Penawar Rasa

Penawar Rasa
06


__ADS_3

"Anaa... Cepat masuk, udah mau magrib nih." Teriak Ida dari teras rumahnya. "Iya bunda." Balas Ana dan segera membuka pintu gerbang itu. Dan berjalan mendekati Ida. "Dari mana aja sih kamu Na ?" tanya Ida penasaran.


Ana menunjukkan sepatu olahraga yang dikenakannya pada Ida. "Ana baru aja jalan-jalan bundaa." Jawab setelah sampai di samping Ida.


"Ada yang pindahan ke rumah pak Agung bun ?" tanya Ana pada Ida setelah mencium tangan Ida. "Sepertinya kerabatnya pak Agung yang dari kota". Ana hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Ana kekamar dulu ya bun, mau mandi dah lengket banget nih." Pamit Ana dan segera pergi menuju kekamarnya.


*****


Tok tok tok


Suara ketukan dari pintu utama rumah Ana. Ana yang baru menuruni tangga langsung berjalan menuju ke pintu.


Ceklek


Terlihat seorang laki-laki tengah berdiri membelakangi pintu. "Cari siapa ya ?" tanya Ana tanpa basa-basi setelah pintu berhasil terbuka.


"Haii..." Lelaki itu berbalik dan melambaikan tangan kanannya untuk menyapa Ana. Sedetik kemudian Ana bisa mengenali siapa pemilik senyum itu. "Dimas ? ngapain kamu malam-malam kesini ?" Tanya Ana penasaran dengan apa yang dilakukan Dimas.


Dimas mengangkat beberapa nasi kotak yang sedari tadi dibawanya. "Lo nggak mau mempersilahkan tamu lo masuk Na ?" Tanya Dimas.


"Nggak. Jawab dulu pertanyaan gue !" Jawab Ana ketus. "Ih jahatnya." Dimas sudah memasang wajah memelasnya.


"Siapa sayang ? kok nggak disuruh masuk ?" Suara Fariz dari dalam rumah memutus percakapan mereka. "Iya Ayah, ini ada Dim-" belum sempat Ana melanjutkan kalimatnya, tapi Dimas sudah menerobos masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan Ana.


"Assalamaualaikum om..." Dimas mengucapkan salam setelah sampai didekat Fariz dan segera meraih tangan Fariz untuk diciumnya. "Waalaikumsalam, tumben malam-malam kesini Dim ?" tanya Fariz penasaran.


"Iya om, ini ada amanah dari mama syukuran kecil-kecilan karena hari ini kami pindahan kerumah sebelah." Terang Dimas sambil nyerahin nasi kotak ke pada Fariz dan langsung diterimanya.


"Jadi yang pindahan itu keluarga lo ?" Tanya Ana memastikan pendengarannya. "Anaa..." Tegur Fariz. "Maksud ku keluarga kamu ?" Ralat Ana atas ucapannya.


"Haduuh... Makin ribet nih urusannya." Gumam Ana dalam hati.


"Oh... Ada tamu ?" Suara Ida yang baru keluar dari ruang tengah.


"Selamat malam tante." Sapa Dimas dan segera meraih tangan Ida lalu menciumnya.


"Malam..." Ida menjawab sapaan Dimas dengan ramah. "Tumben malam-malam kesini ?" tanya Ida pada Dimas setelah duduk disamping suaminya.

__ADS_1


"Ini lo ma, ternyata yang pindahan kerumahnya pak Agung itu keluarganya nak Dimas." Fariz menjelaskan maksud kedatangan Dimas. "Dan dia nganterin ini sebagai syukuran katanya..." Imbuh Fariz sambil menunjuk beberapa kardus nasi kotak yang ada diatas meja.


"Ana, ambilin minum gih buat Dimas..." Perintah Ida pada Ana tengah sibuk dengan ponselnya.


"Nggak perlu repot-repot tante, Dimas juga mau pamit, kasian mama dirumah sendiri." Jawab Dimas yang lekas berdiri dari duduknya.


"Sering-sering main kesini, biar Ana ada temannya"


"Bunda, ih apaan sih ?" protes Ana dengan kalimat Ida yang hanya mendapat balasan senyuman dari Ida.


"Iya om, tante. Kalau gitu Dimas pamit dulu..." Pamit Dimas. "Aku pulang dulu ya Na ?"


"Iyaa, sono kalo bisa nggak usah balik lagi..." Jawab Ana santai dan langsung mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya.


