Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Melihat Naura


__ADS_3

Keisha hanya diam dan mematung, dia masih tidak percaya dengan yang di ucapkan Devano bahwa ibunya terbaring di rumah sakit.


"Saya segera kembali!" ucap Keisha terburu-buru yang langsung beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan ruang tamu dan menuju kamar Tiara. Lalu ia mencari HPnya yang berada di dalam tas yang sejak kemarin di matikannya.


Setelah Keisha menyalakan HPnya, banyak sekali notif pesan dan panggilan telpon yang masuk. Keisha pun mencari nomor kontak ayahnya dan langsung menghubunginya lewat video call.


"Mommy ... " ucap Keisha sedih melihat ibunya. Ternyata benar yang di katakan oleh Devano bahwa ibunya sedang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Saat video call tersambung, Stephanus sedang berada di samping istrinya.


Melihat ibunya terbaring lemah dan tidak sadarkan diri di tempat tidur pasien, membuat Keisha terduduk lemas di lantai di samping tempat tidur Tiara dengan berlinang air mata. "Hiks ... hiks ... hiks."


"Maafkan Keisha Dad, maafkan Keisha Mom," ucap Keisha meminta maaf dengan air mata yang terus berjatuhan di pipinya.


"Kami sudah memaafkanmu, Nak. Jadi pulangnya Nak, daddy dan mommy menunggumu," ucap Stephanus tersenyum. Di layar HP wajahnya terlihat lelah, namun terlihat guratan kebahagiaan karena putrinya sudah menghubunginya.


Keisha langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, Dad. Keisha pulang sekarang, Keisha ingin menemui mommy." Terlihat penyesalan di wajahnya. Kalau saja dia tidak pergi meninggalkan rumah mungkin ibunya tidak akan mengalami serangan jantung dan tidak terbaring lemah di rumah sakit saat ini.


Namun nasi sudah jadi bubur, semua sudah terjadi. Hanya rasa penyesalan yang di rasakan oleh Keisha saat ini. Keisha ingin sekali berada di samping ibunya, meminta maaf, dan mendampingi ibunya dengan harapan ibunya pulih kembali. Dia akan melakukan apapun agar ibunya sehat kembali.


Setelah menutup telpon dengan ayahnya, Keisha langsung bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta. Beberapa menit kemudian, Keisha keluar dari kamar Tiara dengan membawa travel bag dan tas punggungnya.


Keisha berjalan menuju ruang tamu dan menemui Devano dan Tiara. Tampak Ibunya Tiara juga berada di ruang tamu, Tiara sudah memberi tahu ibunya kalau ibunya Keisha sedang di rawat di rumah sakit.


"Ara ... aku pulang yah, terima kasih atas bantuanmu. Aku juga mau minta maaf karena telah merepotkanmu selama aku di sini," kata Keisha memeluk Tiara dengan air mata yang terus mengalir.

__ADS_1


Tiara pun membalas pelukan sahabatnya. "Sama-sama Keisha, kamu tidak merepotkanku kok malahan aku senang kamu bisa bersamaku di sini," ucap Tiara melepas pelukannya. "Jangan menangis terus, ibumu pasti akan sembuh. Kamu yang sabar yah," ucapnya sambil menghapus air mata Keisha.


Lalu Keisha pamit kepada ibunya Tiara. "Keisha pamit dulu Tante, terima kasih banyak. Maaf merepotkan tante dan keluarga," ucap Keisha lalu mencium tangan kanan ibunya Tiara.


"Kamu yang sabar yah, Nak. Tante akan selalu mendoakan untuk kesembuhan ibumu."


Setelah berpamitan kepada keluarga Tiara, Keisha langsung keluar meninggalkan ruang tamu tanpa memperdulikan Devano.


Devano langsung pamit kepada Tiara dan ibunya, tidak lupa dia mengucapkan terima kasih. Devano langsung menyusul Keisha dengan cepat menuju mobilnya yang terparkir di luar pintu pagar. Dia membuka pintu mobil depan dan mempersilahkan Keisha masuk.


"Masuklah, hati-hati kepalamu terbentur," ucap Devano membuka pintu mobil sambil meletakkan tangannya di atasnya, guna jaga-jaga kepalanya terbentur. Keisha langsung masuk dan duduk tanpa berkata apapun.


Devano langsung berjalan cepat mengitari mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Tak lupa dia menyalakan AC yang membuat suhu di dalam mobil terasa lebih sejuk. Devano pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat ibunya Keisha di rawat.


Tampak Keisha menghadapkan wajahnya ke jendela pintu mobil di sebelah kirinya. Air matanya kembali menggenang dan jatuh di kedua pipinya, dia sangat menyesal dan menyalahkan dirinya yang telah membuat ibunya mengalami serangan jantung.


