
Hujan deras mengguyur kota Jakarta hampir seharian ini. Cuacanya begitu suram. Sama seperti halnya dengan perasaan Alika yang suram seakan tertutup awan hitam. Restoran tempatnya bekerja kebetulan sedang sepi. Sedari tadi dia hanya duduk seraya terus memegangi ponselnya. Dia berharap Danish menghubunginya.
"Ada apa denganku? Mengapa aku menunggu pesan darinya? Malam itu aku sendiri yang berkata agar kita tidak boleh terlalu dekat." Gumam Alika merasa frustasi. Sudah cukup lama sejak malam itu Danish tidak menghubunginya lagi. Alika merasakan rindu yang teramat menyiksa di dalam batinnya.
Ting ..
Suara bel di meja kasir berbunyi. Hal itu sangat mengagetkan Alika yang sedang menundukkan kepala. Refleks dia langsung berdiri dan mengucapkan salam wajib kepada pelanggan yang datang.
"Selamat datang di Kenz Pizza, mau pesan a..." Alika tak meneruskan perkataannya. Dia malah langsung berbalik badan. Kemudian mengusap matanya, karena dia merasa melihat Danish di hadapannya. Bisa saja itu hanya ilusi akibat terlalu memikirkan Danish.
"Alika, kau baik-baik saja kan?" Tanya Danish merasa bingung dengan tingkah Alika.
Alika membalikkan badan lagi. Dia mengusap matanya kemudian mengedip dengan keras beberapa kali. Alika memastikan jika dia tidak salah lihat jika pria di hadapannya saat ini adalah Danish.
"Halo, Alika Dean Alkandra kau kenapa?" Tanya Danish sekali lagi sembari mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Alika. Hal itu membuat Alika tersadar.
"E .. Saya tidak kenapa-kenapa mas. Saya hanya memastikan jika yang saya lihat bukan ilusi." Jawab Alika blak-blakan. Kemudian dia terkejut sendiri dengan jawabannya. Danish tersenyum mendengar hal itu.
"Ilusi? Itu artinya kau melihatku dimana-mana. Kau pasti sangat merindukanku." Ucap Danish dengan percaya diri. Hal itu membuat pipi Alika merah merona.
Bagaimana tidak memerah, Danish saja memposisikan wajahnya sangat dekat dengan wajah Alika. Jika di ukur mungkin hanya sekitar setengah jengkal tangan.
Di posisi sekarang ini membuat Alika teringat saat dimana dirinya di cium dengan mesra oleh Danish. Alika sampai berpikir, apakah kali ini akan terjadi hal yang sama? Apakah Danish akan menciumnya lagi?
Wajah Danish semakin lama semakin mendekat dan Alika pun menutup matanya. Danish sendiri memang sangat tidak tahan ketika sudah melihat bibir Alika sedekat itu.
"Apakah kau akan berciuman lagi di saat jam kerja seperti ini?" celetuk rekan kerja Alika yang berdiri di belakangnya.
Alika dan Danish pun menjauhkan diri masing-masing. Alika benar-benar lupa jika ada rekan kerjanya di sana.
"E.. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Alika mencoba menjelaskan pada rekan kerjanya. Kemudian Alika melihat kearah jam dinding. Sudah menunjukkan pukul tiga sore. Itu artinya dia bisa pulang sekarang. Karena hari ini jadwalnya dia part time.
__ADS_1
"Sudah jam tiga, saya pulang dulu." Ucap Alika berpamitan. Dia bergegas mengambil tas kemudian menarik Danish pergi dari sana dengan terburu-buru. Sempatnya Danish tersenyum ramah pada Nana, rekan kerja Alika yang memergoki mereka.
"Buru-buru sekali, apakah mereka akan berakhir chek in?" Nana bertanya-tanya sendiri. "Eh tapi pria itu tampan sekali, sepertinya orang kaya juga. Beruntungnya Alika." gumam Nana.
***
Danish membawa Alika pergi dengan mobilnya. Karena cuaca sangat dingin, Danish membawa Alika ke sebuah restoran mie Ramen.
"Ramen di sini enak sekali Al, di tambah cuaca mendukung sekali hari ini." Ucap Danish seraya menuntun Alika masuk ke dalam restoran.
Mereka memilih tempat duduk di dekat jendela kaca. Dimana pemandangan tetesan air hujan terlihat indah berlinang di kaca. Mereka memesan menu yang sama, sesuai rekomendasi Danish.
