Pemuas gairah tuan difabel

Pemuas gairah tuan difabel
nocturnal emission


__ADS_3

melihat dokter Adrian yg ragu ragu menjawab Mimi semakin cemas.


"apa jangan jangan dr Adrian tau jika aku hamil dan ia enggan untuk mengatakannya." batin Mimi berkecamuk


"sepertinya akhir akhir ini kamu sering stres sehingga asam lambung mu naik." jawab dr Adrian cemas


"asam lambung???" tanya Kemabli mimi


"iya asam mabung. jangan anggap enteng asam lambung jika d biarkan akan berbahaya" tutur dr Adrian


"syukurlah..." kalimat syukur keluar begitu saja dari bibir Mimi


mendengar jawaban Mimi dr Adrian dan juga Irma bertukar pandangan merasa aneh. mengetahui sakit asam lambung malah mengucap syukur.


"apa maksud mu!?" tanya Irma keheranan


"oh... maksudku syukurlah cepat ketahuan jadi bisa segera d obati... iya bisa segera d obati" jawab Mimi ngeles.


"syukurlah cuma asam lambung,.kalau benar hamil habislah aku" batin mimi


"ini aku resep kan obat diminum sampai habis jika masih kambuh segera periksa ke rumah sakit" dr Adrian menasehati Mimi


"baik dok" jawab Mimi


"biar saya tebus obatnya "pinta Irma yg mengambil lembar resep d tangan dr Adrian.


...****************...


"aaah.....aaaw.....oooh" ******* mimi memenuhi sudut ruangan.


" tahan lah sebentar lagi aku akan segera mengakhirinya " ucap Barra mempercepat permainan.


"arght....." barra terbangun dari tidurnya kemudian menyentuh area bawah yg terasa sangat menegang dalam keadaan basah..


"ah....sial...kenapa aku bisa bermimpi dengannya" gumam Barra yg merasa heran mengapa ia bisa melakukan hubungan dengan gadis yg ia temui beberapa hari lalu.


setelah sekian lama ia tak pernah mengalami nocturnal emission (mimpi basah).


Barra menekan alarm panggilan yg terhubung ke kamar asistennya yg berada d sebelah.


Kevin dengan mata sayu masuk kedalam kamar majikannya


"ada apa tuan?" tanya Kevin seraya mengucek bola matanya .


"bantu aku untuk mandi !! "


"mandi...?" Kevin melihat jam d tangannya menunjukkan jam 2 dini dari


"Jam 2 begini? "tanya Kevin heran


"sudah jangan banyak tanya "Barra menyingkap selimut


melihat piyama bagian tengah majikannya basah Kevin hanya tersipu menahan tawa.


melihat Kevin menahan tawa "apa yg lucu?" tanya Barra ketus.


"he...he..." Kevin terkekeh "tidak tuan... hanya saja setelah sekian lama tuan sepertinya tidak ejakulasi dan ini juga menjadi kabar baik bukan" imbuh Kevin.


...****************...


singkat cerita seusai mengantar adiknya ke sekolah Mimi duduk d taman sembari melihat lowongan kerja d internet.


"kenapa semua lowongan memerlukan sarjana? apa mereka pikir semua sarjana itu hebat!!" umpat Mimi merasa kesal saat membaca beberapa iklan lowongan pekerjaan.


"huuft" Mimi menghela nafas merasa putus asa d mana saat ini ia benar benar butuh pekerjaan untuk terus bisa membiayai dan mendukung kemampuan Ciko.


Mimi memejamkan mata dengan kepala tersandar pada sandaran kursi.


"aku bisa membantu menyelesaikan masalah mu"


suara seseorang mengejutkan Mimi.


saat Mimi membuka mata ternyata pria berkursi roda yg membuatnya dalam masalah beberapa hari yg lalu dengan seorang yg selalu mengikutinya.


"kau...." Mimi kembali menunjuk wajah pria itu dengan raut membenci.


"simpan emosimu. aku kemari ingin menawarkan pekerjaan untuk mu, aku tau saat ini kamu membutuhkan biaya untuk adik mu " ujar pria itu penuh percaya diri


"saya tidak tertarik" Mimi meraih tas serta laptopnya untuk segera pergi meninggalkan mereka berdua


melihat Mimi yg hendak pergi Barra memberikan kode pada Kevin untuk meyakinkan targetnya.


