
"Maaf " Mimi meminta maaf pada suaminya "aku terima tlp dulu sebentar" pamit Mimi yg beranjak menjauh dari meja.
"Lagi lagi Adrian" gumam Barra kesal.
Seandainya yg menghubungi nya bukan Adrian mungkin saja Barra tak merasa kesal. Walau belum tau hubungan apa yg terjalin keduanya namun Barra terus saja merasa risih pada seorang bernama Adrian itu.
Barra segera memakan makanan tanpa menunggu Mimi.
*Hallo" sapa Mimi *ada apa mas...?* tanya Mimi
*Oh... ini Ciko meminta ku untuk menghubungi mu* jawab dr Adrian kemudian mengubah panggilan via video call.
*Hai.... sayang ....* sapa Mimi walau tak terlalu keras namun cukup terdengar jelas d telinga Barra
"Sayang....?" ujar Barra penuh amarah yg siap meledak kapan pun.
*Kamu sudah makan sayang?*
*Jaga dirimu baik baik, jangan menyusahkan dr ya!
Maaf.... untuk beberapa hari ini tak bisa menemui mu*
Barra hanya bisa mendengar perkataan Mimi tanpa bisa mendengar suara dari seberang tlp sehingga membuat kecurigaannya semakin menjadi jadi.
Sampai setelah Mimi memutus telepon dan kembali ke meja makan Barra hanya diam seribu bahasa.
Mimi yang melihat mut suaminya bisa berubah tanpa sebab hanya bisa menghela nafas sembari menyantap makanan yang terhidang di meja.
"Siapa?" tanya Barra ketus yang tak tahan menahan kecurigaannya
"dr Adrian" jawab Mimi singkat.
"Ngapain telfon pagi pagi?kayak gak ada kerjaan" imbuhnya.
"Ciko memintanya menelfon" jawab Mimi santai.
Mendengar jawaban istrinya Barra merasa lega
"Bagaimana kabar adik mu?" kini sudah mulai terdengar nyaman pertanyaan yang keluar dari bibir Barra
"Baik.... jika mas mau kapan kapan aku ajak menjenguknya" ujar Mimi seraya mengusap bibirnya dengan tissue setelah menyelesaikan makannya.
"He em" jawab Barra mengangguk, nampak bahagia diraut wajahnya.
Setelah selesai sarapan Mimi dan Barra menuju supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari hari.
Saat akan keluar dari mobil Mimi menengadahkan tangannya pada Barra.
"Apa?" tanya Barra heran
"Uang...." ujar Mimi sambil menurunkan tangannya "aku kan g punya duit, kalau gak minta mas trus aku bayar pakek apa?" imbuh Mimi
Tanpa banyak bicara Barra mengambil dompetnya dan memberikan pada mimi.
"Uang...." ucap Mimi
"Bawa saja semuanya" ujar Barra dengan penuh kepercayaan.
"Mas kasih aku dompet mas? mas percaya gitu sama aku? gimana nanti kalau aku bawa kabur dompetnya " ujar Mimi dengan menunjukkan dompet d depan wajah suaminya.
"Bawa saja, jika kamu berani" jawab Barra santai
"Hemz...." Mimi mencebikkan bibirnya kemudian mengambil kartu kredit yg ada d sisi samping dompet panjang yg penuh dengan kartu.
"Aku cuma butuh ini" ujar Mimi sambil mengembalikan dompet d tangan suaminya.
Mimi mulai memasukkan buah, sayur,susu,telur,dan beberapa makanan siap saji. setelah keranjang penuh dengan kebutuhan dapur Mimi segera mendorong troli menuju kasir.
Sementara Barra hanya menunggu Mimi di dalam mobil sambil menghandle beberapa pekerjaan yang tertunda.
"Tolong bantu pak" minta Mimi pada Pak sopir untuk membantu memasukkan belanjanya ke dalam bagasi.
......................
Di sisi lain Irma yang mulai tersadar jika dirinya berada d kamar asing, ia mengelilingkan pandangannya yang masih kabur mengamati setiap sudut ruangan hingga pandangannya terfokus pada seorang pria yang masih terlelap d sofa.
"Siapa dia" gumam Mimi seraya duduk d sudut ranjang"argh....."Irma memegang kepalanya yang masih terasa berat.
