Pemuas gairah tuan difabel

Pemuas gairah tuan difabel
datang bulan


__ADS_3

setelah beberapa kali Mimi bertanya mengapa namun Barra enggan menjawab Mimi memutuskan untuk diam dan kembali keluar untuk mengambil ponselnya yg tertinggal d atas meja makan.


"hemz ... orang orang aneh, kenapa pada marah tanpa sebab" gumam Mimi yg melangkahkan kaki keluar kamar kembali


melihat istrinya kembali keluar Barra memundurkan kursi rodanya untuk melihat istrinya.


"Mau kemana dia?" gumamnya dalam hati


"pasti sedang telfon Adrian itu!!" imbuhnya saat melihat Mimi berbicara dengan seseorang d sambungan tlp.


*halo... ada apa mas.?* tanya Mimi yg langsung menelfon dr Adrian setelah membaca pesan nya.


*emz... sebenernya saya mau minta tolong kamu, tapi takut merepotkan* jawab dr Adrian dari sebrang tlp


*ada apa? katakan saja barang kali saya bisa membantu* terang Mimi


*akhir pekan apakah kamu bisa menemani saya ke acara reuni S....MA saya?* tanya dr Adrian ragu ragu


*emhz... akhir pekan ya? ehem akan saya usahakan* jawab Mimi antusias


*serius ... kamu mau?* tanya dr Adrian spontan


*ehem..... * jawab Mimi tersipu malu.


sebenarnya Mimi juga menaruh hati pada dr Adrian, seorang pria yg mapan, tampan, dan baik, wanita mana yg tak jatuh hati padanya. mereka sangat dekat tak jarang mereka pergi bersama, Mimi sering d ajak ke pesta teman teman dr Adrian.


namun dulu d suatu hari d hari ulang tahun dr Adrian Mimi pernah hadir d pestanya, dan tak sengaja mendengar percakapan dr Adrian dengan orang tuanya yg menanyakan hubungan antara dirinya dengan Mimi, dan dr Adrian meyakinkan pada orang tuanya jika hubungan Meraka tak lebih dari seorang teman dan dr dengan keluarga pasien tak lebih dari itu, sejak saat itu Mimi perlahan menjauh dan berusaha memudarkan rasa yg timbul d artinya.


*baik esok akan saya jemput kamu d rumah mu, ok* ujar Adrian kegirangan.


setelah tlp terputus tampak Mimi tersipu melihat layar ponselnya dan itu d perhatikan Barra sedari tadi, sejak Mimi keluar kamar Barra terus memperhatikan Mimi dari balik jendela.


begitu juga Adrian saat tlp terputus "yeeess!!!" Adrian jingkrak kegirangan " akhirnya setelah sekian lama akhirnya dia mau jalan bareng lagi sama aku* gumam Adrian bahagia


Barra segera mengalihkan pandangannya pada sebuah majalah d meja saat Mimi berjalan Kemabli masuk ke kamar dengan senyum mengembang d sudut bibirnya.


"sudah malam " ujar Mimi dengan memegang gagang kursi roda "Ayo aku bantu bersih bersih" imbuhnya dengan mendorong kursi roda Barra ke arah kamar mandi


"hentikan...!!" sentak Barra "aku bisa sendiri, apa kamu pikir aku selemah itu" umpat Barra dengan menepis lengan Mimi.


mendapat penolakan dari Barra membuat Mimi menjadi kesal.


"sekarang gini ya, saya cuma pingin bersikap baik terhadap anda sebagai istri anda, tak pernah sedikitpun menganggap anda lemah. jika tidak mau ya sudah tak perlu berkata kasar, lagi pula ini tak tercantum dalam kontrak bukan?, hanya rasa kemanusiaan saja" balas Mimi dengan wajah muramnya.


"dan satu lagi ini kartu anda, saya akan meminta uang jika saya membutuhkannya. jangan anda pikir karena saya setuju dengan perjanjian ini sama halnya anda sudah membeli saya dan bisa berbuat semena mena terhadap saya....oh... tidak bisa " imbuh Mimi dengan memberikan black card yg pernah Barra berikan beberapa hari lalu


kemudian Mimi mengambil piyama dalam kopernya yg belum sempat ia bereskan dalam lemari kemudian ia masuk kedalam kamar mandi.


der.... Mimi membanting daun pintu dengan keras.


mendapat balasan dari Mimi Barra merasa semakin kesal.


