Pemuas gairah tuan difabel

Pemuas gairah tuan difabel
Terima kasih telah menjaganya


__ADS_3

Dua pasang langkah kaki melangkah semakin ke dalam di susul seseorang memakai kursi roda masuk ke dalam aula pesta.


"Barra!!" ucap seorang wanita berpakaian **** dengan kulit mulus 70% terekspos.


Dia adalah Karina, seorang wanita yang pernah sepesial di hati Barra sebelum menorehkan luka mendalam di hatinya.


Ya.... dia adalah wanita yang meninggalkan Barra saat dirinya tengah terpuruk dengan keadaan nya setelah kecelakaan itu.


Barra mengepalkan tangannya saat melihat pria yang berdiri di samping istrinya adalah Adrian.


"Enak saja mau menyentuh milik ku!!!" gumam Barra kemudian menggerakkan kursi rodanya mendekati Azimie.


Melihat sang suami datang di waktu yang tepat hati Azimie benar bener berbunga bunga, ia segera berlari menuju suaminya.


Azimie mencondongka tubuhnya menekan tombol tombol agar sandaran kursi sedikit condong ke belakang kemudian Mimi mengecup bibir sang suami dengan lembut.


"Trimakasih mas udah datang tepat waktu" bisik Azimie dengan senyum tersungging di bibirnya.


Tak sedikit orang yang saling berbisik menanyakan hubungan keduanya, namun Azimie tak menghiraukan bisikan bisikan yang terdengar jelas di telinganya.


"Tak kan ku biarkan siapa pun menyentuh milik ku!" balas Barra tersenyum licik


Mendengar jawaban suaminya Azimie memicingkan kedu matanya namun tetap dengan senyum bahagia.


"Sudah aku bilang bukan pestanya membosankan!" kata bara pelan sambil menyapu dengan jari bibir sang istri.


kemudian Barra meraih tangan Azimie dan mencium punggung tangannya.


Karina semakin mendidih melihat pertunjukan itu, ia mengingat dengan jelas jika dulu dia selalu di perlakukan layaknya seorang ratu oleh Barra.


Tak terima jika Barra sudah bisa muve on darinya Karina berencana mengacaukan suasana.


Prok... prok...prok..


Suara tepuk tangan dari depan sana dan itu menyit perhatian semua orang.


"Wah... wah .. ini dia senior favorit kita semua yang sudah lama tak terdengar kabarnya ternyata masih sama seperti beberapa tahun yang lalu, masih menjadi pecundang cacat!" umpat Karina.


Mendengar seseorang berkata kasar tentang suaminya Azimie tergerak untuk membalas argumen itu namun Barra menarik lengan Azimie dan mengisyaratkan untuk tetap diam.


"Tapi mas .." kata Azimie membalas isyarat itu.


"Kamu tak perlu mengotori tangan dan mulutmu untuk orang rendah seperti dia" jawab Barra pelan.


Irma yang sejak tadi sudah mendekati Azimie berbarengan dengan Kevin mencoba menenangkan sahabatnya dengan mengusap pundak temannya itu.


"Dia adalah Karina mantan Barra beberapa tahun lalu" bisik Kevin pada Irma yang berdiri di sampingnya.


"what ??" Irma membulatkan matanya karena terkejut.


"Mantan?" tanya Irma pelan


Kevin menganggukkan kepala nya pelan.


"Aku dengar sekarang dia memiliki pacar yang usianya lebih muda darinya" imbuh Kenzo.


"Hei...kamu !!!" Karina memanggil Azimie dengan kasar " Sebegitu membutuhkan uang sampai kamu rela menjual masa mudamu untuk pri cacat seperti dia" kata katanya semakin tak bisa di terima.


Awalnya Barra tak menghiraukan sepatah katapun yang keluar dari mulut sang mantan, namun saat Karina berkata buruk tentang istrinya Barra angkat bicara.


"Andai yang kamu ucapkan benar aku rasa masih lebih terhormat dan masih lebih mudah di terima akal seorang laki laki memberikan uang pada kekasihnya, bukan sebaliknya seorang wanita mengejar laki laki tak berguna dan menghidupinya hanya untuk memu askan nafsunya saja" balas bara dengan nada merendahkan.


