
"Iya juga ya bun, kenapa harus jauh-jauh ke desa ya magang nya ?" Ana menjadi penasaran, kenapa Aryan tak memilih magang di sekolahnya sendiri yang notabene lebih dekat dengan rumah dan kampusnya.
"Yaa, kali aja kak Aryan ingin suasana baru bun," sambung Ana memikirkan kemungkinan yang mungkin saja terjadi. "Ya udah, Ana kembali ke kamar dulu ya bun, mau mandi." Pamit Ana beranjak dari duduknya hendak meninggalkan ruang makan.
"Kamu nggak makan dulu ?" tanya bundanya sebelum Ana melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan.
"Nanti dulu aja bunda, Ana mau mandi dan ganti baju dulu bunda, badan Ana rasanya udah lengket" Tolak Ana halus. Diapun melanjutkan perjalanannya menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya.
*****
Flashback
Ana berlari menyebrangi jalan didepan rumahnya. Dengan masih menggunakan seragam putih biru, dia segera masuk gerbang rumah lantai dua setelah melihat anak SMA dengan motornya memasuki halaman rumah tersebut.
"Kak Aryan..." Teriaknya memanggil anak laki-laki yang turun dari motornya.
"Eh Ana, ada apa ?" tanya Aryan setelah turun dari motornya.
"Ada yang ingin Ana sampaikan pada kakak," tutur Ana yang berdiri disamping Aryan.
"Ayuk ikut aku." Tanpa persetujuan dari Ana, Aryan langsung menarik pergelangan tangan Ana. Dia mengajak Ana duduk di sebuah bangku di tengah taman belakang rumah Aryan.
"Cepat katakan ada apa !" Desak Aryan agar Ana segera mengatakan maksud kedatangannya.
"Besok adalah hari kelulusan ku-" Ana memulai maksudnya.
"Ya, gue tau itu," potong Aryan cepat.
"Jangan dipotong dulu, kenapa sih ?" Ana mendengus kesal.
"Hahaha, iya udah lanjutkan" tawa Aryan, tangannya sibuk mencubit pipi Ana.
"Iiihh... Sakit tau kak," Ana mengusap-usap pipinya. "Ketika lulusan, jika nilaiku bagus, aku mau traktir kak Aryan, apapun yang kak Aryan mau." Cerocos Ana menjelaskan maksudnya dengan mata berbinar-binar.
"Serius ?, apapun yang gue mau ?" tanya Aryan. Ana menganggukkan kepala meyakinkan. "Awas kalo sampe boong." Seru Aryan pada Ana.
"Mana pernah Ana boong ke kak Aryan." Ujarnya sambil bersedekap menyenderkan punggungnya di senderan kursi taman. "Boong itu dosa kak." Lanjutnya.
"Iyaa, percaya ustadzah. Oh iya gue mau nunjukin sesuatu ke lo," merogoh saku kemeja putihnya Aryan mengeluarkan sebuah kalung berwarna putih dengan liontin berbentuk bintang.
"Waah... Bagus banget kak ?" tanya Ana terkagum dengan kecantikan liontin itu. Tangannya terulur ingin menyentuh liontin itu. Tapi Aryan segera menggenggam liontin itu dengan erat tak ingin Ana memegangnya.
"Huh" dengus Ana melihat tingkah Arya. "Pelit banget sih, ngapain tadi di tunjukin coba ?" dumel Ana sembari ngelirik tajam kearah Aryan.
"Ini nggak boleh sembarangan nyentuhnya" tutur Aryan. "Ni liontin mau gue kasih ke seseorang yang sangat special di hati gue." Tutur Aryan berangan-angan tentang niatnya tersebut.
Ana hanya menyebikkan bibirnya mendengarkan perkataan Aryan. "Emang dia siapa kak ? tante Fatma ?" tanya Ana.
__ADS_1
"Iish... Ngawur aja lo, dia tu gadis baik, imut, pinter ngaji, rajin sholat, prestasinya banyak, ramah, dan satu lagi dia tu suka menolong orang lain walaupun dia kagak kenal." Cerocos Aryan dengan antusiasnya.
"Liontin ini akan gue kasih besok, sebagai hadiah di hari specialnya." Tambah Aryan.
Mendengar itu semua, membuat hati Ana terasa sesak, seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam tepat di ulu hatinya. Tanpa terasa air matanya luruh begitu saja. Menyadari hal itu Ana segera menghapus air matanya supaya tak ketahuan oleh Aryan.
"Gimana menurut lo ?" tanya Aryan lagi. Dia menoleh Ana yang tak bersuara untuk menanggapi ceritanya.
"Bagus kok kak, dia pasti akan sangat menyukainya." Jawab Ana mengulaskan senyum getirnya. Dia berusaha sekuat mungkin menahan agar suaranya tidak bergetar karena menahan tangis.
Aryan pun tersenyum dengan bangga menanggapi ucapan Ana. Tanpa dia sadari, bahwa perkataannya tadi telah melukai hati seseorang yang kini telah berada disampingnya.