"Nggak apa, udah biasa kok tante." Balas Dimas dengan senyum tulusnya. "Assalamualaikum" pamitnya dan segera meninggalkan rumah Ana.


"Waalaikumsalam." Jawab Fariz dan Ida kompak.


*****


Aryan dan Dito sampai dikos barunya sekitar pukul tujuh malam. Mereka memilih sebuah rumah lantai satu yang memang disewakan sebagai kontrakan atau kos anak yang menjalani KKN atau semacamnya. Jarak rumah ini dengan SMA Nusa Bangsa terbilang cukup dekat, karena hanya berjarak sekitar 5 km.


"Lumayan juga nih rumah" Celutuk Dito setelah turun dari mobil Aryan.


"Ayo masuk !" ajak Aryan kepada Dito yang tengah berdiri disampingnya.


"Gue pake kamar ini" Tanpa menunggu persetujuan dari Dito, Ia langsung membuka pintu kamar yang paling dekat dengan ruang tamu dan langsung merebahkan diri diatas ranjang.


Dito tak ambil peduli dan langsung menuju kamar disebelah kamar yang ditempati Aryan.


Sementara itu dikamar Aryan, dia tengah memandangi liontin bintang itu sambil rebahan diatas kasurnya. "Kita akan segera bersama Ana" gumamnya hampir tak bersuara.


"Aaarr" Suara Dito sambil menggedor-gedor pintu kamar Aryan. "Gue laper nih, cari makan yuk !"


Ceklek


"Berisik banget sih lo" Sergah Aryan untuk menghentikan suara berisik Dito.


"Ayo dong Ar, laper nih" Ucap Dito memohon dengan wajah yanh dibuat seimut mungkin sambil mengedip-kedipkan mata.

__ADS_1


"Gue nggak mau, udah lo mending bikin mie instan sana, ganggu orang aja." Jawab Aryan dan langsung menutup pintu kamarnya kembali.


Dito kembali ke kamarnya dengan manyun. Akhirnya dia pun memilih untuk cari makan sendiri tanpa mengajak Aryan.


*****


Suara adzan subuh dari musholla samping kos Aryan mampu membangunkannya dari tidurnya. Aryan pun segera beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah melaksanakan sholat subuh, dia melanjutkannya dengan membaca beberapa ayat dari alquran. Sebelum akhirnya dia berganti pakaian kaos olahraga dan celana training karena dia ingin pergi jogging.


"Mau kemana lo ?" Tanya Dito didepan pintu kamarnya dengan muka yang masih kucel dan sesekali menguap.


"Jogging" Aryan yang sibuk memakai sepatunya dia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari sepatu.


"Tungguin gue ikut" Dito langsung lari menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dengan cepat ia melaksanakan sholat subuh dan segera menghampiri Aryan yang tengah menunggu diteras tempat kosnya.


Aryan menunggu Dito sambil melakukan pemanasan, setelah Dito keluar rumah barulah mereka berdua mulai berlari-lari kecil meninggalkan kosnya. Setelah 30 menit berlari membuat Aryan dan Dito merasa kelelahan. Akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar.


"Lo bawa air nggak ?" Tanya Aryan dengan napas tersengal-sengal.


"Nih." Dito menyodorkan air mineral yang lebih dulu dia minum kepada Aryan.


"Ar, gue mau tanya ke lo" Dito menoleh pada Aryan yang tengah sibuk memainkan ponselnya.


"Tanya apa lo ?" Jawab Aryan tanpa menolehkan pandangannya dari layar ponselnya.


"Lo bener nggak suka sama Manda ?" Tanya Dito menyelidik.


"Kalo lo suka ambil aja, gue juga nggak minat." Jawab Aryan santai sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celana trainingnya. "Udah ah, ayo lari lagi" Ajak Aryan dan langsung berdiri bersiap untuk melanjutkan larinya.


"Tapi dia suka sama lo Ar, lo gak kasian sama dia ?" Tanya Dito sambil mengejar Aryan.


Tak ada tanggapan apapun dari mulut Aryan dia hanya fokus pada jalanan yang ada didepannya. Dan terus melanjutkan larinya.


Drrrtt drrrtt drrrtt


Aryan merogoh ponsel yang berada disakunya. Sambil terus berlari ia melihat siapa yang menelpon. Tertera nama "MAMA" dilayar ponselnya. Aryan segera mengangkat telpon dari mamanya. Hingga dia kehilangan fokus pada jalanan.


Brukk

__ADS_1


"Argh." Teriakan seorang perempuan yang tidak sengaja ditabrak oleh Aryan.


Bersambung....


__ADS_2