Pemuas gairah tuan difabel

Pemuas gairah tuan difabel
ijab qobul


__ADS_3

da....dada....


Mimi melambaikan tangan pada adiknya yg ada d balik jendela kamar d yayasan.


Ciko membalas lambaian tangan dan kemudian pergi samar samar terlihat ia nampak sangat bahagia bisa berkumpul dengan teman-teman nya lagi.


Mimi segera mengemasi beberapa perlengkapannya ke dalam koper kecil miliknya saat ada mobil yg sudah menunggunya sejak tadi .


"biar saya bantu non" ucap supir tsb.


"oh.. trimakasih."


kemudian Mimi masuk kedalam mobil, sepanjang perjalanan mimi tak bersuara ia hanya menatap hiruk pikuk kota dari balik jendela.


angan angannya jauh melayang entah kemana hingga tak menyadari bahwa dirinya kini sudah berada d halaman villa mewah d pinggir pantai.


Mimi keluar dari mobil dan mengelilingkan pandangannya suasana yg sangat sejuk dan damai jauh dari hiruk pikuk kendaraan serta bisingnya kota.


seduuut ....


Mimi menghirup udara segar


"selamat siang nona" sapa wanita paruh baya dengan ramah


Mimi membalasnya dengan senyuman


"mari nona !tuan sudah menunggu"


wanita itu mengambil alih koper dari tangan pak supir "mari.... silahkan" wanita itu mempersilahkan Mimi untuk berjalan d depan


"oh... trimakasih" jawab Mimi dengan sopan


saat pintu utama d buka nampak sudah ada Barra, K2 (Kevin dan Kenzo) ,dan penghulu dan beberapa saksi.


"mari non ikut saya dulu, ganti baju" ucapan wanita paruh baya itu menyadarkan tatapan Mimi yg kosong


lagi lagi Mimi hanya mengangguk sembari tersenyum tipis.


Mimi d bawa ke sebuah kamar yg sangat luas dengan fasilitas mewah.


"wah.... kamar ini lebih besar dari satu rumah ku" batin Mimi terkagum.


di dalam kamar itu sudah ada beberapa penata rias dari kalangan atas Mimi sering melihatnya d acara acara tv.


salah satu asistennya memberinya gaun berwarna putih dari rancangan desainer ternama.


"dia cantik dan masih muda kenapa dia rela menikah dengan pria yg lebih tua dan lagi dia difabel?" bisik salah satu asisten MUA pada temannya


"pria itu sangat kaya. apa yg tidak bisa dia dapatkan dengan uang" jawab salah satunya


"kalau aku si ogah.... masa aku korbankan masa mudaku hanya untuk tuan difabel" sahut satunya dengan tergidik jijik


"eh dan lagi kenapa pernikahan ini tak d hadiri keluarga sepertinya ini pernikahan sembunyi. ha....aaaa...atau jangan jangan gadis ini hanya simpanan?!!!!" imbuh wanita yg memulai pembicaraan


"hust.... jaga bicaramu" jawab tuannya sembari membekap mulut temannya itu.


tentu saja Mimi mendengar itu semua namun Mimi hanya mencebikkan bibir kecilnya dan mengangkat kedua bahunya sekaan tak perduli apa yg ia dengar toh benar adanya ini semua hanya demi uang.


"wah.... pengantinnya masih muda dan cantik sekali" puji penata makeup yg mulai menyentuh wajah ayu Mimi.


tak selang lama Mimi keluar dari kamar d bersama wanita paruh baya yg akrab d sapa bik Sumi .


Mimi terlihat sangat cantik dan anggun penampilannya berubah 180° berbeda ia sehingga setiap mata yg memandang tak dapat memalingkan pandangannya.


"widih...." Kenzo menepuk pundak Barra untuk memberi tahu pengantinnya "cantik bener bini looo" imbuh Kenzo yg juga terpesona oleh kecantikan mimi.


"hais... matamu itu d jaga" ujar Barra dengan mengusap kasar wajah Kenzo yg senang bergonta ganti pasangan "dia milikku!!!" ujar Barra dengan tatapan mengancam


"tenang.... tenang kawan. temanmu ini masih tau haluan" Kenzo mengangkat kedua tangan, menandakan ia menyerah tak berani mengganggu wanita sahabatnya.


Barra memandang Mimi tanpa berkedip sampai pada saat Mimi duduk d samping nya ia baru mengalihkan pandangannya.


"ingat !!! setelah ijab qobul selesaikan kesepakatan" bisik Barra Tampa melihat ke arah Mimi.


"hemz" jawab Mimi cuek.


dengan sekali tarikan nafas Barra mengucap ijab qobul tanpa terputus.


"saaah.....?"


"sah .......!!"


