
Jika saja waktu bisa terulang, Devano ingin sekali bertemu dengan ibunya. Ingin mengatakan bahwa dia sangat merindukan ibunya. Devano jadi teringat akan pesan ibunya sebelum meninggalkannya. Devano bertekad akan menjaga kedua adiknya dan membantu meraih kesuksesan mereka.
Dan yang kedua menikah ... ya seperti yang di janjikan Devano pada ibunya sebelum meninggalkannya bahwa setelah selesai proyek di Sulawesi, maka dia akan menikah. Tahun ini Devano berniat mengakhiri masa lajangnya.
Devano akan menikah dengan seseorang yang di tetapkan Tuhan untuk menjadi jodohnya. Tapi siapa jodohnya? Seseorang yang terbayang untuk dia lamar dalam waktu dekat ini adalah Naura. Ya ... Naura, wanita yang merupakan sahabat kecilnya.
****
Keesokan pagi.
Tampak Devano sudah bersiap untuk berangkat ke kantor tempat dia bekerja. Memakai pakaian kerja, terlihat sangat rapi dengan sepatu hitam mengkilat serta menggendong tas ransel yang berisi laptop dan beberapa berkas laporan selama bertugas di Sulawesi.
Devano pun berangkat menuju kantor menggunakan ojek online yang sudah di pesannya. Motor matic miliknya telah dia jual sebelum dia pergi bertugas di Sulawesi.
Seperti biasa, setiap pagi jalanan ibu kota di padati oleh banyaknya kendaraan. Devano pun mulai berpikir untuk memiliki kendaraan pribadi untuk mengantarnya ke kantor tanpa memesan ojek lagi.
Sepertinya motor sangat cocok Devano gunakan di ibu kota, namun Devano berpikir ke depan bahwa dia tidak akan terus hidup sendiri. Pastinya akan ada seseorang yang menjadi pendamping hidupnya, jadi dia tidak ingin istrinya nanti terkena debu dan polusi kendaraan kalau berpergian menggunakan motor.
Mungkin kendaraan beroda empat adalah pilihan yang tepat bagi Devano. Devano pun mulai membangun impiannya untuk memiliki kendaraan beroda empat. Dia akan bekerja lebih giat lagi untuk mewujudkan satu per satu impiannya.
Ojek online yang membawa Devano telah sampai di depan lobi kantor Arkana group. "Terima kasih Pak ... ini uangnya," kata Devano sambil mengeluarkan uang dari dompetnya dan langsung memberikannya kepada kang ojek.
"Terima kasih banyak Mas," sahutnya yang langsung di balas senyuman oleh Devano. Ojek tersebut pun melaju meninggalkan Devano.
Lalu Devano berjalan memasuki lobi, petugas security yang melihatnya tersenyum dan menyapa Devano. Beberapa karyawan lainnya yang mengenal Devano menyapa dan menyalaminya sambil mengucapkan selamat datang.
__ADS_1
Termasuk Dhea sekretaris pak Ridwan yang begitu semangat menyambut kedatangan Devano setelah beberapa bulan tidak bertemu. "Selamat datang kembali pak Devan," kata Dhea tersenyum.
"Terima kasih bu Dhea." Lalu Devano langsung menuju lantai 15 untuk menemui atasannya pak Niko dan tentu saja sahabatnya Emir dan beberapa rekan kerja lainnya.
Saat ini Devano belum mendapatkan SK penempatan baru setelah tugas di Sulawesi. Dan hari ini dia akan mendapatkan SK terbarunya. Selesai bertemu dengan rekan kerjanya, dia akan langsung menemui pak Ridwan. Pak Ridwan sendiri sudah menghubungi dan meminta Devano menghadapnya pukul sebelas.
Lima menit lagi sebelum jam sebelas, Devano sudah berada di ruangan pak Ridwan. Tampak mereka berbincang seputar pekerjaan Devano di Sulawesi. Selain itu, pak Ridwan menjelaskan posisi Devano saat ini di tempatkan sebagai manajer pengawasan untuk mengganti karyawan senior yang telah pensiun.
Mendengar hal tersebut, Devano sedikit terkejut dengan jabatan barunya sebagai manajer pengawasan. Menurutnya, dia merasa belum banyak pengalaman untuk menduduki jabatan tersebut. Tapi sepertinya tugas yang di bebankan saat ini padanya tidak bisa dia tolak.
"Pak, sejujurnya saya merasa tidak layak menduduki jabatan tersebut, mengingat saya masih perlu banyak belajar dan belum banyak pengalaman," tutur Devano.
"Kamu memang tidak pernah berubah yah pak Devan. Dulu saat perusahaan menunjukmu sebagai pimpro di Sulawesi, pak Devan memberikan alasan yang sama karena merasa tidak layak. Tapi sebenarnya pak Devan dapat melakukannya."