Ia berjalan mendekati pria yang masih tertidur itu sembari berusaha mengumpulkan ingatannya semalam.
"Dia ?kan..." gumam Irma yg mengingat sosok pria di hadapannya itu.
Irma mengingat jika pria di hadapannya itu salah satu pria yg membuat Mimi sahabatnya dalam masalah.
"wah gila " Irma menggelengkan kepalanya "apa yg telah aku perbuat semalam sampai aku bisa bersama dengan pria ini?" Irma menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Irma dengan cukup jelas Kevin terbangun,dan itu membuat Irma terkejut.
"Hai..." sapa Kevin "sudah bangun?" imbuhnya.
"Heem" Irma menjawab dengan menganggukkan kepalanya
"eem trimakasih semalam sudah menolong ku"ucap Irma ragu ragu
"Tidak masalah, lain kali jangan minum terlalu banyak jika pergi sendiri" jawab Kevin menasehati
Kemudian Kevin pergi ke kamar mandi.
Mata Irma tertuju pada 2 bingkai foto yg terpajang d atas meja.
Ia berjalan menghampirinya dan melihat 3 orang pria yang salah satunya adalah Kevin dan dua orang yang pernah ia lihat tempo hari.
Dan ada satu bingkai yang menarik perhatian Irma, sekolah ia mengenal gadis dalam foto itu ia berusaha mengingat dengan pelan semua teman perempuannya dan ingatannya terhenti pada sahabatnya.
"Mimi?" Irma merasa syok seolah tak percaya jika sahabatnya telah menikah tanpa memberi tahunya.
Karena Irma tipikal orang yang taknmau ber andai andai, ia langsung menanyakan pada Kevin yg kebetulan sudah keluar dari kamar mandi.
"Siapa gadis ini? sejak kapan kalian saling mengenal?" tanya Irma to the point' untuk memastikan.
"Oh... dia istri atasan saya " jawab Kevin singkat dan tak seberapa merespon pertanyaan Irma
"Dia....Mimi kan?" tanya Irma sembari menunjuk wajah gadis d foto itu d hadapan Kevin.
"Heem" Kevin mengangguk
"Hah...." Irma membuang nafas berat menahan kecewa pada sahabatnya yg tak memberitahunya tentang hal sebesar ini.
"Pasti bos mu yg menjebak Mimi sampai sampai dia mau menikah dengannya. Skandal apa lagi yang kalian rencanakan sampai harus menjerumuskan sahabat ku!" tuduh Irma dengan nada menggebu gebu.
Mendengar ocehan gadis di hadapannya Kevin menjadi sedikit naik pitam, ia mendorong tubuh Irma sampai di sisi tembok.
"Jangan asal bicara!! kalau benar kamu sahabatnya menagapa kamu sampai tidak tau tentang sahabat kamu sendiri ? jangan asal menyalahkan orang lain cari tau sendiri dari sahabatmu!!" ucap Kevin dengan mengeratkan giginya dengan wajah yg sangat dekat dengan Irma.
Mendapat perlakuan tegas dari Kevin Irma sedikit memundurkan kepalanya namun justru kepalanya terbentur tembok yg ada tepat d belakang kepalanya.
Duuuk.....
Suara itu terdengar jelas oleh Kevin sementara Irma hanya bisa mengerutkan keningnya menahan sakit da bagian belakang kepalanya.
Melihat ekspresi gadis d hadapannya yang menahan sakit Kevin segera memundurkan tubuhnya dan beranjak pergi, sedang irma menghela nafas lega.
"Sarapan dulu setelah itu cepat pergi" ucap Kevin seraya mengeluarkan 2 cup kopi dan 2 kotak makanan.
Irma mengangguk dengan bibir mengembangkan sebuah senyum dan itu membuat Kevin terpana, sejenak Kevin menatap wajah Irma .
"Mungkin seperti ini rasanya jika memiliki suami" batin irma kemudian mendekat pada meja makan dimana Kevin menyiapkan sarapan, ya walaupun hanya makanan diliveri namun Irma cukup terkesan dengan itu.
"Eem by the way, nama kamu siapa ?" kata Irma saat sambil mulai menyendok makan di piringnya "kamu bisa panggil aku Irma " ucapnya berusaha memperkenalkan diri.