Ijab qobul berjalan dengan lancar kini Mimi dan bara menjadi sepasang suami istri.


Mimi menjabat tangan Barra kemudian mencium punggung tangannya


setelah selesai ijab qobul 2k mengurus para penghulu dan para petugas yg bertugas.


sedang Barra akan menyelesaikan perjanjian dengan gadis asing yg kini menjadi istrinya.


"ikut dengan ku" ucap bara lirih


"hah....?" Mimi terkejut "kemana?" tanya Mimi cemas.


"hah apa iya dia langsung minta d layani???" batin Mimi mulai gelisah


"kenapa kamu terlihat cemas? bukankah saat ini kau sudah menjadi milik ku? jadi terserah aku bukan?" Barra memandang Mimi dengan dingin


"hehehe" melihat sikap suaminya Mimi hanya bisa terkekeh lirih


"dasar bodoh.... kemarin saja sok bertaring panjang sekarang seperti harimau kehilangan taring" tersirat senyum licik d bibir Barra.


Barra menggerakkan kursi rodanya menuju kamar d mana Mimi tadi berias diri.

__ADS_1


melihat suaminya menggerakkan kursinya sendiri Mimi berinisiatif ingin membantu.


"kalau ingin membantu hati hati ! jika sampai terjatuh d badanku kembali maka akan sangat sulit d kendalikan " ejek Barra sambil terkekeh mengingatkan kejadian beberapa Minggu lalu.


" ya sudah jika takut tak terkendali , silahkan jalankan sendiri " ujar Mimi cuek seraya mengangkat gaunnya untuk berjalan terlebih dulu.


namun saat akan melangkah Barra mencekal lengan Mimi, Mimi berbalik dengan tatapan tanpa ekspresi.


"lakukan apa pun yg kau mau. Mulai saat ini rumah beserta isinya anggap saja milikmu, jangan sungkan" ujar Barra dengan nada terlembut yg Mimi dengar dari semua perkataan yg keluar dari mulut laki laki yg kini menjadi suaminya itu.


"apa aku tidak salah dengar ?" batin Mimi terkejut


"apakah itu termasuk rayuan?" pertanyaan konyol keluar dari bibir Mimi.


"rayuan???" kini Barra yg merasa bingung . ia nampak seperti orang bodoh "rayuan apa?" tanya Barra kembali.


"oh... tidak ... tidak... " jawab Mimi sembari menurunkan ekor gaunnya yg sedari tadi ia genggam.


"ok .. sekarang tuan mau saya antarkan kemana?" tanya Mimi dengan nada mengejek


"ke kamar utama" Barra menunjuk kamar dimana Mimi merias diri ya tadi


Mimi mendorong kursi roda suaminya.


sesampai d kamar Barra menyerahkan map kesepakatan kemarin, d sana semua keinginan Mimi juga d masukkan dalam poin poin d dalamnya.


setelah membaca keseluruhan isi kontrak yg saling menguntungkan Mimi menadatangani kontrak tsb.


"selamat bekerja sama" Mimi mengulurkan tangannya "mulai saat ini harus saling membantu satu sama lain" Mimi mengajak Barra berjabat tangan


Barra menjabat tangan Mimi dengan senang hati, sebab ia sudah tak sabar untuk segera menyalurkan hasratnya.


"baik ... saya terima kerja sama ini dengan senang hati" ujar Barra


"ok.... acara sudah selesai. apa kita akan tinggal d sini?" tanya Mimi sembari merentangkan tangan dan memutar badannya.


Mimi berjalan ke arah jendela yg langsung mengendap ke pantai, ia bersandar pada bingkai jendela yg merasakan angin sepoi Sepoi menyapu wajahnya. Mimi memejamkan mata menikmati setiap sentuhan angin yg menyentuh kulit nya dengan lembut.


Barra memperhatikan setiap gerak gerik gadis asing yg kini menjadi istrinya itu dengan menyunggingkan sudut bibirnya.


tepat d saat itu Mimi yg menoleh ke arah Barra melihat senyum yg begitu tulus dari bibir seorang pria kaku dan angkuh itu.


"andai saja itu bisa d lihat setiap saat " ucap Mimi yg berjalan mendekat ke arah Barra ketika melihat senyum mereka d sudut bibir suaminya.


"apa?" sergah Barra yg menutupi rasa gengsi akibat ke Tahuan mengagumi kecantikan istrinya


"senyum itu....? sungguh sangat manis" ucap Mimi yg terus melangkahkan kakinya semakin mendekat pada Barra dan menundukkan badannya kini wajah mereka sejajar, hingga hembusan nafas keduanya dapat mereka rasakan.


