
"astaga Barra..." mama Inggrid panik melihat tangan putranya berlumuran darah,segera ia mengambil kotak p3k d rak dinding dan mengguyur alkohol pada luka d telapak tangan Barra
rasa luka menganga yg tersiram air alkohol tak sesakit hati Barra kala mengingat penghianatan kekasihnya dulu.
"maafin perkataan mama sayang sudah mengganggu pikiran mu, maafin mama sudah terprovokasi oleh orang orang tadi yg tak sengaja mama dengar tengah menggunjing dirimu" ucap mama Inggrid penuh penyesalan sambil membalut luka d telapak tangan putranya dengan perban.
"sudahlah ma.... Barra mengerti mama tenang saja,yg tidak bisa bergerak hanya kaki Barra tidak dengan yg lain." barra menggenggam tangan ibunya.
*temani aku * Barra mengirim pesan pada sahabat dan asistennya,Kenzo dan Kevin alias 2k yg selalu mengikuti kemana Barra pergi.
Untuk menghilangkan kegelisahan Barra dan 2k mengunjungi club' malam.
namun dengan kondisi Barra yg menggunakan kursi roda ia tak jarang mendapat perlakuan tak pantas.
"si cacat ngapain kesini ,ini tempat orang normal ,kamu ....salah tempat !!" maki salah seorang pengunjung dengan menunjuk tepat d wajah Barra, pria yg sudah geser otaknya itu akibat terlalu banyak minum alkohol.
tak terima tuan dan sahabatnya d hina 2k langsung menghajar pria itu tanpa ampun,hingga terjadilah keributan besar d dalam club' itu.
tak terima melihat kekasih dan gengnya d hajar wanita berpakaian hanya dengan kain seperempat meter itu menghampiri Barra
"cuuuuiiiih...." meludahi Barra "pria tak berguna sepertimu berada d sini pasti untuk menghilangkan stres dan wanita d sini pun tak
ada yg mau melayani mu....hahahaha ... karena kamu sampah.... kamu g berguna .... cuuuiih " gadis itu melontarkan makian dan kata kata kasar tanpa tau dengan siapa saat ini mereka berhadapan.
Barra memalingkan wajahnya yg terkena air liur serta mengeratkan giginya dengan kuat mengepalkan tangan menahan amarah yg memuncak , namun karena dia seorang wanita Barra sekuat tenaga menahan amarahnya,karena pantang bagi seorang Barra mengotori tangannya untuk memukul wanita.
mendengar bos nya semakin d hina oleh kekasih musuhnya 2k semakin menjadi melampiaskan amarahnya pada laki laki yg nyaris mati itu bersama gangnya.
2 banding 6 orang 2k tak merasa kewalahan melawan kroco kroco penyusah orang tua.
d saat wanita itu mengambil botol hendak memukul kepala Barra "mampus...Ka...au"teriak wanita itu, d saat bersamaan mimi datang menangkis botol itu dengan lengannya dan "plaaak..." mendaratkan tamparan d wajah wanita itu yg langsung jatuh tersungkur
"jika tau dia lemah mengapa masih mempersulitnya" ujar Mimi dengan memegang dagu wanita itu
dan terlihat darah segar mengalir d balik Hem putih yg .asih ia kenakan sejak pagi.
"heeemz .....!!! aku yakin esok kuburan mu akan d gali setelah tau kamu berhadapan dengan dia" senyum meremehkan tersirat d bibir kecil Mimi dan berbalik menunjuk ke arah Barra
"sebenarnya aku juga tak mengenal dia tapi aku sudah menggali kuburan ku hari ini karena dia ha...ha...ha..."
Mimi terkekeh dan bangkit serta berjalan dengan huyung akibat sudah terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol.
melangkahkan kakinya mendekati Barra "dia itu sangat kuat" Mimi mencondongkan badannya
"jangan pandang dia lemah karena dia di atas kursi roda hemz..." Mimi tersenyum licik, ia memainkan telunjuknya pada wajah Barra
sementara Barra hanya menggerakkan kedua bola mata Mimi mengikuti kemana jari Mimi menyusuri wajahnya.
"dia itu perfect ototnya sangat besar dan keras" tangan Mimi mulai nakal menyentuh kedua lengan barra yg berotot.
lagi lagi Barra hanya terpaku melihat semua tingkah gadis setengah sadar d hadapannya.
