Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
Satu hari bersamanya


__ADS_3

Jam sembilan pagi, Alika sudah siap dengan menenteng tas rajut kesayangannya. Selesai membersihkan villa tadi Alika langsung mandi dan bersiap. Kini dirinya duduk di luar menunggu Danish yang entah sedang apa di kamarnya.


"Hei sudah menunggu lama kah?" Tanya Danish, Alika mendongak keatas karena sekarang dia sedang duduk di anak tangga teras villa. Entah kenapa kali ini dia melihat Danish dengan tatapan yang berbeda. Dia sendiri juga merasa ada yang berbeda saat menatap pria tampan yang tersenyum kepadanya itu.


"Al aku tahu aku ini memang tampan, tapi sampai kapan kau akan mematung menatapku seperti itu? Pasar Raya hanya sampai jam dua belas bukan? Ayo nanti kita tidak bisa berkeliling dengan puas kalau kau kelamaan mematung disini." Ucap Danish seraya tertawa kecil.


"Maaf maaf mas, ayuk berangkat." Ucap Alika seraya menyelonong jalan dengan cepat melewati mobil Danish begitu saja.


"Hei mau kemana? Mau jalan kaki sampai kesana?"


"Oh Astaga maaf maaf."


Mereka pun pergi ke pasar raya. Banyak sekali stand bazar mulai dari jajanan, pakaian, pernak-pernik dan lain sebagainya.


"Al kau boleh mengambil apapun yang ada disini. Aku yang akan membayarnya." Ucap Danish, Alika langsung menatapnya intens.


"Hei kau meragukan perkataanku?"


"Aa tidak, saya sempat lupa kalau pria disampingku ini orang kaya." Ucap Alika seraya tertawa kecil.


Padahal baru saja dekat tapi mereka cepat akrab. Alika yang menyenangkan, membuat Danish semakin betah berlam-lama dengannya.


Mereka berhenti di sebuah stand yang menjual gelang dan kalung. Ada satu gelang yang menarik, Danish pun mengambilnya. Gelang mutiara putih yang ditengahnya ada inisial huruf d. Danish langsung membayarnya dan menyimpan gelang itu di kantong jaketnya.


"Gimana Al, ada yang kau sukai?" Tanya Danish yang melihat Alika masih sibuk melihat-lihat kalung.


"Enggak ada mas, jalan kesana yuk."


Saat itu ada orang yang tiba-tiba menabrak Alika. Beruntung Danish sigap memegangi pinggang Alika. Membuatnya tak jadi terjatuh.


Mereka pun saling bertatapan mata. Jantung Danish semakin tidak karuan. Dia melihat wajah cantik gadis pujaannya dengan sangat dekat.


Cekrekk.. Suara kamera yang memotret mereka. "Wah pose yang sangat bagus." Ucap si pemotret yang memang fotografer keliling disana.


Mereka berdua refleks melepaskan diri masing-masing.

__ADS_1


"Hasilnya bagus nih mas, mau beli hasilnya?" Fotografer itu menyodorkan hasilnya pada Danish.


Tanpa berfikir panjang Danish mengeluarakan beberapa lembar ratusan ribu dan menukarnya dengan foto itu. Hasilnya memang bagus. Danish tersenyum memandangi foto itu. Itu pasti akan ia pajang di kamar rumahnya nanti.


Sementara Alika heran, hanya untuk sebuah foto Danish membayar sebanyak itu.


"Memang ya orang kaya kalau ngeluarin uang nggak pakai hitung dulu." Ucap Alika


"Nggak papa hitung-hitung sedekah. Yuk lanjut." Danish menggandeng tangan Alika. Wanita itu sama sekali tidak keberatan. Yang dulu awalnya takut entah mengapa kini dirinya merasa aman dan nyaman berada bersama Danish.


Mereka berkeliling menjelajahi seluruh isi pasar raya. Berhenti di hampir semua stand. Membeli eksrim, membeli permen gulali yang dibuat oleh Danish sendiri khusus untuk Alika. Dibantu oleh pedagangnya, Danish membentuknya menyerupai hati.


"Ini spesial untukmu." Danish memberikan permen yang dibuatnya. Alika menerimanya diiringi dengan tawanya yang renyah. Karena permen itu berbentuk hati yang bulatannya besar sebelah. Danish pun ikut tertawa.


"Kalau kau sudah resmi menjadi milikku, aku pastikan kau akan terus tertawa bahagia seperti ini Alika. Dan nggak akan kubiarkan orang lain bahkan orang terdekatmu menindasmu lagi." Batin Danish.