"Hemz..." Kevin tersenyum kecut ia segera duduk dan membuka tutup cup nasi dan mengacuhkan Irma begitu saja.
Sikap acuh Kevin tak membuat Irma putus asa ia segera mengambil tempat duduk d sebalah Kevin dan segera menyantap makanaan d hadapannya.
...****************...
Sepanjang perjalanan Azimie hanya memandang ke luar jendela melihat aktifitas para petani di sepanjang perjalanan dengan hamparan sawah.
Suasana pagi yang sejuk dan sepi jauh dari hiruk pikuk kendaraan membuat kenyamanan tersendiri, Azimie membuka jendela ia memejamkan mata menikmati setiap hembusan angin yang menyapu wajah ayunya, helaian rambutnya berterbangan hingga aromanya sampai di Indra penciuman suaminya.
Mencium aroma semerbak seketika Barra mengehentikan kesibukannya dengan layar ponsel.
Ia melepas seatbeal dan mendekati istrinya, Barra menyikap rambut di balik daun telinga istrinya,kemudian mencium pangkal leher Azimie dengan lembut.
Merasa ada pergerakan Azimie membuka matanya lebar lebar, belum sempat menolak Azimie sudah merasakan aliran listrik yang mengaliri nadinya ketika bibir lembut Barra mendarat di pangkal lehernya, Azimie meremas pahanya menahan daya listrik yang semakin kuat mengaliri darahnya.
"Mulai saat ini kamu adalah wanitaku, tak ku biarkan pria lain menyebut nama mu apalagi menyentuh mu" ucap Barra dengan suara bergetar serta hembusan nafas yang masuk kedalam daun telinga Azimie.
Azimie membuka matanya mengarahkan tatapannya pada pria di sampingnya yang saat ini berjarak hanya beberapa inci dari wajahnya.
Mata yang saling menatap deru nafas semakin meningkat tanpa permisi Barra langsung meraup bibir merah milik istrinya.
Melihat majikannya tengah bercumbu di kursi belakang pak sopir langsung menurunkan kaca depan dan fokus menyetir dengan sedikit senyuman di bibirnya.
"Mas!" Azimie sedikt mendorong tubuh sang suami
"Apa?" tanya Barra masam
"Gak enek ah... malu sama -" Azimie mengedipkan mata ke arah pak sopir.
"Hemz..." Barra tersenyum kemudian merangkul pundak sang istri untuk bersandar di dadanya.
__ADS_1
Azimie juga ikut tertawa kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Beberapa saat kemudian Azimie menegakkan kepalanya saat melihat sebuah taman yang masih berselimut kabut.
"Pak..." Azimie memanggil pak sopir "berhenti sebentar boleh ?" tanya Azimie
"Ada apa?" tanya Barra
"Coba mas lihat!" ujar Azimie seraya menunjuk pandangan di luar yang sangat indah "ayo kita berjalan jalan sebentar !" ajak Azimie bersemangat
Melihat raut bahagia istrinya Barra mengiyakan dan ia meminta pak sopir untuk menurunkan kursi roda yang ada di bagasi.
Azimie mendorong kursi roda sang suami menyusuri gang demi gang hamparan bunga mawar.
Barra menunggu Azimie untuk mengajaknya bicara demikian pula Azimie menunggu Barra untuk menanyakan sesuatu kepadanya, karena saling menunggu hingga keduanya membisu, sampai pada-
"emh..."
"emh..."
Keduanya saat barra dan Azimie membuka suara dalam waktu yang bersamaan.
"em... mas duluan !" ucap Azimie yang ingin mendengar maksud perkataan suaminya.
"Apa kamu tidak ingin melanjutkan pendidikan?" tanya Barra sedikit mendongakkan pandangannya melihat kearah wajah Azimie.
"Hem ... jangan tanyakan itu!" jawab Azimie dengan suara sendu
"Takdir selalu menguji ku sejak kecil,kini ada Ciko yang lebih membutuhkan pendidikan dan untuk kasus seperti Ciko aku membutuhkan begitu banyak uang. hemz" ujarnya dengan menaikkan pandangannya agar air matanya tak jatuh.
