Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Kecemasan Diva


__ADS_3

Keesokan harinya, tampak Devano, Diva, dan Kevin sedang berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Mereka bertiga sangat menikmati sarapan roti bakar yang di buat oleh Diva. Roti bakar dengan isi selai stroberi terlihat sangat menggoda dan meliurkan.


Devano sangat menyukai roti bakar tersebut karena Diva membuatnya sesuai resep ibunya. Sambil menikmati sarapan, mereka bertiga saling berbincang-bincang mengenai perkuliahan Diva dan Kevin. Tampak gelak tawa dan canda menghiasi pembicaraan mereka di pagi hari yang indah ini.


"Em ... bang Devan, kalau dapurnya bagus gini bikin betah di dapur, asli nyaman benget di sini. Diva jadinya pengen masak terus," kata Diva.


"Ah ... kak Naura pasti betah nanti tinggal di sini," celutuk Diva sambil memasukkan roti bakar ke dalam mulutnya.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk." Seketika Devano tersedak mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Diva. Devano langsung meminum air putih untuk mendorong roti bakar yang terhenti di tenggorokannya.


"Kamu tuh yah kalau ngomong suka asal," ujar Devano sambil meletakkan gelas minumannya.


"Kok asal sih bang?" bingung Diva. "Benar kan kak Naura nanti akan tinggal di sini? Bukannya bang Devan mau melamarnya tahun ini?" tanya Diva.


"Eh, abang ... gak mau terburu-buru Div," sahut Devano gugup. "Abang harus memikirkan matang-matang sebelum menikah," tambahnya.


"Kenapa harus berpikir? Bukankah kemarin bang Devan udah yakin kalau setelah tugas dari Sulawesi selesai mau melamar seseorang yakni kak Naura kan?" tanya Diva dengan serius menunggu jawaban dari abangnya.


"Apa jangan-jangan ada yang lain selain kak Naura yah di hati abang? Mungkin saja teman bang Devan yang kemarin datang itu, yang mirip kak Naura. Aduh ... siapa namanya? Bu ... bu Luna yah?" selidik Diva.


"Jangan menduga-duga Diva ... gak baik. Abang hanya perlu waktu untuk memikirkan siapa yang akan menjadi pendamping hidup abang," tutur Devano.


Mendengar penuturan dari Devano, seketika Diva mengerutkan keningnya. Bukankah selama ini perempuan yang dekat dengan abangnya selain dia adiknya adalah Naura?


"Emangnya ada perempuan yang lain yah bang selain kak Naura? Kalau memikirkan siapa yang pantas berarti pilihannya lebih dari satu, benarkan bang?" tanya Diva


"Abang hanya gak mau mengikuti hawa nafsu Div," jawab singkat Devano.


"Hawa nafsu? Bukannya wajar kalau kita menyukai seseorang, kemudian berniat untuk menghalalkannya? Bukankah menjalani pernikahan akan lebih mudah kalau antara pasangan saling suka dan saling mencintai?" ungkap Diva berdebat dengan abangnya.

__ADS_1


"Waduh ... sekarang adik perempuan abang ternyata sudah dewasa yah. Pemikirannya udah sangat luas kalau soal pernikahan atau pasangan," jawab Devano mencubit hidung Diva yang duduk di depannya.


"Ih ... bang Devan, lihat hidung Diva jadi kotor," kesal Diva karena Devano sengaja mengoleskan salad ke hidungnya. Setelah membersihkan hidungnya, Diva kembali melanjutkan ucapannya. "Jadi gimana? Benaran ada pilihan yang lain selain kak Naura?" tanya Diva yang kini dengan ekspresi penuh kecemasan.


"Loh ... loh kenapa kakak yang rempong sih? Bang Devan sendiri tenang-tenang aja tuh," ucap Kevin pada Diva.


"Bukan begitu Kevin, kakak gak bisa ngebayangin gimana perasaan kak Naura kalau ternyata pilihan bang Devan bukan kak Naura. Pasti kak Naura sangat sedih dan kecewa," jelas Diva.


"Kamu tahu kan Kevin, kak Naura itu sangat berharap bang Devan datang untuk melamarnya. Mungkin kak Naura juga tahu dan merasakan kalau bang Devan menyukainya," ucap Diva yang kembali memandang Devano.


"Bang Devan benaran suka kan sama kak Naura? Bulan kemarin kak Naura menolak lamaran pria lain yang datang ke rumah hanya karena kak Naura berharap bang Devan yang akan melamarnya. Kak Naura setia banget menunggu bang Devan datang ke rumah dan melamarnya. Jadi kak Naura bakal sedih banget deh bang kalau bang Devan sampai gak jadi melamarnya," ungkap Diva.


Mendengar penuturan Diva, Devano semakin bingung menentukan pilihannya. "Diva ... " panggil Devano dengan pelan dan berusaha untuk membuat adiknya mengerti.


