
Malam berganti pagi dengan begitu cepat. Devano masih berada di rumah sakit menemani ibunya yang masih terbaring lemah, sedangkan adiknya Diva pergi ke kampus dan begitu juga dengan Kevin yang pergi ke sekolah. Devano tidak ingin pendidikan kedua adiknya terhambat karena masalah yang di hadapi keluarganya.
Seperti biasa setiap pagi, Devano mendampingi ibunya dengan kondisi yang masih sama. Ibunya masih dalam keadaan koma, dengan alat bantu nafas yang masih terpasang.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, perasaan Devano hari ini sedikit berbeda. Hatinya sudah merasa tenang, telah berdamai dengan keadaan, dan tidak nampak kecemasan lagi di wajahnya.
Mungkin setelah semalam Devano menyerahkan pergumulannya dan kekhawatirannya kepada sang pemilik kehidupan, membuat hatinya menjadi tenang dan tidak khawatir lagi. Ya, setelah berbincang-bincang dengan kedua adiknya, Devano menyempatkan waktunya di sepertiga malam seorang diri berdoa dan berserah diri kepada sang Penguasa alam semesta.
Dia benar-benar menyerahkan segala pergumulannya kepada sang pencipta dan pemilik kehidupan manusia. Air mata menjadi saksi bisu kesungguhan Devano berdoa dengan sang ilahi.
Hari ini tampak Devano menyapa ibunya dengan wajah lebih ceria di bandingkan dengan hari-hari sebelumnya. "Selamat pagi, Bu." Devano mencium tangan kanan ibunya, lalu mencium kening dan pipi ibunya.
Devano pun duduk di dekat ibunya sambil memegang tangan kanan ibunya. "Bu, pagi ini Devan begitu bahagia menemani ibu di sini. Walaupun ibu masih belum bisa berkumpul dengan kami, tapi Devan, Diva dan Kevin selalu mendoakan supaya ibu cepat sehat kembali."
"Devan sangat berharap ibu bisa pulih kembali dan kita bisa berkumpul seperti dulu lagi. Aku sangat merindukan suara ibu, senyuman ibu, dan nasihat-nasihat dari ibu," kata Devano tersenyum memandang ke arah ibunya.
"Tapi Devan sadar Devan tidak bisa memaksa dan menahan ibu tetap bersama Devan, Diva, dan Kevin. Devan belajar untuk ikhlas kalau ibu harus kembali ke pangkuan-Nya. Terima kasih buat semua kasih sayang dan perjuangan ibu selama ini buat Devan, Diva, dan Kevin." Devan berbicara dengan lembut di samping telinga ibunya sambil mengusap pelan kepala ibunya.
Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Devano menunjukkan kalau dia sudah bisa menerima apapun takdir yang tetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Memang berpisah dengan ibunya pasti akan sangat-sangat menyakitkan mengingat masih banyak yang ingin Devan lakukan untuk membahagiakan ibunya, tapi kalau itu yang terbaik Devano ikhlas menerimanya.
"Bu ... Devan sangat bersyukur mempunyai ibu yang hebat seperti ibu, yang berjuang dan rela berkorban demi anak-anaknya. Devan juga minta maaf atas kesalahan Devan yang terkadang selalu mengecewakan ibu, dan belum bisa membahagiakan ibu."
__ADS_1
"Devan hanya bisa mendoakan semoga ibu cepat sehat kembali. Pagi ini Devan ingin sekali berdoa bersama ibu. Sengaja Devan gak doa sendirian, supaya Devan bisa berdoa bersama ibu. Kita sama-sama doa yah, Bu." Devano menggenggam tangan ibunya dan mulai berdoa.
Tanpa Devano sadari, mata ibunya bergerak-gerak walaupun masih dalam keadaan terpenjam. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba alarm berbunyi dari mesin ventilator dengan suara yang cukup keras, tampak lampu alarm juga menyala.
Seketika Devano langsung mengalihkan pandangannya kepada ibunya, ada perasaan khawatir sesuatu terjadi pada ibunya. "Suster ... " teriak Devano memanggil suster untuk memeriksa keadaan ibunya.
Beberapa detik kemudian, tampak salah seorang perawat langsung menghampiri dan mengecek mesin ventilator, mematikan tombol alarm.