"Saat ini saya juga yakin pak Devan mampu dengan amanah ini. Percayalah keputusan ini murni karena manajemen menilai kinerja pak Devan yang memuaskan," kata pak Ridwan menyakinkan.
"Untuk kendaraan sudah di siapkan mobil dinas yang bisa membantu pak Devan dalam melakukan pekerjaan. Kendaraan dinasnya pun bisa di gunakan mulai hari ini, nanti dari bagian umum akan memberikan kunci dan SNTK ke pak Devan," tambahnya.
"Mobil? Apa saya tidak salah dengar?Secepatnya ini kah Kau wujudkan impianku ya Tuhan? Padahal belum juga ku meminta dengan sungguh-sungguh, Kau telah memberikannya. Terima kasih banyak ya Tuhan," batin Devano yang tidak menyangka.
Entah kebetulan atau tidak, baru tadi pagi Devano mempunyai impian untuk memiliki kendaraan beroda empat, secepatnya ini juga Tuhan mewujudkannya. Devano benar-benar tidak menyangka bahwa impiannya terwujud hanya dalam kurun waktu beberapa jam. Walaupun mobil inventaris, setidaknya bisa memenuhi apa yang di butuhkan Devano.
"Bagaimana, pak Devan pasti siap kan?" tanya pak Ridwan.
"Baiklah, Pak. Saya akan siap!"
__ADS_1
Mendengar kesiapan Devano, Pak Ridwan pun tersenyum ke arah Devano sambil mengacungkan jempolnya.
"Oh yah pak Devan, saya hampir kelupaan. Tadi pak Stephanus mengajak kita makan siang di luar. Sepertinya kita harus berangkat sekarang, kita berangkat menggunakan mobilku saja," ajak pak Ridwan.
"Makan siang dengan pak Presdir? Apakah saat ini saya sedang bermimpi?" tanya Devano dalam hati. Makan siang dengan Presdir adalah sesuatu hal yang istimewa.
Sepertinya hari ini Devano merasa banyak mendapatkan kejutan bahagia. Devano pun tidak terlalu banyak berbicara, dia masih tidak menyangka dan tertegun dengan kejutan-kejutan yang dia dapatkan hari ini.
Lalu pak Ridwan pun berdiri dari tempat duduknya sambil mengajak Devano keluar menuju parkir mobil. Sebelumnya pak Ridwan telah menelpon sopirnya untuk menyiapkan mobilnya. Tampak Devano mengikuti langkah pak Ridwan yang keluar ruangan.
Sesampainya di parkiran mobil, mereka langsung masuk ke dalam mobil dan melaju menuju tempat yang di tentukan oleh Presdirnya untuk makan siang bersama, di sebuan restoran yang berada di kawasan mall besar.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh lima menit, akhirnya mereka sampai di gedung mall. Pak Ridwan dan Devano pun langsung menuju restoran yang berada di lantai empat. Pak Ridwan sepertinya sudah mengenal area mall dan restorannya. Devano sendiri baru pertama kali ke tempat ini.
Pelayan yang bertugas dalam restoran tersebut langsung menyambut dengan ramah dan mempersilahkan untuk memilih tempat. Lalu pak Ridwan meminta tempat private yang cukup untuk enam orang. Pelayan itu pun mengantar dan mempersilahkan masuk ke ruangan privat yang cukup untuk enam orang.
Setibanya di ruangan khusus, pak Ridwan segera memesan makanan. Banyak sekali yang di pesannya, padahal mereka nantinya hanya makan bertiga atau berempat dengan asisten Stephanus.
Setelah memesan makanan, tampak seorang pelayan mengantar dan mempersilahkan dua orang masuk ke ruangan. Mereka adalah Stephanus dan asistennya bernama Lucky. Pak Ridwan dan Devano langsung berdiri menyambut kedatangan Presdir mereka.
"Selamat siang pak stephan!" sapa pak Ridwan dan Devano.
"Selamat siang ... maaf saya terlambat, sudah lama menunggu yah?" tanya Stephanus yang langsung menarik salah kursi kosong untuk di duduki.
"Kami juga belum lama sampai pak stephan. Makanannya baru saja saya pesan, apa pak stephan ada tambahan menu yang mau di pesan?" tanya Ridwan.
__ADS_1
"Sepertinya makanan kesukaanku sudah kau pesankan, bukan?" kata Stephanus tersenyum. Dia tahu bahwa Ridwan pasti sudah memesan makanan yang dia suka. Ridwan sendiri sudah terbiasa dan hafal makanan yang menjadi kesukaan Stephanus.
...~ Bersambung ~...