
Tidak banyak kata-kata yang di ungkapkan oleh Devano, dia hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kepercayaan besar yang di berikan padanya.
"Terima kasih banyak, Pak. Saya tidak menyangka bahwa saya di angkat sebagai pegawai tetap di perusahaan ini. Sekali lagi terima kasih banyak atas kepercayaannya pada saya," ucap Devano.
"Sama-sama pak Devan, saya turut ikut senang. Semoga ini membuat pak Devan lebih semangat bekerja lagi untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini," ungkap pak Ridwan.
"Oh yah pak Devan, sebagai pegawai tetap pak Devan mendapatkan fasilitas perumahan karyawan baru. Pak Devan bisa menghubungi bu Dhea untuk lebih jelas dan detailnya," kata pak Ridwan.
"Baik, terima kasih banyak Pak. Nanti saya akan menghubungi bu Dhea," jawab Devano yang tak bosan-bosannya mengucapkan terima kasih.
"Ya Tuhan terima kasih banyak buat kasih-Mu. Banyak rezeki yang engkau berikan, mungkin ini dari doa ibu yang engkau kabulkan untuk segera merenovasi rumah," batin Devano.
"Baik, pak Devan tinggal bersiap-siap saja. Masih ada waktu satu sampai dua minggu untuk mempersiapkannya. Nanti selama di sana juga, pak Devan mendapatkan fasilitas tempat tinggal dan kendaraan. Dan SK nya mungkin besok kalau sudah ada, saya titipkan ke bu Dhea."
"Iya Pak."
"Pak Devan bisa kembali ke ruangannya, maaf telah menyita waktu pak Devan," kata pak Ridwan berdiri sambil mempersilahkan Devano.
Devano pun ikut berdiri dan langsung berjabat tangan dengan pak Ridwan. "Saya pamit dulu pak ke ruangan saya. Permisi!" Devano langsung keluar menuju ruangan kerjanya.
****
Sesampainya di ruangan kerjanya, dia langsung duduk kursi kerjanya. Dia menyandarkan kepalanya dan menarik nafas panjang. Tampak tidak terlihat Emir di ruangan, entah di mana keberadaan Emir, Devano tidak tahu.
Devano yang sedang duduk di kursi kerjanya masih tidak menyangka akan berita bahagia yang di terimanya. Perasaannya campur aduk, antara bahagia dan sedih.
Devano bahagia karena mendapat kepercayaan besar dari perusahaan untuk menjadi pimpro di Sulawesi. Devano juga merasa sedih, dia bersedih karena akan lebih jauh lagi dari keluarganya terutama jauh dari sisi ibu tercinta.
"Jika saja di beri kesempatan, aku ingin sekali membawa ibu bersamaku di Sulawesi. Tapi tidak mungkin, bagaimana dengan kedua adik saya, mereka juga masih membutuhkan kasih sayang ibu," pikir Devano.
Perjalanan Sulawesi-Surabaya tentu membutuhkan waktu yang lebih lama dan harus di tempuh dengan menggunakan pesawat. Hal tersebut membuat Devano akan jarang pulang kampung ke Surabaya. Itu akan membuatnya sangat merindukan keluarganya, terutama dengan ibunya.
Di sisi lain, Devano sedikit merasa aneh dengan perlakuan dari perusahaannya terhadapnya lebih istimewa. Apakah ini ada hubungannya dengan Presdirnya yang merupakan sahabat ayahnya? Apakah ini cara Stephanus membalas kebaikan ayahnya yang telah berjasa terhadap kesuksesannya. Inilah yang terlintas dalam pikiran Devano.
__ADS_1
Terlepas dari semuanya itu, Devano akan mempergunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Kesempatan yang jarang sekali di berikan kepada para pegawai lainnya, jadi Devano bertekad akan bekerja lebih baik dan akan menunjukkan bahwa dia layak untuk mendapatkan apresiasi dari perusahaannya.
Tiba-tiba saja ada tangan yang memegang pundak Devano yang membuat Devano seketika memutar kursi kerjanya, bermaksud melihat siapa yang memegang pundaknya.
"Selamat bro!" ucap Emir yang langsung mengajak Devano berpelukan. "Saya sangat bahagia mendengar bahwa kamu yang menjadi pimpro untuk menyelesaikan proyek di Sulawesi," ucapnya menepuk pelan punggung Devano
Emir pun melepaskan pelukannya dan kembali melanjutkan perkataannya. "Sebagai sahabat loh, saya sangat bangga sama lu."
"Bang Emir sudah tahu?" tanya Devano.