"Oh iya kak, Ana harus cepetan pulang nih, Ana lupa kalau tadi disuruh bunda ke minimarket depan." Tanpa menunggu jawaban dari Aryan, Ana langsung bergegas lari meninggalkan Aryan di taman tersebut.
"Kenapa buru-buru ? hati-hati Ana," teriak Aryan yang bingung dengan perubahan sikap Ana. "Aneh banget." Aryan pun tak ambil pusing, Ia segera memasukkan liontin itu kedalam sakunya dan mengambil tasnya kemudian masuk kedalam rumah.
*****
Aryan memandangi kalung dengan liontin bintang yang berada di tangannya. Duduk di kursi santai yang terletak di balkon kamarnya memang menjadi tempat favoritnya sejak dulu sambil memandang ribuan bintang yang tengah tersenyum mengelilingi bulan.
"Seandainya dulu kau tak pergi, pasti kalung ini sudah melingkar indah di lehermu Ana." Guman Aryan sambil terus memandangi kalung itu.
Iya. Liontin itu sebenarnya akan diberikan kepada Ana dihari kelulusannya. Hari yang menurut Aryan special bagi Ana. Dibalik liontin itu terdapat ukiran dengan tulisan nama "Aryan & Ana" sehingga dulu ketika Ana ingin menyentuhnya tidak diizinkan oleh Aryan. Karena dia takut akan ketahuan. Namun, sebelum Aryan sempat memberikannya tiba-tiba Ana sudah pergi. Dan Aryan saat itu tidak tau tentang alasannya. Sehingga liontin itu masih disimpannya dan belum sempat dia berikan pada pemilik seharusnya.
"Aryaan..." Tiba-tiba wanita paruh baya menepuk pundaknya dan langsung duduk disampingnya. Dia adalah Fatma, Mama Aryan.
"Kapan kamu akan memberikannya sayang ?" tanya Fatma melirik tangan Aryan yang tengah menggenggam sebuah kalung.
"Aryan tadi bertemu Ana Ma." Ujar Aryan masih tetap menatap kalung tersebut.
"Oh ya ? dimana sayang ?" tanya Fatma antusias sambil menatap putranya.
"Ditempat magang Aryan." Aryan memberi jeda pada kalimatnya. "Sebenarnya Aryan sudah tau sejak beberapa bulan yang lalu Ma, kalau Ana melanjutkan sekolah di situ. Maka dari itu, Aryan memutuskan untuk memilih magang disana mengikuti Dito." Tutur Aryan pada Fatma.
"SMA Nusa Bangsa ?" tanya Fatma memastikan.
"Iya Ma, ternyata selama ini Ana pulang ke kampung halaman ibunya." Tambah Aryan terlihat ada senyum kebahagiaan di bibirnya.
Kepergian Ana yang mendadak membuat Aryan kehilangan semangat serta senyumnya. Karna Ana adalah semangat sekaligus cinta pertama bagi Aryan. Namun, Ana tak pernah menyadarinya dan tanpa ada salam perpisahan dia pergi darinya. Hal ini membuat Aryan terluka dan kehilangan semangat dalam hidupnya.
Namun suatu ketika, saat Aryan mengantarkan Dito untuk survey lokasi sebelum memulai magang nya, Aryan tak sengaja melihat Ana yang tengah berlari memasuki ruang kelas. Aryan tahu betul jika itu Ana, karna waktu itu dia sangat jelas melihat Ana yang jaraknya hanya beberapa meter. Namun, karena sepertinya Ana sedang terburu-buru sehingga tak menyadari kehadiran Aryan di sekitarnya. Sehingga mulai saat itu Aryan memutuskan untuk mengambil magangnya di SMA Nusa Bangsa.
"Mama senang akhirnya kamu bisa bertemu Ana lagi sayang, sudah lama mama tak melihat senyum ini." Ucap Fatma sambil menyentuh lesung pipi Aryan dengan jarinya. "Mama tau Ana adalah semangat kamu sayang, Ana selalu bisa menerbitkan senyum ini, dan hanya Ana juga yang bisa menghilangkannya. Jika kamu benar-benar mencintainya, kejarlah cintamu dan jangan sampai kamu menyakitinya sayang. Karena wanita itu hatinya mudah terluka, walaupun ia berusaha menutupinya dari pria dengan tersenyum, tapi dia tetap merasakan sakit itu." Nasehat Fatma kepada putranya itu.
Aryan hanya mengangguk dan tersenyum hangat pada Fatma. " Sekarang udah larut, cepat tidur sana, besok kesiangan lo, katanya mau pindah kost sama Dito." Perintah Fatma menepuk punggung Aryan sebelum pergi meninggalkannya.
"Iya Ma." Jawab Aryan singkat dan segera masuk kedalam kamarnya. Tak lupa dia menutup pintu sebelum pergi beristirahat karena udara malam ini begitu dingin.
__ADS_1
*****
Suara cuitan burung menyambut munculnya sang mentari di ufuk timur. Langit biru yang bersih tanpa awan mendung menambah cerah cuaca pagi ini.
