
Beberapa waktu kemudian ....
Pertemuan keluarga kembali terjadi antara keluarga Danish dan Isabel. Mereka akan membicarakan tentang rencana pertunangan Danish dan Isabel. Sebenarnya Vella dan Bima sebagai orang tua Danish merasa kurang setuju dengan rencana ini. Mengingat Danish sendiri pernah berkata jika Isabel adalah wanita nakal penjaja tubuh demi uang. Namun dengan keyakinan putra mereka, akhirnya mau tidak mau mereka harus menyetujuinya.
Sejauh ini Isabel juga bersikap baik. Tidak lagi arrogant pada orang-orang. Yang terpenting bagi Danish, Isabel juga memperlakukan mama Vella dengan baik. Isabel terlihat menyayangi mama Vella seperti mamanya sendiri.
Hari pertunangan sudah resmi di tentukan. Acara pertunangan akan di adakan bersamaan dengan perayaan ulang tahun Danish yang ke-26 tahun. Tentu saja Isabel dan kedua orang tuanya sangat gembira setelah tanggal pertunangan di pastikan.
Isabel yang duduk di sebelah Danish langsung memeluk lengannya dengan erat. Akhirnya impiannya menjadi istri Danish akan segera terwujud.
Berbeda dengan Isabel yang sangat berbahagia, Danish hanya tersenyum sekilas saja. Sebenarnya hingga kini Isabel belum berhasil masuk kedalam hatinya. Alika tetap menjadi penghuni setia di hatinya.
"Tidak Danish, ayolah lupakan Alika. Isabel adalah wanita yang cocok untukmu." Batin Danish berkecamuk.
Dari ruangan lain Jenny menguping. Dia tidak suka mendengar hari pertunangan itu di resmikan. Dia tidak akan membiarkan Isabel masuk ke dalam keluarganya. Jenny merasa perubahan sifat Isabel itu hanyalah sandiwara. Tapi Dia tidak tahu harus berbuat apa. Kakaknya sendiri sudah tidak bisa di ajak kompromi.
Dua hari sebelum hari H acara. Isabel meminta Danish untuk mengantarkannya ke butik. Isabel ingin mencari gaun indah untuk di pakainya dalam acara pertunangannya. Isabel sangat berantusias dengan hal itu.
Ketika masuk ke sana, Isabel langsung dapat menentukan pilihan. Dia langsung jatuh hati melihat gaun berwarna biru muda beraksen mutiara putih yang gemerlapan.
"Aku akan mencoba ini." Ucap Isabel
Danish hanya mengangguk kemudian dia melangkah menuju kursi sofa yang ada di sana. Sembari menunggu, Danish membaca majalah.
"Danish," Panggil Isabel
Mendengar namanya di panggil, Danish langsung menutup majalah yang tadi di lihatnya. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan menoleh ke sumber suara.
Jantung Danish seketika berdegup kencang. Matanya tak berkedip saat melihat sosok wanita di hadapannya mengenakan gaun berwarna biru muda yang begitu cantik. Matanya melihat sosok Alika tersenyum cerah kepadanya.
__ADS_1
"Sayang bagaimana? Gaun ini cocok untukku kan?" Tanya Isabel seraya memutar badan. Hal ini membuat Danish langsung tersadar dari angan-angannya. Danish mengedipkan matanya dengan gelengan kepala.
"Wah kau sampai seperti itu, aku terlihat sangat cantik ya, ah kau membuatku malu sayang." Ucap Isabel yang mengira Danish terpukau dengan penampilannya. Padahal Danish seperti itu karena tadinya melihat sosok Alika yang mengenakan gaun itu.
Namun untuk menjaga perasaan Isabel, Danish mengiyakannya saja. "Iya kau sangat cantik dengan gaun itu." Ucapnya seraya tersenyum sekilas.
"Oke, mbak aku ambil gaun ini." Ucap Isabel kepada pelayan butik.
Danish memberikan black cardnya pada pelayan toko. Harga untuk satu gaun itu cukup mahal. Isabel merasa senang mendapatkan apa yang dia mau. Dia berfikir setelah menikah nanti dengan mudahnya dia akan menguasai kekayaan keluarga Danish.
"Aku ada kerjaan penting setelah ini. Jadi langsung aku antar pulang saja ya," Ucap Danish
"Hemm tidak, antarkan aku ke salon saja. Nanti aku akan menyuruh supir papa untuk menjemputku." Ucap Isabel
"Hmm," Danish mengangguk.
Mereka pun menuju ke salon tempat biasa Isabel melakukan treatment kecantikan. Dalam perjalanan kesana terbesit pertanyaan di dalam otaknya. Sebenarnya sudah sejak lama pertanyaan tentang kehidupan Isabel itu ada dalam otaknya. Hanya saja belum sempat mengungkapkannya. Kini Danish akan bertanya.
