
Hujan lebat mengguyur. Gemelegar guntur bergemuruh mengiringi derasnya air hujan. Danish berdiri di tengah-tengah jalan sembari menatap ke langit. Hatinya hancur, otaknya pun tidak lagi bisa berfikir jernih.
Jalanan di sana sepi. Danish turun ke jalan setelah mobilnya menabrak trotoar. Jalanan yang licin membuatnya hilang kendali. Beruntung dia tidak terluka.
Perkataan yang di lontarkan oleh Alika membuatnya sakit hati. Niatnya hanya ingin mengungkap keburukan Alvino. Karena dia merasa tidak tega Alika terus saja di sakiti oleh suaminya.
Danish sampai terjatuh lemas di sana. Sangat berat menerima semua kenyataan ini. Dia merasa salah telah berharap pada wanita yang salah. Dia pikir Alika akan membalas cintanya. Setidaknya jika pun di tolak, Alika tidak perlu sampai mengatainya semenyakitkan itu.
Tak lama kemudian ada satu mobil melewati jalanan dimana Danish berada. Mobil itu nyaris menabrak Danish yang terduduk di tengah jalan. Karena hujan sangat lebat membuat Danish tidak terlihat. Beruntung pengendara mobil itu mengerem tepat waktu.
Sangat kebetulan, orang yang hampir menabrak Danish adalah Isabel. Mantan kekasih Danish ini langsung mengambil payung dan turun dari mobilnya.
"Danish sedang apa kau di sini?" Tanya Isabel, tapi tidak mendapatkan jawaban apapun dari Danish.
"Ayo berdiri, ini di tengah jalan bahaya." Ucap Isabel sembari membantu Danish untuk berdiri.
Saat sudah berdiri berhadapan, Isabel membagi payungnya dengan Danish. Dia juga mengusap wajah Danish yang basah karena air hujan. Keadaan Danish sudah basah kuyup.
"Kau itu kenapa sih, kenapa sampai duduk di tengah jalan dan hujan-hujanan begini?" Tanya Isabel lagi seraya mengusap wajah Danish.
Isabel lagi-lagi tidak mendapatkan jawaban. Namun dia cukup senang karena dengan tiba-tiba Danish ambruk dalam pelukannya. Pria yang tidak pernah mau di sentuh oleh Isabel selama ini malah datang sendiri kepelukannya. Namun yang membuat Isabel bingung adalah menangisnya Danish. Selama kenal dan dekat hingga jauh lagi, ini pertama kalinya Isabel melihat Danish menangis.
"Isabel katakan padaku apakah aku tidak pantas di cintai. Apakah aku pria yang buruk sehingga tidak pantas di pilih dan tidak pantas menyukai seseorang." Ucap Danish masih dalam pelukan Isabel.
__ADS_1
Isabel langsung paham apa yang sedang terjadi pada Danish. Ini pasti ada hubungannya dengan Alika. Tentu saja Isabel tidak akan menyiakan kesempatan ini. Isabel langsung membalas pelukan Danish.
"Kau pantas mencintai dan dicintai Danish. Sudah, sudah jangan menangis. Kita pulang sekarang. Kau sudah basah kuyup begini. " Ucap Isabel
Mereka mengurai pelukan dan mulai berjalan bergandengan menuju mobil Isabel. Kali ini Danish menurut saja, tidak seperti biasanya yang selalu menolak dekat dengan Isabel.
Lima belas menit perjalanan mereka sampai. Hujan sudah reda. Danish melepas sabuk pengaman yang di pakainya dan kemudian beranjak turun dari mobil Isabel.
"Eh Danish tunggu, mobilmu sudah di urus sama bengkel langgananku. Nanti kalau sudah selesai kau akan di hubungi. Aku sudah memberikan nomormu." Ucap Isabel
"Iya, terima kasih Isabel dan hati-hati di jalan." Ucap Danish tanpa ekspresi seraya melangkah keluar mobil Isabel.
Hal yang sangat cukup langka terdengar dari mulut Danish. Tentu saja Isabel senang. Seorang Danish berterimakasih padanya, bahkan juga mengatakan hati-hati di jalan. Isabel pun melajukan mobilnya kembali keluar dari komplek perumahan Danish dengan perasaan senang.
