
"Ayah, ternyata mama cuma mimpi yah?" tanya Astri memandang suaminya dan ucapannya mulai terdengar jelas dan lancar.
"Tadi mama melihat putri kita Keisha menikah dengan Devano dan mereka berdua memakai baju pengantin. Ternyata pernikahan Keisha itu hanya mimpi ya, Yah?" tanya Astri mengingat jelas mimpinya bagaimana pernikahan putrinya sedang berlangsung.
Terlihat sedikit raut kekecewaan di wajah Astri saat menyadari bahwa pernikahan putrinya hanyalah mimpi, tapi ia merasakan mimpinya seolah-olah nyata.
Seketika Keisha memeluk ibunya, menyadari harapan ibunya sangat besar melihat ia bisa menikah dengan Devano. Keisha merasa kasihan kepada ibunya, sampai-sampai ibunya memimpikan pernikahannya dengan Devano. "Mom ... Keisha akan mewujudkan mimpi mommy. Keisha akan bersedia menikah dengan mas Devan," ujar Keisha menunjukkan raut wajah bahagia walaupun menyembunyikan luka dalam hatinya.
Ucapan Keisha terdengar cukup jelas di telinga Devano. Tampak dia menoleh dengan cepat ke arah Keisha sambil menyipitkan matanya, memastikan lagi apakah yang di ucapkan Keisha tidak salah ia dengar.
Devano langsung menoleh ke arah Stephanus dan pada saat yang sama Stephanus menoleh ke arah Devano hingga tatapan mereka pun bertemu. Kemudian Stephanus menganggukan kepalanya seolah mendukung ucapan putrinya dan terlihat seulas senyuman terukir di wajahnya.
****
Tidak terasa dua hari telah berlalu, akhirnya Astri di pindahkan dari ruangan CICU ke ruangan perawatan karena kondisinya sudah membaik dan stabil. Selama empat hari, Astri pun di rawat di ruang perawatan.
Stephanus dan Keisha bergantian menemani Astri di rumah sakit. Kehadiran mereka berdua merupakan penyemangat bagi Astri hingga kondisi Astri pun mulai membaik. Astri pun mengikuti perawatan sesuai saran dokter yang di lakukannya secara bertahap. Menurut dokter, dua ata tiga hari lagi Astri sudah di perbolehkan pulang.
Hari ini Stephanus memutuskan untuk pergi ke kantornya untuk memimpin rapat dengan kepala cabang dan kepala divisi. Sementara Keisha menemani ibunya di rumah sakit dan kebetulan hari ini juga tidak ada jadwal kuliah baginya.
Di ruang perawatan, tampak Keisha mendampingi ibunya sambil membantu ibunya untuk sarapan. "Mommy makan yang banyak yah, biar mommy cepat sehat," ucap Keisha menyuapi ibunya.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang."
Selesai membantu ibunya makan, Keisha hendak beranjak dari tempat duduknya untuk keluar sebentar, namun tindakannya terhenti kala tangannya di pegang oleh ibunya.
Keisha langsung menoleh dan kembali duduk di samping tempat tidur ibunya. "Iya, Mom. Apa mommy membutuhkan sesuatu? Apa mommy merasakan sakit? Biar Keisha panggilkan dokter ... " ucap Keisha yang belum selesai berbicara namun sudah di potong oleh ibunya.
"Gak kok, Sayang. Mommy baik-baik saja. Mommy hanya ingin bertanya sesuatu hal penting sama Keisha," ucap Astri menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. Tampak Keisha duduk dengan setia mendengarkan ibunya.
"Keisha ... kamu yakin bersedia menikah dengan Devano?" tanya Astri menatap serius putrinya. Ini adalah pertanyaan yang kesekian kali dari bibir Astri kepada putrinya.
Astri hanya ingin memancing respon Keisha dengan pertanyaan ini dan menyakinkan kalau putrinya belum berubah pikiran. Astri takut bahwa putrinya terpaksa bersedia menikah dengan Devano hanya membuatnya bahagia, bukan di dasarkan dengan cinta.
Astri mengetahui sampai saat ini Keisha masih berhubungan dengan Nuelman. Hal itulah yang membuat Astri khawatir Keisha akan berubah pikiran.
Keisha yang sedari tadi menatap ibunya langsung menggenggam tangan kanan ibunya yang sudah tidak terpasang infus karena infusnya di pindahkan ke tangan kiri Astri. "Iya, Mom. Keisha bersedia menikah dengan mas Devan. Emangnya mommy tidak percaya dengan perkataan Keisha?"