"Maafkan aku" kata sambil Barra menggenggam tangan Azimie
"Untuk apa minta maaf! mas gak salah apapun dalam hal ini" sambung Azimie
"Maaf. telah mengingatkan mu pada kesedihan" Barra menggerakkan kursi rodanya menghadap Azimie
"hehe Its ok... aku sudah terbiasa dengan ini, hanya saja masih sedikit cengeng" kata Azimie dengan terkekeh
Namun Barra paham betul ekspresi itu adalah topeng.
"Ijinkan aku mengurangi beban dan air mata mu" batin Barra
"Ayo... rasanya semakin dingin." kata Azimie mendorong kursi roda kembali ke mobil.
...****************...
Di sekolah Ciko kembali mengalami seragam panik setelah melihat salah satu temanya terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Ia berlari sambil menagis tak hentinya bibirnya menyebutkan kata kata di luar nalar anak seusianya, dalam persembunyiannya ia menyebutkan bagiamana darah akan berhenti mengalir mengucapkan meteri kedokteran tentang pembekuan darah sampai kemungkinan terburuk yang akan di alami Pasian akibat kehilangan banyak darah.
Badannya gemetar keringat dingin mengalir di dahi seta telapak tangannya.
Dr Adrian beserta beberapa suster yayasan mencari keberadaan Ciko, mereka berteriak memanggil namanya namun Ciko tetap saja bergumam tentang kondisi temannya.
Dr Adrian mengingat jika ciko selalu bersembunyi di dalam ruang yang gelap saat ia merasa terancam, tempat gelap menurut ciko adalah tempat yang membuat dirinya merasa aman.
"Gudang!!" dr Adrian memtikkan jemarinya kemudian ia berlari ke arah gudang dan memeriksa dengan hari hati agar tak menimbulkan suara yang akan membuat Ciko kembali histeris.
Perlaham tapi pasti dr Adrian menyusuri sudut demi sudut gudang sampai ia melihat kardus besar yang ada di pojokan perlahan kakinya melangkah mendekat dan benar saja Ciko terduduk di sana sambil terus bergumam.
Perlahan lahan dr Adrian mendekati "Ciko sayang" panggil dr Adrian dengan suara lembut "ini dokter Adrian, Ciko jangan takut dokter sudah di sini bersama Ciko" imbuh dr Adrian.
Ciko mulai mengangkat kepalanya perlahan matanya melihat ke depan untuk memastikan perkataan yang ia dengar benar, saat ia melihat dr Adrian tengah jongkok di depannya Ciko langsung memeluk dr Adrian dengan erat.
"est...est... tenang sayang tenang " dr Adrian memberikan kenyamanan pada Ciko
Setelah merasa Ciko sudah cukup tenang, kemudian dr Adrian menggendong Ciko dalam dekapannya.
Saat keluar gudang sudah ada beberapa suster yang menunggu di depan denga wajah lega melihat Ciko baik baik saja.
"Apa perlu kita hubungi kakaknya dok?" tanya salah satu susuter yang juga lumayan dekat dengan Ciko.
"Tidak perlu... biar nanti saya hubungi sendiri" cetus dr Adrian.
Mendengar jawaban dr Adrian yang terdengar sedikit subjektif kedua suster yang berjalan di belakang dr Adrian saling bertukar pandangan.
Merasa ada ucapannya yang salah dr Adrian meralat pernyataannya
"Maksud saya. nanti saja takutnya jika terburu buru takut membuat kakaknya khawatir, toh lagian Ciko sudah baik baik saja" sangkar dr Adrian agar orang orang tak berpikir aneh aneh tentang hubungannya dengan kakak Ciko yaitu Azimie
"Oh... baik dok" jawab suster tsb tak mau memperpanjang arguman tak penting, walau sebenarnya ia tau jika dr Adrian menaruh perasaan pada kakak sang pasien.
Dr Adrian membawa Ciko ke kamar asramanya dan meminta izin pada guru pembimbing.
"Kapan kakak kembali dok?" tanya Ciko masih dalam rasa kecemasan.
__ADS_1
"Esok lusa kakak akan kembali. Ciko sabar dulu ya kakak masih bekerja di luar kota" tutur dr Adrian kemudian memberikan segelas air putih.
Ciko mengguk mengerti apa yang di ucapkan dr Adrian.