Ana sudah siap dengan seragam lengkap dan tas ransel di punggungnya. Setelah memakai sepatunya, dia langsung keluar kamar. Satu persatu menuruni anak tangga hingga langkahnya terhenti di meja makan.
Ruang makan sama seperti hari-hari biasanya. Ketika Ana sampai diruang makan sudah ada Fariz dan Ida yang duduk disana. Tanpa pikir panjang, Ana langsung mendudukkan dirinya di kursi sebelah Ida.
"Tumbenan Ayah aku ini udah rapi dan ganteng gini." Goda Ana pada Fariz dengan senyum cengengesan.
"Loh, emang dari dulu ayahmu ini udah ganteng sayang, apa kamu baru menyadarinya ?" Jawab Fariz membanggakan dirinya sendiri.
"Ah iya, Ayah ku emang paling ganteng, sebelas duabelas ama bang Zein, iya kan bun ?" tanya Ana menaikturunkan alisnya melirik Ida sambil tangannya sibuk mengoles roti dengan selai coklat kesukaannya.
"Ouh Zein Malik jajaran pria tampan di dunia itu ya ?, ya jelas dong ayah mu ini emang tak diragukan lagi gantengnya." Jawab Fariz dengan mode congkak yang lagi on.
"Ah bukan ayah." Ana beranjak dari duduknya sambil memakan roti yang telah selesai ia olesi selai. "Ituu bang Zain-nudin tukang sayur depan rumah." Jawab Ana setelah berhasil menelan kunyahan rotinya, dan segera melarikan diri dari amukan sang ayah.
"Hei Anaa, mau kemana kamu ? dasar anak nggak punya sopan sama orang tua." Teriak Fariz yang menggema diseluruh ruang makan.
Ana hanya tertawa mendengar suara Fariz yang telah berhasil dibuatnya jengkel. "Ana berangkat bunda, ayah. Assalamualaikum ?". Teriak Ana dari garasi rumahnya setelah berhasil menghidupkan mesin motornya.
Sementara diruang makan, Ida hanya cekikikan melihat tingkah anak dan suaminya tersebut."Waalaikumsalam." Jawab Ida. "Udah, sabar yah, nanti cepat tua lo." Lanjut Ida menghibur suaminya yang tengah dilanda kejengkelannya.
"Haduuh, punya anak satu aja hobinya ngerjain ayahnya." Jawab Fariz yang diakhiri dengan tawa mengingat tingkah putri semata wayangnya.
Fariz Ilyasa seorang dokter spesialis mata. Seseorang yang tengah menjabat sebagai ayah Ana semenjak tujuhbelas tahun yang lalu itu, kini bekerja disebuah rumah sakit terbesar dikota Malang. Hari ini dia sudah terlihat rapi karena dia sudah memiliki jadwal operasi mata di rumah sakit tempatnya bekerja pada pagi ini. Karena jarak rumah sakit yang lumayan jauh, sehingga dia harus berangkat lebih pagi dari biasanya agar tidak terlambat sampai tujuan.
*****
Sesampainya di sekolah, Ana langsung memarkirkan motornya di parkiran motor. Dia langsung berjalan meninggalkan parkiran menuju ruang kelasnya. Ketika dalam perjalanan, Ana dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menepuk bahunya. Ana pun langsung menoleh. Dan mendapati Aryan yang tengah tersenyum lebar di sampingnya.
"Kak Aryan, bikin kaget aja." Ucap Ana pada Aryan yang hanya cengengesan itu.
"Selamat pagi Ana ?" sapanya dengan senyum khasnya. "Selamat pagi juga kak". Jawab Ana. Dia pun malanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena Aryan. Sambil berbincang-bincang hal yang tidak penting dengan Aryan, tak terasa Ana sudah sampai di depan kelasnya.
"Anaaa..." Tiba-tiba Dimas muncul dari kelas 11 IPA 1 samping kelas Ana.
"Hay Dim." Jawab Ana. "Eh tunggu, ngapain lo jam segini dah disini Dim ?" tanya Ana sambil bersedekap menghadap Dimas dengan tatapan curiga.
Tapi, yang ditatap hanya cengengesan sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Hehe... Na gue pinjem PR matematika lo doong..." Ujar Dimas dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Ouh, jadi lo berangkat pagi karena mau cari contekan ya ? Gue nggak ada matematika hari ini." Jawab Ana berbohong. "Ah boong lo, Gue tau setelah istirahat lo ada jam matematika. Ya kaan ?" Ujar Dimas lagi.
"Udaahh ayo siniii..." Paksa Dimas sambil menarik tangan Ana menuju ruang kelasnya. "Hoy... Pelan-pelan doong, ih" Ana memukul bahu Dimas dengan keras.
Interaksi tersebut tak lepas dari pandangan Aryan. Melihat hal tersebut membuat udara pagi yang seharusnya sejuk, tiba-tiba terasa panas yang dirasakan Aryan. Melihat Ana begitu akrab dengan Dimas membuat Aryan merasa tidak nyaman. Aryan yang merasa dicuekin hanya menatap datatr keduanya sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan dengan keduanya.
__ADS_1
Bersambung....