"Kita tidak tahu apa yang sudah di takdirkan oleh sang Kuasa pada setiap masing-masing orang. Bang Devan sendiri pun belum tahu jodohnya siapa. Bang Devan hanya berusaha meminta petunjuk dari Tuhan agar benar-benar di beri pencerahan dan di berikan petunjuk mana jodoh yang terbaik yang telah Tuhan tentukan," kata Devano.


"Baiklah bang," kata Diva. Lalu Diva berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur untuk meletakkan piring yang kotor ke tempatnya. Entah kenapa Diva jadi malas berbicara lagi dengan abangnya, seperti memendam kekecewaan.


Di pikiran Diva saat ini adalah Naura, perempuan yang sudah di anggap seperti kakaknya sendiri, lebih tepatnya calon kakak ipar yang di harapkannya. Setelah selesai makan, tampak Diva mengumpulkan piring-piring yang kotor untuk di cuci.


"Kevin, kamu yang masak nasi yah ... kakak udah selesai cuci piring. Kakak mau istirahat dulu ke kamar," ucap Diva dengan raut wajah sedih bercampur kekesalan.


Kevin hanya menggelengkan kepalanya membalas ucapan Diva. "Hmm ... kenapa kak Diva ngambek ya?" tanya Kevin dalam hati.


Waktu sudah menunjukkan jam setengah dua belas siang. Devano pun memanggil Diva dan Kevin untuk segera makan siang bersama. Saat makan Diva tidak banyak bicara, dia hanya menikmati makanan di piringnya. Bahkan saat Devano ingin memulai pembicaraan, Diva menyahutnya dengan singkat.


Memang terlihat aneh dan tidak biasanya seperti itu. Biasanya di tempat manapun Diva yang paling banyak bicara, paling banyak bertanya, paling banyak cerita, dan paling heboh kalau sudah berkumpul dengan kakak dan adiknya.


Selesai makan siang bersama, Diva dan Kevin mengemasi barang-barangnya, lalu memasukkannya ke dalam mobil yang telah di sewa oleh Devano untuk mengantarkan kedua adiknya ke stasiun kereta api.

__ADS_1


Kevin pun pamit kepada Devano, mencium tangan kanan abangnya, lalu berpelukan. "Kami pamit dulu ya bang!" kata Kevin.


"Iya, Kevin. Kalian hati-hati di jalan yah," kata Devano sambil menepuk-nepuk punggung Kevin. "Lancar kuliahnya yah Kevin," tambahnya.


"Amin .... Terima kasih tasnya ya bang!" sahut Kevin melepas pelukannya.


"Iya."


Setelah Kevin berpamitan dengan Devano, giliran Diva yang pamit pada kakaknya, dia pun mencium punggung tangan Devano. "Pulang dulu ya bang," ucap Diva tersenyum paksa, lalu kemudian membalikkan badannya.


"Ehem ... ehem." Devano yang berpura-pura batuk. "Gak mau peluk dulu nih sebelum pulang?" tanya Devano heran adiknya langsung membalikkan badannya.


Diva pun mengurungkan niatnya untuk melangkah, lalu membalikkan badannya dan langsung memeluknya kakaknya. "Bang ... jangan kecewain kak Naura yah. Please!" harap Diva dengan wajah sendu.


Devano pun melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah adiknya Diva. "Ya ampun Diva ... kamu masih memikirkan hal ini?" kata Devano menghela nafasnya. "Jadi ini alasannya kamu dari tadi cuek dan tidak mau bicara?" tanyanya sambil mencubit pelan pipi tembem adiknya Diva.


Diva hanya mengangguk pelan, lalu tersenyum datar ke arah Devano. "Maafkan Diva ya bang!"


Devano hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi sikap adiknya Diva. "Doakan bang Devan yah, siapapun nanti pilihan abangmu ini itu yang terbaik yang Tuhan berikan. Kamu jangan sedih dong, kamu gak cocok dengan wajah muram seperti itu," canda Devano.


"Biarin ... " ucap Diva menyebikan bibirnya, kemudian memeluk lagi kakaknya. Entah kenapa kini air matanya mulai membanjiri pipinya.


Devano tidak berkutip dan membiarkannya menangis sambil mengelus punggung adiknya. Devano pun memanggil Kevin untuk mendekat, lalu mereka berpelukan untuk saling menguatkan.


"Ya Tuhan jagalah adik-adikku," batin Devano.


Akhirnya Diva dan Kevin kembali ke Surabaya untuk melanjutkan aktivitasnya sebagai mahasiswa. Mereka bertekad untuk belajar sungguh-sungguh agar tidak mengecewakan kakaknya Devano, juga ibu dan ayahnya yang sudah tenang di alam yang berbeda.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2