Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Saling Menguatkan


__ADS_3

Tampak Devano dan Naura berbincang beberapa saat, hingga terpikir di benak Devano untuk menemui ibunya. "Kalau mau masuk ke dalam melihat kondisi ibu, gak bisa yah?"


"Iya mas gak bisa. Ada jadwal tertentu untuk keluarga bisa menunggu pasien di dalam, kecuali ada sesuatu penting biasanya keluarga di panggil di minta masuk ke dalam," ujar Naura.


"Tapi ibu baik-baik saja kan?" tanya Devano dengan nada khawatir. Ingin sekali rasanya Devano cepat-cepat menemui dan berada di samping ibunya.


"Terakhir jam sebelas malam, kondisi ibu stabil meskipun nafasnya masih di bantu mesin ventilator. Kata Dokter, ibu mengalami pendarahan di otaknya," ungkap Naura menginformasikan.


"Pendarahan otak?" gumam Devano sambil tertunduk.


Devano pernah membaca sebuah artikel, yang bertuliskan bahwa kondisi pendarahan otak ini menimbulkan gejala yang lebih parah karena sumbatan pada pembuluh darah otak. Seketika Devano berusaha menenangkan dirinya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menarik nafas panjang.


"Sebaiknya mas Devan istirahat dulu, sepertinya di dalam masih ada sofa yang kosong. Perawat bilang baru jam enam pagi bisa nemenin pasien sampai jam tujuh."


Devano pun melirik jam tangannya dan jam menunjukkan pukul tiga. "Gak apa-apa kok Nau .... Mas tidak tega meninggalkanmu sendirian menunggu di sini. Sebaiknya kamu yang istirahat, kamu pasti sangat lelah dari siang nemenin ibu, Diva, dan Kevin. Mas izin pergi ke toilet dulu!" kata Devano beranjak dari tempat duduknya.


Selesai dari toilet, Devano kembali ke ruang tunggu menemui Naura. Ternyata Naura tidak sendirian lagi, dia di temani oleh Diva. Diva yang melihat keberadaan Devano, langsung berlari dan menghamburkan dirinya memeluk Devano.


Di dalam pelukan tersebut, Diva menangis sejadi-jadinya meluapkan kesedihannya pada abangnya Devano. Sementara Devano berusaha terlihat tegar dan menahan kesedihannya agar tidak menangis di depan adiknya. Dengan lembut dia mengusap kepala adiknya. "Sudah Diva, Abang sudah ada di sini. Semuanya akan baik-baik saja."


"Hiks ... hiks ... maafkan Diva, Bang. Diva tidak bisa menjaga ibu dengan baik."


"Kamu tidak bersalah Diva, kita semua harus kuat, sabar dan ikhlas. Jika ibu melihatmu terus menangis, maka ibu akan memarahimu. Kamu mau?" kata Devano menghibur adiknya Diva.

__ADS_1


"Sekarang kamu cuci mukamu dulu, kecantikanmu berkurang ketika kamu terus menangis," kata Devano.


Naura yang melihat dua bersaudara itu saling menguatkan, hanya bisa tersenyum dan terharu. Tanpa sadar, sedikit demi sedikit air mata berjatuhan di pipinya.


Waktu terus berjalan, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Devano langsung masuk ke ruang ICU menemui ibunya. Dia melepas jaketnya dan sepatunya dan menggunakan baju khusus dan sandal yang harus di gunakan oleh pengunjung saat masuk ke ruang pasien.


Devano pun berjalan menuju tempat tidur ibunya. Tampak ruangan tersebut ada delapan tempat tidur dan semuanya terisi oleh pasien. Devano langsung menghampiri ibunya yang sedang terbaring lemah dan dalam keadaan tidak sadar.


Terpasang selang infus di tangan kanannya dan mulutnya terpasang selang berukuran besar yang tersambung dengan sebuah alat, sepertinya itu mesin yang membantu ibunya bernafas, dan beberapa alat medis lainnya yang terpasang di tubuh ibunya.


Devano yang berada di samping ibunya hanya bisa tersenyum tegar. Hatinya terasa sakit seperti di koyak-koyak melihat kondisi ibunya yang di luar dugaannya. Air mata pun tak bisa di tahan lagi yang akhirnya jatuh membasahi pipinya. Devano menggenggam tangan kanan ibunya sambil memperhatikan wajah ibunya yang terlihat pucat.


Devano pun mulai berkata-kata dengan suara pelan. "Bu ... ini Devan. Devan sudah ada di sini, biasanya ibu langsung memelukku ketika aku pulang. Peluk aku Bu, Devan sangat merindukan ibu. Ibu cepat sembuh yah."


