
Cahaya terang dari sebuah laptop menyinari sudut kamar yang gelap. Di kamarnya yang gelap itu Isabel mengetikan jarinya ke keyboard laptop dengan kecepatan penuh. Wanita itu tengah menulis sebuah artikel atas bentuk kekecewaannya. Saat ini dia akan menjalankan rencana baru sebagai ganti karena gagal menikah dengan Danish.
Di pencetnya tombol enter dan artikel yang di buatnya itu berhasil publish di laman internet. Terlihat sekali wajah kesenangannya setelah berhasil menerbitkan artikel yang akan mencoreng keluarga Danish.
Isabel membuat dua artikel yang akan menggemparkan publik. Pertama artikel yang berisi tentang Bima Argantara yang mencampakkan istri juga anaknya demi wanita lain. Kedua dia membuat Artikel mengenai Danish bukan anak kandung Bima Argantara. Vella Mariska hamil dengan orang lain saat itu.
Di malam hari artikel itu terbit, pagi harinya artikel itu menjadi trending topik. Wartawan dengan cepat berkumpul di depan kediaman Bima Argantara. Tentu saja mereka ingin tahu penjelasan langsung dari pihak terkait.
Jenny yang pertama mengetahui berita itu langsung berlari ke kamar Danish. Dia menggedor dengan keras pintu kamar kakaknya itu.
"Kak Danish, buka!" Teriak Jenny
"Issh,, kau ini selalu saja tidak ada sopan-sopannya padaku. Pasti kau mau minta uang kan?" Terka Danish dengan ekspresi jengah.
"Bukan, kau belum baca berita terbaru yang sedang trending. Ini lihat!" Jenny menunjukkan layar ponselnya pada Danish.
"Siapa yang menuliskan berita tidak berbobot ini? Ini sama sekali tidak benar." Ucap Danish mulai murka.
Kemudian terdengar suara hentakan kaki yang menaiki tangga. Suara itu di hasilkan oleh Felix yang sedikit berlari. Dia ingin memberitahukan sesuatu yang terjadi di luar.
"Pak Danish, Nona Jenny, diluar banyak wartawan berkumpul." Ucap Felix
"Ini pasti karena berita sialan ini kak." Ucap Jenny.
Mereka semua bergegas turun untuk melihat keadaan di luar sana. Papa Bima yang baru saja keluar dari kamar, penasaran dengan apa yang di lakukan anak-anaknya.
"Kalian sedang mengintip apa?" Tanya Papa Bima. "Itu kok kaya ada suara ramai di luar," Imbuhnya setelah mendengar kebisingan seperti suara orang demo.
Danish langsung mendekati papanya guna mencari solusi untuk penyelesaian masalah ini. Danish menuntun papanya untuk duduk dahulu.
"Ada apa ini Danish, apa ada masalah serius?" Tanya Papa Bima merasa bingung.
"Iya pah, ada seseorang yang menyebarkan berita hoax tentang keluarga kita. Lihat ini pah," Jawab Danish sembari memperlihatkan isi berita di ponselnya.
__ADS_1
"Ini sama sekali tidak benar. Biar papa temui wartawan di luar itu, papa akan menjelaskan semuanya." Ucap Papa Bima seraya bergegas keluar diikuti oleh semuanya.
Para wartawan semakin riuh melihat target yang mereka cari akhirnya mendatangi mereka. Bukan hanya wartawan, para tetangga juga jadi heboh ingin tahu. Kemungkinan mereka juga sudah membaca artikel itu.
Langsung banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan oleh para wartawan di sana.
"Semua itu tidak benar." Bima hanya menjawab singkat seluruh pertanyaan para wartawan.
Sudah di jawab seperti itu, para wartawan tetap tidak puas. Mereka malah semakin brutal bertanya-tanya. Danish pun menyuruh Jenny membawa papanya masuk.
"Sudah ya, papa saya bilang tidak benar. Itu jawabannya. Kalian ini jangan mudah termakan berita hoax." Ucap Danish merasa kesal. "Felix urus mereka semua." Perintah Danish pada Felix. Kemudian Danish menyusul papanya masuk ke dalam.
**
Bukan selesai, malah muncul skandal-skandal lain yang mencoreng nama baik keluarga Bima Argantara. Hal itu berdampak pada perusahaannya. Tiba-tiba ada pendemo mendatangi perusahaan menuntut keadilan untuk anak kandung Bima Argantara yang di telantarkan. Tentu saja ini ulah dari Isabel di bantu oleh Boby yang memang ingin menjatuhkan Bima.
