
wajah Mimi merah menahan amarah bercampur malu, ia mengelilingkan pandangannya
"ooooh. berati anda yg membawa ku semalam?" tanya Mimi dengan gigi mengerat penuh rasa curiga "berati.....??????" mata Mimi melotot saat memikirkan jika semalam ia telah bersama dengan seseorang yg saat ini ada d hadapannya.
"kau.....!!!!" Mimi menunjuk tepat d depan wajah pria itu
"beraninya kau menyentuh ku!!! memanfaatkan ku d saat aku lemah!!!" umpat Mimi dengan pandangan penuh kebencian.
mendengar umpatan Mimi, pria itu hanya tersenyum licik
"sungguh aku menantikan kesempatan berikutnya" pria itu meledek kemudian pergi begitu saja tak memperdulikan Mimi yg masih mengumpat sana sini.
"hei.....!!!" teriak Mimi "awas !!! jika terjadi sesuatu pada ku sampai lobang semut pun kau akan ku cari !!!" teriak Mimi kesal karena dia merasa sungguh malang.
"dasar.... sejak bertemu dengan mu hidup ku sangat sial!!!" Mimi kembali berteriak seraya menghentakkan kedua kakinya bergantian.
huuuuuf..... Mimi menghela nafas berat dan melangkah pergi.
sepanjang perjalanan pulang Mimi terus mencoba mengingat apa yg terjadi semalam "ah... tapi tidak mungkin dia melakukan itu pada ku" Mimi berusaha menyangkal kekhawatirannya sendiri "diakan lum....puuuuuh" gumam Mimi lirih sesampai di rusun Mimi menghampiri pak satpam yg tengah ngopi.
"pagi pak..." sapa Mimi dengan suara lirih
" pagi " pak satpam menoleh ke sumber suara " eh kamu Mi,kamu dari mana semalam sepertinya tidak pulang? biasanya walau tengah malam kamu pulang?" tanya pak satpam
"hems.... lembur pak" jawab Mimi berbohong dengan menggaruk kepalanya yg tak gatal
"pak boleh pinjam uang untuk membayar ojek ?" tanya Mimi ragu ragu "dompet saya tertinggal d tas teman" Mimi beralasan.
padahal jelas tas beserta dompet dan juga ponselnya tertinggal d club' semalam. dan sampai saat ini ia juga tak tau apakah masih ada sana atau sudah hilang.
"oh... ada mi. sebentar bapak ambilkan " jawab pak satpam yg kembali masuk kedalam pos .
Tak selang lama pak satpam keluar kemudian menyerahkan lembaran 50 ribu pada Mimi
"trimakasih pak... uangnya saya pakai dulu" Mimi tersenyum saat menerima lembaran itu.
"iya sama-sama.ya sudah cepat istirahat sana ! kamu kelihatan sangat letih" ucap pak satpam
Mimi mengangguk dengan senyuman lebar d bibirnya.
Mimi memang gadis yg ramah dengan semua usia, terlebih lagi dia sangat baik dan tidak pelit, apalagi hampir semua orang yg tinggal d rusun itu mengenal Mimi sebagai seorang gadis kuat mandiri dan bertanggung jawab, sehingga setiap kali Mimi membutuhkan bantuan semua orang tak lagi berpikir dua kali untuk membantu mimi.
sesampai d dalam rumah kepala Mimi masih terasa berat,ia membaringkan tubuhnya d sofa angan angannya masih melayang mencoba mengingat kejadian semalam.
samar samar ia mengingat perkelahian d club' namun setelah itu ia tak bisa mengingat lagi.
"ah... entahlah "Mimi menggelengkan kasar kepalanya
bibirnya berusaha mengabaikan namun perasaan cemas tetap saja menyelimuti perasaannya.
tak berapa lama terdengar ketukan pintu, saat Mimi membuka ternyata Irma dengan pakaian seragam kerja tengah menenteng tas nya
"hai.... Ir " sapa Mimi "silahkan masuk" Mimi melebarkan pintu dan mempersilahkan sahabatnya itu masuk.
"kamu itu semalam kemana? pergi dengan 3 pria itu siapa? kalian ngapain? " Irma mencecar Mimi dengan pertanyaan.
"panjang ceritanya. ayo masuk dulu " jawab Mimi sambil menarik lengan Irma untuk masuk kedalam
"kamu itu selalu ceroboh !!! d club' sendirian sampai mabok bagaimana jika ada yg berbuat jahat pada mu" Irma menghempaskan lengan dari genggaman Mimi karena merasa kesal pada sahabatnya yg selalu ceroboh.