"eeem... nona tunggu sebentar." sergah Kevin yg mengejar Mimi


"apa lagi?" tanya Mimi kesal


"eem sarat dan ketentuan kontrak ini bisa nona bawa, nona baca dulu dan pikirkan barang kali nona berubah pikiran bisa menghubungi kontak d dalamnya" terang Kevin seraya menyerahkan file kepada Mimi


mendengar penjelasan pria d hadapannya Mimi terdiam sejenak kemudian menerima file tsb dan pergi begitu saja Tampa berkata sepatah katapun.


melihat targetnya menerima file itu tersirat senyum puas d bibir Barra


"tak akan lama lagi tuan akan benar benar menjadi pria sejati" sanjung Kevin pada tuannya yg terlihat bahagia


"jika berhasil akan aku naikkan gajimu " ucap Barra dengan menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


mendengar perkataan tuannya tentu membuat hati Kevin bahagia kepalanya seakan mau meledak menahan kebahagiaan.


"hai..." Mimi melambaikan tangan menyapa Ciko yg berjalan keluar dari gerbang sekolah.


"kakak...." Ciko berlari saat melihat kakaknya.


"emuah... muah..." Mimi mencium kedua pipi adiknya itu dengan penuh kasih sayang.


mereka berjalan bersama dengan bergandengan tangan sesekali berlari kecil sambil tertawa bahagia.langkah mereka terhenti d depan toko elektronik


"ada apa?" tanya Mimi


Ciko hanya terpaku menatap kedalam deretan komponen komponen elektronik


"Ciko mau beli apa?" Mimi kembali bertanya


Ciko hanya menggelengkan kepalanya.kudian berjalan dengan lesu.


sebenarnya ia ingin membeli beberapa komponen itu untuk menguji coba penelitiannya imajinasinya untuk membuat ponsel khusus dengan daya kemampuan setara dengan komputer canggih dengan kapasitas besar dan kemampuan yg luar biasa.


namun beberapa hari lalu saat Mimi tengah mandi tak sengaja Ciko melihat pemberitahuan d ponsel kakaknya tentang tunggakan tagihan dari yayasan yg terbilang cukup besar sedang tabungan sang kakak tak akan cukup untuk membayarnya. sehingga Ciko memilih untuk pergi tak menjawab karena semua alat yg d butuhkan Ciko akan membutuhkan uang banyak.


saat malam hari tepatnya saat sebelum tidur Mimi menghampiri sang adik yg masih terlihat murung sejak siang tadi.


"Ciko... sayang kamu kenapa siii. sejak tadi kok diam aja kakak bingung Nih" ucap Mimi yg menggenggam tangan adiknya itu


lagi lagi Ciko hanya menggeleng


kan kepala dan membaringkan badannya kemudian memejamkan mata untuk tidur.


d saat itulah Mimi melihat buku catatan adiknya yg berisi beberapa pola serta gambar rangkaian komponen komponen yg terhubung menjadi sebuah perangkat pintar.


lengkap dengan keterangan keterangan yg tak bisa d mengerti oleh Mimi.


"jangan bilang jika kamu menginginkan komponen komponen ini sayang" batin Mimi yg terasa d iris akibat tak bisa memenuhi keinginan adiknya.


Mimi menghampiri adiknya yg sudah terpejam, ia membelai puncak kepala sang adik dengan penuh kasih sayang tak terasa air matanya membasahi pipi.


tak lupa sebelum pergi Mimi mencium puncak kepala sang adik.


saat Mimi masuk ke kamarnya ia melihat map kuning yg ia terima dari Kevin siang tadi.


ia mengambil serta membaca setiap kalimat yg tertulis.


d dalam surat perjanjian itu tertulis jika Mimi bersedia menandatangi perjanjian itu maka Barra akan memenuhi kebutuhan finansial dirinya dan adiknya sampai selama kontrak masih berlangsung.


terdapat poin penting dalam perjanjian itu bahwa Mimi harus bersedia menjadi pemuas gairah Barra, d saat Barra menginginkan nya Mimi tak ada hak untuk menolak.