"Ibu saya kenapa, Sus?" tanya Devano khawatir. Belum sempat perawat itu berbicara, tiba-tiba seorang dokter memasuki ruang ICU dan langsung mendekat.
"Ada apa, Sus!" kata dokter tersebut.
"Dok ada nafas spontan ... " kata perawat pada dokter yang berada di sampingnya.
"Kenapa ibu saya dok?" tanya Devano mendekat.
Dokter tersebut langsung menoleh ke arah Devano dengan raut wajah bahagia. "Sepertinya pasien mulai ada respon nafas spontan. Ini sebuah kemajuan, mudah-mudahan terus membaik."
"Mas, sebaiknya menunggu di luar yah. Biar kami melakukan tugas kami, nanti kalau sudah stabil Mas bisa masuk lagi," kata perawat yang meminta Devano untuk keluar sebentar.
"Baik, Sus." Tanpa bantahan Devano langsung melangkahkan kakinya keluar dan menunggu di ruang tunggu.
__ADS_1
"Terima kasih ya Tuhan. Semoga ibu kembali sehat," batin Devano yang merasa bahagia mendengar informasi dari dokter. Ibunya bernafas sendiri, itu suatu keajaiban. Tak henti-henti Devano mengucapkan syukur kepada sang Kuasa.
Tampak Devano berjalan bolak-balik dan tidak sabar ingin kembali masuk ke ruang ICU, melihat kondisi ibunya yang mulai membaik. Tiba-tiba Devano jadi teringat kalau dia harus menanyakan biaya perawatan ibunya.
Dia langsung menuju loket administrasi dan menanyakan rincian biaya rumah sakit atas nama ibunya. Petugas administrasi langsung mencetak rincian biaya sementara dan menyerahkan kepada Devano.
Devano langsung membaca laporan mengenai rincian biaya rumah sakit ibunya. Tampak matanya membacanya dengan teliti dari atas sampai lembar paling bawah. Di situ sudah tercantum biaya perawatan dan pemeriksaan dokter, biaya kamar, pembelian obat, dan penggunaan alat-alat medis.
Seketika keningnya berkerut dan merasa aneh dengan rincian biaya tersebut, bukan karena total biaya perawatan ibunya yang besar. Tapi ada saldo deposit dengan jumlah yang cukup besar, yang membuat Devano bertanya-tanya. "Siapa yang melakukan penyetoran deposit ini? Saya rasa saya belum pernah melakukan pembayaran deposit dengan jumlah sebesar ini," batin Devano berpikir.
Tampak Devano sesekali mengusap kedua matanya, memastikan apa yang di lihatnya itu benar atau tidak. Dalam laporan rincian biaya tersebut, memang benar ada saldo deposit dengan jumlah yang terbilang cukup besar. Pantas saja sampai saat ini Devano tidak pernah di tanyakan biaya perawatan ibunya karena ada deposit yang cukup besar.
Devano sendiri tidak tahu siapa yang menyetornya, kalau Diva atau Kevin pasti tidak mungkin karena semalam baru saja berencana akan menjual perhiasan dan motor.
Devano pun bertanya pada petugas administrasi yang ada di depannya. "Mas ... maaf, bisa saya tahu siapa yang melakukan penyetoran deposit ini?" tanya Devano kepada petugas administrasi.
"Saya cek dulu di sistem yah, Mas." Tampak petugas tersebut langsung membuka file administrasi biaya rumah sakit ibunya Devano di sistem informasi rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, akhirnya petugas tersebut menemukan siapa yang melakukan penyetoran. "Dari data di sini Mas ... transaksi pembayaran deposit di lakukan melalui transfer dari rekening atas nama Stephanus." Mendengar informasi tersebut, Devano terlonjak kaget.
Stephanus? Apakah ini pak Stephanus Presdir Arkana Group tempat Devano bekerja atau ada Stephanus yang lain? Lalu Devano mencoba mengingat-ingat saudaranya yang bernama Stephanus, tapi hanya ada satu nama Stephanus yang ia Ingat dan terlintas di pikirannya yaitu Presdir Arkana Group, bosnya.
__ADS_1
"Apa benar pak Stephanus yang menyetor dana deposit sebesar ini? Bagaimana mungkin .... pasti pak Niko yang memberitahu pak Stephanus kalau ibu saya jatuh sakit. Saya harus memastikan kalau betul ini pak Presdir yang mentransfer," pikir Devano.
...~ Bersambung ~...