Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 54


__ADS_3

Rasa cemas menyelimuti hati Danish, kala mamanya sedang berjuang di dalam ruang operasi. Doanya terus terpanjat di dalam hati. Tidak bisa di bayangkan bagaimana jika hal buruk terjadi di dalam sana. Karena operasi yang di jalani mamanya begitu beresiko.


Sudah lebih dari dua jam sejak operasi itu di mulai. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda dokter ataupun perawat akan keluar dari sana. Saat itulah Isabel datang.


"Sayang bagaimana keadaan tante Vella? Setelah mendengar orang tua mu kecelakaan aku langsung kemari. Aku juga sudah bertemu om Bima barusan." Ucap Isabel seraya mengusap pundak Danish yang sedang duduk tertunduk cemas.


Mama masih di operasi." Jawab Danish singkat.


"Emm, kau yang sabar ya. Aku yakin tante Vella akan baik-baik saja." Ucap Isabel mencoba menenangkan tunangannya itu.


Dalam hati Isabel inilah saatnya dia meyakinkan Danish untuk tetap menikahinya. Dia akan menunjukkan sikap baiknya dengan merawat orang tuanya yang sedang sakit itu. Dia akan mengambil keuntungan dalam peristiwa ini.


Tak berselang lama dokter beserta perawat keluar. Operasi mama Vella selesai di lakukan. Seketika itu Danish berdiri.


"Bagaimana dok, operasinya lancar?" Tanya Danish dengan penuh kecemasan.


"Alhamdulilah operasi berhasil di lakukan. Tetapi saat ini Ibu Vella mengalami koma. Karena saat operasi berjalan, beberapa kali Bu Vella mengalami henti jantung." Jawab dokter menjelaskan keadaan mama Vella saat ini. "Berdoa saja semoga ibu Vella segera sadar dari komanya." Sambung dokter.


Danish seakan tak percaya hal ini terjadi pada mamanya. Dari ruang operasi mamanya di pindahkan ke ruang ICU lagi. Banyak selang terpasang di tubuhnya. Hal itu membuat Danish tak kuasa meneteskan air matanya. Saat ini mamanya belum boleh di jenguk. Jadi Danish hanya melihatnya dari luar.


Isabel mengusap-usap lembut pundak Danish untuk menguatkannya. "Kau jangan menangis, kita berdoa saja semoga tante Vella cepat sadar." Ucap Isabel


Danish tanpa sadar memeluk tubuh Isabel. Dia memang sangat rapuh jika mengenai mamanya. Danish menangis dalam pelukan Isabel.


Tentu saja hal itu sangat menguntungkan bagi Isabel. Sejak kemarin Danish mengabaikannya, tapi kali ini dia luluh dengan mudahnya. Isabel tersenyum senang. Bukan hanya karena di peluk oleh Danish, tapi juga karena kondisi mama Vella saat ini.


"Aku berharap kau tidak akan pernah selamat tante Vella Mariska. Kau pantas mati karena telah merebut kebahagiaan mamaku." Gumam Isabel yang tentunya hanya di dalam hati.


***

__ADS_1


Selang beberapa hari di rawat di Bogor, Akhirnya Danish memindahkan mamanya ke rumah sakit Jakarta. Tentunya agar lebih dekat dari rumah. Dia cukup kerepotan setiap hari harus bolak-balik Jakarta-Bogor karena pekerjaan yang tidak dapat di tinggal. Lagipula keadaan mamanya sudah mulai membaik meski belum sadarkan diri. Sementara papa Bima sudah tidak perlu dirawat di rumah sakit. Hanya saja masih harus beristirahat di rumah.


Isabel senantiasa menemani Danish setiap hari. Dia sampai mencari penginapan di dekat rumah sakit ketika di Bogor, agar Danish melihat betapa perhatiannya dia kepada keluarga Danish.


Saat ini mereka telah berada di rumah sakit Harapan Kasih, yang berada di Jakarta. Mama Vella sudah di tempatkan di kamar rawat VVIP rumah sakit itu. Papa Bima juga ikut ke sana dengan duduk di kursi roda yang di dorong oleh Felix.


"Papa sebaiknya sekarang pulang ya, ingat kata dokter papa harus beristirahat." Ucap Danish.


"Hmm, iya kak aku akan mengantar papa pulang. Kalau begitu aku pergi dulu, aku harus ke kampus juga." Ucap Jenny.


"Kalau mama sadar langsung hubungi papa ya," Ucap Papa Bima dengan tatapan sendu. Berharap istrinya akan segera sadar kembali.