Mimi akan tinggal 1 atap dengan Barra, dan hubungan itu harus d sembunyikan (rahasia)


setelah membaca isi perjanjian itu terlihat ekpresi Mimi yg sangat marah


Mimi masih berpikir jika malam itu dirinya sudah tidur dengan pria berkursi roda itu.


saat dirinya masih kesal setelah membaca perjanjian gila itu ia mendapat tlp dari orang yg biasa menagih dari yayasan.


*hallo... ada apa pak?*.Mimi menerima panggilan itu


*hallo , selamat malam kakak saya hanya mengingatkan jika 2 hari lagi barat akhir pembayaran tunggakan Ciko* jawab pria d seberang tlp


*2 hari??* Mimi terkejut *bukankah masih ada beberapa Minggu lagi?* tanya Mimi


*maaf sejak Kakak silahkan baca kesepakatan yg tertulis d awal kakak menitipkan Ciko. d sana tertulis jika pasien masih berada dalam lingkup yayasan maka akan d berikan keringanan namun jika sudah keluar dari yayasan maka saat pergi sudah melunasi semua biaya administrasi dan sebagainya.* tutur pria d seberang tlp.


*berapa kekurangan Ciko pak??* tanya Mimi cemas.


"3 bulan kakak menunggak pembayaran, itu kisaran 65 juta* jawab pria itu lagi


"65??? aku dapat uang sebanyak itu dari mana? hanya dalam 2 hari" batin Mimi


"apa aku terima saja penawaran pria itu" batin Mimi bimbang.


*em baik pak 2 hari akan saya usahakan* jawab Mimi dengan tegas


*baik trimakasih,saya tunggu kabar selanjutnya*


Tut....


Tut...


sambungan terputus.


"huuft...." Mimi menghela nafas berat kepalanya berdenyut memikirkan dari mana ia harus mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu 2 hari sedang tabungannya hanya sekitar 10jt. itu untuk bertahan hidup beberapa Minggu ke depan.


Mimi memunguti lembaran kertas yg berserakan d lantai kemudian membacanya kembali.


"hems.... " Mimi tersenyum " jika dia mengijinkan ku menambah poin d dalam surat ini apa boleh buat. jika seperti ini dia merugikan aku" Mimi tersenyum licik.


Mimi segera menghubungi nomor yg tertulis dengan nama Kevin.


*hallo* sapa Mimi


*hallo* jawab pria d sebrang tlp


*bisa bicara dengan pak Kevin?* tanya Mimi

__ADS_1


*saya sendiri, ini siapa?* tanya Kevin


*saya Mimi perempuan d taman tempo hari, bisa bertemu dengan tuan anda?* tanya Mimi


*tentu saja, kapan d mana ?* tanya Kevin antusias


*besok pagi d cafe seberang taman kemarin* ujar Mimi


*baik... sampai jumpa *


Tut..Tut...


Mimi tak menjawab ia langsung memutus panggilannya.


d kediaman Barra,Kevin langsung memberitahukan kabar yg d tunggu tunggu bahwa besok Mimi mengajak bertemu itu artinya besar kemungkinan Mimi akan menerima kerjasama tersebut.


"tuan...." sapa Kevin yg melihat tuannya tengah menatap layar laptop d atas tempat tidur dengan menggunakan earphone.


melihat tuannya yg tak pernah menggunakan earphone Kevin menatap penuh curiga ia berjalan pelan pelan dan mengintip apa yg tengah d saksikan oleh atasan sekaligus temannya itu sampai tak menyadari jika ada seseorang yg masuk kedalam kamarnya.


"dia sedang apa?" batin Kevin dengan mengendap endap


"oooooh...." Kevin mencebikkan bibirnya saat mengetahui jika tuannya tengah melihat film panas Ala Ala timur tengah.


"bos....!!!" teriak Kevin d dekat telinga Barra


"astaga!!! Kevin!!!!" teriak barra yg terkejut, serta segera menutup laptopnya agar Kevin melihat apa yg baru saja ia lihat.


