ikal
"aku juga sama" imbuh pria dengan pakaian modis sembari menutup buku menu dan menyerahkan pada Mimi
Mimi menulis menu apa yg mereka berdua pesan
"eemh...tua....an ?" sebelum menyelesaikan pertanyaannya sudah d sela oleh pria berambut ikal.
"kamu mau sama atau yg lain ?" tanya pria rambut ikal pada pria dingin itu
"terserah kalian saja" jawabnya dengan ketus Tampa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Mendengar jawaban itu pria rambut ikal mencebikkan bibirnya "eeem 3 ya mbk, dan minumnya coffee latte 3 juga" ucap pria berpakaian rapi itu dengan senyuman tipis d bibirnya.
"bisa mati kaku jika terlalu lama berada d dekat orang seperti itu" Mimi mengidik ngeri
segera ia berikan lembar pesanan itu pada koki agar segera d siapkan.
"aku akan ke toilet sebentar " ucap Barra dengan memundurkan kursi rodanya
"biar ku antar" tawar Kevin sang asisten yg selalu berpakaian rapi itu dan beranjak berdiri
"tak perlu !!! aku akan pergi sendiri" ia memutar dan menjalankan kursi roda metik itu menuju toilet khusus disabilitas
"aah ..kenapa bocor terus sih?" Mimi memegang i area perut karena ingin buang air kecil
"irma...aku titip dulu sebentar ini pesanan meja 14 , aku sudah tidak tahan" Mimi melempar buku d tangannya dan berlari menuju toilet, karena terburu buru ia sampai tak melihat jika d persimpangan toilet ada seseorang
gubrak..... tubuhnya menabrak seseorang ia tergelincir dan tangannya terasa ada yg menarik
aaaw..... aaah.... tiba tiba ia sudah terduduk d pangkuan seseorang d atas kursi roda.
bahunya d topang oleh lengan kekar, kedua paha bawahnya d genggam dengan telapak tangan yg besar,dadanya menghimpit dada bidang yg sangat keras, mata itu saling bertatapan dengan sangat dekat sampai nafasnya beradu hangat. terlihat sangat jelas wajah tampan dan matang dengan jambang tipis yg baru tumbuh membuat aura laki laki itu begitu sangat menggoda.
sampai beberapa detik berlalu mereka masih hanyut dalam suasana sampai "ehem" batuk seseorang yg keluar dari toilet pria menyadarkan mereka
"eeem maaf .... maaf tuan" segera Mimi beranjak dari pangkuannya
"apa mata mu tertinggal ?" bentak pria itu dengan mengernyitkan dahinya seakan menahan rasa sakit
"hah...." otak mimi berhenti berputar ia hanya melongo ketika dia memakinya
"dasar buta....!!! minggir aku mau lewat" dia membentak sekali lagi dan Mimi hanya mengedipkan mata karena kaget.
Dia mendorong tubuh Mimi untuk menyingkir dari hadapannya barulah Mimi tersadar "ooh... maaf tuan... maaf sekali..."maksud hati ingin membantu mendorong kursi roda itu
"biar aku ban ..bantu....aaaaaa" namun karena hak sepatunya patah ia terhuyung dan justru berpegangan pada penyangga lengan d kursi roda itu, akibatnya bukanya membantu ia malah mendorong mundur kursi roda ke sisi dinding dan kembali terjatuh tepat d atasnya kini tak hanya sekedar duduk d pangkuannya bibirnya resmi menyentuh bibir seksi pria itu dengan bulu jambang tipis yg baru tumbuh bisa membuat gairah **** meningkat seketika.
__ADS_1
mereka saling melotot satu sama lain beberapa saat, sampai
"Mimi....!!!" bentak Irma
"apa yg kamu lakukan" Irma berjalan mendekat
Terkejut dengan suara irma,Mimi langsung bangkit dari atas tubuh pria itu seraya menutup bibirnya dengan tangan.
Dengan wajah memerah "hiks...hiks maaf kan aku tuan" Mimi kembali mengucapkan maaf dengan mata berkaca kaca.
melihat pria itu hanya menatapnya dengan tajam tanpa suara Mimi membayangkan hal buruk akan terjadi padanya.
"ha....emh... Irma... habis lah aku" dengan wajah melas dan kacau Mimi melirik Irma
"ah .. kamu ceroboh sekali" bisik Irma sembari mencubit lengan sahabatnya itu.
