
"hei.... " pria itu menepuk nepuk pipi Irma agar tersadar.
namun iram tak kunjung membuka matanya. pria itu sangat bingung harus melakukan apa hingga ia memberanikan diri untuk membuka tas kecil yg melingkar di bahunya
pria itu menemuka ponsel dan segera membuka layar kuncinya
"astaga ..." pria itu terkejut saat layar ponsel Irma menyala karena ia melihat wallpaper layar itu foto 2 orang gadis yaitu gadis yg saat ini pingsan d hadapannya dan seorang lagi yg saat ini telah menjadi nyonya muda baginya... ya dia adalah mimi istri dari bos sekaligus temannya itu. ya pria itu adalah Kevin.
namun saat akan membuka terdapat password.
"sial.... aku harus bagaiman lagi ini " ujar kevin putus asa.
"oh iya diakan kenal sama Mimi jadi akan lebih baik jika aku tanyakan padanya. tapi tuan saja tadi siang marah marah g jelas Dan saat ini aku sedang cuti berbayar, jika aku berani menelponnya maka jangan harap jika aku bisa melihat matahari esok pagi.
dalam keputusasaan nya kevin memutuskan untuk menghubungi Kenzo.
namun sialnya Kenzo juga tak kunjung menjawab telp nya karena saat ini Kenzo juga masih menikmati cuti berbayarnya yg notabenenya seorang play boy Kenzo tengah bermain panas dengan gadis yg dibelinya.
"sial..... dia pasti sedang mai gila." Kevin mengumpat pada layar ponselnya, akibat Kenzo yg tak mau mengangkat telponnya.
d saat bersamaan irma tersadar dan meracau.
"kau... bajingan.... setelah apa yg aku berikan semuanya kamu masih saja tega mengkhianati ku" racau Irma yg dalam pandangannya Kevin adalah sang pacar yg telah mengkhianatinya dengan gadis yg lebih kaya dan cantik.
"dasar gadis gila...." gumam kevin "merepotkan saja"
melihat sekeliling orang melihatnya dengan tatapan aneh. Kevin memutuskan untuk membekap mulut Irma kemudian menggendongnya ala bridal style dan membawanya masuk kedalam mobilnya.
Kevin membawa Irma ke apartemennya yg tak bersebelahan dengan apartemen Barra. selain tinggal d kediaman Permana Barra juga memiliki sebuah apartemen mewah dan beberapa resort d daerah pantai d mna salah satunya yg d tinggalin ya bersama Mimi saat ini.
Kevin menggendong Irma Alan bridal style menuju lift, setelah beberapa detik pintu lift tertutup
"hu....hu...huek" Irma memuntahkan cairan yg menjijikan dan itu mengenai jas Kevin
"he.....he...hei..." sentak Kevin "jangan muntah ya..." sebelum menyelesaikan perkataannya cairan menjijikan itu membasahi jas nya.
"iiiiiuuuh" Kevin merasa sangat jijik sekaligus kesal hingga menurunkan Irma begitu saja.
"matilah kau d situ...." umpat Kevin seraya melepas jasnya.
Ting.....
pintu lift terbuka dan sialnya d depan lift mabok ada beberapa orang yg saling berbisik menendang Mimi dan Kevin.
"lihat kekasihnya pingsan begitu malah d biarin tergeletak d lantai dasar laki laki tak punya hati " sindir beberapa orang d depan lift dengan pandangan skeptis.
"huuuuhft" Kevin menghela nafas berat mau tak mau ia harus kembali menggendong Irma Ala bridal style dan membawanya kedalam kamar.
Irma d baringkan d atas ranjang, Kevin melepaskan sepatu dan tas yg masih tergantung d lengannya.
Kevin menyikap rambut Irma yg berantakan hampir menutupi sebagian wajahnya
"ternyata dia cukup cantik" puji Kevin yg melihat wajah Irma dengan jelas
"ternyata masih banyak gadis sederhana dan terlihat cantik dan menarik" ucap Kevin yg kembali menyikap rambut yg masih tersangkut d bibir Irma
"hems" Kevin tersenyum "dari sekian banyak wanita wanita kaya yg aku kenal sejak bekerja dengan tuan Barra, aku baru melihat gadis ini dan nyonya Mimi yg tak begitu mempedulikan penampilannya" ibunya yg terus memandangi wajah Irma hingga Irma tersadar saat ada yg menyentuh area bibirnya.
"eeeem" Irma menggenggam tangan Kevin "hiks ....hiks ..." Irma terisak dengan air mata yg mengalir dari pelupuk matanya yg terpejam
"kenapa kamu tega melakukan ini pada ku? hiks.... hiks" gumam Irma d sela sela Isak tangisnya
"entah apa yg terjadi padamu, sepertinya saat ini hatimu tengah terluka" Kevin duduk d sebelah Irma dan menghapus air mata yg membasahi pipi gadis d hadapannya itu.
