Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
Tak sengaja bertemu


__ADS_3

Danish yang kesal setelah mendengar dirinya akan dijodohkan, pergi keluar rumah untuk mencari hiburan.


"Kak kau mau kemana?" Tanya Jenny


"Aku mau kemana itu bukan urusanmu." Jawab Danish tanpa memperdulikan Jenny yang mulai mengejarnya sampai garasi.


"Kak aku minta maaf, Aku tidak bermaksud membuatmu dalam situasi sekarang. Aku juga tidak tahu kalau akhirnya kau akan dijodohkan." Ucap Jenny yang merasa bersalah.


"Tak apa, ini bukan salahmu. Tenang saja adikku yang manis, aku tidak marah padamu." Ucap Danish dengan melempar senyum pada sang adik.


"Kalau begitu bisa minta tambahan uang jajan dong," Ucap Jenny penuh semangat.


"Dasar adik tidak tahu diri, sudah membuatku dalam masalah seperti ini masih bisa bilang seperti itu," Omel Danish tapi ucapannya itu tidak serius, dia tetap memberikan uang jajan tambahan untuk Jenny.


"Sudah ku transfer, dah sana aku mau pergi." Ucap Danish seraya memasuki mobilnya. Jenny sangat senang karena dengan mudahnya sang kakak memberinya tambahan uang jajan.


"Kak tunggu," Ucap Jenny saat Danish akan melajukan mobilnya. Dengan menggedor kaca mobilnya.


"Hei jangan gebrak mobilku, ada apa lagi?" Tanya Danish yang sudah membuka kaca mobilnya.


"Kak bisa nggak kau memecat Felix. Dia itu sangat menyebalkan.


"Tidak." Jawaban yang singkat, padat, jelas dari Danish. Kemudian dia pergi dengan mobilnya. Jenny menggerutu sendiri, apalagi dengan tiba-tiba Felix sudah berada disana menyapanya.


"Selamat pagi nona," Ucap Felix dengan wajah datarnya.


"Kau itu makin lama makin mirip jalangkung. Datang tak diundang pulang tak diantar." Ucap Jenny membalas sapaan bodyguardnya itu, lalu pergi masuk kedalam. Felix hanya menghela nafas tak membalas perkataan nonanya.


🌺🌺🌺


Di sebuah pusat perbelanjaan, Alika ditemani oleh cici asisten rumah tangganya. Mereka sedang belanja bulanan juga belanja kebutuhan untuk acara empat bulanan kehamilan Alika.

__ADS_1


"Mbak duluan aja ya ke mobilnya. Sama bawa semua belanjaan ini. Saya sudah telfon pak Tarno untuk membantu mbak." Ucap Alika pada asisten rumah tangganya.


"Baik bu,"


Di tempat yang sama, Danish sedang memilih kue yang diminta mamanya. Saat keluar tadi mamanya menelfon, memintanya untuk membeli kue.


"Duh mama nih ngapain juga nyuruh aku beli kue. Lagian siapa sih tamu yang bakalan dateng kerumah? Mana ini pilihannya banyak banget. Yang mana coba,"


Danish bingung kue mana yang dimaksud oleh mamanya. Karena di display toko banyak sekali pilihan kue. Tak mau pusing, dia asal mengambilnya saja. Kemudian membayarnya ke kasir dan keluar dari sana.


Saat berjalan menuju pintu keluar, Danish menghentikan langkahnya. Dia melihat suami Alika bersama wanita lain bergandengan memasuki bioskop.


"Kali ini aku nggak salah lihat, Ya dia itu suami Alika. Wanita itu yang di klab malam juga." Gumam Danish, dia mengepalkan kedua tangannya. Bisa-bisanya pria itu menyelingkuhi wanita pujaan hatinya. Karena kalau sekedar teman tidak mungkin semesra itu.


Rasanya sekarang juga dia ingin menghajar pria itu, tapi tidak bisa. Karena pria itu sudah masuk ke dalam studio bioskop. Dia tidak mau membuat keributan di dalam sana. Kemudian dirinya pergi. Tapi kali ini dia malah melihat sosok pujaan hatinya. Ya Alika lah yang dilihat oleh Danish. Wanita itu tengah berada di sebuah toko baju. Tanpa ragu, Danish menghampirinya.


"Alika," Sapa Danish


"Mas Danish disini juga, oh nemenin pacar atau mungkin istri ya?" Alika berkata seperti itu karena tempat mereka berada itu toko baju khusus wanita.


