Penawar Rasa

Penawar Rasa
PROLOG


__ADS_3

Mentari sudah akan kembali ke peraduannya. Terlihat di serambi sebuah masjid anak-anak taman pendidikan al-quran sedang merapikan peralatan mengajinya. Karena setelah berdoa mereka akan kembali ke rumah orang tuanya masing-masing.


Terlihat seorang anak perempuan dengan gamis hijau tosca berkerudung syar'i tengah mengantri untuk berjabat tangan dengan para ustadzah yang telah berbaris rapi untuk mengantarkan para santrinya kembali kerumah masing-masing.


"Kenapa kamu tidak pulang ?" Tanya anak perempuan yang penasaran dengan seorang anak laki-laki yang terlihat menulis sesuatu diatas potongan kertas. Setelah acara jabat tangan pada para Ustadzah selesai.


"aku masih ada pekerjaan, jadi aku belum boleh pulang." Jawab seorang anak laki-laki yang masih fokus dengan pekerjaannya yang sesekali meneliti pada garis yang telah dibuatnya agar terlihat sempurna.


"Apa yang kamu buat ? kenapa kamu membuat kartu seperti punya ustadzah ?" tanyanya yang semakin penasaran dengan perbuatan anak laki-laki itu.


"Sttt...Kau tau dengan membuat kartu sendiri, maka uang saku kita tidak akan berkurang, apa kau mau kartu yang seperti ini ? kalau kau mau aku bisa membuatkannya untukmu." Bisik anak laki-laki itu menjelaskan pada anak perempuan yang terlihat penasaran disampingnya.

__ADS_1


"Anaa... ayo cepat" teriak seorang ibu dari luar halaman masjid memanggil anak perempuan itu.


"iya bunda... aku pulang duluan ya kak Aryan. Assalamualaikum..." Pamitnya lalu segera berlari menuju bundanya.


"Waalaikumsalam Ana." Jawab anak laki-laki itu menatap kepergian anak perempuan itu dengan menyunggingkan senyumnya sehingga memperlihatkan lesung pipi yang kian menambah manis senyumnya.


"Aryan kenapa kamu belum pulang ?" tanya ustadz Reyhan salah satu pengajar di taman pendidikan al-quran tersebut yang tiba-tiba telah berada disampingnya.


"Ya sudah ayo pulang, kalo terlambat pulangnya nanti kena marah mama lo" tutur ustadz Reyhan sembari meraih tangan Aryan memboncengnya untuk pulang bersama.


Aryan pun segera membawa alat tulisnya dan menggapai tangan ustadz Reyhan untuk pulang bersama-sama karena sudah tidak ada santri lagi disana.

__ADS_1


*****


Tentang sebuah perjalan antara dua persimpangan, tentang langkah yang harus memilih, tentang hati yang harus meninggalkan. Akan kah cinta yang terpilih atau mungkin cita-citalah yang akan menjadi jalan yang harus di tempuh ?


Berawal dari mimpi yang harus diraih, yang membutuhkan waktu, tenaga, pikiran untuk menempuh jalan yang panjang dan penuh rintangan. Disitulah hadir sebuah cinta sebagai pelengkap perjalanan atau mungkin sebagai rintangan yang harus ditempuh oleh pengejar mimpi.


Bukan berbicara tentang kecerdasan, kekayaan, dan juga jabatan. Tetapi, tentang sebuah kesabaran dan semangat dari seorang wanita tangguh, dan pantang menyerah. Penghianatan yang mendominasi langkahnya, kekecewaan yang hampir membuatnya patah, kesabaran yang terus menguji jiwanya, dan juga kebohongan yang hampir tiap hari menjadi santapannya.


Bukan kebodohan yang ditunjukkan, hanya saja kepercayaan pada Allah yang selalu dia pegang disetiap nafasnya, senyumnya, serta langkahnya. Karena dia tau bahwa Allah akan melapangkan jalan bagi mereka yang bersabar, bagi mereka yang ikhlas, dan bagi mereka yang selalu memberikan pertolongan pada yang membutuhkan.


Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Rangkaian kalimat menjadi alinea, mempertemukan pada sebuah cerita yang menyimpan berbagai makna.

__ADS_1


__ADS_2