"tenanglah.... istirahatlah dulu" ujar Kevin yg sesekali mengelus puncak kepala Irma dengan lembut.
melihat bajunya yg basah terkena muntahan tadi Kevin berinisiatif untuk menggantinya. Kevin menanggalkan pakaian luar Irma dan kini tubuh Irma Terekspos dengan jelas hanya menggunakan bikini, melihat gadis cantik dengan pakaian bikini dan dalam keadaan tak sadar timbul hasrat dalam jiwa pria normal d otak Kevin
"haiiis" Kevin memukul kepalanya sendiri "pikiran apa ini" Kevin berusaha membuyarkan pikirannya yg mulai traveling ia segera mengenakan kemeja putih miliknya yg sudah mencapai separuh paha Irma kemudian menutup tubuh Irma dengan selimut tipis agar Irma tak kepanasan akibat dari alkohol yg masuk kedalam tubuhnya.
selesai membersihkan dirinya sebagai pria sejati Kevin tidur d atas sofa yg tak begitu jauh dari ranjang dia tak ingin jika dirinya tidur d ranjang yg sama dan tak bisa mengendalikan dirinya.
...****************...
keesokan paginya Mimi yg terbangun masih dalam dekapan hangat suaminya diam diam menatap wajah tampan suaminya,semua alat Indra yg ada d wajah itu nampak begitu sejuk d pandang.
"jika terlelap begini wajah ini sungguh tenang tapi mengapa jika terjaga terlihat menyeramkan dan kaku" batin Mimi dengan jemari yg mulai nakal menyusuri sudut wajah suaminya.
menyadari jika ada yg menyentuh wajahnya segera Barra mencekal pergelangan tangan Mimi dan itu membuat Mimi terkejut segera menarik dan memejamkan atasnya Kemabli.
"untuk apa berpura pura masih tertidur ? jika kau menyukainya maka lanjutkan lah" ujar Barra dengan dengan santai karena sejak awal Barra sudah menyadari jika Mimi menatap setiap inci wajahnya.
mendengar perkataan suaminya Mimi terus saja berpura pura tidur dan itu membuat Barra merasa gemas
cup....cup....
Barra langsung mengecup bibir kecil Mimi dan itu berhasil membuat mata Mimi terbuka lebar.
"mas .... aku masih bau...." ujar Mimi mendorong tubuh suaminya
"memang kenapa?"
__ADS_1
"itu menjijikkan" jawab Mimi yg menyikap selimut dan beranjak dari ranjang namun Barra tak akan membiarkan Mimi begitu saja pergi dari sisinya, saat Mimi nyaris sempurna berdiri Barra menarik lengan istrinya itu hingga kembali terjatuh d pelukannya.
"untuk apa terburu buru bangun, hari ini aku ingin d temani sepanjang hari, Karena mereka semua sedang cuti jadi kamu harus menemani aku" pinta Barra yg berbisik dari balik daun telinga dan itu membuat Mimi menahan geli setengah mati
mendapati reaksi mimi yg menahan geli bukanya melepaskan Barra malah melanjutkan dengan menggigit lembut daun telinga mimi
"heeems" desah Mimi tipis "hentikan mas" pinta Mimi dengan meraba pipi barra
Barra tak mengindahkan perkataan istrinya justru semakin brutal menyusuri setiap inci leher Mimi dan itu membuat Mimi semakin tak berdaya menolaknya.
tangan Barra mulai membuka satu persatu kancing piyama hingga sampai d bukit kembar Mimi yg terasa kenyal.
Mimi terus mendesah dan sampai pada puncaknya Mimi bangkit dan terduduk dengan menatap suaminya "mas jangan siksa aku, aku masih belum bisa melakukannya " ucap Mimi d sela sela desahannya.
"heeeems" barra semakin tak bisa menahan diri segera menarik tengkuk leher Mimi dan meraup bibir Mimi dengan ganas.
Mimi hanya bisa pasrah tak bisa melawan sampai tangan Mimi tak sengaja menyentuh sesuatu d bawah sana yg sangat keras, segera Mimi marik kembali tangannya namun justru d cekal oleh Barra tangannya d genggam d d arahkan ke area yg tak pernah Mimi sentuh.
"kau dapat merasakan seperti apa yg aku miliki?" tanya Barra dengan suara bergetar.
takut tak bisa mengendalikan dirinya Mimi segera mendorong tubuh Barra dan segera berlari ke kamar mandi.