"Gue baru saja kembali dari ruangan pak Niko. Jadi gue di kasih tahu pak Niko di ruangannya tadi. Semoga sukses buat tugas barunya dan gue berharap kamu dapat menyelesaikan tugasmu di sana dengan baik. Jangan lupa bonusnya di bagi-bagi, hahaha," ungkap Emir tertawa.
"Amin Bang, terima kasih banyak. Soal bonusnya, nomor rekeningnya bisa segera di kirim, hehehe," jawab Devano.
"Bercanda bro! Gue akan selalu dukung lu."
Emir tampak bahagia setelah mendapat kabar bahwa Devano yang akan di tempatkan di Sulawesi sebagai pimpro. Jadi Emir tidak harus meninggalkan keluarganya, dan juga tidak harus jauh dari Renatta.
Kesempatan untuk mendekati Renatta pun terbuka lebar baginya, dia akan lebih leluasa karena orang yang di sukai Renatta berada di tempat yang jauh. Selain itu sebagai sahabat, tentu Emir juga sangat bahagia dan bangga melihat karir sahabatnya mengalami kemajuan yang signifikan.
Sesampainya di kostnya, Devano berencana akhir pekan dia akan pulang kampung ke Surabaya untuk mengabari pada ibu dan kedua adiknya tentang tugas barunya di Sulawesi.
Devano menelpon Diva kalau ia akan pulang ke Surabaya. Dia meminta Diva agar tidak memberi tahu pada ibunya soal kepulangannya.
****
Sesampainya di rumahnya, dia mengendap-endap masuk ke dalam rumah. "Diva, ibu mana?" tanya Devano berbisik.
"Ibu sedang ada di dapur Bang," kata Diva sambil mencium tangan kanan Devano. "Kevin juga masih belum pulang dari sekolah," lanjutnya memberitahu.
"Oh ... oke."
"Eits ... tunggu dulu!" panggil Diva menghentikan langkah Devano menuju dapur.
__ADS_1
"Kenapa Div?"
"Abang udah beli oleh-oleh kan? Hehehe," kekeh Diva.
"Tuh ada di koper!"
Setibanya di dapur, tampak ibunya sedang menyiapkan makan siang. Lalu Devano mencoba menutup mata ibunya, alih-alih memberi kejutan.
"Eh ... Kevin, mata ibu kok di tutup? Kamu udah pulang sekolah?" tanya ibunya yang mengira Kevin yang menutup matanya.
Lalu Devano melepaskan tangannya, dan langsung mencium pipi ibunya. "Apa kabar Bu?"
"Devan!" kaget ibunya yang langsung berbalik dan menghamburkan dirinya memeluk Devano. "Kapan kamu pulang, Nak?"
"Barusan, Bu. Ibu apa kabar?" tanya Devano.
"Ibu sehat, Nak."
Lalu mereka berkumpul di ruang tamu, tampak ibu dan adiknya Diva membantu membereskan barang-barang yang di bawa Devano, sedangkan Kevin tidak terlihat di rumah karena masih belum pulang dari sekolah.
"Wah ... tumben bawaannya banyak bang, bawa koper segala," kata Diva sambil mencicipi keripik singkong oleh-oleh dari Devano.
"Ini baju-baju yang jarang di pakai, mau abang simpan di sini," kata Devano yang berdiri dari tempat duduknya dan hendak menuju kamarnya.
"Nak, makan dulu. Tadi ibu udah masak rendang ayam loh," kata ibunya menyuruh Devano untuk makan siang terlebih dahulu.
"Wah ... pas banget nih, pulang kampung langsung di masakin makanan favorit," kata Devano.
Entah kenapa tiba-tiba ibunya berniat memasak rendang ayam yang merupakan makanan favorit Devano. Katanya sih ibunya merindukan anaknya Devano, alhasil ibunya mengekspresikan kerinduannya dengan memasak makanan favorit Devano.
"Wah mantep nih Bu, dah dua bulan lebih gak ketemu menu ini. Makan bareng sekarang yah Bu, Devan udah lapar nih. Diva ... ayo makan," kata Devano yang sudah duduk di meja makan.
"Siap Bang ... Diva ambil lalapannya dulu. Masih di kukus, dah mateng kayaknya," kata Diva.
__ADS_1
Mereka bertiga pun makan siang bersama. Devano sangat merindukan masakan ibunya, bahkan tampak Devano dengan lahapnya makan sampai nambah dua kali. Ibunya tersenyum bahagia melihat Devano makan dengan lahapnya.
...~ Bersambung ~...