Saat ini Alika terdiam, dia bingung harus bertanya apa. Rasanya sangat salah tingkah. Padahal ini bukan pertama kalinya dia pergi bersama Danish.
"Al kau mau memesan yang mana?" Tanya Danish dengan senyum yang membuat hati Alika berdebar.
Alika terdiam tidak menjawab pertanyaan Danish. Dia tidak bingung memilih menu, hanya saja dia merasa ini tidak benar. Bagaimana bisa dia bepergian berdua saja, dengan seorang pria yang sudah akan menikah.
Saat itu Alika baru menyadari jika sudah tak ada lagi cincin yang tersemat di jari manis Danish. Refleks Alika langsung meraih tangan kiri Danish untuk melihatnya secara detail.
"Mas kamu sudah tidak pakai cincin, kenapa?" Tanya Alika berekspresi penasaran.
Menndengar pertanyaan itu Danish tersenyum. Dia berganti menggenggam tangan Alika.
"Aku tidak jadi menikah dengan Isabel dan kita sudah tidak ada hubungan lagi." Jawab Danish.
Seketika itu Alika melepas genggaman tangan Danish. Dia langsung berdiri karena sangat terkejut. Ekspresinya begitu tertekan. Alika berpikir dirinyalah penyebab hal itu terjadi. Jika benar dia bisa di sebut sebagai orang ketiga perusak hubungan orang.
"Al kau kenapa?" Tanya Danish merasa bingung.
Kemudian Alika kembali duduk dan menatap serius pada Danish. "Mas jangan lakukan ini, kamu harus tetap menikahi mbak Isabel." Ucap Alika.
__ADS_1
"Tidak bisa Al, aku tidak bisa menikahi wanita yang tidak peduli dengan mamaku. Apalagi dia punya niat Jahat." Ucap Danish tak kalah serius dari Alika. Danish pun menceritakan segala kejadian dari awal orang tuanya kecelakaan sampai berakhirnya hubungannya dengan Isabel.
Alika terkejut mendengar kabar orang tua Danish kecelakaan sampai membuat mamanya koma. Dia turut sedih atas kejadian itu, dan juga bersyukur mendengar kabar mama Vella kini sudah membaik.
Setelah itu Danish juga bercerita tentang identitas asli Isabel. Hal ini membuat Alika lebih terkejut lagi.
"Sebentar mas jadi mbak Isabel itu anaknya pak Bima juga atau bagaimana?" Tanya Alika yang merasa masih tidak paham.
"Bukan Al, ibu dari Isabel ini terobsesi dengan papaku. Sampai gangguan jiwa gitu. Sebelum di rehab di RSJ sempat berkeliaran katanya. Kemungkinan ibu Isabel ada yang memperk**a saat itu." Ucap Danish
"Mungkin ada sebuah kesalah pahaman mas, mbak Isabel kan hanya mendengar versi cerita dari ibunya." Ucap Alika.
"Ya mungkin begitu, sudahlah tidak perlu membahas dia. Kau mau pesan apa? Keburu tutup restonya kalau kita ngobrol terus." Ucap Danish disela candaan.
Alika dapat kembali tersenyum cerah setelah mendengar pernyataan dari Danish. Dia lega karena Danish tidak lagi terikat dengan siapapun.
Di tengah-tengah makan, mereka berdua saling diam. Hanya terdengar suara dari sumpit dan sendok yang sesekali terkena dasar mangkuk. Juga suara sruputan demi sruputan mie dan kuah yang mereka makan.
Tak lama kemudian mereka selesai makan. Alika mengambil tisu untuk mengusap bibirnya sendiri. Danish juga melakukan hal yang sama, namun masih ada sedikit bekas kuah yang menempel di sudut bibir Danish. Alika mengambil tisu lagi dan langsung mengusapkannya pada Danish.
"Maaf mas masih ada yang tertinggal." Ucap Alika sembari mengusapkan tissue ke bibir Danish.
Seketika itu Danish memegang tangan Alika. Dia menatap Alika dengan sangat dalam. Hal itu membuat jantung Alika berdegup dengan kencang.
"Aku mencintaimu Alika." Ucap Danish
"Saya juga mencintai mas Danish." Balas Alika secara tidak sengaja. Perkataan tulus dari dalam hatinya.
"Jadi, kau mau menjalin hubungan denganku?" Tanya Danish dengan senyum semringah.
Dengan malu-malu Alika mengangguk mengiyakan. Danish langsung melonjak kegirangan seraya berkata YES. Setelah itu Danish menghampiri Alika dan memeluknya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap penuh kebencian terhadap mereka berdua.