"Oh my God, kak Danish abis kecemplung kali ya? Mobilmu juga dimana? Kok jalan kaki kak, kau di rampok?!" Pertanyaan Jenny ini sungguh melantur kemana-mana. Danish tidak menjawabnya. Dia malah melewati Jenny dan Felix begitu saja.
"Apa yang terjadi padanya? Wajahnya kusut sekali." Gumam Jenny
"Saya juga tidak tahu Nona." Jawab Felix, dikiranya Jenny bertanya padanya.
"Aku tidak bertanya padamu. Sudahlah pulanglah sana atau kemanapun terserah. Aku tidak keluar kemana-mana hari ini." Ucap Jenny dengan nada ketus seperti biasanya. Dia masuk kedalam meninggalkan Felix dan menyusul Danish.
Jenny mengejar kakaknya yang sudah menghilang di balik pintu kamar yang tertutup rapat. Jenny berusaha mengetuk pintu dengan keras berkali-kali. Dia merasa yakin jika kakak kandungnya itu sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Kak kau baik-baik saja kan? Jika ada masalah ceritakan saja padaku jangan kau pendam sendiri." Teriak Jenny dari luar pintu kamar Danish.
"Aku tidak apa-apa, pergilah. Jangan menggangguku." Balas Danish yang kemudian hening tak bersuara.
Namun dasarnya Jenny yang tidak bisa diam jika belum tahu dengan jelas, dia akan mencari tahu sendiri. Dia menebak jika ini ada hubungannya dengan Alika. Karena dia tahu tadi pagi Danish mengatakan akan pergi ke rumah baru Alika.
"Aku akan menelefon mbak Alika." Ucap Jenny.
Panggilan telefonnya pada Alika langsung terjawab. Namun sesuatu membuatnya kaget. Alika terdengar begitu ketus padanya.
"Kalau hanya untuk membicarakan Danish, semua sudah jelas. Aku tidak akan mau menerima pria seperti dia. Kamu tidak perlu ikut campur. Beritahu kakakmu untuk melupakanku." tutt .. Sambungan telefon terputus. Padahal Jenny belum berbicara sepatah katapun. Kemudian Jenny mencoba menghubungi kembali, namun tidak bisa. Karena nomornya sudah di blokir oleh Alika. Dia cukup terkejut dengan perubahan sikap Alika yang begitu drastis. Jenny benar-benar tidak habis berfikir dan malah menjadi kesal pada Alika.
*
*
Di rumahnya, Alika tengah bersandar pada dinding. Perlahan badannya terjatuh ke lantai. Dia menangis dan hatinya juga terasa teriris. Terbayang lagi ketika tadi dia memaki Danish dengan menjelekkannya. Dia juga telah berbicara ketus pada Jenny yang selama ini baik padanya. Namun ini semua bukan tanpa alasan. Alika harus membuat Danish membencinya. Dengan begitu Danish dan keluarganya tidak akan lagi terkena imbas atas masalah rumah tangganya.
Sebenarnya Alika percaya dengan apa yang dikatakan oleh Danish tentang Alvino yang berselingkuh. Karena semalam dia juga mencium bau parfum yang tak asing, yang ternyata setelah diingat itu adalah milik Violla. Namun dia seolah membela Alvino agar Danish tidak lagi di celakai oleh Alvino.
Alika tidak ingin pria sebaik Danish menjadi kambing hitam atas masalah rumah tangganya. Alika juga telah berbohong tentang perasaannya. Sesungguhnya dia sudah jatuh cinta pada Danish. Tapi mustahil untuk mereka bersama. Dia membenarkan apa yang dikatakan Isabel. Tentang dia yang menjadi pembawa masalah saat berada di dekat Danish.
"Maafkan aku mas Danish. Aku terpaksa seperti ini. Aku tidak mau kamu menjadi kambing hitam lagi. Dan sepahit apapun kehidupan rumah tanggaku, aku akan menghadapinya sendiri." Ucap Alika
__ADS_1