"untuk apa menyembunyikannya, sebentar lagi tuan bisa memuaskan hasrat terpendam tuan selama ini sampai puas" terang Kevin.


"apa maksud mu?".barra masih belum mengerti.


"apa masalah tuan sudah selesai?" kevin kembali bertanya.


"apa maksud mu?" kini mereka saling tanya


"maksud saya apakah jika tuan menonton adegan seperti itu tuan bisa terangsang?" tanya Kevin terus terang.


"huuft..." Barra menghembuskan nafas berat seraya menggelengkan kepala


" dia ingin bertemu, besok d cafe seberang taman" ujar Kevin


"benarkah?" sergah barra dengan raut wajah Barra langsung sumringah saat mendengar jika Mimi ingin bertemu.


keesokan harinya Barra dan Kevin mendatangi cafe d mana Mimi sudah d sana.


"pagi nona !" sapa Kevin sembari mendorong kursi tuannya.


"em... pagi" jawab Mimi sekilas memandang Barra


"langsung saja " ujar Mimi sembari mengeluarkan map dari dalam tasnya.


"d sini saya harus bisa memuaskan anda bukan?" tanya Mimi sembari menunjuk poin tertulis no 3 Dalma perjanjian itu


"iya benar" jawab Kevin sedang Barra hanya memperhatikan dengan melipat kedu tangan d depan dada


"apa bisa aku bersama dengan orang sedingin dan sekaku ini?"batin Mimi sesekali ia melirik ke arah Barra yg tentu itu d sadari oleh Barra


"saya bersedia melayani apapun untuk tuan tapi saya memiliki beberapa permintaan yg juga harus tertulis d sini" ujar Mimi yg menutup map d tangannya.


"apa?" jawab Barra singkat


Mimi langsung melihat ke arah Barra saat mendengar Barra menjawab dirinya.


"emh...pertama hubungan ini harus bersetatus,ke dua tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing masing,


hubungan ini tak lebih sebatas kerja sama saling menguntungkan " ucap Mimi dengan tangan bersedekap santai "saya mendapatkan uang dan anda mendapat kepuasan" Mimi menatap Barra tajam.


entah setan apa yg merasuki pikiran Mimi hingga dia berani berbuat nekat, bahkan dia tidak tau orang seperti apa yg ada d hadapannya ini dan dia juga tidak tau dia akan memperlakukan nya seperti apa.


"sta....tu..."??? kevin akan bertanya namun belum selesai mengucapkan kata kata barra terlebih dulu menjawab


"menikah?" tanya Barra


"iya.... anda harus menikahi saya, tapi tenang saya tidak meminta anda melegalkan saya secara negara, saya hanya ingin legal secara agama" jawab Mimi kemudian meneguk secangkir kopi d hadapannya.


"tapi...." sangkal Kevin yg sepertinya dia keberatan.


"Vin..." barra mengangkat telapak tangannya mengisyaratkan Kevin untuk dian


"apa kamu sudah memikirkannya dengan matang ? tanya Barra "ingat kesepakatan ini hanya saya yg bisa membatalkannya" imbuh Barra mode serius


Mimi mengangguk pelan menandakan ia menyetujui perjanjian itu.


"buat ulang dan catat permintaan dia " Barra meminta Kevin untuk membuat ulang perjanjian itu.


"besok akan ada mobil yg menjemputmu. setelah kontrak d tandatangani hanya saya yg bisa memutus kontrak ini !!!" ucap Barra tanpa ekspresi


mata Mimi melebar seketika , saat Barra tak memberi penolakan sedikit pun "apa jalan yg ku ambil ini sudah benar?" bisik batin Mimi, kemudian ia memijit pelipisnya.


"dan satu lagi. kembalikan adikmu ke yayasan " imbuhnya sembari menyodorkan black card dengan tatapan tajam


"apa ini? tanya Mimi heran


"kamu bisa menggunakan itu untuk kebutuhan mu dan adikmu" ujar Barra

__ADS_1


"tapi saya belum menandatangani kontrak itu, saya bisa saja menipu anda bukan?" tanya Mimi sambil menatap black card itu


"coba saja jika berani!!!" jawab Barra dengan pandangan mematikan.


__ADS_2