"berani sekali dia bicara seperti itu!!" ujar Barra dengan melayangkan tinjuan ke udara


"memangnya kamu pikir kamu siapa? jangan panggil aku Barra jika aku tak bisa membuatmu patuh pada ku." dengan gigi mengerat dan menghentakkan kepalan tangannya pada penyangga lengan d kursi rodanya.


Tak lama Mimi keluar kamar mandi dengan pandangan skeptis terhadap Barra, ia berjalan menuju koper dan kemudian balik lagi ke alam kamar mandi.


tak berapa lama Mimi keluar kamar mandi dan langsung membaringkan tubuh serta menutup nya dengan selimut tampa menghiraukan suaminya yg masih mematung d atas kursi roda sembari melihat dirinya.


setelah selesai membersihkan diri Barra berusaha akan pindah dari kursi roda ke atas ranjang, namun karena itu bukan tempat tidur biasanya Barra merasa sedikit kesulitan.


"sial.. kenapa ranjang ini tinggi sekali" gumam Barra yg merasa kakinya tak akan sampai menjangkau ketinggian ranjang tsb .


Mimi memperhatikan usaha Barra saat naik ketempat tidur dengan penuh perjuangan dari balik selimut.


"kasian sekali dia, apakah setiap hari ia harus berjuang seberat itu hanya untuk berpindah tempat" gumam Mimi dalam hati yg mulai merasa iba.


"aku tidak bole egois... biar bagaimana pun dia sudah membantu Ciko, tapi..." keraguan memenuhi hati Mimi


"tapi dia arogan dan sombong sekali..." umpat Mimi merasa kesal dengan sikap Barra yg mudah berubah tanpa sebab yg jelas


"tapi.... dia kasian sekali..." pandangan iba dari balik selimut yg tak d sadari oleh Barra


"ah... biarlah lah ku coba lagi "batin mimi dan "kresek...." Mimi membuka selimut yg menutupi hampir seluruh wajahnya "boleh aku bantu ?" tanya Mimi dengan nada Pelan.

__ADS_1


seketika Barra menghentikan gerakannya dan memandang Mimi yg penuh ketulusan


"ehem...." barra mengangguk pelan.


Mimi membuka seluruh selimut dan beranjak, Mimi memapah kedua lengan kekar Barra


"pelan pelan" ucap Mimi pelan saat bokong Barra sudah mencapai tepi ranjang "tahan sebentar" ujar Mimi yg kemudian mengangkat kedua kaki Barra naik keatas ranjang.


"ok..." bisik Mimi setelah berhasil membantu suaminya untuk pindah dari kursi roda ke atas ranjang.


"istirahat lah... cuacanya cukup dingin jaga kakimu tetap hangat atau akan sangat sakit jika kram "


tutur Mimi saat menutup kaki Barra dengan selimut.


Barra tak pernah menyangka akan mendapat perhatian dari seorang wanita yg ia bayar hanya untuk memuaskan nafsunya.


ia hanya bisa memandangnya tanpa ekspresi.


"huft...." Mimi menghela nafas saat selesai menyelimuti kaki suaminya tanpa sadar pandangannya ke arah sang suami yg entah sejak kapan menatapnya.


"apa...? ada apa...? " tanya Mimi polos "kenapa melihat ku seperti itu? apa mau marah marah lagi?" tanya Mimi ketus.


"maaf .." kata maaf pertama kali keluar dari bibir Barra tanpa sarat.


"hah ..." Mimi terkejut mendengar kata maaf yg keluar dari seorang Barra yg dingin dan kaku.


"untuk apa....?" tanya Mimi keheranan


"pokoknya maaf..." jawab Barra kesal akibat Mimi tak mengerti maksudnya.


