
Udara sejuk dipagi hari, menjadi ciri khas bagi setiap daerah perbukitan. Rintik hujan dengan semilir angin menambah hawa dingin pagi ini. Mengurung para manusia agar menunda aktivitas pagi ini dan sejenak merasakan kehadirannya yang diutus Tuhannya untuk menyirami sebagian bumi ini.
Sama seperti yang lainnya, gadis dengan seragam putih abu-abu yang berdiri dibalik jendela kaca itupun juga harus merelakan aktivitas pagi ini sedikit tertunda dengan hadirnya rahmat Allah pagi ini.
Berulang kali dia menghela nafas berat, karena menunggu hujan tak kunjung reda."Huh... Pasti akan telat lagi hari ini." Ucapnya sembari mengusap kedua lengannya karna udara yang semakin dingin.
Dia pun beranjak dari tempatnya berdiri dan segera menyambar jaket yang berada dilemari pakaiannya dan bersiap akan berangkat ke sekolah karena sepertinya hujan sudah reda dan hanya menyisakan rintik gerimis yang tidak terlalu deras. Tak berpikir panjang lagi, gadis itu segera keluar kamar dan menuju garasi rumahnya untuk mengambil motor kesayangannya.
"Bundaa... Ana berangkat ya, Assalamualaikum" Pamitnya pada Ida sebelum melajukan motor kesayangannya meninggalkan rumahnya menuju sekolah.
"Waalaikumsalam... Iyaa... hati-hati" Teriak Ida menjawab salam putri semata wayangnya dari arah dapur.
*****
SMA Nusa Bangsa
Estrella Oxana, gadis 17 tahun yang tengah duduk di bangku kelas 11 IPA 2. Sesuai nama yang dia sandang, dia seorang gadis yang ramah, cerdas, care dengan orang-orang terdekatnya, dan suka menolong mereka yang butuh pertolongan. Yaah... Walaupun sedikit pecicilan, tapi tak akan mengurangi sedikitpun kecantikan yang terpancar dalam dirinya.
Setelah memarkirkan motor kesayangannya di tempat parkir, Ana pun segera berlari menuju kelasnya yang berada di lantai 2 gedung sekolah ini. Karena bel sepertinya telah berbunyi beberapa menit yang lalu dan juga sudah tidak ada siswa yang berada diluar ruangan lagi.
Namun, ketika akan sampai dikelasnya dia melihat seseorang yang sangat dia kenali sebagai guru fisika tengah berjalan menuju kelasnya."Haduuh.. mampus gue, kalau cucu Albert Einsten tu liat gue." gerutunya sembari menepuk jidatnya sendiri dengan pelan
Akhirnya diapun berjalan dengan sangat pelan dibelakang sang guru yang lebih dikenal dengan sebutan pak bonar. karena kepala botaknya yang selalu bersinar ketika berada dibawah terik matahari. sehingga para siswanya selalu menjulukinya demikian. Beruntung hari ini dia mendapat tempat duduk dibagian tengah, sehingga pak Bonar tidak menyadari bahwa ada siswanya yang terlambat hari ini.
__ADS_1
"Untung aja, tu pak Bonar kagak liat gue" ucapnya setelah berhasil mendaratkan bokongnya di kursinya.
"Kenapa lo telat lagi ?" tanya Jessica sahabatnya yang sudah duduk di sampingnya.
"Yaa... Biasalah, kayak kagak ngerti aja lo" Ocehnya menanggapi pertanyaan Jessica yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Ica.
"Emang dasar lebay lu... Tingkah aja pecicilan, kena ujan dikit ka o" cibir Ica yang masih tidak mengerti dengan ocehan Ana.
"Ya gimana yaa... daripada kena omelan, ya mending nurut ajalah " Tuturnya sembari geleng-geleng kepala jika mengingat betapa cerewetnya Ida ketika Ana sakit.
"Itu kenapa kepala kamu kok geleng-geleng ?" tutur pak Sofwan alias pak Bonar yang melihat Ana sedang geleng-geleng kepala. Hal tersebut langsung mendapat sambutan tawa dari seisi kelas.
"Eh, nggak kok pak. lagian siapa yang geleng-geleng ? orang dari tadi saya diem aja disini" Kilah Ana dengan sejuta alasannya.
90 menitpun berlalu, bel tanda istirahat berbunyi. Pak Sofwan pun mengakhiri pertemuan hari ini. dan mempersilahkan para siswanya untuk menikmati waktu istirahatnya.
Para siswapun beranjak berdiri dari tempat duduknya, dan berbondong-bondong pergi ke kantin untuk membeli sarapan atau hanya sekedar membeli camilan dan nongkrong.
Ana dan Jessica pun tak ketinggalan. Mereka pun segera mengambil posisi duduk di dekat cendela yang mengarah pada halaman sekolah setelah mengantri untuk membeli makanan.
"Hay gaaeess..." Teriak Bina yang melihat kedua sahabatnya sedang asyik menikmati bakso.
"Haduuhh... Berisik banget sih lo," Gerutu Ana dengan tingkah sahabatnya yang super berisik itu.
__ADS_1
"Eh kalian tau nggak ? kelas gue tadi diisi oleh anak Magang dari universitas kotaa... dan yang masuk ke kelas gue tu yang paling ganteeeng, imut, haduh pokoknya gemesin deh." Cerocos Bina dengan begitu antusiasnya setelah berhasil mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Ana.
Albina Dinara salah satu sahabat Ana. Memiliki sifat paling berisik diantara Jessica dan Ana. Anak kelas IPA 1. Biasa dipanggil Bina. Dan yang paling dekat dengan Ana.
"Ah, yang bener lo ? waah... bisa di acengin nih, liatin gue dong cowoknya." Timpal Ica sembari berkedip-kedip genit pada Bina.
"Udah ?" Tanya Ana dengan tatapan tajamnya "berisik tau nggak." Imbuhnya pada kedua sahabatnya itu.
"Iiihh... Ana mah selalu gituu.." Jawab Bina sembari mengerucutkan bibirnya dan membuang muka." OMG... Itu diaa..." Teriaknya kemudian dengan histeris sembari tangannya menunjuk seorang cowok yang berjalan ditengah halaman sekolah.
Seketika Ica langsung menoleh pada arah telunjuk Bina. Diapun juga ternganga dengan keindahan ciptaan Tuhan yang tengah berjalan itu.
"Waahh... Fabiiayyi Alaa Iirabbikuma Tukadzibaan" Respoon Ica sembari otewe kealam khayalannya.
"Subhanallah..." Imbuh Bina dengan wajah berseri-seri sembari menopang pipinya dengan tangan kanan diatas meja.
"Apaan sih ?" Ana pun akhirnya juga penasaran dengan apa yang tengah dilihat oleh kedua sahabatnya itu. Diapun mengalihkan pandangannya dari mangkuk bakso ke arah pandang kedua rekannya itu.
Deg. Seketika Ana pun menjatuhkan sendok yang dia pegang. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga. ketika netra indah itu menangkap sosok yang begitu dia kenali yang telah lama dia rindukan dan dia harapkan kehadirannya kembali.
"Kak Aryan" Gumamnya begitu pelan.
Bersambung...
__ADS_1