"ternyata kamu memang berani, aku kira saat itu karena terpengaruh alkohol ternya sadar juga tak berbeda" gumam Barra menyeringai.


"apa maksud mu!!" seketika Mimi menjauhkan wajahnya dan menegakkan badannya, menyangkal jika dirinya telah bertingkah di luar batas. sebab sampai saat ini dia masih tak bisa mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat dirinya terbangun dalam keadaan naked.


"tunggu !!! sebenarnya apa yg terjadi malam itu? aku benar benar tak bisa mengingatnya " tanya Mimi penasaran.


"tugas apa?" tanya Mimi


"Tanggalkan pakaian mu?" perintah Barra dengan wajah datar


"apa!!!???" teriak Mimi "kamu gila ? perintah macam apa itu?" tanya Mimi dengan sedikit mengecilkan suaranya takut ada yg mendengar percakapannya.


"bukan kah semua ini sudah menjadi milikku?" mata Barra menatap dan menunjuk badan Mimi dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"andai saja kakiku bisa bergerak habis kamu gadis kecil!!!" seringai hati Barra


"hemz" Mimi mendengus kesal.


mimi memalingkan pandangannya. tertuju pada bingkai foto seorang wanita cantik d atas meja nakas.


"siapa dia?" tanya Mimi yg sengaja mengalihkan topik


"jangan berusaha mengubah topik " ujar Barra yg seakan tau Mimi ingin menghindarinya.


ketika Mimi hendak melangkah mendekat pada foto itu Barra menarik ekor pada gaun yg masih d kenakan Mimi


"aaaa" terik Mimi terkejut yg merasa tubuhnya tiba tiba huyung.


Barra segera menarik lengan Mimi hingga Mimi terjatuh tepat d pangkuan Barra untuk yg kesekian kalinya.


mata Meraka saling menatap satu sama lain deru nafas yg semakin cepat keluar dari Indra penciuman Mimi.


deg.... deg...deg...


jantungnya berdetak cepat dan semakin cepat


"apa apa an ini? kenapa jantungku berdetak secepat ini ? rasanya aku ingin bangkit tapi tatapan serta pelukan ini benar benar nyaman" batin Mimi berkecamuk.


tatapan Barra semakin dalam menatap lekat mata Mimi yg terlihat berbinar indah, bibir kecil nan seksi dengan balutan lipstik pink yg menambah gairah.


perlahan Barra mendekatkan wajahnya


"apa dia akan melakukannya sekarang? tapi bagaimana caranya?" batin Mimi terus beropini.


"Mimi ayo bangun!!! beranjak dari pangkuannya!!!" otak memberi perintah namun hati mimi tak mampu menolak karisma pria yg bersamanya. karisma yg sangat kuat sehingga Mimi lebih memilih mengikuti alur selanjutnya.


bibir Barra mulai menyentuh bibir Mimi yg terasa sangat lembut saat keduanya mulai menautkan bibir masing masing.


"waaaah" suara Kenzo mengagetkan keduanya hingga Mimi secara respek beranjak dari pangkuan Barra "kalian sungguh tak berperasaan, masa penghulu baru pergi kalian sudah mau mulai main game!!!" ujar Kenzo sengaja mengganggu temannya.


"haaaa...ha....ha..." Kenzo dan Kevin tertawa lepas bersamaan.


pipi Mimi seketika memerah, untuk menutupi rasa malunya "aku ganti baju dulu" ujar Mimi sengaja menghindari kedua teman Barra.


"eeeh.... mau kemana ? kamu harus mulai terbiasa dengan keberadaan kami " sergah Kenzo pada Mimi yg mulai menghilang d balik pintu

__ADS_1


...****************...


sore menjelang malam sepulang kerja Irma yg merasa suntuk pergi ke rumah Mimi, ia ingin sekedar bercerita tentang hari panjang yg ia lalui d tempat kerja Tampa sahabatnya.


namun sesampai d rusun Mimi, berulang kali Irma mengetuk pintu tak ada jawaban.sampai ada seorang tetangga Mimi yg lewat memberi tahu jika Mimi pergi sejak pagi dan belum kembali.


Irma menghubungi nomor Mimi "kenapa lagi anak ini?" gumam Mimi saat telfonnya tak kunjung mendapat jawaban.


*Mi.... kamu kemana? aku d rumah mu nih malam ini aku mau nginep d rumah mu* Irma mengirim pesan singkat pada Mimi


kemudian Irma pergi ke rumah tetangga Mimi yg menawarkan untuk menunggu d rumahnya.


d sisi lain....