"hemz..."tersirat tersenyum puas mengembang d bibir Mimi yg tak d sadari barra


"sebenarnya kamu orang baik.. hanya saja masih ada banyak es yg menyelimuti hati mu" batin Mimi dengan menatap Barra dalam.


kemudian Mimi kembali membaringkan dirinya tepat d samping Barra.


rasa tak nyaman canggung takut dan gelisah campur aduk d hati dan pikiran Mimi. ini pertama kalinya ia tidur d atas ranjang yg sama dengan orang asing yang kini menjadi suaminya.


"selamat malam " Mimi mengucapkan selamat malam pada suaminya.


Mimi tidur membelakangi Barra,


Barra memeluk perut ramping Mimi dari belakang.


"apa kamu tak ingin melakukannya ?" bisik barra tepat d daun telinga Mimi


hembusan nafas Barra semakin membuat Mimi memejamkan matanya dengan rapat menahan rangsangan yg coba Barra berikan.


"mas...." Mimi memanggil suaminya "hentikan ! bagaiman jika aku tak bisa menahannya " ujar Mimi dengan membalikkan badan menghadap suaminya.


mendengar Mimi memanggilnya mas barra menghentikan pergerakannya "apa....? tadi kamu panggil saya apa?" tanya Barra pelan.


"mas ... apa tidak boleh?" tanya Mimi yg merasa takut jika ia salah memanggil


senyum mereka d bibir Barra. ia terlihat sangat tampan dengan bulu jambang tipis yg mulai tumbuh membuat dirinya nampak begitu mempesona dan Maco.


cup.... Barra mengecup puncak kepala istrinya "panggil aku dengan sebutan itu, aku menyukainya " ujar Barra dengan tatapan sangat dalam.


senyum mereka d bibir pink Mimi yg terlihat sangat menggoda.


kemudian barra meraup lembut bibir Mimi kemudian *******


nya dengan lembut , Mimi yg mendapati bibirnya dalam cakupan bibir Barra perlahan membalasnya.


"emh....." desah mulai keluar lirih dari mulut Mimi yg terbungkam bibir Barra.


saat dirinya tak lagi menahan aliran listrik yg mengaliri setiap nadinya Mimi mendorong pelan tubuh barra


"ada apa?" tanya Barra bingung


"a...aku aku takut tak bisa menahannya ", ujar Mimi menunduk


"siapa yg menyuruhmu menahan, dan kenapa harus d tahan, aku menginginkan ini dan kamu harus membantuku melakukannya"Barra menatap mimi dengan kedua telapak tangan d pipi Mimi


"maaf aku masih belum bisa melakukannya" jawab Mimi

__ADS_1


mendengar jawaban Mimi raut wajah Barra seketika berubah nampak jelas kekecewaan d wajahnya


"mengapa....? apa kamu tak menginginkan ini? atau kamu pikir aku tak mampu?" tanya Barra menahan rasa kecewa dengan mengalihkan pandangan nya.


"a...aku.... aku masih datang bulan" jawab Mimi ragu ragu.


mendengar jawaban istrinya seketika ekspresi Barra berubah ia menahan senyum sekaligus kesal.


sebab ia sudah menantikan malam ini, namun ia masih harus menahannya lagi, tapi ia juga bahagia saat ia mendengar jika Mimi tak bisa melakukannya bukan suatu hal lain melainkan memang tak bisa d gunakan.


"maaf.... aku juga baru tau tadi saat mandi." ujar Mimi pelan dengan memainkan kuku lentiknya.


"hem.... tak apa aku akan menunggunya, jika alasan tak bisa mu bukan karena menolak ku maka apa boleh buat" jawab Barra yg menurunkan egonya kemudian meraih tubuh kecil Mimi kedalam pelukannya.


mendapat perlakuan hangat dari suaminya Mimi tersenyum lebar dan menenggelamkan tubuhnya kedalam pelukan tubuh atletis suaminya.


...****************...


d sisi lain Irma yg merasa suntuk dengan masalah yg sedangkan hadapi ia membeli beberapa minuman kaleng berkadar alkohol rendah, ia meminumnya d taman di dekat rusun milik Mimi.