Keisha berusaha meyakinkan ibunya walaupun sebenarnya jawabannya tidak sesuai dengan isi hatinya. Biarlah ... demi ibunya, Keisha bersedia menuruti keinginan ibunya.
"Mommy percaya kok, Sayang. Walaupun mommy tahu kalau kamu belum mencintai Devano, tapi percayalah seiring dengan berjalannya waktu dan kamu mengenal lebih dekat dengan Devano, mommy yakin kamu akan mencintainya," tutur Astri menepuk pelan pipi Keisha.
Astri sangat yakin dengan ucapannya, kalau suatu saat nanti putrinya akan mencintai Devano. Devano adalah laki-laki yang baik, bertanggungjawab, perhatian, dan di dukung dengan wajah yang ganteng dan postur tubuh ideal bagi seorang laki-laki akan membuat Keisha menyukainya.
__ADS_1
"Keisha ... mommy sangat khawatir kalau mommy tidak bisa menyaksikan kalian berdua menikah. Keisha tahu kan mommy mengidap penyakit hepar, mommy takut kalau hidup mommy tidak lama lagi," ucap Astri sendu.
Seketika Keisha meletakkan jari telunjuknya di depan bibir ibunya. "Ssst ... mommy jangan berbicara seperti itu, mommy pasti sehat lagi, mommy pasti panjang umur. Keisha yakin itu!" ujarnya memberi penghiburan bagi ibunya. Keisha masih belum siap kalau harus kehilangan ibunya, jadi dia bertekad untuk melakukan apapun untuk membuat ibunya bahagia.
"Keisha, bagaimana kalau pernikahanmu dengan Devano di percepat? Tidak usah menunggu kamu lulus kuliah, Nak. Biar mommy juga tenang, setidaknya kalaupun umur mommy pendek, mommy tenang bisa melihatmu menikah. Bolehkah kan Keisha?" tanya Astri. Sepertinya ini merupakan cara Astri membuat Keisha bersedia menikah dengan Devano secara halus.
Keisha pun membuang pandangannya seolah tidak suka apa yang baru saja di ucapkan oleh ibunya. Namun, dia kembali tersadar kalau ibunya sangat menginginkannya menikah dengan Devano dan itulah salah satu cara membahagiakan ibunya. Keisha pun menghela nafas sejenak dan kembali menatap ibunya.
"Mom ... kalau memang mommy ingin Keisha segera menikah dengan mas Devan, Keisha akan melakukannya. Tapi Keisha tidak mau lagi kalau mommy mengatakan kalau umur mommy tidak lama lagi. Keisha tidak suka mendengarnya, kalau Keisha harus segera menikah dan membuat mommy bahagia, Keisha akan melakukannya, Mom."
Keisha berkata seolah-olah dia benar-benar siap segera menikah dengan Devano, walaupun sebenarnya di dalam hatinya terasa begitu sakit, membayangkan dia harus meninggalkan orang yang di cintainya. Hal yang sebenarnya begitu sulit untuk dia lakukan. Entah apa yang harus dia katakan kepada Nuelman yang merupakan laki-laki yang saat ini menjadi kekasihnya.
Tampak Keisha menahan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihan di hadapan ibunya, dan menunjukkan rasa bahagia akan keputusan yang dia ambil untuk menikah dengan Devano dalam waktu yang dekat.
Namun seberapa usaha pun Keisha menyembunyikan kesedihannya, Astri dapat mengetahuinya. Dia pun mengelus pelan rambut putrinya sambil tersenyum. "Maafkan mommy, Nak. Kalau saja Nuelman adalah laki-laki yang baik, maka mommy dan daddy tidak akan menjodohkanmu dengan Devano," batin Astri.
"Lebih baik kamu menangis sekarang daripada nanti di kecewakan oleh laki-laki yang mengkhianatimu di belakangmu," tambah Astri dalam hatinya.
Tidak terasa Astri pun meneteskan air matanya karena merasakan kesedihan yang di rasakan putrinya harus meninggalkan laki-laki yang di cintai putrinya.
Astri pun menarik Keisha ke dalam pelukan hangatnya. Keisha pun menumpahkan air matanya yang sedari tadi dia tahan ke dalam pelukan hangat ibunya. "Keisha sayang mommy ... " ucap Keisha sesegukan.
__ADS_1