
Malam ini Danish tidak dapat tertidur dengan tenang. Pikirannya terus tertuju pada Alika. Ia membeli nomor baru untuk menghubungi Alika. Namun sayangnya itu sudah tidak aktif. Sepertinya Alika mengganti nomor telefonnya. Danish juga sudah menghubungi Arka, barangkali sahabatnya itu tahu tentang Alika. Namun Arka tidak tahu keberadaannya.
Danish meminta tolong Arka untuk menghubungi keluarga Alika di Bandung. Karena sudah larut malam, Arka baru bisa menghubungi Bibi Halimah besok. Arka berjanji jika sudah mendapatkan kabar, pasti akan langsung memberitahu Danish.
"Dimanapun kau berada aku berharap kau baik-baik saja." Danish mendoakan Alika.
Sesuatu hal kini menganggu pikiran Danish. Saat sudah bertemu dengan Alika nanti, apa yang harus dia lakukan?
Tidak bisa di pungkiri rasa cinta untuk Alika masih ada. Namun kini dirinya sudah terikat pertunangan dengan Isabel. Bahkan hari pernikahannya sudah di depan mata.
Sesudah bertemu nanti pastinya dia tidak akan bisa mengontrol perasaannya. Dia jadi menyesal sendiri karena terlalu terburu-buru menjalin hubungan dengan Isabel. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Tidak mungkin dia batalkan sepihak karena alasan ingin kembali memperjuangkan Alika.
Hal seperti itu malah akan membahayakan Alika. Isabel tentunya tidak akan terima dan akan berbuat sesuatu yang jahat pada Alika.
Danish merenungi itu cukup lama. Pada akhirnya dia berpasrah saja dengan apa yang memang menjadi takdirnya. Jika tidak bisa bersama dengan Alika, setidaknya mereka bisa berhubungan baik sebagai teman.
Cripp .. Cripp
Suara kicauan burung terdengar indah di pagi ini. Gorden yang tidak tertutup sempurna membuat kaca memantulkan cahaya matahari tepat di wajah Danish.
Hal itu membuat pria tampan yang baru tertidur setelah subuh itu silau. Matanya terbuka sedikit, kemudian dia bergeser posisi menghindari silauan cahaya matahari.
Danish berniat melanjutkan tidurnya. Karena jika di hitung dia baru tidur sekitar satu jam. Dia masih sangat mengantuk.
Namun keinginannya untuk kembali tidur itu harus tertunda. Jenny menyelonong masuk ke dalam kamarnya.
"Oh astaga. Sudah hampir setengah tujuh tapi dia belum bangun." Gerutu Jenny. "Kak Danish bangun."
Jenny terus berteriak sampai akhirnya Danish terbangun dengan kesal.
__ADS_1
"Ada apa sih? Bukankah katamu kau sudah tidak memiliki kakak, pergi sana jangan menggangguku!" Ucap Danish yang kemudian kembali berbaring memeluk guling dengan erat.
Jenny bergeming, memang kemarin-kemarin dia marah pada kakaknya karena terus membela Isabel.
"Sorry, tapi mulai hari ini kau kakakku lagi." Ucap Jenny
"Ya ya terserah kau saja. Keluar dari kamarku Jenny. Aku tidak tidur semalaman." Ucap Danish dengan suara lesunya.
"Yes, I know brother, kau tidak bisa tidur karena memikirkan mbak Alika. Dan aku kemari karena aku tahu dimana keberadaan mbak Alika." Ucap Jenny dengan lantang. Jenny mengetahui Danish tidak bisa tidur dari Arka. Dan sangat kebetulan dia tahu informasi dimana Alika berada sekarang.
Seketika itu Danish langsung loncat dari kasurnya. Dia sampai jatuh tersungkur tepat di kaki Jenny.
"Oh astaga, kau tidak perlu sampai sujud di kakiku kak. Dengan senang hati aku akan memberitahumu." Ucap Jenny menanggapi kekonyolan yang di lakukan kakaknya.
"Aku tidak sedang bersujud padamu tapi aku terjatuh. Sudahlah katakan dimana Alika?" Danish tidak sabar ingin mengetahui keberadaan Alika.
