Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 62


__ADS_3

Di dalam kamar mandi, Danish sudah selesai mandi. Namun dia masih terdiam di sana. Sebelumnya dia selalu menantikan datangnya malam ini. Namun entah mengapa saat malam yang di nantikan datang, nyalinya seketika menciut.


"Astaga kau ini kenapa Danish, kau ini lelaki sejati." Danish bermonolog.


Dengan mengenakan baju tidurnya, Danish melangkah keluar dari kamar mandi.


Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, Alika yang duduk di depan kaca rias langsung menoleh. Dia tersenyum kearah Danish yang kini sudah menjadi suaminya.


Jantung Danish berdebar kencang melihat istrinya yang begitu cantik malam ini. Polos tanpa make up, dengan rambut tergerai indah.


Alika beranjak dari tempat duduknya. Dia melangkah mendekati Danish. Dengan langkah perlahan.


GREP..


Alika membuka kimono yang di kenakannya tepat di hadapan Danish. Dia membuang kimono itu ke sembarang arah. Tubuh indahnya pun terlihat dengan balutan lingerie transparan.


Mata Danish terbelalak, dia juga langsung menelan salivanya melihat pemandangan indah itu. Tak menunggu lama dia mendekat pada Alika. Mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibirnya.


Setelah beberapa saat, Danish melepaskan ciumannya dan menggendong Alika ke kasur. Kini nyali ciut Danish sudah hilang sirna. Dia kembali mengeluarkan sifat aslinya sebagai pria sejati.


Dalam sekejap Lingerie yang di kenakan Alika sudah terbuang. Benda pusaka milik Danish sudah siap melakukan pertempuran sejak tadi. Alika mengangguk tanda setuju. Danish pun memposisikan diri.


"Sssssh ..." Danish berdesis ketika melakukan penyatuan.


Sementara Alika memejamkan mata. Meski sudah tidak gadis lagi, dia sudah lama tidak melakukan ini. Sehingga ada rasa sedikit sakit.


Danish yang melihat itu pun tidak langsung melanjutkan aktivitasnya. Dia memastikan dulu, istrinya merasa nyaman atau tidak.


"Sayang, apakah kau merasa tidak nyaman?" Tanya Danish.


"Emmh, tidak mas. Aku tidak apa-apa. Lanjutkan saja." Jawab Alika seraya tersenyum manis.


Danish kembali mencium bibir Alika dan mulai bergerak memulai permainannya. Semakin lama semakin mempercepat temponya.


"Sshh.. Ah.. mmass." Hanya itu yang keluar dari mulut Alika.

__ADS_1


Mereka berdua menghabiskan malam pertama dengan penuh cinta. Keringat yang bercucuran menjadi saksi betapa bahagianya mereka malam ini.


🌻🌻🌻🌻


Suara dering alarm adzan subuh, membangunkan Alika dan Danish. Danish meraih jam alarm itu dan mematikannya. Kemudian dia kembali mengeratkan pelukannya pada Alika.


"Ihh kok malah ngajak tidur lagi sih mas, ayo kita bangun." Ucap Alika yang berada dalam dekapan Danish.


"Aku ingin begini sepuluh menit lagi saja sayang." Ujar Danish seraya menutup matanya. Dia merasa sangat bahagia pagi ini.


"Sudah mas. Satu menit cukup. Nanti keburu habis waktu subuhnya. Kita kan harus mandi keramas." Ucap Alika seraya beranjak dari tidurnya. Dia telah melepaskan diri dari dekapan Danish.


"Emangnya kita habis ngapain kok keramas sayang?" Tanya Danish dengan tatapan nakal. Membuat Alika menjadi salah tingkah dan langsung mencubitnya.


"Aww! Sakit sayang." Pekik Danish.


"Ah udahlah aku mau mandi dulu. Males ah ngladenin suami yang suka amnesia." Ucap Alika seraya melangkah pergi dengan menarik seluruh selimut. Membuat tubuh polos Danish terpampang nyata.


"Hei sayang tunggu aku." Teriak Danish seraya beranjak menyusul Alika sebelum pintu kamar mandi tertutup.