"melihat kekhawatiran sahabatnya Mimi langsung memeluk Irma "trimakasih sudah menghawatirkan aku" ucap Mimi terharu.
"sekarang ceritakan siapa 3 pria yg pergi membawamu? apa mereka macam macam pada mu?"tanya Irma penuh dengan kekesalan.
Mimi dan Irma duduk d sofa yg sudah sedikit berwarna pudar
"kamu ingat 3 pria yg membuat aku d pecat?" tanya Mimi
"hemth " Irma mengangguk
"mereka semalam yg membawa ku" jawab Mimi sambil tertunduk.
"lalu ! apa mereka melecehkan mu?" tanya Irma to the point'
Mimi berpikir sejenak "apa aku harus bercerita semuanya pada Irma ?" batin Mimi bimbang "tapi aku juga tidak tau apa mereka melecehkan ku atau tidak, tapi jika tidak mengapa aku bangun Tampa busana ? tapi mengapa hatiku sangat yakin jika mereka tak akan melakukan itu pada ku" batin Mimi berkecamuk
"hei..." bentak Irma pelan "d tanya kok malah bengong" lanjutnya.
"hah...." Mimi terkejut "em.. kayaknya si enggak soalnya aku berada dalam kamar hotel sendirian" jawab Mimi penuh keyakinan.
"kamu yakin?" Irma memandang penuh curiga.
"eeis.... baju baru? " mata Irma menyadari jika dirinya belum pernah melihat sahabatnya memakai Aline dress,matanya memandang Mimi dari atas kebawah "sepatu juga?"
tatapan Irma semakin curiga
"heh.... pandang apa itu?" ucap Mimi seraya mengusap wajah Irma yg tak henti memandangnya penuh dengan kecurigaan.
"heis.... kamu ini kebiasaan" irma menepis tangan Mimi yg biasa mengusap wajahnya saat adu argumen.
"kamu merusak make up ku tau" Irma memicingkan matanya.
"sudah sudah cepat pergi kerja sana sebelum kamu mengikuti jejak ku di...pe..cat..." ucap Mimi seraya menarik tangan sahabatnya untuk berdiri dan segera keluar.
__ADS_1
"kamu ngusir aku?" tanya Irma berusaha menolak tarikan Mimi.
"tidak... sayang. aku masih pusing mau tidur lagi kamu cepat pergi kerja dan untuk tasku trimakasih ya. emuah....muah " Mimi mencium kedua pipi sahabatnya.
"iiiih. menjijikan " Irma meronta dan mengelap bekas bibir Mimi yg menempel pada pipinya.
Mimi tersenyum puas melihat sahabatnya yg tergidik geli, ia tau jika temannya itu sangat tidak suka jika d cium oleh sesama jenis.
"awas kamu !!! liat aja pembalasan ku" umat Irma sembari melangkah keluar
"da....da..." Mimi melambaikan tangan dan tersenyum sangat lebar.
...****************...
beberapa Minggu berlalu Mimi sudah melupakan kejadian yg membingungkan itu dan sudah membawa adiknya pulang akibat kehilangan pekerjaannya Mimi tak sanggup lagi membayar tagihan yayasan tempat adiknya d rawat.
saat akan makan malam bersama adiknya tiba tiba.
huek...
huek....
Mimi sangat mual ia.berlari ke toilet
huek...
huek...
tapi tak bisa memuntahkan apapun
"aaargh...." Mimi berkumur dan menatap wajahnya d dalam cermin
nafasnya terengah engah
"aku kenapa ?" tiba tiba matanya melotot sempurna saat mengingat kejadian beberapa Minggu yg lalu dia terbangun tanpa busana d dalam kamar hotel.
"jangan jangan....!" Mimi meraba perutnya. "astaga...."kemudian membekap mulutnya dengan mata berkaca kaca
"tidak .... tidak... aku tidak boleh hamil, jika aku hamil siapa ayah dari anak ini?" Mimi mulai panik
ia berjalan keluar toilet baru beberapa langkah pandangannya tiba tiba kabur
"arght..." Mimi mengerang seraya memegangi kepalanya yg terasa sangat pusing.
serasa seiri rumah itu berputar saat huyung akan terjatuh beruntung tangan Mimi berhasil meraih ujung gantungan handuk d sisi luar kamar mandi.
"kakak...." teriak Ciko yg melihat kakaknya akan terjatuh.
walau kondisi fisik yg tak normal dalam keterbatasannya Ciko sangat menyayangi kakaknya.
"kakak kenapa?" tanya Ciko sekilas melihat wajah sang kakek yg pucat
"kakak sakit?"
