
Mendengar penjelasan dokter mengenai ibunya yang harus di pasang alat bantu nafas lagi, membuat Devano gelisah dan khawatir. Sebenarnya Devano tidak tega kalau ibunya harus di pasang alat lagi.
Tampak Devano bingung, apa yang terjadi dengan ibunya. Bukankah keadaan ibunya telah membaik sejak hari kemarin? Barusan Devano dan adiknya Diva sempat mengobrol dengan ibunya, dan terakhir ibunya tertidur dengan tenang mendengar Diva bernyanyi, tapi kenapa ibunya tiba-tiba tampak sesak?
"Ya Tuhan ... jika kau izinkan ibu panjang umur, angkatlah penyakit ibu hamba. Sembuhkanlah ibu saya oleh KuasaMu, namun jika Engkau ingin mengambilnya karena lebih sayang padanya, ringankanlah kepergiannya," doa Devano di lubuk hatinya yang terdalam.
Devano pun mendekat dan memegang tangan ibunya, bermaksud menguatkan ibunya yang tengah berjuang bertahan hidup. Devano pasrah kalau ibunya harus meninggalkannya. Devano melihat ibunya menarik nafas panjang dan tiba-tiba nafasnya terhenti. Alarm monitor pun berbunyi menandakan pasien sedang tidak baik-baik saja.
"Nafas terhenti dan denyut jantung melambat, Dok!" kata salah perawat.
Lalu Dokter segera memberikan bantuan pernapasan pada pasiennya dengan alat berupa tabung yang dipasangkan pada trakea melalui mulut dan hidung. Dokter juga menyuntikkan obat injek melalui selang hidung.
Tampak dokter dan beberapa perawat lainnya sibuk mengecek kondisi ibunya Devano dan Diva. Mereka mengerahkan seluruh tenaga dan usaha untuk menyelamatkan pasien. Devano dan Diva hanya bisa saling menguatkan dan berharap ibu mereka baik-baik saja.
"Ibu kenapa, Bang? Ibu akan baik-baik sajakan?" Hiks ... hiks ... hiks," kata Diva dengan isak tangis.
"Kita hanya bisa pasrah pada yang sang Kuasa, kita harus kuat, Div!" kata Devano menguatkan Diva, sesekali dia mengusap air matanya yang tak bisa di bendung lagi.
Ibunya Devano pun mengalami henti jantung dan henti nafas. Perawat dan dokter masih berusaha memberikan pertolongan. Devano semakin tidak tega melihat kondisi ibunya, dan dia pun menyampaikan kepada dokter kalau memang ibunya tidak bisa tertolong lagi, ia ikhlas. Ya ... ikhlas menerima kepergian ibunya selama-lamanya.
Akhirnya tepat jam sepuluh, dokter menghentikan tindakan pertolongan. Lalu Dokter menyampaikan kepada Devano dan Diva bahwa ibunya sudah tidak bisa tertolong lagi. Devano yang melihat Diva hampir terkulai lemas, langsung meraih dan memeluknya.
"Ibu ... " suara serak Diva yang terdengar lemas. Devano langsung membawa Diva ke ruang penunggu pasien dan membaringkannya ke sofa.
Tidak ada yang menyangka kalau ibunya Devano akan berpulang hari ini. Walaupun sejak kemarin kondisi ibunya mulai membaik, dan bahkan dokter pun mengatakan bahwa pasiennya akan segera sembuh.
__ADS_1
Tapi tidak ada yang bisa menolak ketetapan sang Pencipta, bahkan takdir hidup dan mati seseorang sudah di tetapkan sebelum ia lahir ke dunia. Hanya Dialah yang berhak memberi kehidupan dan juga mengambil kehidupan itu.
Air mata Devano pun tak bisa di bendung lagi, dia memilih duduk sebentar sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak menyangka wanita yang paling ia sayangi dan hormati pergi meninggalkannya selama-lamanya.
"Terima kasih banyak, Bu. Sekarang penyakit ibu telah sembuh dan tidak lagi merasakan sakit lagi. Devano ikhlas menerimanya bu, walaupun hati ini masih berharap ibu kembali pulih. Terima kasih banyak buat perjuangan dan kasih sayang ibu pada Devan, Diva, dan Kevin. Pergilah dengan tenang bu," batin Devano sambil mengusap air matanya.
****
Akhirnya acara pemakaman ibunya Devano berjalan dengan lancar. Banyak orang yang hadir mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sejak masih hidup, ibunya Devano di kenal sebagai orang yang baik hati, suka menolong, dan suka berbagi. Walau di tengah keterbatasan, ibunya Devano tetap bersedekah kepada orang yang lebih membutuhkan.