"hei...." panggil Barra "mau kemana?" tanya Barra kesal mendapat penolakan
"aku tidak bisa sekarang" jawab Mimi dari dalam kamar mandi
"ah....sial" umpat Barra seraya menayangkan tinjuan ke udara.
ia bangkit duduk d sudut ranjang akan berpindah ke kursi rodanya.
segera ia menyusul Mimi ke kamar mandi namun begitu gagang pintu d tekan ternyata Mimi menguncinya dari dalam
"Mimi....!" panggil Barra dengan keras "buka pintunya" seraya menggedor pintu kamar mandi
"sebentar lagi tunggu d luar sebentar " jawab Mimi berteriak dari balik guyuran air shower.
"awas kau saat keluar nanti!" umpat Barra menjalankan kursi rodanya.
beberapa menit kemudian Mimi perlahan membuka pintu kamar mandi dengan mengintip setiap sudut kamar memastikan jika Barra tak berada d dalam kamar.
"pokoknya aku harus terus menghindari dia sementara ini, bisa gawat kalau terus berada d dekatnya." bisik Mimi dalam hati
setelah merasa aman ia melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dengan mengendap endap, segera mengunci pintu kamar dan berganti pakaian.
sementara Barra berada d ruang tengah sedang menerima tlp dari seseorang.
setelah selesai Mimi pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. karena bik Sumi hanya bertugas membersihkan rumah ini jika tak d tempati.
"kalau begini mau masak apa?" gumam Mimi sembari menutup pintu kulkas.
"mas ...." Mimi memanggil suaminya "kemana dia?" gumam Mimi dengan mengelilingkan pandangannya mencari suaminya.
Mimi menyusuri ruangan demi ruangan hingga sampai d ruang tengah.
"itu dia" ucap Mimi saat melihat suaminya tengah menelfon seseorang.
"mas" panggil Mimi pelan dengan menyentuh bahu Barra
"ada apa?" tanya Barra dengan meraih pinggang istrinya
"aku mau masak, tapi kulkasnya kosong" bisik Mimi agar tak terdengar dari seberang tlp.
*saya hubungi lagi nanti* ujar Barra langsung memutus sambungan telp nya.
"pagi ini sarapan d luar saja, nanti baru belanja" ujar Barra kemudian mencium pipi sang istri.
"ok... " jawab Mimi antusias.
"jangan ganti aroma parfumnya aku menyukai ini" ucap Barra seraya menghirup aroma tubuh istrinya.
"aku tidak pakai parfum " jawab Mimi dengan mencium bajunya sendiri
"lalu aroma apa ini?" tanya Barra penasaran
"sabun mungkin, aku jarang sekali pakai parfum " ucap Mimi dengan memainkan telunjuknya pada pipi Barra
melihat jari nakal istrinya Barra sengaja menggoda istrinya dengan menggigit jari telunjuknya.
"aaaaw" teriak Mimi "sakit mas" Mimi menarik jarinya
"oh ... maaf " barra meraih telunjuk istrinya dan meniup penuh rasa.
"sudahlah.... cepat bersiap aku sudah lapar" sergah Mimi segera takut suaminya kembali tak bisa menahan dirinya.
Mimi segera beranjak dan berjalan ke sisi jendela.
Mimi membuka jendela, terlihat pemandangan indah laut dengan sun rice dan menghirup sejuknya angin laut d pagi hari.
Mimi merentangkan tangan menikmati setiap hembusan angin yg masuk menembus baju menyentuh setiap nadi Mimi
"sudah lama sekali aku tak merasa se damai ini" gumam Mimi dengan memejamkan mata
__ADS_1
"kamu tak ingin membantuku ?" sapa Barra dengan menarik helai baju Mimi yg terbang tertiup angin.
"bantu apa?" tanya Mimi polos
"mandi" jawab Barra singkat seraya melebarkan senyum d bibirnya
"hah...." Mimi terkejut "tidak tidak, jangan berharap banyak cepatlah mandi aku sudah kelaparan" ucap Mimi dengan mendorong kursi roda suaminya menuju kamar mandi.
singkatnya Mimi dan Barra sudah sampai d sebuah resto terdekat semua karyawan d sana sepertinya sudah sangat mengenal Barra, terlihat bagaimana cara mereka menyapa Barra.
Mimi yg mendorong kursi roda suaminya hanya bisa membalas sapaan para karyawan dengan ramah.
"sepertinya mas cukup populer d sini" ujar Mimi lirih dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"aku rasa kamu akan sangat beruntung menjadi istri ku" jawab Barra seraya terkekeh
"gr.... ingat pernikahan kita berdasarkan apa" balas Mimi singkat
mendengar jawaban istrinya wajah Barra berubah seketika.