Jenny baru mengetahui itu kemarin malam. Sepulang dari acara pertunangan Danish, dia menemui temannya di dekat kampus untuk memberikan flashdisk. Saat itulah dia melihat Alika. Dia mengikuti sampai akhirnya Alika masuk ke dalam area rumah susun. Alika terlihat memakai seragam kenz pizza. Jadi bisa di simpulkan wanita itu bekerja di sana.
"Jika selama ini kau tahu kenapa baru memberitahuku sekarang?" Danish marah pada Jenny.
"Aku baru bertemu mbak Alika itu semalam. Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya. Lagipula kau kan sudah sibuk dengan nenek sihir itu." Ucap Jenny dengan menekankan kata nenek sihir.
Bukannya cepat mandi dan bersiap, Danish malah terlihat salah tingkah. Bingung apa yang harus dia lakukan. Jenny yang kesal mendorongnya ke dalam kamar mandi. Tapi kemudian Danish keluar lagi.
"Ck, kau kenapa sih kak? Cepat mandi dan temui mbak Alika." Jenny kesal sendiri melihat kakaknya yang menjadi seperti orang linglung.
"Aku hanya bingung saja, ketika sudah bertemu nanti, apa yang harus aku katakan padanya?"
Jenny benar-benar geregetan mengahadapi kakaknya yang tiba-tiba menjadi bodoh. Pengalamannya dalam mendekati wanita itu sudah kelas kakap. Bahkan dia berpredikat sebagai playboy paling susah di lupakan oleh wanita yang di campakkannya. Nah saat sudah menemukan cintanya dia malah bingung harus apa.
__ADS_1
"Ya tanya kabar atau langsung nyatakan cinta juga tidak apa-apa. Aku dengar dari kak Arka mbak Alika sudah janda. Jadi aku mendukungmu penuh kak." Ucap Jenny penuh ekspresi. Dia lebih senang jika kakaknya menjalin hubungan lagi dengan Alika. Daripada harus punya kakak ipar seperti Isabel yang angkuh.
🌺🌺
🌺🌺
Dan disinilah Danish berada sekarang. Di depan sebuah restoran bernama Kenz Pizza. Dari luar dia melihat wanita pujaan hatinya tengah sibuk membersihkan tempat kerjanya.
Di pintu masih tertulis Close, tandanya restoran tersebut masih melakukan prepare pagi sebelum buka.
Namun sekedar papan tulisan Close bisa menghalangi langkah Danish memasuki restoran itu. Tujuannya kesana bukan untuk membeli pizza, tapi menghampiri pujaan hatinya.
"Selamat datang di Kenz Pizza. Mohon maaf kita belum rea.." Alika berniat memberitahu calon pelanggannya jika restoran belum ready dan akan di buka tiga puluh menit lagi. Namun ucapannya terhenti saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.
Klontang ...
Botol spray pembersih meja yang di bawanya pun seketika terjatuh. Menggelinding dan berhenti tepat di kaki Danish.
Danish mengambilnya, kemudian dia melangkah maju mendekati Alika. Benar saja, Danish tidak bisa mengontrol perasaanya. Terutama rasa rindunya. Danish langsung menarik Alika ke dalam pelukannya.
"Mas Danish lepaskan saya." Ucap Alika pelan.
"Tidak Al, karena aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku?"
Tidak menjawab pertanyaan Danish dengan sebuah kata-kata, Alika memberi jawaban dengan pelukan eratnya. Danish tersenyum bahagia karena itu artinya Alika juga merindukannya.
Danish langsung mendaratkan ciuman pada bibir Alika. Ciuman lembut penuh cinta. Alika pun membalas ciuman itu. Mereka sama-sama sedang melampiaskan kerinduan yang selama ini mereka pendam.
Cukup lama bibir mereka saling berpagutan. Mereka seakan lupa sedang berada di restoran, bukan kamar pribadi yang bisa bebas di gunakan untuk bermesraan. Sesaat Danish melepas ciumannya, dia melihat sekeliling. Masih sepi dan tak ada orang lain selain dirinya dan Alika. Sekali lagi dia mencium bibir Alika yang sudah menjadi candunya sejak lama.
__ADS_1