.


.


Setelah usai sarapan bersama seluruh keluarga. Mereka semua berkemas untuk kembali ke Jakarta. Danish, Alika, Jenny, dan Miko berada dalam satu mobil.


"Kau saja ya yang menyetir." Ucap Danish pada Miko.


"Iya, aku tau kau sangat lelah. Pasti kau tidak tidur kan semalaman." Ujar Miko seraya tersenyum menggoda Danish.


"Hustt.. Anak kecil tidak boleh membicarakan hal seperti itu." Ucap Danish seraya berlalu memasuki mobil.


"Dih, apaan sih. Dia selalu saja menganggapku anak kecil, padahal usia kita tidak beda jauh." Gumam Miko merasa kesal.


Dalam perjalanan menuju Jakarta, Danish tertidur. Begitu juga dengan Alika yang tidur bersandar pada Danish.

__ADS_1


"Sepertinya mereka benar-benar tidak tidur semalaman." Gumam Miko setelah melihat dari kaca spion.


"Ya jelaslah, aku kalau menikah dengan pria yang sangat ku cintai. Pasti juga akan sangat menikmati malam pertama." Sahut Jenny yang mendengar apa yang di katakan oleh Miko. Seketika Miko menoleh menatap Jenny dengan alis yang bertaut.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Jenny.


"Masih kecil tidak boleh berbicara yang seperti itu. Itu kata kak Danish." Jawab Miko seraya kembali meluruskan pandangannya ke depan.


Jenny menyunggingkan bibir atasnya. Merasa tidak senang disebut masih kecil. Namun setelah kembali melihat layar ponselnya, senyum kembali terukir di bibirnya.


Terpampang nyata fotonya bersama Arka. Dia benar-benar tergila-gila pada putra satu-satunya keluarga Alfahrezi itu. Dia terus saja menzoom foto-foto yang ada wajah Arka.


"Dilihat dari sisi manapun kau tetap saja tampan." Ucap Jenny.


"Oh terima kasih. Tumben sekali kau memujiku. Ada angin apaan nih," tukas Miko, dia mengira Jenny memujinya.


"Dih, apaan sih. Aku tidak memujimu." Ucap Jenny sewot.


Miko pun penasaran sampai merebut ponsel Jenny. Kebetulan saat ini mereka sedang berhenti karena lampu merah.


"Oh ternyata kau sedang melihat foto oppa kyut." Ucap Miko seraya tersenyum getir. Lalu mengembalikan ponsel Jenny.


Jenny memicingkan matanya pada Miko setelah menerima kembali handphonenya. Tapi beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah lagi menjadi semringah.


"Oh iya nanya dong, kak Arka itu punya pacar nggak? Kau kan dekat dengan dia bagaikan pranko. Pasti tahu dong." Ucap Jenny merasa penasaran.


"Hmm, setauku sih dia jomblo." Ucap Miko.


"Bagus deh, kan memang jodohnya itu aku." Ucap Jenny dengan percaya diri.


"Ahaha." Miko tertawa renyah. "Yakin dia jodohmu? Bukannya kau berjodoh dengan Felix. Nangkep bunga aja sampai barengan." Miko meledek Jenny dengan mengungkit kejadian di pesta pernikahan kemarin.


Hal itu menimbulkan perdebatan sengit antara mereka. Jenny sangat tidak suka jika di jodoh-jodohkan dengan bodyguardnya. Bagaimana mungkin dia berjodoh dengan orang yang dianggapnya sangat menyebalkan. Membayangkannya saja pun tidak pernah.


Danish dan Alika sama sekali tidak terusik dengan kebisingan yang di sebabkan oleh kedua adiknya. Mereka berdua tetap tertidur pulas. Karena memang semalam mereka tidak beristirahat dengan cukup. Mereka baru selesai berolahraga malam sekitar jam dua dini hari. Di tambah saat mandi pagi tadi mereka kembali melakukannya juga. Tenaga mereka benar-benar terkuras habis.

__ADS_1


__ADS_2