"hentikan...!!!" perintah Barra meminta Mimi menghentikan dari mendorong kursi rodanya.
"kenapa....aku sudah lapar, dan itu ada meja kosong " jawab Mimi polos dengan menunjuk meja kosong d sudut ruangan.
"silahkan tuan, meja tuan ada d sebelah sini" ujar salah seorang karyawan cantik mengarahkan Barra dan juga Mimi.
setelah beberapa meter Mimi berjalan ia membaca prifat room
"makan saja harus d tempat prifat?" batin Mimi terheran heran
saat pelayan itu membuka pintu mata Mimi melebar sempurna, ia begitu terkejut melihat ruangan yg terlihat sangat romantis.
ternyata ketika Mimi melihat suaminya sedang menelfon seseorang d rumah tengah pagi tadi ia tengah menyiapkan ini semua, dan itu tak d ketahui oleh Mimi sama sekali jika saja
"nona sangat beruntung mendapatkan suami seperti tuan Barra yg sangat mencintai anda" bisik salah seorang pelayan pada Mimi
"hah...." Mimi terlihat sangat bodoh " mas Barra yg menyiapkan semua ini?" tanya Mimi dengan berbisik
"heem" pelayan itu menjawab antusias.
"mas Barra bisa memperlakukan aku seromantis ini?" batin Mimi
Mimi dan Barra duduk berhadapan l, Barra masih dengan wajah muramnya sedang Mimi dengan wajah canggungnya menerima perlakuan dari seorang pria yg sampai saat ini masih ia anggap asing.
"eeeem.... mas mau pesan apa?" tanya Mimi memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana.
"tunggu sebentar lagi pesanan akan sampai" jawab Barra ketus dengan tetap memainkan ponselnya.
"emh" Mimi mengangguk pelan masih dengan ekspresi serba salah
saat melihat menu makanan yg d sajikan Mimi semakin merasa bersalah, sebab semua makan yg d pesan barra adalah makanan kesukaan Mimi semua.
"hah.... bagaiman dia bisa tau semua ini manan kesukaan ku?" batin Mimi terheran heran.
bagi seorang Barra keturunan Permana tak akan sulit untuk mendapat semua informasi seseorang ia tinggal tlp dan jawaban akan segera ia dapatkan.
"cepat makan lah..." pinta Barra pada istrinya agar segera makan yg sejak pagi sudah merengek kelaparan.
"emh... boleh aku duduk di sebelah mas?" tanya Mimi ragu ragu
"silahkan duduklah d mana kamu suka" jawab Barra dingin
mendengar jawaban suaminya Mimi segera bergerak dengan pelan untuk pindah duduk d sebelah suaminya.
"aku bantu ambilkan. mas mau makan apa?" tanya Mimi pelan
"terserah kamu " lagi-lagi Barra menjawab dengan ketus
"sebenarnya apa yg salah dengan ucapan ku. mengapa dia kembali berubah sikap?" Mimi berusaha mengingat setiap kata kata yg keluar dari mulutnya dan seketika matanya melotot kala dirinya mengingat perkataanya yg membahas pernikahan d koridor depan tadi
"astaga ... apa dia tersinggung dengan itu?" Mimi tiba tiba menutup mulutnya "tapi bukankah benar adanya jika pernikahan ini tak seperti pernikahan pada umumnya." sangkal Mimi ia masih merasa jik ucapannya tak salah
"tapi akan aku coba mengalah, jika dia berubah sikap lagi berati benar dugaan ku" batin Mimi untuk terlebih dulu meminta maaf.
"maaf ya mas...." ucap Mimi sambil mengambil ikan pedas manis
"untuk apa?" tanya Barra singkat
"untuk perkataan ku yg mungkin tak berkenan d hati mas" jawab mimi
mendengar perkataan Mimi Barra seketika langsung menaruh ponselnya dan memandang wajah istrinya.
"tepat seperti dugaan " batin Mimi yg melihat ekspresi suaminya seketika berubah awan hitam yg sejak tadi menyelimuti kini mulai memudar.
"contohnya?" tanya Barra antusias
"ya.... pokoknya semua perkataan ku yg mungkin tak berkenan d hati mas. aku kan tidak tau perkataan ku yg mana yg membuat mas tersinggung" jawab Mimi yg kembali duduk setelah mengisi piring suaminya.
ketika suasana sudah mulai mencair ponsel Mimi yg tergeletak d dekat barra berdering tak sengaja barra melihat nama kontak yg menghubungi nomor istrinya.
seketika mendung yg baru saja akan pergi tertiup angin kini malah datang awan hitam yg semakin pekat ...
__ADS_1
bersambung.....