"Tentu pa." Jawab Danish.


Papa Bima mencium tangan mama Vella sebelum pergi. Hal itu membuat Isabel merasa kesal. Dia tidak suka mama Vella begitu di cintai oleh papa Bima. Menurutnya mama Vella tidak seharusnya berada di posisi ini.


Felix tak sengaja melirik ke arah Isabel, dia merasa ada sesuatu yang aneh pada Isabel. Tatapannya seperti menunjukkan ketidaksukaan terhadap Bu Vella dan Pak Bima.


***


Suasana di dalam kamar rawat mama Vella hening. Danish hanya duduk terdiam di sebelah brankar. Dia senantiasa memegangi tangan mamanya. Berharap tangan itu dapat bergerak lagi.


Sementara Isabel duduk bersandar di kursi sofa. Sebenarnya dia merasa bosan berada di sana. Ingin sekali rasanya pergi ke mall dan berbelanja dengan uang Danish yang tak akan ada habisnya itu. Namun kini dia masih dalam rangka pencitraan, jadi dia harus menahannya. Dia harus menjaga sikap agar Danish tidak punya alasan untuk membatalkan pernikahan.


Triing.. drrt..drrtt..


Ponsel milik Danish berbunyi. Dia segera menjawab telefon yang masuk di ponselnya itu. Itu adalah telefon dari Azel. Sekeretarisnya itu mengingatkan jika jam sebelas akan ada meeting dengan klien penting.


Danish merasa tidak bisa meninggalkan mamanya sendirian. Tapi dia tidak bisa absen dalam meeting ini. Jenny sedang kuliah. Danish berfikir sejenak.

__ADS_1


"Sayang ada masalah?" Isabel beranjak dari tempat duduknya menghampiri Danish.


"Aku ada meeting penting." Jawab Danish.


"Lalu kenapa masih disini? Pergilah, aku akan menemani tante Vella disini." Ucap Isabel seraya menaruh tangannya di bahu Danish.


Danish terdiam lagi. Entah mengapa rasanya tidak tenang jika meninggalkan mamanya dengan Isabel saja. Saat di Bogor memang Isabel ikut menjaga mama Vella. Namun tidak pernah sendirian, selalu bersama Jenny dan Felix.


"Baiklah, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." Ucap Danish dengan perasaan ragu. Namun kemudian dia berpikir untuk apa merasa takut, Isabel tidak mungkin menjahati calon mertuanya sendiri.


Danish mencium tangan mama Vella sebelum pergi. Dia juga berpamitan selayaknya mama Vella itu sadar, tidak koma.


Kemudian secara tiba-tiba Isabel memeluknya. Danish sebenarnya enggan di peluk seperti itu. Rasanya begitu risih. Dia hanya diam tidak membalas pelukan Isabel.


Tak berhenti di sana, Isabel ingin mencium bibir Danish namun gagal. Karena dengan gerak cepat Danish menghindarinya. Dia juga melepaskan diri dari pelukan Isabel.


"Aku sudah di tunggu, aku pergi dulu." Ucap Danish seraya berlalu pergi.


Seketika Isabel mengumpat saat Danish keluar meninggalkan ruangan begitu saja. Mereka itu sudah bertunangan dan akan segera menikah, tapi untuk sekedar mencium saja susah sekali.


"Ck,, kenapa rasanya setelah bertunangan Danish malah jauh dariku. Bahkan sejak resmi berpacaran sekalipun dia tidak pernah menciumku." Isabel menggerutu, kemudian dia kembali duduk di tempat semula.


Sudah hampir setengah jam dia hanya duduk di sana. Rasanya benar-benar jenuh. Dia beranjak dari kursi sofa dan berpindah duduk di kursi dekat brankar.


Isabel menatap tajam wajah calon ibu mertuanya itu. Dirinya merasa sangat tidak suka kondisi Mama Vella membaik. Isabel memendam dendam yang di tanamkan oleh ibunya sejak kecil.


"Aku harap kau tidak akan pernah sadar. Asal kau tahu, aku sangat membencimu. Kau sudah merebut kebahagiaanku dan mamaku." Ucap Isabel dengan emosi menggebu.


"Jika saja sadar mungkin kau akan bertanya siapa mamaku. Aku adalah anak dari Kiara Ananta yang sudah kau rebut kebahagiaannya!" Seru Isabel dengan keras tepat di telinga mama Vella.

__ADS_1


Tanpa Isabel sadari tepat di depan pintu terpampang nyata siluet seseorang, yang kemungkinan mendengar apa yang di katakannya itu.


__ADS_2