Ciko anak berusia 10 seorang autis dan sindrom Asperger yg ber IQ cerdas. ia mampu merakit rangkaian elektronik, ia juga mampu mengakses internet sejak usia 5 tahun. saat dulu Mimi masih sekolah dan laptopnya mengalami kerusakan jaringan Ciko mampu memperbaikinya padahal ia tak pernah belajar komputer sebelumnya. sejak saat itulah Mimi memutuskan untuk menaruh adiknya d yayasan agar ia bisa mendapat perhatian serta perlakuan oleh para ahli autis sebagai mana mestinya. Mimi berharap suatu saat nanti d balik kekurangannya akan ada bakat luar biasa pada adiknya agar ia bisa bertahan dalam kehidupan yg serba kejam ini.
"kakak g apa kok... kakak cuma pusing" jawab Mimi penuh keyakinan, ia tak ingin adiknya menjadi khawatir.
namun takdir berkata lain setelah mengatakan jika dirinya baik baik saja Mimi malah tak sadarkan diri.
"kakak...."
"kakak..." Ciko menggoyang goyangkan badan kakaknya yg terkulai lemas d lantai
"kakak lemas...kakak jatuh...kakak pingsan" bibir Ciko tak henti bergumam.
saat panik Ciko selalu bergumam tentang kejadian yg ia lihat atau yg ia alami.
Ciko beranjak dan mencari ponselnya.
"hallo....hallo dokter Adrian, dokter Adrian kakak jatuh....kakak pindang ... dokter tolong kakak dokter " ciko menghubungi dokter Adrian yg selalu memeriksanya saat ia sakit d yayasan.
*iya...Ciko... Ciko tenang ya... dokter akan kesana. Ciko jangan panik... dokter akan segera datang ya...* suara dari seberang tlp.
penderita sindrom Asperger akan berbahaya jika panik atau tertekan tanpa pengawasan orang normal ataupun tenaga khusus. oleh karena itu dokter Adrian mewanti wanti Ciko untuk tetap tenang.
setelah beberapa menit terdengar ketukan pintu Ciko berlari untuk membuka pintu.
"dokter...." sapa Ciko seketika membuka pintu
ekspresinya berubah seketika saat yg datang bukanlah dokter Adrian melainkan Irma
mendengar kata dokter dan melihat raut wajah Ciko yg panik Irma menjadi cemas.
"Ciko d mana kakak?" tanya Irma dengan nada lembut.
tanpa menjawab Ciko langsung menarik lengan Irma untuk masuk kedalam dan menunjuk sang kakak yg tergeletak d lantai.
melihat sahabatnya terkapar Irma berlari mendekat
"astaga Mimi...!!! mi....Mimi...bangun mi..." Irma memukul mukul pelan wajah Mimi untuk menyadarkannya
melihat sahabatnya tak kunjung membuka mata
__ADS_1
"Ciko sayang... bantu Tante Irma ya...tolong Ciko angkat kaki kak Mimi ya" ujar Irma
Ciko mengangguk. Irma berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat tubuh Mimi d bantu Ciko yg mengangkat bagian kaki karena postur tubuh mereka yg hampir sama jadi tak memungkinkan jika Irma mengangkat sendiri.
setelah membaringkan Mimi d kasur, Irma langsung mengoles minyak angin pada dada dan perut serta mencium kan aroma minyak angin pada hidung sahabatnya itu.
"kakak bangun.... kakak buka mata....kakak bangun" Ciko terus bergumam sambil mondar mandir.
melihat tingkah Ciko, Irma kini jadi semakin bingung dan takut sebab ia paham betul saat Ciko panik maka akan memicu terjadi hal buruk.
"Ciko sayang....tenang ya. tadi Ciko sebut dokter Adrian? memang dokter Adrian mau kesini?" tanya Irma lembut seraya meraih lengan Ciko dan menatapnya penuh ketenangan.
"dokter Adrian...kesini" jawab Ciko mengangguk dan memalingkan pandangannya ke kiri dan ke kanan secara terus menerus.
"oooh... sebentar lagi pasti dokter Adrian datang ...Ciko jangan khawatir ya... kak Mimi pasti baik baik saja" ucap Irma dengan memegang kedua pipi Ciko yg tak mau berhenti menoleh ke kanan dan ke kiri.
Ciko segera menepis tangan Irma...
kemudian Irma mengambil Warm Water Zak dan mengompres kan pada perut dan juga dada Mimi yg mulai terasa dingin.