Hari sudah malam, Devano dan kedua adiknya beserta keluarga dekatnya sudah kembali ke rumah masing-masing. Ada beberapa kerabat yang hadir baik dari keluarga ibunya maupun keluarga ayahnya, memberi penghiburan kepada Devano dan kedua adiknya yang sedang berduka.
Devano masih memiliki dua paman adik ayahnya yang tinggal di Yogyakarta dan mungkin mereka baru akan sampai di Surabaya malam ini.
Diva masih terlihat sangat sedih dan terpukul oleh kepergian ibunya. Begitu juga dengan Kevin yang merasakan kesedihan yang amat mendalam. Kevin sangat menyesal karena tidak sempat bertemu ibunya sebelum ibunya berpulang.
Keadaan rumah tampak sepi setelah beberapa kerabat memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Hanya tinggal mereka bertiga di rumah itu, lalu Devano memberikan nasihat kepada adiknya agar mereka tegar, ikhlas, dan sabar.
Devano jadi teringat obrolan dengan ibunya sebelum ibunya pergi. Obrolan yang begitu singkat, namun itu merupakan obrolan terakhirnya dengan ibunya.
Berat rasanya harus berpisah dengan ibunya untuk selamanya. Bukan selamanya, tapi Devano yakin akan bertemu dengan ibunya suatu saat nanti di tempat yang lebih indah di waktu yang sudah di tentukan.
Terlintas di pikiran Devano salah satu perkataan ibunya. 'Ibu mau pulang,' itu yang di katakan ibunya. Ternyata benar, ibunya benar-benar pulang untuk selamanya. Ada dua pesan lagi dari ibunya yang harus Devano laksanakan, yaitu menikah setelah proyek di Sulawesi dan menjaga kedua adiknya.
"Amanah ini akan Devan laksanakan bu," batin Devano berjanji.
__ADS_1
Dua hari setelah ibunya meninggal Devano memutuskan untuk kembali ke Sulawesi, kembali menyelesaikan pekerjaannya yang telah di percayakan kepadanya. Berat rasanya harus berpisah dengan kedua adiknya, tapi tuntutan pekerjaan membuatnya terpaksa harus pergi meninggalkan kedua adiknya sementara.
Tampak Devano sudah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Dia pun pamit pada kedua adiknya dan juga pada Naura yang saat itu bersama dengan mereka.
"Abang pergi dulu ya! Kalian jaga diri baik-baik," kata Devano bergantian memeluk kedua adiknya.
"Iya, Bang. Hati-hati di jalan yah," kata Diva.
Devano hanya mengangguk tersenyum, lalu pandangannya pun langsung tertuju pada Naura yang berada di samping adiknya Diva.
"Naura, Mas pamit dulu ya. Saya titip kedua adik saya, kamu juga jaga diri baik-baik ya," kata Devano tersenyum ke arah Naura.
"Iya, Mas Devan. Semangat buat kerjanya dan jaga kesehatan juga di sana. Saya doain semoga proyeknya berjalan dengan lancar dan juga cepat selesai," ucap Naura sambil tersenyum.
"Amin."
"Ingat pesan kak Naura yah, Bang. Jaga kesehatan di sana dan juga ... jaga hatinya buat kak Naura," kata Diva dengan suara yang perlahan kecil, bermaksud menggoda abangnya.
Hal tersebut membuat Devano menjadi salah tingkah di hadapan Naura. Tiba-tiba terdengar suara om Toni ayahnya Naura memanggil Devano. "Devan, sudah siap?" teriak om Toni dari dalam mobil yang bermaksud mengantarkan Devano menuju Bandara.
"Iya, Paman. Saya akan segera ke sana," sahut Devano. "Baik, abang pergi dulu! Sampai jumpa," kata Devano berjalan menuju mobil sambil sesekali menoleh ke arah belakang melambaikan tangannya ke arah kedua adiknya dan juga pada Naura.
"Hati-hati di jalan yah, Mas." Batin Naura tersenyum. Tanpa dia sadari, Diva menangkap basah Naura yang terus tersenyum ke arah abangnya Devano, bahkan saat mobil menghilang dari pandangan mereka, Naura masih melamun.
Sebenarnya Diva tahu bahwa Naura menaruh harap banyak kepada kakaknya, dia juga tahu bahwa Naura mengharap Devano untuk melamarnya. Akhirnya beberapa menit Diva, Kevin, dan Naura masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...