Sebagai seorang Barra ia selalu memantau semua orang,terutama orang orang yang pernah bermasalah dengannya dan sudah dapat di pastikan seseorang yang bermasalah dengannya pasti berujung dengan penyesalan. Barra tak akan membiarkan mereka hidup tenang dengan mudah.


Mendengar kata kata Barra, Karina menjadi ciut sebab apa yang di ucapkan adalah benar. 2k dan Irma tersenyum puas mendengar perkataan Barra secara tidak langsung membela istrinya itu.


Sebagai orang yang cukup pintar membaca ekspresi, Azimie menyimpulkan jika wanita itu pernah menjadi masa lalu suaminya dan ia tak menyukai jika seseorang dari masa lalunya memiliki hidup yang lebih baik tanpa dirinya.


Azimie yang sudah tak tahan ia meraih pengeras suara di tangan Adrian.


"Ma...-" baru akan membuka mulut mata Azimie dan Irma membulat sempurna saat melihat seorang laki laki mendekati Karina dan memanggilnya sayang, Azimie dan Irma saling bertukar pandangan.


"Hhhhh" Irma merampas mic dari tangan sahabatnya "Oh.... jadi ini couple pecundang "Irma berjalan mendekati Karina dan Denis seorang laki laki yang tak lain adalah mantan kekasihnya.


"Yang satu mata duitan yang satu nafsu setan hhhh" irma tertawa lepas, kali ini ia ingin membalas rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


"Hei... kamu nona cantik perbanyaklah pundi pundi uangmu !! jangan sampai rekeningmu kering jika tak ingin dia meninggalkan mu" sindir Irma pada Denis mantan kekasihnya.


"Cukup ir-" pinta Denis


"Eist...dan iya kamu juga jaga kesehatan fisik mu,harus tetap sehat dan kuat untuk melayaninya jika tak mau sumber uangmu pergi" lagi lagi Irma mengucapkan kata kata tajam.


"Sial....!!!!" batin Karina dengan tatapan kebencian.


"Sudahlah Ir.... biakan saja dua sejoli ini saling melengkapi kekurangan masing masing, bukankah Kevin jauh lebih baik " ucap Azimie mendekati sahabatnya yang terbakar emosi.


Kevin mendekat dan memeluk Irma dengan penuh kasih sayang.


"Ayo kita pulang" ajak Kevin sambil menggandeng tangan Irma


Denis yang sebenarnya masih menyukai Irma merasa sangat cemburu dan akan mencegah Irma namun langsung di hentikan oleh Karina.


"hhhh Pertunjukan yang sangat seru tahun ini" gumam Kenzo terkekeh


Mereka semua pergi meninggalkan pesta yang kacau. entah acara itu masih berlanjut atau akan berantakan yang jelas Barra dan kawan kawan tak memperdulikan itu.


...****************...


"Mbak Ingrid... mbak Ingrid..." teriak seorang wanita cantik di kediaman Permana


"Ada apa sof?" tanya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik


"Lihat...inikan Barra, dia bersama seorang gadis cantik" tunjuk Sofia pada sebuah layar ponsel.


"Eh.... siapa gadis itu? sepertinya belum pernah melihat dia ?" tanya mama Ingrid penasaran.


"Mungkin saja calon mantumu mbak. Coba tanyakan langsung saja pada Barra " usul Sofia pada kakak iparnya.


Semua yang terjadi di pesta tersiar langsung di sosial media, awal hubungan yang susah di jelaskan kini sudah menjadi konsumsi publik, dan mungkin saja akan menimbulkan banyak konflik baik internal maupun eksternal.


dret....


dret....


Derit ponsel Barra, panggilan dari mama Ingrid.


"Ma.... jika sudah saatnya akan Barra dia pulang, untuk saat ini Barra masih belum bisa membawa dia pulang" jelas Barra


"Setidaknya kamu bisa jelaskan apa yang terjadikan !" desak Mama Ingrid


"Iya... ma besok Barra pulang, jika papa bertanya mama tak perlu menjawab apapun. ok" terang Barra yang sudah menduga jika ayahnya juga akan bereaksi.