"kalian libur saja selama 3 hari " ujar Barra pada k2 saat makan malam


"hah...?" Kenzo terkejut "apa kamu salah minum obat?" tanya Kenzo heran tak percaya


"iya... cuti berbayar " jawab Barra sambil menyendok makanannya


"berbayar.....?" tanya Kenzo dan Kevin berbarengan karena mereka merasa sangat heran.


biasanya jangankan cuti berbayar mau memejamkan mata atau sebatas kencan saja tak akan bisa tenang.


"mau tidak???" gertak Barra dengan tatapan datar


"hee...he..." tentu saja mau jawab k2 bersamaan


"hidup Dewi.... sepertinya sejak kehadiran mu hari hari kami akan lebih manis" imbuh Kenzo dengan menunjuk Mimi dengan ibu jarinya.


"aku...?" tanya Mimi heran sejak awal Mimi tak memperdulikan apa yg mereka bicarakan, karena dalam kontrak mereka tak boleh mencampuri urusan masing masing.


Ting....


suara pesan Chet dari ponsel Mimi.


Mimi memeriksa hpnya dan membaca pesan dari Irma sahabatnya.


*emh sorry Ir aku masih d luar kota sampai beberapa hari kedepan. kalau kamu mau nginep g papa 090909 sandi pintunya* Mimi membalas pesan Chat sahabatnya


saat Mimi sibuk dengan ponselnya diam diam Barra memperhatikan dari kejauhan


"sedang sibuk membalas pesan siapa dia?" batin Barra curiga.


ehem...ehem.... Barra pura pura batuk untuk mecari perhatian istrinya yg masih sibuk dengan ponselnya.


sampai beberapa kali Barra terbatuk tetap saja Mimi tak memperdulikan nya, setelah selesai membalas pesan Mimi melanjutkan makannya tanpa merespon sedikitpun tingkah Barra dan tentu saja itu membuat Barra geram.


"hah....?" barra terheran tak percaya "seorang Barra d cuekin ?" gumamnya yg samar Dar terdengar oleh Mimi


"kamu mengatakan sesuatu?" tanya Mimi sembari mengunyah makanan d mulutnya


"tidak...!!! " sangkal Barra segera "kamu salah dengar" imbuhnya


melihat tingkah tuan serta sahabatnya k2 hanya bisa menahan senyum sembari bertukar pandangan.


"emh .... aku ke toilet sebentar " ijin Mimi setelah menghabiskan makanan d piringnya.


"hemz..." jawab Barra mengangguk


Mimi pergi ke toilet dengan meninggalkan ponselnya tetap berada d atas meja makan.


dan itu d gunakan Barra untuk melihat hp istrinya di saat yg bersamaan


Ting ... hpnya kembali berdering dan kebetulan itu dari kontak bernama Mas Adrian.


*malam mi... jika tidak sibuk bisa bertemu ada sesuatu yg ingin aku bicarakan* pesan singkat itu seluruhnya d baca Barra melalui layar atas.


"mas Adrian ? siapa dia ? apa mereka memiliki hubungan sepesial?" batin Barra penuh pertanyaan.


"hei.... bar... baru saja menikah kami sudah kepo sama hpnya. jangan jangan kamu beneran suka sama Mimi tanpa memberi tahu kami?" tuduh Kenzo yg mengamati sikap Barra yg mulai over pada Mimi


"mana ada" sangkal Barra dengan mengalihkan pandangannya dari ponsel Mimi


"bar... kita bersama itu g satu dua hari ini sama persis saat kamu mulai jatuh cinta sama Karina " ujar kenzo yg d perkuat dengan anggukan Kevin.


break.... barra menggebrak meja dengan gagang sendok.


"kalau masih mau hidup jangan sebut nama wanita itu !!!" ujar Barra yg marah setelah mendengar nama Karina.


d saat itu pula Mimi yg selesai dari kamar mandi merasa sangat terkejut


"astaga ....ada apa ini?" tanya Mimi keheranan.


"kalian pergilah....!!!" usir barra pada k2


"ada apa ini ?" tanya Mimi kembali yg masih belum mendapat jawaban....


"sorry bar ..." Kenzo meminta maaf dan beranjak dari kursi


"kami pergi dulu ya mi... titip barra" pamit Kenzo dengan menepuk bahu Mimi pelan.


"hei sebenarnya ada apa?" bisik Mimi pada Kenzo


namun lagi lagi Kenzo hanya menjawab dengan senyuman dan berlalu pergi...


Mimi hanya mematung seperti orang bodoh yg tak tau apa apa sembari menggaruk kepalanya yg tak gatal.


Mimi berjalan mendekat ke arah Barra namun belum sampai Mimi menyentuh kursi Barra, barra pun menggerakkan kursi rodanya meninggalkan Mimi tanpa berkata sepatah katapun.


"e...eeeh." Mimi ingin menghentikan barra namun mengurungkan nya justru ia menyusul barra kekamar.


bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2