"habislah aku" rutuk Mimi dalam hati
"aku pastikan restoran ini akan kehilangan bintangnya!!!" ujar pria itu yg mulai menjalankan kursi rodanya.
mendengar perkataan pria itu Mimi melotot sempurna dan bertukar pandang dengan Irma yg juga melebarkan matanya
"heeemh.... jangan tuan, aku mohon jangan kritik restoran ini ya, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini tuan, saya mohon" segera Mimi mengejar dan berlutut d hadapan pria itu
"aku tidak perduli, kau juga merugikan aku, bagaimana bisa mempekerjakan orang ceroboh seperti mu !!" bentak pria itu kembali
"tuan aku mohon. berikan hukuman pada ku saja jangan komplain restoran ini aku mohon " kini Mimi menundukkan kepala sambil terisak
d saat yg bersamaan pria berambut ikal datang menghampiri
"ada apa ini Bar?" ia terlihat sangat cemas dan juga bingung melihat yg terjadi
"pastikan dia tak lagi bekerja!" berkata dengan nada final kemudian pergi tak memperdulikan Mimi yg duduk bersimpuh d hadapannya.
pria berambut ikal itu menggaruk kepalanya yg tak gatal karena tak mengerti apa yg sebenarnya terjadi
"tuan saya mohon maafkan saya... jangan komplain restoran ini ya" kini Mimi beranjak dan memohon pada pria be berambut ikal itu
"Bar .. Barra sebenernya ada apa si?" pria berambut ikal itu mencoba menghentikannya justru tangannya malah d tepis begitu saja.
pria berambut ikal itu hanya bisa melihat temannya pergi begitu saja kemudian ia membantu mimi untuk berdiri.
tanpa bercara sepatah katapun ia juga pergi menyusul orang yg d panggil Barra itu .
akibat kejadian itu Mimi tak hanya d semprot habis habisan ia juga harus kehilangan pekerjaan yg selama ini mencukupi kebutuhannya.
mimi keluar dari ruang direktur dengan wajah merah dan kaki yg terasa berat sekali untuk d ajak melangkah pandangannya kosong yg terlihat hanya begitu banyak rumus matematika pengurangan dan pembagian yg melayang d otaknya.
"siapapun yg melakukan kesalahan akan mendapat konsekuensi yg sama,silahkan kalian coba jika tidak percaya!!! " bentak bos yg keluar d belakang mimi pada semua karyawan hanya tertunduk terdiam tak bersuara sedikitpun...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
seperti generasi sebelumnya keluarga Permana keturunan tertua laki laki yg akan memegang saham terbesar keluarga permana dan Randy Barra Permana adalah salah pewaris saham terbesar keluarga Permana dan bila mana ia tak memiliki keturunan maka ia harus menyerahkan jika sudah Masanya nanti pada generasi selanjutnya walau bukan keturunannya .itu artinya keturunan laki laki sangat berharga d keluarga ini, namun akibat kecelakaan yg menimpanya beberapa tahun lalu membuatnya harus berada d kursi roda.
pintu ruang kerja Barra terbuka, seorang wanita paruh baya yg masih terlihat sangat cantik dengan pakaian yg modis berjalan menghampiri Barra yg sedang bekerja.
"bara sayang " panggil mama Inggrid pada bara putra semata wayangnya yg tengah duduk d depan deretan layar komputer
Barra memandang sekilas wajah ibunya yg terlihat sembab
"mama habis menangis ?" tanya Barra yg menggerakkan kursi rodanya mendekat pada ibunya.
"ada apa ma...? apa yg membuat mama bersedih?" imbuh Barra dengan menggenggam tangan ibunya.
"apa kamu sudah menemukan wanita yg mau memberikan mu keturunan?" tanya mama Inggrid yg mulai terprovokasi dengan keluarga lain tentang kecacatan anaknya itu.
"ma.... aku tak perduli jika aku harus menyerahkan semuanya" jawab Barra ketus setelah tau ternyata alasan ibunya menangis .
"tapi sayang perusahaan berkembang pesat setelah kamu kelola dan akan sia sia perjuangan mu jika harus d serahkan kepada orang yg bukan darah daging mu" mama Inggrid menjelaskan
"ma... lihat kondisiku yg seperti ini apakah ada wanita yg tulus menerimaku ?" Barra berbalik menghadap mamanya
"kamu punya uang sayang....kekuatan uang mengalahkan segalanya "
mama Inggrid menunduk sehingga menjadi sejajar deng Barra putranya.
__ADS_1
Barra membalikkan badan menghadap layar kembali "ma... Karina saja yg sudah lama bersama ku, pergi meninggalkan ku saat aku tak bisa menerima kekurangan ku" Barra berusaha meyakinkan ibunya.
"dan sejak itu aku bersumpah aku tak akan menjalin hubungan jika wanita itu tak lebih cantik dan lebih unggul dari Karina." gumam batin Barra bergemuruh sampai tak sadar mouse yg ada d genggamannya hancur sampai serpihannya menusuk tangan Barra.