Ciko membawa selimut dari dalam kamarnya untuk kemudian menambah ketebalan selimut yg Irma gunakan untuk menyelimuti kakaknya.
melihat sikap Ciko, Irma terharu ia tersenyum pada Ciko sementara Ciko hanya melihatnya sekilas.
biarpun Ciko bisa beri teraksi dengan orang lain namun ia tak pernah mau menatap Lawan bicaranya sekalipun itu dengan Mimi.
dret.... dret... derit ponsel Ciko berbunyi ternyata pesan suara dari dokter Adrian
"Ciko sayang... maaf dokter terjebak kemacetan, sekarang Ciko dengarkan kata kata dokter ya, Ciko cari seseorang yg ada d dekat rumah Ciko dan minta untuk menolong kak Mimi ya. sementara dokter akan mencari ojek untuk segera kesana"
Ciko memutar pesan suara itu dan di dengar oleh Irma.
"ba...." Irma baru akan menyuruh Ciko untuk membalas namun belum sempat berkata
"i...iya dokter Adrian d sini sudah ada kak Irma. dokter cepat kesini ya... kakak belum bangun" Ciko membalasnya dengan voice note
Ciko memainkan ponselnya mengecek keberadaan dokter Adrian melalui pesan yg baru saja d kirim padanya, setelah beberapa saat Ciko kembali mengirimkan pesan suara
"dokter d depan terjadi kecelakaan. berjalan lah ke depan 50 meter dari tempat dokter saat ini akan ada swalayan, titipkan mobil dokter d sana dan naik lah ojek yg mangkal d sebelahnya dokter akan sampai kesini dalam 10 menit,jika menunggu kemacetan itu habis dokter akan sampai sini nanti setelah hampir subuh.
kini irma menyaksikan sendiri keahlian Ciko yg sering Mimi ceritakan.
Irma hanya melongo tak percaya melihat bakat yg d miliki seorang anak Auris yg mengidap sindrom Asperger.
d sisi lain dokter Adrian yg mendengar pesan suara Ciko segera keluar dari mobilnya sambil menenteng bergegas pergi menuju swalayan yg Ciko maksud.
setelah berjalan 50 meter benar adanya jika ada pangkalan ojek d sebelah swalayan itu.
"hemz ...." nampak senyum d bibir dr Adrian yg sudah mengetahui kemampuan Ciko.
"permisi..." sapa dr Adrian pada beberapa tukang ojek "emh saya sedang terburu buru boleh saya minta tolong ?" tanya dr Adrian
"ada ada mas?" tanya Kembali tukang ojek itu.
"mobil saya terjebak kemacetan dan saya harus menolong Pasian saya. bisakah saya pinjam motor bapak dan bapak kemudikan mobil saya agar terparkir d swalayan ini" ujar dr Adrian sembari mengeluarkan dompet dan memberikan 10 lembar uang ratusan ribu pada tukang ojek.
melihat uang yg d tawarkan Adrian tukang ojek itu langsung menyetujuinya.
"boleh mas...." kemudian tukang ojek itu memberikan helem pada Adrian.
"trimakasih pak.." ujar Adrian segera memacu motor matik itu melewati jalur tikus.
kenapa dokter Adrian sampai rela membayar mahal demi bisa sampai kerumah Ciko ????
itu karena dr Adrian sudah menghadap Ciko seperti adik sendiri terlebih lagi sejak awal pertemuannya dengan Mimi dr Adrian menaruh hati pada gadis kecil yg menitipkan adiknya d yayasan.
sejak saat itu sampai sekarang dr Adrian memendam rasa terhadap Mimi.
tepat seperti prediksi Ciko dr Adrian sampai d rumah Mimi tepat 10 menit
d saat yg sama Ciko melihat jam tangannya
"dia datang" bibirnya berucap dan benar saja saat Ciko menutup mulut suara dr Adrian terdengar dari luar pintu yg tak sempat d tutup sejak kedatangan Irma.
tak banyak bicara dokter Adrian segera memeriksa mimi
"bagaimana keadaannya dok?" tanya Irma.
"emth......" saat dr Adrian akan menjawab
"arght..." Mimi mengerang dan tersadar.
"mi...akhinya kamu bangun juga" ujar Irma yg melihat temannya itu sadarkan diri.
Ciko yg melihat kakaknya tersadar segera melompat ke tempat tidur dan memeluk kakaknya dengan erat.
"dokter Adrian..." panggil Mimi saat menyadari keberadaan dr Adrian
Mimi membenarkan posisinya ia menyandar d ranjang d bantu oleh Irma dan tentunya dr Adrian sedang Ciko yg terus berada dalam pelukannya.
"saya ...kenapa dok...?" tanya Mimi cemas.
"emth...kamu..." dr Adrian ragu ragu memberikan jawaban....
__ADS_1
bersambung......