Setelah itu mereka lanjut lagi, dan menemukan baju yang menurut Danish lucu dipakai berdua dengan Alika. Kaos warna putih yang bertuliskan Hei D dan Hei A. Danish pun membeli itu. Awalnya Alika enggan memakainya tapi atas bujukan Danish dia pun mau. Mereka berganti pakaian di toilet umum yang ada disana. Alika mengenakan hei D dan Danish hei A.


Sekarang mereka terlihat seperti pasangan sejoli yang serasi. Mereka sama-sama tertawa melihat baju yang sama yang mereka kenakan. Sebelum keluar dari pasar raya, Danish mengajak Alika berhenti di sebuah stand accesoris. Danish membeli dua jepit rambut berhias bintang kecil tapi gemerlap. Dia langsung memasangkannya di rambut Alika.


"Mas bukan orang pertama yang berucap seperti itu. Yasudah ayuk pulang." Ucap Alika seraya berjalan mendahului Danish.


"Ya tapi akulah yang akan memilikimu seutuhnya termasuk kecantikanmu itu Alika." Ucap Danish dalam hati.


Sebelum pulang Danish mengajak Alika untuk makan siang di restoran dekat sana. Danish juga memesan makanan untuk dibawa pulang agar bibi dan paman Alika ikut merasakan makan enak juga


"Yaampun mas ini kebanyakan. Disini pasti harganya mahal-mahal." Ucap Alika melihat makanan yang dipesankan untuknya dibawa pulang.


"Enggak apa-apa," Ucap Danish tersenyum.


"Kalau begitu sering-sering traktik saya mas, hehe bercanda."


"Apapun akan aku berikan kalau kamu menjadi.."


"Jadi apa mas?"

__ADS_1


"Kekasihku,"


"Ahahah.. Mas Danish jangan bercanda. Udah ah yuk pulang. Nanti bibi nyariin."


Mereka pun menuju mobil Danish, sama seperti tadi Danish membukakan pintu untuk Alika. Dari kejauhan, Gea melihatnya. Dia merasa iri kenapa Alika selalu lebih unggul darinya.


"Apa ini? Bagaimana bisa Alika dapetin cowok jakarta itu. Nggak aku nggak bakalan biarin Alika bahagia. Aku akan lapor pada ayah. Adi aja belum mau sepenuhnya menerimaku dia malah mau enak-enakan kaya gitu. Jangan harap!" Ucap Gea.


🍁🍁🍁


Setelah sampai di villa Danish mendapatkan telfon dari sekretarisnya. Kliennya ingin bertemu malam ini juga. Karena besok sudah berangkat ke jepang.


"Al aku harus balik ke jakarta sekarang." Ucap Danish


"Loh nggak capek mas, nggak istirahat dulu gitu."


"Enggak Al, tapi sebelum balik aku mau berbicara serius denganmu."


"Berbicara apa?"


"Alika Dean Alkandra, aku mencintaimu. Jadilah kekasihku." Ucap Danish tanpa basa-basi.


"Mas Danish nggak lagi bercanda kan?"


"Aku serius Al, kau terus ada dalam pikiranku. Kau mungkin sudah dengar tentangku yang suka main dengan banyak wanita. Tapi jujur baru kali ini aku merasakan jatuh cinta, yaitu denganmu."


Alika langsung terdiam tanpa kata. Dia tidak menyangka seorang CEO kaya raya ingin menjadikannya kekasih. Apalagi mereka itu baru beberapa kali bertemu dan belum mengenal secara detail satu sama lain.


"Oke nggak usah jawab sekarang nggak papa. Tapi nanti ketika aku kembali lagi kesini, aku akan menagih jawabannya." Ucap Danish seraya tersenyum.


"Oh iya ini untukmu," Danish memasangkan gelang untuk Alika.


"Aku pergi dulu, fikirkan baik-baik jawabannya." Ucap Danish seraya mengedipkan sebelah matanya kearah Alika.


Saat Danish sudah pergi jauh, baru Alika tersadar. Tadi dia terdiam karena cukup syok mendengar pria yang pernah menjadi bosnya walau sehari itu menyatakan perasaan padanya. Alika menatap kearah gelang yang dipakainya saat ini dan tersenyum. Entah apakah dia akan menerima Danish, dia tak berkata apa-apa dan melangkah masuk kedalam villa.

__ADS_1


__ADS_2