"Hem.... hidup ku miris sekali, kenapa aku d permainkan oleh takdir, setelah semuanya aku berikan mengapa kamu masih melakukan semua ini pada ku ... brengsek !!!" gumam Irma yg mulai kehilangan kesadarannya.


hikz....hikz....


dalam ketidak sasaran tangisan wanita itu terdengar jujur.


"Hem.... Mimi kamu Kemana si....aku pengin cerita dalam sandaran bahumu.bener apa yg kamu katakan dia itu sangat brengsek...." gumam Irma lagi


hiks....hiks... Irma Kembali terisak dan menyeka air yg mengalir d pipinya.


dalam kondisi setengah sadar akibat terlalu banyak minum minuman beralkohol Irma berjalan menyusuri trotoar sambil terus meracau.


sampai d persimpangan jalan Irma tak sengaja menabrak seorang anak kecil hingga terjatuh dan menangis.


"huaaaaa....." tangis anak itu pecah ketika terjatuh dan dahinya terbentur tiang lampu d pinggir jalan.


"aah.... adik kecil" sapa iram dengan mengumpulkan kesadarannya. ia berusaha menolong anak itu namun orang tuanya terburu terbawa emosi


"hai..... gadis sialan " bentak seorang laki laki bertubuh kekar dan penuh tato "kau apakan anak Ku?!!!!" imbuhnya dengan ber acak pinggang di susul dengan beberapa orang yg juga berpostur tinggi besar dan sangat menyeramkan.


"maaf... om... saya tidak sengaja" bela Irma yg mulai takut melihat orang orang seram itu.


"maaf ... maaf lihat dia Samapi memar begini !" ucap pria itu dengan menunjuk dahi anak itu yg terlihat memerah.


"iya... maaf sekali lagi maaf, saya akan ganti rugi, biar adiknya d bawa kerumah sakit biar saya yg tanggung biayanya" ujar Mimi mencoba mencari jalan agar tak berkepanjangan.


namun sepertinya gerombolan pria itu ingin mempersulit Irma apalagi Irma dalam pengaruh alkohol dan hanya seorang diri. beberapa pria itu mencari kesempatan untuk melecehkan Irma. Irma yg merasa drinya terancam segera berlari ke tempat keramaian.


dengan huyung Irma berusaha berlari menghindar dari pria pria menyeramkan itu namun mereka juga tak menyerah begitu saja, mereka terus mengejar walupun Irma sudah berada d tempat yg lumayan ramai, hingga pada saat Irma tinggal sedikit lagi tertangkap oleh orang orang itu.


mata Irma melihat sesosok pria yg sepertinya sudah familiar segera ia berteriak


"sayang .... " teriak Irma memanggil pria dengan penampilan rapi "akhirnya aku bertemu kamu " imbuh Irma dengan menggandeng kenangan pria itu.


tentu saja pria itu merasa heran dan segera ingin melepaskan lengannya dari cengkraman erat gadis yg tak d kendalanya


"maaf... anda salah orang" ujar pria itu lumayan keras


"aku tau kamu masih marah sama aku. aku juga sudah minta maaf " lanjut Irma dengan mengecup begitu saja bibir pria itu dan memeluk tubuhnya dengan erat .


mendapat perlakuan gila dari gadis aneh pria itu segera mendorong tubuh Irma dan mengusap bibirnya dengan kasar.


di saat itu pula irma melihat beberapa pria yg mengejarnya telah berbalik arah tak lagi mengejarnya.


"huft....." irma menghela nafas lega.


"untung saja mereka tak lagi mengejar ku" gumam Mimi dengan mengusap dadanya sendiri.


ia membalikan badannya dan akan melangkah pergi begitu saja namun pria yg d manfaatkan nya tadi merasa terima.


"hei.... nona " teriak pria itu kesal


"apa apan ini, datang dan langsung main sosor bibir orang Tampa permisi , dan sekarang juga pergi begitu saja tanpa permisi" ujar pria itu dengan mencekal lengan Irma yg akan melangkah pergi.


"ooh.... iya trimakasih ya tampan" Irma berbalik dengan menatap wajah pria itu dengan gemas.

__ADS_1


Irma tersenyum begitu menggemaskan dan tiba tiba Irma tak sadarkan diri dalam pelukan pria itu.


bersambung ....


__ADS_2