Kemudian Danish ingin sekali langsung memberitahukan tentang apa yang tadi dilihatnya. Tapi dia tidak punya bukti yang kuat. Dia takut nanti Alika marah karena menganggap dirinya menjelekkan suaminya. Sementara Alika sibuk memilih baju yang nyaman dikenakannya, karena perutnya mulai membesar.


"Oh ya kau sendirian?" Tanya Danish


"Tadi saya bersama art, tapi dia saya suruh menunggu di mobil setelah belanja bulanan." Jawab Alika dia tidak merasa risih ataupun canggung berada didekat Danish. Dia tetap sibuk memilih baju di display.


"Suamimu kemana?" Tanya Danish lagi.


"Mas Alvino sibuk di kantornya." Jawab Alika, mendengar ini Danish merasa kasihan karena dia tahu Alika dibohongi oleh suaminya.


Danish pun mengurungkan niatnya untuk segera pulang. Dia menemani Alika belanja disana. Mata Danish benar-benar tidak bisa berpaling dari Alika. Keceriaan wanita itu membuatnya nyaman berada didekatnya.

__ADS_1


Kali ini mereka masuk kedalam sebuah butik. Alika ingin membeli baju untuk dikenakannya diacara empat bulanan. Sepasang dengan baju suaminya. Tapi masalahnya dia tidak begitu tahu tentang size baju suaminya. Melihat Danish, dirinya merasa postur tubuh pria dihadapannya itu sama dengan sang suami. Akhirnya Alika meminta Danish untuk membantunya mencari baju yang ukurannya pas.


Dengan senang hati Danish mencoba beberapa baju yang dipilih oleh Alika. Pilihan terakhir yaitu kemeja lengan panjang berwarna milo membuat Danish sangat tampan.


"Wah bu suaminya ganteng banget ya," Ucap pelayan toko. Itu membuat hati Danish senang dikira suami Alika. Tapi dia kembali dihantam kenyataan saat Alika menyangkal ucapan pelayan toko.


"Ah dia bukan suami saya mbak. Cuma teman." Ucap Alika seraya tersenyum.


Sudah menentukan pilihan Alika langsung membayarnya dikasir. Sejak dari toko pertama, Danish ingin membayarkannya. Tapi, Alika tidak mau karena dia sudah dibawakan kartu kredit oleh suaminya. Black card, sama seperti yang dimiliki oleh Danish.


"Emangnya mau ada acara apa sih?" Tanya Danish penasaran.


"Besok mau ada acara empat bulanan dirumah. Jadi saya sengaja beli baju ini buat dipakai besok." Jawab Alika sangat berantusia karena membayangkan acara besok.


"Suamimu bodoh Al, kenapa dia berkhianat dibelakangmu, Padahal kau ini wanita yang tulus dan tidak pantas disakiti." Batin Danish


"Al kau mau langsung pulang?" Tanya Danish


"Inginnya begitu, tapi tiba-tiba ingin makan eskrim." Jawab Alika malu-malu. Saat ini dia masih merasakan ngidam.


"Ahaha kau ngidam ya, yasudah kutemani yuk."


Danish menggantikan peran Alvino menjadi sosok suami Alika. Dia menyuruh Alika duduk. Karena antriannya begitu panjang. Mengingat wanita itu sedang hamil. Bahkan di toko tadi saja Alika juga hanya duduk, Danish lah yang kesana kemari mengambilkan baju yang ditunjuk Alika.


"Seandainya mas Alvino seperti mas Danish. Dia begitu perhatian denganku. Ah tidak Alika, kamu tidak boleh membandingkan suamimu sendiri dengan orang lain." Batin Alika


Sekitar dua belas menit antri, akhirnya Danish menghampiri Alika dengan membawa dua eskrim coklat vanilla bertoping waffle. Alika sangat senang melihat itu. Dia berubah seperti anak kecil saat melihat eskrim didepan matanya. Mungkin karena efek ngidamnya. Tanpa berkata-kata dia langsung menyendok eksrim itu masuk ke mulutnya.


"Hmmm.. ini enak banget. Eh tapi punya saya besar, punya mas Danish kok kecil?"


"Aku kan cuma sendiri, sedangkan kau berdua."

__ADS_1


Alika tertawa mendengar ucapan Danish, hingga tanpa sadar eskrim yang dia makan mengenai bibir luarnya. Danish mengusap lembut menggunakan tisu. Mereka terlihat romantis seperti pasangan sesungguhnya.


Tidak jauh dari sana seorang pria berdiri menatap penuh amarah. "Beraninya kau jalan dengan pria lain Alika!" Gumam pria yang tidak lain adalah Alvino.


__ADS_2