Pena Sang Penulis

Pena Sang Penulis
chapter 5 Perpisahan


__ADS_3

"wahh gilak Chik, gua ketemu Jennie. Aaaaah" Rara sedari tadi berteriak-teriak, saking senangnya bertemu Jennie Blackpink. Sungguh keberuntungan memihak kepada mereka, Chika yang sekarang bestian dengan Rose, Rara yang juga ketemu sama Jennie dan bahkan foto bersama.


Kini mereka telah sampai di Indonesia, mereka sedang bersiap-siap menghadapi ujian mereka Minggu depan, terlebih dengan Chika yang mempunyai cita-cita besar. Setelah dia lulus SMA, dia berencana akan berkuliah di Korea, dan merintis karir nya di sana.


Cita-cita nya sangat lah banyak, dia ingin mempunyai perusahaan yang dapat membuat keluarga nya bungkam karena nya. Keluarga nya selalu merendahkan Chika, dan bahkan mereka tak sedikit pun mendukung apa pun keinginan Chika.


Mereka selalu mengatai, bahwa mimpi Chika terlalu tinggi, untuk tinggi Chika yang 150. Eh enggak, mereka bilang mimpi Chika terlalu tinggi, dan gak bakal mungkin Chika capai dengan modal penulis nya.


Banyak dari mereka tidak tahu, gaji Chika bisa di bilang hampir sama dengan gaji DPR. Belum lagi dengan penjualan bukunya yang membelunjak, banyak sekali fans-fans Chika yang selalu berusaha mencari identitas nya.


Bahkan dia juga hampir ketahuan, karena ada seorang hacker yang mencari biodata nya. Tapi untungnya, hacker itu teman dekat nya sendiri, dia tidak tahu orang yang dia cari-cari ternyata sekelas dengan nya.


Hanya 3 orang saja yang tahu, bahwa lockey itu adalah Chika, sang penulis rahasia. 3 orang yang mengetahui identitas nya hanya, Rara, Al, teman kelas Chika yang tak lain adalah hacker, dan juga Rose.


"Ra' lu beneran gak mau kuliah di Korea nih?," bujuk Chika, karena lebih bagus jika Rara juga ikut kuliah di sana. "Nggak ah, gua mau kuliah di Filipina aja." Jawab Rara sambil menyedot susu kotak Favorit nya.


"Yah...gua gak punya temen dong di sana," ucap Chika dengan muka masam. "Yailah, gua juga kali. Tapi pasti nanti lo bakal dapat temen baru kali di sana." Chika tak menghiraukan ucapan Rara, dan masih saja dengan muka masam nya.


Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, hari kelulusan untuk para siswa siswi SMA bakti. Chika saat ini berada di cafe dengan Rara, mereka tidak ikut-ikutan dengan temannya yang lain. Mereka lebih suka kesunyian dari pada semprot-semprot pakaian sana sini.


Kini mereka berdua tengah memasang wajah tegang masing-masing, mereka menunggu hasil pengumuman beasiswa. Chika sangat berharap bisa lolos, karena itu merupakan kunci kesuksesan untuk nya.


"Chik...gua takut," ucap Rara seraya menggenggam tangan Chika. "Lu santay aja, kita buka bareng-bareng ok," Rara mengangguk menyetujui.

__ADS_1


"Satu....dua....ti.....ga" mereka berdua sama-sama memencet tombol dan tertera nama mereka masing-masing di layar berwarna biru yang artinya mereka lolos beasiswa.


"Aaaaaaah Raaaa kita lolos," teriak Chika sambil melompat lompat.


"Iyyah Chik, gua seneng banget," ucap Rara yang juga ikut lompat-lompat dan akhirnya mereka berpelukan.


"Gua gak bakal lupain Lo Ra' " ucap Chika sambil menitikkan air mata.


"Gua juga Chik," balas Rara yang ikut menangis. Dan mereka pun larut dalam keharuan, karena mereka sebentar lagi akan berpisah dan beda negara.


Di kost an Chika dan Rara, mereka berdua saling bercerita satu sama lain. Menghabiskan malam terakhir untuk mereka bersama, karena besok Chika sudah harus berangkat ke Korea.


"Chik... makasih yah, gua seneng banget bisa tinggal sama ellu walau gak terlalu lama, andai aja dari dulu gua tinggal di sini Ama ellu," ucap Rara dengan wajah kesedihannya.


"Hahaha Iyah Ra' gua juga seneng lu bisa tinggal di sini, walau cuman sebulan." seru Chika dengan sedikit tawa.


"Iyyah gua janji," balas Chika dengan senyuman, dan mereka pun saling menautkan kelingking, sebagai tanda perjanjian.


...----------------...


Bandara Soekarno Hatta. Chika berjalan dengan wajah sedih nya, dia benar-benar akan meninggalkan negara tercintanya. Terlebih lagi, dia tak berpamitan dengan seluruh keluarga nya.


Kemarin dia hanya datang ke rumah nenek dan kakeknya saja, karena ibunya tinggal di rumah neneknya. Ibu nya sangat berharap, ketika anaknya kembali, dia akan menjadi sosok yang dia inginkan.

__ADS_1


Ibu nya selalu mendukung keputusan anaknya, tetapi Chika sama sekali tak mempedulikan itu. Dia di besarkan oleh nenek nya, jadi mungkin dia tidak terlalu memperhatikan ibunya, sama seperti nya dulu yang kurang di perhatikan.


Dengan semangat tinggi Chika memberanikan diri, keluar dari zona nyamannya. Mencoba mencari tempat yang lebih tinggi, dari yang ia pijaki saat ini.


Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya Chika pun sampai di bandara Incheon airport Korean, dia mengenakan taksi online menuju asrama nya. Dia lebih memilih tinggal di asrama, karena dia tak perlu mengenakan kendaraan lagi untuk menuju ke kuliahan nya.


"Huh... akhirnya sampai juga, Chika berjalan masuk dan di sapa oleh ibu asrama nya. "Anyyeong, you from Indonesia?" tanya ibu asrama nya itu.


"Yeah, i'm from Indonesia, and my name is Chika," ucap Chika ramah. "Ouh, nice to meet you Chika, my name is Liming, you can call me Mr Liming." Ucap ibu asrama itu seraya tersenyum pada Chika. Chika juga tersenyum, dan membungkuk hormat pada ibu asrama itu.


Chika masuk ke kamar asrama nya dan terlihat sudah ada 2 gadis di hadapannya, yang sepertinya salah satu dari mereka adalah orang Eropa, di lihat dari mata birunya.


"Hello," sapa Chika dengan senyuman. Dan dua gadis itu juga tersenyum pada nya.


"Hai, where you from?," tanya gadis bermata biru itu. "I'm from Indonesian," jawab Chika dengan ramah. Gadis bermata biru itupun mengangguk dan tersenyum.


"What is your name?," tanya wanita itu lagi. "My name is Chika, i am new student." jawab Chika memperkenalkan diri, dan 2 gadis itu pun mengangguk-angguk.


"welcome, hope you are comfortable here," ucap wanita bermata biru itu.


"introduce my name is Ririn, and he is Nimji," bermata biru memperkenalkan diri. "hello," sambung gadis di sampingnya yang bernama Nimji.


Chika pun tersenyum dan mengangguki nya, dia sangat bersyukur, karena dia kira, dia bakal dapat temen asrama yang kurang baik. Tapi nyatanya dia bertemu dengan gadis yang sepertinya sangat-sangat baik.

__ADS_1


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN


__ADS_2