"Tapi bar...-"


Tut....


Tut....


Belum selesai sang ibu bicara Barra sudah memutus panggilan.


"Mas.." panggil Azimie dengan lemah lembut "istirahat dulu sudah larut malam lanjutkan besok pagi saja" Azimie memeluk sang suami yang tengah bekerja dari belakang.


Cup.... Barra mengecup pipi sang istri " Sebentar lagi sayang" kata Barra sembari menghadap istrinya.


"Wah......" Barra baru menyadari jika istrinya mengenakan baju ****, lingerie berwarna oranye membuat gairah Barra memuncak seketika.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Azimie sambil menatap layar komputer yang penuh dengan angka-angka yang langsung membuat Azimie pusing.


"Ada" jawab Barra dengan tatapan menyeringai "bantu aku melepaskan testosteron"diiisik Barra kemudian meraup bibir Azimie dengan penuh nafsu.


Sambil mendorong mundur kursi roda suaminya Azimie terus menikmati ******* demi ******* yang di berikan suaminya.


Azimi menekan tubuh suaminya di atas ranjang. Pemanasan di lakukan Azimie dengan penuh gairah desaj keduanya memenuhi setiap sudut kamar.


Azimie di bantu Barra untuk memegang kendali adegan dewasa itu dari awal hingga akhir akibat Barra yang tak mampu menggerakkan kakinya.


Barra melihat Noda merah tercecer di seprai dan itu membuat Barra merasa sangat bahagia bisa mendapatkan wanita yang masih bisa menjaga martabatnya yang hanya di berikan pada mahramnya.


Azimie terkulai lemas, baru pertama kali melakukan untuk memegang kendali sepenuhnya


dan Barra adalah pria yang cukup tangguh untuk di puaskan,itu semua menguras habis tenaganya.

__ADS_1


"Terimakasih sayang" ucap Barra seraya mengecup kening sang istri


"Maafkan aku jika tak bisa memuaskan mu" balas Azimie masih dengan suara bergetar.


"Tidak... kamu bisa menyelesaikannya dengan baik, dan terimakasih telah menjaga ini untuk ku, dari sekian banyak wanita yang aku temui ini pertama kalinya aku dapatkan" ucap Barra sambil memeluk mesra Azimie.


Sebagai seseorang berparas tampan dan juga kaya bukan hal sulit untuk Barra bergonta ganti pasangan dan terakhir pada Karina yang akan di pinangnya, namun tuhan berkehendak lain, Barra mengalami kecelakaan dan Karina meninggalkan barra saat berada di posisi terburuknya.


"Kini aku semakin yakin jika tuhan telah mengirimkan bidadari untuk ku setelah perjuangan hidup ku yang sulit, dan aku tak akan melepaskan ini semua" batin Barra


Azimie menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang sang suami, nafasnya menghirup aroma tubuh yang bisa membangkitkan hormon ketika mengingatnya.


"Mas..." panggil Azimie manja "aku sangat menyukai aroma tubuh mu, dan sudah berapa banyak gadis yang pernah berada di posisi ini?" tanya Azimie penasaran setelah Barra mengatakan jika dari sekian banyak wanita.


"Apa kamu tidak akan sakit jika mengetahuinya?" Tanya Barra dengan mengelus kepala Azimie


"Mungkin sedikit rasa sakit ada, tapi itu bukan hak ku menghakimi sebab kamu melakukannya sebelum aku hadir" terang Azimie masih berada dalam Kungkungan lengan suaminya.


"Dari semua wanita yang pernah bersamaku hanya kamu dan karina yang merasakan ini" jawab Barra.


Barra mengingat dengan jelas semua wanita yang pernah tidur dengannya hanya sekedar bisnis tak lain uang dan gairah,banyak wanita yang meminta lebih atas hubungan itu namun Barra tak pernah menghiraukan satupun. Sebelum kecelakaan Karina adalah pelabuhan terakhirnya.


"Apa mas akan kembali seperti itu ketika mas nanti sembuh?" batin Azimie yang merasa sakit sampai tak terasa air matanya menetes.