"Tidak ... tidak, itu tidak akan terjadi. Mommy pasti sembuh, Keisha yakin itu!" batin Keisha yang berusaha berpikir positif bahwa ibunya akan baik-baik saja.


Tapi kalau sampai ibunya kenapa-kenapa, dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri, semua ini karena keegoisannya. Jika saja dia tidak pergi meninggalkan rumah waktu itu, mungkin ibunya tidak akan seperti ini. Seketika Keisha menunduk sambil menutupi mukanya yang berlinang air mata.


Devano yang sedang fokus menyetir mobilnya, sesekali melihat ke arah Keisha. Tampak Keisha menunduk dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. Walau tak terdengar suara isak tangis namun bisa di pastikan bahwa Keisha sedang menangisi ibunya dan mengkhawatirkannya.


Teringat Devano dengan ibunya yang sudah pergi meninggalkannya. Sama halnya dengan Keisha, saat ibunya jatuh sakit dan terbaring di rumah sakit dia tidak berada di sisi ibunya. Suasana hati yang tidak nyaman di serta kekhawatiran dan ketakutan menghantuinya saat itu.

__ADS_1


"Tadi siang, kondisi ibumu sudah stabil. Tinggal menunggu kesadarannya kembali." Terdengar suara Devano memecahkan kesunyian dua insan yang sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.


"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, serahkan kekhawatiranmu kepada sang Kuasa. Yakin dan percaya ibumu akan kembali pulih," tambah Devano yang berusaha menghibur Keisha.


Keisha hanya melirik sebentar Devano, lalu kembali menatap ke arah kirinya. Dia tidak menanggapi ucapan Devano, dia lebih memilih menghadapkan wajahnya ke jendela.


"Dasar sok perhatian, ini semua juga gara-gara kamu. Kalau saja dari awal kamu menolak perjodohan ini, semua tidak akan terjadi seperti ini. Entah kenapa Tuhan mempertemukan keluargaku denganmu," batin Keisha yang merubah raut wajahnya menjadi kesal.


Melihat Keisha tidak menanggapi ucapannya, Devano hanya menghela nafas. Devano tahu apa yang di rasakan Keisha saat ini. Devano kembali fokus memperhatikan jalanan kota Bandung yang terlihat padat.


Saat mobil Devano berhenti di lampu merah, dia melihat sekumpulan mahasiswa menyebrangi jalan. Seketika matanya melihat seorang perempuan yang di kenalnya berada di sekumpulan mahasiswa tersebut. "Naura ..." gumamnya dengan suara pelan namun terdengar oleh Keisha.


Sontak Keisha pun menoleh melihat ke arah Devano yang sedang memperhatikan sekumpulan mahasiswa yang sedang menyebrangi jalan. "Kenapa dia?" tanya Keisha dalam hati sambil meluruskan pandangan ke depan melihat siapa yang di lihat Devano.


Lampu merah pun berganti hijau, Devano langsung melajukan mobilnya. Sepertinya Naura dan teman-teman sedang melakukan tugas lapangan di Bandung.


Entah kenapa setelah melihat Naura, detak jantung Devano berdetak lebih cepat dan tidak beraturan. Perasaannya pun masih sama seperti dulu, ada perasaan bahagia saat melihatnya. Di saat dia melihat Naura, tampak Naura tersenyum dan tertawa dengan teman-teman kampusnya, sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang lucu.


Setelah Devano membatalkan perjodohan dengan Keisha, sepertinya masih ada harapan Devano untuk melamar Naura menjadi pendamping hidupnya. Naura pun belum mengetahui perjodohan Devano dengan putri Presdirnya, dan mungkin saja Naura sedang menunggu Devano datang ke rumah untuk melamarnya seperti yang di ucapkan adiknya Diva beberapa hari yang lalu.


Tampak seulas senyuman terukir di bibirnya. "Ya Tuhan, jika dia memang jodohku maka dekatkanlah. Tapi jika dia bukan jodohku, lapangkanlah hati ini," doa Devano dalam hati.


Suasana hati Devano sepertinya sedang bahagia. Dia pun melihat ke sampingnya, terlihat Keisha sedang memejamkan kedua matanya. Sepertinya Keisha tertidur setelah genangan air mengering di kedua matanya.

__ADS_1


"Mungkin dia bukan jodohku yang Tuhan tentukan," batin Devano yang kembali memandang ke depan. Selama ini Devano menerima perjodohan bukan karena mengikuti hawa nafsunya, namun ia hanya mengikuti petunjuk yang dia dapatkan dalam mimpinya, yang menurutnya itu adalah petunjuk sang Kuasa darinya.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2