Mimi menatap mata Barra serta bibir **** nya
"hemz..." lagi lagi senyuman licik "Dan bibir ini saaaaangat manis" kini jari Mimi menyentuh bibir **** Barra.
kemudian Mimi melingkarkan kedua lengannya d leher barra,lalu memeluknya dengan erat.
"walaupun dia sangat menyebalkan!!! karena dia aku jadi kehilangan pekerjaan " rutuk Mimi lirih yg hanya bisa d dengar oleh Barra.
Hiks ...
hiks...
terdengar Isak yg menyedihkan keluar dari mulut Mimi yg menempel d telinga Barra
bukanya marah dengan tingkah mimi,Barra malah tersenyum dan membalas pelukan dengan erat.
Mimi yg sudah sejak tadi berada d club' itu menyaksikan sejak awal perkelahian itu awalnya ia tak memperdulikan dan hendak pergi menunggu Irma menjemputnya namun karena ada wanita yg ikut campur akhirnya ia membantu Barra.
karena alkohol tak akrab dengan tubuhnya.alkohol kelas B sudah membuat kesadarannya tinggal 30% membuat Mimi tak lagi mampu bersikap waras, bahkan untuk sekedar berdiri saja lututnya sudah tak sanggup.
d sisa sisa kesadaran Mimi
Merasa jika tubuhnya terduduk d sepasang paha dengan kedua lengan kekar menjaga tubuhnya.
"aroma ini sama dengan aroma orang menyebalkan siang tadi " gumam tak jelas bibir Mimi dalam dada bidang Barra.
melihat pembelaan gadis asing pada sahabatnya 2k menyudahi perkelahian dan bertukar pandang satu sama lain.
"Kevin...!" panggil bara pada asistennya.
2k bergegas mendekat "iya tuan" jawab Kevin
"bantu aku dorong kursi roda ini!!" perintah Barra yg sudah memangku seorang gadis asing
tanya banyak tanya Kevin mendorong kursi roda tuannya itu sementara Kenzo mengikutinya d belakang sesekali ia masih menghardik pria yg baru saja d hajarnya.
Barra dan 2k membawa Mimi keluar dari club' di saat yg sama Irma masuk ke dalam club' namun mereka tak saling melihat.
__ADS_1
Irma menghubungi ponsel Mimi dan yg menjawab waiters club' karena tas beserta ponsel Mimi tertinggal d meja "Diman pemilik hp ini mas?" tanya Irma pada waiters club'
"dia d bawa pergi 3 orang pria mbk, setelah terlibat perkelahian barusan"
jawaban waiters itu membuat Irma semakin panik
"3 orang pria???"
"iya, saya kira temannya karena dengan salah satunya dia sangat akrab "
"ok ...ok.trimakasih " Irma berjalan keluar club'
"kamu d mana mi.... gimana kalau terjadi apa apa" gumam Irma cemas.
...****************...
"kita antar dia kemana? bro" tanya Kenzo yg mengemudikan Rolls Royce Phantom berwarna putih.
"hotel....!!" jawab Barra spontan
mendengar jawaban sohibnya itu Kenzo mengangkat kedua bahunya
"ok" ujar Kenzo sembari menambah kecepatan.
keesokan harinya
Ting... tung....
Ting...tung....
suara bel mengusik telinga Mimi, mata yg terasa sangat berat untuk d buka
"arght...." erang Mimi merasa kepala berdenyut, ia mengumpulkan nyawa nyawa d pagi hari hingga melihat d sekeliling dan tersadar bahwa itu bukanlah kamarnya
"dimana ini???" segera Mimi beranjak dan lebih mengejutkan lagi ia dalam keadaan naked di balik selimut .
"aaaaaaaa" mimi berteriak sembari membekap mulutnya sendiri
Ting tung "layanan kamar" suara seseorang d luar menyadarkannya kembali, ia membalut tubuhnya dengan selimut,berjalan untuk membuka pintu.
kemudian ia menjulurkan sedikit kepalanya "ada apa?"tanya Mimi pada seorang hotel room attendant di depan pintu
"selamat pagi " sapa hotel room attendant itu ramah "layanan kamar nona, ini pakaian yg tuan pesan untuk anda" dia menyerahkan paper bag dengan senyum yg mengembang sempurna.
Mimi hanya bisa membalas senyuman dengan canggung dan menerima paper bag kemudian segera tutup kembali pintu karena wajahnya yg hampir matang terbakar menahan malu.
Mimi duduk d sisi ranjang sembari mengingat ingat apa yg sebenarnya terjadi semalam.