Azimie yang sudah terbawa perasaan,yang sudah jatuh cinta pada Barra seakan lupa bagaiman pernikahan ini bisa terjadi, dan bisa sewaktu waktu Barra membuangnya.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Barra "apa kamu menyesal ?!!" nampak raut kecewa di wajah Barra.


Azimie menggelangkan kepalanya"pasti sulit menjalani hari hari seperti ini,Mas harus sembuh mas harus bisa pulih seperti dulu lagi" kata kata semangat yang Azimie menambah ekspresi marah pada raut suaminya.


"Apa jika mas tidak sembuh kamu juga akan meninggalkan mas?" tanya Barra sedikit mencengkeram lengan Azimie.


"Justru aku yang takut mas buang setelah semua yang mas inginkan sudah mas dapatkan seperti wanita wanita sebelumnya, kita sama sama tau bagaimana hubungan ink di mulai" batin Azimie semakin sakit.


"Cepat jawab! apa kamu menyesal? apa kamu juga akan meninggalkan aku seperti karina dan merendahkan aku seperti tadi?" tanya Barra dengan nada emosi


Azimie tak menjawab justru mengecup bibir suaminya denga lembut.


"Aku mencintai mu mas" kata Mimi dalam hati. ia takut mengungkapkan isi hatinya sebab ia tau persis tujuan awalnya memang Azimie di beli untuk sekedar memuaskan nafsu laki laki yang saat ini menjadi suaminya.


Barra semakin tak mengerti dengan sikap istrinya. ia tak bisa membaca ekspresi wanita sebab dari dulu ia hanya bermain baim dengan wanita.


"Aku tidak menyesal,aku hanya takut" jawab Azimie setelah melepas kecupan itu dan kembali menenggelamkan kepalanya dalam pelukan suaminya.


Satu hal yang pasti hati Barra tak rela jika ada air mata yang mengalir di pipi istrinya. Ia sudah jatuh cinta pada Azimie namun ia tak mengingat jika awal mula hubungannya hanya sebatas bisnis sehingga ia tak mengerti apa yang dimaksud sang istri.


"Jangan banyak berpikir, pikirkan Ciko dan nikmati saja alurnya tekan perasaan mu jangan sampai perasaan menyiksa mu Mimi!!!" batin Azimie memberi peringatan pada dirinya sendiri.


"Kamu sejak awal tau pernikahan ini hanya sebatas bisnis. mana mungkin Barra menyukaimu, dia bersikap baik hanya untuk membuatmu nyaman untuk mengerjakan setiap poin dalam kontrak. jangan berpikir untuk meminta lebih" batin Mimi terus berprasangka.


Saat malam kian larut pukul 23.59 saat semua tengaj terlelap tiba tiba.


Ting.... Ting .. Ting....


Suara ponsel berbunyi, Azimie mengerjapkan matanya yang terasa di lem, tangannya meraba meja nakas untuk mengambil ponsel yang sejak tadi terus berdending.


"Siapa yang menghidupkan alam jam segini?" bibir Mimi bergumam kesal.


"Selamat ulang tahun untuk ku" Mimi membaca penanda alarm dengan mengernyitkan keningnya. perlahan lahan ia mulai tersadar melihat ponsel di tangannya bukanlah ponsel miliknya.


"Astaga...." mata Azimie terbuka lebar menyadari jika malam ini adalah malam bertambahnya umur sang suami.


"Mas Barra ulang tahun?" batin Mimi sambil berpikir keras


"Aku ingin membuatnya berkesan di ulang tahunnya kali ini" ucap mimi perlahan lahan beranjak dari ranjang dengan menarik sehelai selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih naked.


...****************...


Saat membuka matanya di pagi hari Barra mendapati istrinya sudah tak berada di samping nya.


"Kemana dia?" Barra mengelilingkan pandangannya mencari keberadaan sang istri.


Barra meraih selembar Hem putih yang posisinya dapat ia jangkau, kemudian ia menggulung seprai tipis untuk menutupi bagian bawah tubuhnya dan beranjak ke kursi roda.


Namun baru akan memindahkan tubuhnya tiba tiba.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2