Sejak awal tujuan Boby mau di ajak kerja sama oleh Isabel adalah untuk menghancurkan perusahaan Argantara. Karena dia merasa dendam pernah kalah tender dari Bima.
Danish meminta Miko untuk mencari siapa penerbit artikel itu. Dia juga meminta Miko agar segera memusnahkan berita-berita Hoax itu.
"Iya Danish, kita harus bertindak agar mereka tidak terus-terusan beropini yang tidak-tidak." Ujar papa Bima.
Danish dan papanya sibuk menangani masalah itu, sementara Jenny menunggu mamanya di rumah sakit. Kali ini Felix tak ada di dekatnya, karena dia sedang membantu menangani wartawan yang semakin brutal di depan perusahaan. Tentu saja dia tidak sendiri, banyak anak buah Danish lainnya juga para satpam yang bekerja di perusahaan itu.
Mama Vella merasa cemas dengan adanya masalah ini. Dia takut tekanan darah suaminya akan naik karena menangani masalah ini.
"Jenny mama takut tekanan darah papa naik lagi, apalagi papa kan baru saja pulih." Ucap mama Vella.
"Tenang saja mah, itu tidak akan terjadi. Ada kak Danish juga di sana." Ucap Jenny menenangkan mamanya.
Kemudian seorang suster masuk meminta Jenny untuk mengambil obat untuk mamanya.
"Ini resep obat Bu Vella. Bisa di ambil sekarang ya." Ucap Suster.
__ADS_1
"Baik terima kasih sus." Balas Jenny seraya menerima resep itu.
"Mah aku tinggal sebentar ya," Pamit Jenny pada mamanya. Mama Vella mengangguk mengiyakan.
Beberapa menit kemudian setelah Jenny meninggalkan mamanya sendirian. Ada perawat yang masuk ke kamar mama Vella. Perawat itu terlihat mencurigakan. Dia memakai masker dan kacamata gelap.
Sementara itu di luar rumah sakit Danish datang bersama Alika. Akhirnya masalah artikel-artikel hoax itu berhasil di bereskan. Memang kemarin mereka sudah janjian akan pergi bersama untuk menjenguk mama Vella. Hanya saja jamnya di undur karena Danish membereskan masalahnya dulu.
Saat sudah hampir sampai ke kamar mama Vella, Danish menyadari jika handphonenya tertinggal di mobil.
"Alika kau masuk dulu saja, itu kamar mama. Sepertinya handphoneku tertinggal di mobil." Ucap Danish,
"Iya mas." Balas Alika seraya mengangguk. Mereka pun berpisah di sana.
Saat sudah di depan pintu, Alika melihat keadaan di dalam sana. Terlihat mama Vella sedang dorong-dorongan dengan seorang perawat. Masker yang di kenakan perawat itu sudah terlepas, membuat Alika melihat dengan jelas wajahnya. Ternyata itu Isabel.
Dengan cepat Alika ingin masuk ke dalam menolong Ibu dari kekasihnya itu. Namun sayang pintu terkunci dari dalam.
"Mbak Isabel pasti akan berbuat jahat. Aku harus bertindak." Ucap Alika, dia akan terlambat jika harus mencari pertolongan orang. Apalagi harus menghampiri Danish.
"Tak ada siapapun di sini. Yang harus kulakukan adalah mendobrak pintu ini."
Alika mengambil ancang-ancang kemudian dia menghitung mundur dan...
Brakk
Dalam sekali dorongan sekuat tenaga Alika berhasil membuat pintu itu terbuka. Dia tidak peduli dengan rasa sakit di tubuhnya akibat membentur benda keras itu. Dia langsung mendorong Isabel agar menjauh dari Mama Vella.
"Kau! Oh kau datang ingin menjadi pahlawan. Kalau begitu kau juga akan aku kirim ke alam baka." Ujar Isabel seraya tersenyum menyeringai. Dia bangkit kembali dan langsung ingin menyerang Alika.
Alika tidak tinggal diam, dia melawan Isabel dengan terus menepis tangannya. Suntikan yang Isabel bawa sampai terjatuh. Amarah Isabel tersulut hingga ingin mencekik leher Alika.
"Istigfar mbak, sadar jangan lakukan kejahatan seperti ini." Ucap Alika mencoba menyadarkan Isabel. Namun itu tidak berhasil. Isabel semakin beringas ingin mencekiknya. Alika pun mengutamakan keselamatan Vella.
__ADS_1
"Tante pergilah, selamatkan diri tante." Ucap Alika, karena dia merasa sudah tidak dapat melawan Isabel.
Vella mencabut infusnya dengan paksa dan berlari sekuat tenaga. Namun belum sempat bertemu orang atau perawat Vella pingsan.