Devano tak kuasa menahan kesedihannya, air matanya terus mengalir sampai menetes di tangan ibunya. Dia langsung menghapus air matanya, dia tidak ingin ibunya melihat dia menangis. Walaupun ibunya tidak melihatnya tapi bisa saja ibunya merasakan kesedihan anaknya. Bukankah hubungan batin seorang ibu dan anaknya begitu kuat?


Sudah tiga hari telah berlalu, Devano dengan setia menunggu ibunya di rumah sakit. Kondisi ibunya masih belum menunjukkan perubahan signifikan. Menurut para dokter, saat ini ibunya tergantung pada alat ventilator untuk membantu ibunya bernafas. Ini di karenakan oleh pendarahan otaknya yang menekan pusat pernafasan.


Kalau seandainya ventilator tersebut di lepas, kemungkinan ibunya tidak akan bertahan lama. Dokter pun menyerahkan keputusan kepada pihak keluarga, bertahan dengan menggunakan ventilator atau melepas ventilator dan pasrah kalau ibunya tidak akan bertahan lama. Tentu saja itu merupakan berita yang tidak mengenakkan bagi Devano.


Malam ini Devano mendiskusikannya dengan kedua adiknya Diva dan Kevin di ruang tunggu pasien. Devano meminta pendapat dan saran Diva dan Kevin. Walaupun Devano berbicara dengan hati-hati dan menggunakan bahasa yang halus agar kedua adiknya bisa menerima, tapi tetap saja membuat Diva berluluran air mata, begitu pun Kevin tak kuasa membendung air matanya.


Bagaimana kesedihan tidak menyelimuti, melihat wanita yang paling berjasa dalam hidup mereka terbaring tak berdaya di rumah sakit. Mereka belum siap kalau sekarang harus kehilangan ibunya, tapi Devano sendiri pun tidak tega melihat keadaan ibunya yang di penuhi alat-alat medis yang mungkin sebenarnya menyiksa ibunya.

__ADS_1


Tapi kedua adiknya berisi keras ingin mempertahankan ibunya, mereka yakin ibunya bisa sehat kembali. Akhirnya Devano pun memutuskan mempertahankan penggunaan ventilator dan alat-alat medis lainnya, sambil melihat perkembangan ibunya.


Devano juga mengajak kedua adiknya untuk berdoa meminta kepada Allah sang pemilik kehidupan untuk memberikan kesempatan pada ibu mereka bisa sehat kembali.


"Selama kita bersama-sama dan kuasa Tuhan menyertai, yakin semua akan baik-baik saja," ucap Devano tersenyum ke arah Diva dan Kevin.


"Iya, Bang. Tapi gimana kalau Tuhan lebih sayang sama ibu," kata Diva dengan isak tangis.


"Semuanya akan baik-baik saja Div ... Tuhan tidak akan memberi cobaan yang melampaui batas kemampuan umatnya."


Setelah berdiskusi tentang keadaan ibu mereka, Devano juga membicarakan masalah biaya rumah sakit yang mungkin terbilang besar. Sebenarnya Devano masih memiliki sedikit simpanan, tapi kemungkinan besar tidak akan cukup untuk biaya perawatan ibunya.


Biaya perawatan ibunya perhari bisa mencapai empat sampai lima juta rupiah bahkan bisa lebih kalau ada tindakan khusus. Devano sendiri tidak terlalu memikirkan masalah biaya, dia yakin pasti ada pintu rejeki untuk melunasi biaya perawatan ibunya.


"Bang ... untuk biaya perawatan ibu, kita jual perhiasanku saja. Diva punya dua cincin dan satu kalung emas, gak apa-apa kok kalau di jual," usul Diva.


"Motor Kevin juga gak apa-apa Bang di jual, lebih baik kehilangan motor daripada kehilangan ibu." Ucapan Kevin membuat Diva kembali meneteskan air mata.


Devano melihat kesungguhan di mata kedua adiknya, hingga membuat Devano terharu dan ingin meneteskan air mata. Tapi sebagai saudara yang paling tua, Devano harus terlihat tegar di mata kedua adiknya, yah ... walaupun hatinya saat ini sangat rapuh.


"Ya sudah besok abang akan tanyakan ke bagian administrasi, karena abang juga belum tahu rincian biaya saat ini. Abang juga minta pada kedua adikku untuk terus berdoa meminta yang terbaik untuk ibu," kata Devano sambil memegang kedua bahu adiknya.


Kemudian mereka bertiga saling berpelukan, seolah saling memberikan dukungan dan saling menguatkan satu sama lain.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2