"dan siapa yg membawaku ? atau jangan jangan dia yg bersama ku semalam?" begitu banyak pertanyaan yg memenuhi benak Mimi.
ketika paper bag d buka ada sehelai A-line dress berwarna navi yg terlihat sangat mewah dan elegan.
"waaah.... bagus banget bajunya.!!" puji Mimi saat gaun itu terpampang jelas d hadapannya.
"eeeh ... bajuku d mana?" Mimi memutar kedua matanya menyusuri sudut kamar itu namun tak nampak.
"aah... entahlah yg penting aku pulang dulu temui Irma" setelah mengucapkan nama Irma matanya melotot sempurna.
"hah Irma....!! bagaimana dia semalam d club'? dia pasti cemas, hp? dimana hp ku?" Mimi mencari hpnya
sibuk mencari hp tak sadar jika dirinya masih terbalut oleh selimut membuat kakinya terbelit dan
gubrak.....
"aaaw...." Mimi terjatuh dan terbentur sudut ranjang
"kenapa sejak kemarin aku sial sekali" tangannya mengusap jidatnya yg mungkin saja benjol.
saat dirinya menunduk menahan rasa sakit akibat terbentur matanya membulat sempurna saat melihat benda seperti balon d bawah ranjang
"hah...." rasa syok dan tak percaya bercampur aduk d hati dan pikirannya.
ia julurkan tangan untuk meraih benda d bawah ranjang itu dan membayanginya dengan sangat dekat, ia perhatikan masih ada sisa cairan berwarna putih kekuningan yg tersimpan d ujung balon itu.
"aduh ... kenapa aku tak bisa mengingat kejadian semalam" tangan kirinya memukul mukul kepalanya pelan, bersikeras u tuk mengingat kejadian semalam.
hiks ...hiks...
"siapa yg tega memperlakukan ku seperti ini dan pergi begitu saja ?" tangisnya pecah kala dirinya yakin telah ternoda dan yg sangat menyedihkan dirinya tak mengetahui siapa yg melakukannya.
ia masih duduk sambil mengisi tersedu sedu, beberapa saat kemudian ia tiba tiba bangkit setelah mengingat hotel room attendant
"iya dia... dia pasti tau siapa yg membawaku kemari" Mimi segera memakai dress yg baru saja ia terima.
"dan dia pasti orang yg melakukan ini pada ku!!" Tampa berdandan Mimi langsung keluar kamar dan mencari pelayan yg mengantarkan baju padanya
"siapa namanya tadi?" Mimi memutar otak mengingat ingat
"ba...Bayu" samar samar Mimi mengingat nama yg tertulis d dada kiri pelayan tsb
__ADS_1
walaupun ia bertelanjang kaki mimi berjalan dengan cepat sambil memalingkan pandangannya ke kiri dan ke kanan tanpa sadar jika dirinya berjalan di sepanjang koridor tanpa mengenakan alas kaki.
saat bersimpangan dengan beberapa orang tamu hotel,semua orang memandangnya dengan aneh, semua berbisik tentangnya.
"kenapa orang orang ini ?" gumam hati Mimi heran "apa ada yg salah dengan penampilan ku?" Mimi menggaruk kepalanya yg tak gatal.
Ting pintu lift terbuka Mimi segera masuk untuk turun ke lantai dasar.nmaun tetap sama semua orang yg berada d dalam lift menatapnya dengan aneh bahkan juga ada yg berbisik.
saat berada d dalam lift itulah ia baru menyadari jika dirinya tak memakai alas kaki alias nyeker
"astaga ..." Mimi berteriak
sring ..... terdengar suara pedang saat semua orang yg ada d dalam lift memandangnya secara serentak.
Mimi segera membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan, wajahnya memerah menahan malu yg luar biasa.
sepanjang lift turun dari lantai 30 sampai lantai dasar hotel itu Mimi dengan wajah memerah hanya menundukkan kepalanya tanpa berani melihat ke arah orang orang yg saat ini tengah menggunjingnya.