"Tentu saja boleh. Tanyakan saja, aku akan menjawabnya." Ucap Isabel tanpa menatap Danish karena dia sedang sibuk melihat model nail art di layar ponselnya.
"Aku lihat kau berasal dari keluarga kaya, tapi kenapa kau menjadi wanita penghibur?" Tanya Danish dengan serius.
Seketika Isabel menoleh pada Danish. Dia tidak menyangka akhirnya Danish bertanya tentang itu juga. Dia meletakkan ponselnya. Dia merasa kebingungan harus menjawab apa.
"Mana mungkin aku jujur jika sebenarnya tante Flow dan om Boby bukanlah orang tuaku. Aku melakukan itu tentu saja untuk mendapatkan uang banyak." Ucap Isabel dalam benaknya. Ternyata ada rahasia besar yang di sembunyikan Isabel mengenai indetitas asli keluarganya.
"Emm saat itu aku khilaf saja. Aku silau dengan uang banyak. Tapi aku sudah sangat menyesalinya." Ucap Isabel seraya tertawa kaku untuk menutupi kegugupannya.
Danish merasa tidak puas dengan jawaban Isabel. Jawaban Isabel itu malah menafsirkan ada sesuatu hal yang ditutupi. Apalagi gerak-geriknya sangat mencurigakan. Tapi Danish mencoba berfikir positif saja.
__ADS_1
...****************...
Tiba pada hari H acara ulang tahun sekaligus pertunangan Danish Putra Argantara. Acara di adakan di hotel grand. Dekorasi ruangan terlihat mewah atas permintaan Isabel. Seluruh kolega Bima di undang dalam acara itu. Sahabat-sahabat Danish juga hadir.
Dalam acara itu Jenny tampil cantik dengan balutan dress selutut berwarna putih susu. Rambutnya di kuncir kuda dengan poni belah dua. Parasnya begitu anggun. Namun sayangnya senyum yang harusnya menyempurnakan penampilannya menghilang. Saat ini dia memasang raut wajah datar.
"Dorr." Miko datang menepuk pundak Jenny berniat mengagetkannya. Namun yang terjadi malah tangannya langsung di plintir oleh Jenny.
"Aaaa.. aa sakit lepaskan." Rengek Miko, Jenny pun melepaskannya.
"Aku sedang tidak mood hari ini jadi jangan bercanda denganku." Ucap Jenny dengan ketus. Namun ekspresinya seketika berubah manis lagi saat Arka datang. Jenny tidak lagi bisa bohong pada diri sendiri bahwa dia menyukai Arka.
"Hai guys, biar aku tebak pasti Miko mengusikmu. Benar kan Jenny?" Tanya Arka sudah dapat menebak situasi.
"Tidak kok kak, hanya saja aku sedang tidak mood jadi tidak sengaja memlintir tangannya. Maafkan aku ya sepupuku." Ucap Jenny dengan manis pada Miko, padahal tadinya dia ketus.
Miko menautkan kedua alisnya merasa heran secepat itu sikap Jenny berubah. Tapi itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah mencicipi makanan. Miko pergi begitu saja meninggalkan Jenny dan Arka.
Jenny begitu senang berada dekat dengan Arka. Namun kesenangan di hatinya tidak bertahan lama. Senyumnya kembali hilang lagi ketika melihat Isabel memasuki ruang acara bersama kedua orang tuanya.
Namun ada hal mengejutkan yang dia dengar dari salah satu tamu yang berdiri tak jauh darinya. Orang itu menyebut Boby Kusnandar tidak memiliki seorang putri. Boby dan Flow diketahui hanya memiliki tiga orang putra. Hal itu lantas membuat Jenny bertanya-tanya. Jenny dan Arka saling menatap seakan mempunyai pemikiran yang sama.
"Baiklah para hadirin semua, kita akan memulai acara pada malam hari ini ..." Suara MC membuyarkan pikiran Arka dan Jenny. Mereka kembali terfokus pada acara.
Acara di mulai dari tiup lilin, potong kue lalu bertukar cincin. Danish dan Isabel secara bergantian menyematkan cincinnya. Di susul tepuk tangan dari para tamu undangan yang hadir. Isabel dengan bahagia memamerkan cincin yang sudah tersemat di jari manisnya. Senyumnya begitu lebar karena selangkah lagi dia akan menjadi istri Danish. Setelah itu dia akan menjalankan tujuannya yang sebenarnya.
Mama Vella merasa Danish setengah hati melakukan ini semua. Dia melihat raut wajah putranya tidak begitu bahagia malam ini.
"Mas lihatlah betapa palsunya senyum Danish itu. Sebagai ibunya aku merasa sebenarnya dia masih setengah hati melakukan ini." Ucap Vella pada Bima
__ADS_1
"Tapi ini kemauan dia sendiri sayang. Kita doakan saja yang terbaik untuk putra kita." Ucap Bima seraya merangkul sang istri.