"heeemz... ini semua gara gara pria bejat yg tak bertanggung jawab pada Ku !!! kenap dia memperlakukan ku layaknya perempuan penghibur ?!!! jika benar aku seorang penghibur mengapa dia tak meninggalkan uang untuk ku? dasar bejat!!! bajingan!!! murahan!!! sekanya gratisan!!!" umpat batin Mimi yg sangat kesal
Ting ....pintu terbuka Mimi segera melangkahkan kakinya dengan cepat.
berbeda dengan beberapa orang yg ada d hotel itu justru semua karyawan hotel itu menyapanya dengan ramah bahkan saat melihat Mimi yg keluar kamar tanpa alas kaki pelayan langsung mengajaknya duduk d sofa lobby
"mari nona...duduklah d sana sebentar biar saya ambilkan beberapa sepatu untuk anda" ujar seorang wanita dewasa yg mengenakan pakaian modis dan tengah membawa beberapa file d lengannya.
"emth... tidak tidak perlu" tolak Mimi dengan rasa heran
"nona, saya mohon menurutkan jangan mempersulit kami" wanita itu menaruh berkas dan menggeret lengan Mimi untuk mengajak nya duduk d sofa mewah d lobby.
"eh...." Mimi hanya bis mengikuti kemana wanita itu membawa nya.
"tunggu d sini sebentar " pinta wanita itu dengan ramah dan sopan.
Mimi hanya mengangguk merasa heran d perlakukan bak seorang tamu VVIP.
"apa begini rasanya menjadi orang kaya? d perlakukan seperti ratu?" Mimi mengangkat sebelah bibirnya .
tak selang lama wanita yg memperlakukannya istimewa kembali dengan beberapa pelayan yg membawa beberapa kotak sepatu dengan brand ternama.
"layani nona ...?" wanita itu menunjuk Mimi dengan ibu jari untuk menanyakan nama.
"oh... mi...Mimi " jawab Mimi dengan terbata bata
"layani nona Mimi dengan baik, Jangan sampai beliau mengeluh !!" perintah wanita itu pada beberapa orang berseragam sama dengan orang yg mengantarkannya baju , kemudian wanita itu pergi.
"eemth... a....aku boleh tanya?" Mimi bertanya dgn ragu ragu
"silahkan nona" salah seorang pelayan mengiyakan.
"kalian mengenal laki laki yg bernama Bayu?" tanya Mimi dengan suara pelan
"oh... mas Bayu" jawab pelayan itu sembari membuka semua kardus kemudian mengeluarkan sepatu, dan beberapa heels dari kardus.
"silahkan d coba" pelayan itu menyodorkan Korean heels berwarna hitam
"wah... ini terlalu mahal untuk kako ki , carikan sandal biasa saja " pinta Mimi dengan wajah memelas.
"kami tidak berani menentang perintah ibu Mayang nona, jadi pilihlah salah satu dari semua ini!" ujar pelayan itu sambil menunjuk deretan sepatu dengan harga rata rata hampir 3 bulan gaji Mimi.
"hemth... mengapa kalian memperlakukan aku istimewa, padahal kita tak saling kenal ?" tanya Mimi penasaran apa yg terjadi sebenarnya.
"maaf nona saya hanya menjalankan tugas " jawab pelayan itu seraya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Mimi terlihat sangat anggun memakai A-line dress dan Korean Hells
"wajah cantik sekali " puji pelayan saat Mimi berdiri dan memutar badannya.
"trimakasih...."Mimi tersipu "oh iya tolong pertemukan aku dengan mas Bayu" mohon Mimi
saat Mimi tengah memohon matanya tertuju pada seorang pria yg berjalan keluar lift yg tak asing baginya.
tak selang lama berjalan seorang yg duduk d kursi roda yg tengah d dorong oleh seorang pria berpakaian formal.
"di....dia...!!!" mata Mimi melotot saat mengingat kejadian kemarin d tempat kerjanya.
Mimi bergegas pergi untuk menghampiri 3 orang pria yg membuatnya kehilangan pekerjaan .
"hei.... kalian...!!!" teriak Mimi dengan langkah kaki yg lebar berjalan menghampiri 3 orang pria yg tak merespon teriakannya.
saat amarah Mimi memuncak, wajahnya mulai memerah hendak mendamprat pria d kursi roda itu tiba tiba langkahnya terhenti saat wanita yg memperlakukannya dengan baik menyapa dengan sebutan tuan muda.
di saat yg bersamaan pria d atas kursi roda itu melihat keberadaannya dan menggerakkan kursi rodanya mendekat pada Mimi.
Mimi hanya mematung dengan kumpulan amarah yg siap meledak .
"bagaimana...semalam apa kamu menikmatinya.?" tanya pria kursi roda itu dengan senyuman licik d bibirnya.
mata Mimi melotot sempurna...
__ADS_1
"ternyata kamu sangat liar" imbuhnya.
bersambung......