
Aryan sedang menata rambutnya di depan cermin yang ada didalam kamarnya. Sesekali tanganya digunakan merapikan tatanan rambut agar terlihat pas dan sempurna.
Ceklek
Tiba-tiba pintu terbuka dan munculah Dito dengan secangkir kopi ditangannya. Ia heran menatap Aryan yang sudah rapi, padahal ini bukan malam minggu. Dan walaupun malam minggu, Aryan bukanlah seseorang yang hobi untuk nongkrong bareng teman-temannya.
"Rapi bener, mau kemana lo ?" Tanya Dito penasaran setelah dia duduk di bangku depan meja kerja Aryan sambil menikmati kopinya.
"Pulang." Jawab Aryan cuek. Kini ia sudah pindah duduk disisi ranjang sambil mengenakan sneakersnya.
"Loh kok pulang sih ? trus gue sendiri nih ?" tanya Dito yang sedikit tak terima karna Aryan akan pulang, sementara dia sendirian di kosnya.
"Makanya cepet ganti baju sono, ikut gue lo !". Ajak Aryan. Bukan. Bukan mengajak, tapi lebih tepatnya memberi perintah pada Dito untuk ikut dengannya pulang.
"Gue gak salah denger nih ?" bukannya menuruti perintah Aryan, Dito malah balik tanya.
"Iyaa... Mau kagak ? kalo gak mau gue tinggal nih." Aryan memberi penawaran dan beranjak dari duduknya setelah menyelesaikan ikatan terakhir pada sneakersnya.
"Iya iya gue mau. Lagian siapa juga yang mau tidur sendirian disini ?" Jawab Dito sambil bergidik ngeri meninggalkan kamar Aryan.
30 menit kemudian
"Ditoooo... Lama banget sih lo, ganti baju aja kayak cewek, lama-lama gue tinggal lo ya" Teriak Aryan yang kesekian kalinya dari ruang tamu. Ia sudah kesal dengan Dito karena sudah setengah jam Aryan menunggu dan Dito belum keluar juga dari dalam kamarnya.
"Iya iya, berisik banget sih lo, udah selesai nih" Kesal Dito sembari berjalan mendekati Aryan yang dari tadi tak berhenti meneriakinya.
"Heh kenapa jadi lo yang kesel ama gue ? harusnya gue yang kesel ama lo ? nungguin lo sampe karatan juga" Pinta Aryan yang tak terima karena Dito malah mengomelinya. Harusnya kan dia yang marah karena nunggu dia ganti baju lama banget.
"Iya lah gue kesel ama lo, dari tadi teriak-teriak mulu. Untung pita suara lo gak putus ditengah jalan." Jawab Dito yang gak mau kalah dengan Aryan.
"Gue teriak karna lo gak keluar-keluar bego. Udahlah males gue ngajak lo pergi. Sono-sono balik aja ke kamar lo." Aryan malah mengusir Dito dan segera beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju mobilnya yang terparkir dihalaman kos nya.
"Enak aja mau ninggal gue lo, udah ganteng gini mau di PHP." Dito segera masuk kedalam mobil Aryan karena gak mau ditinggal sendirian di tempat kos barunya.
***
Blub
Aryan menutup pintu mobilnya setelah ia menghentikan mobilnya didepan teras rumahnya. Diikuti Dito, ia segera turun dari mobilnya. Dan berjalan menapaki lantai granit rumah lantai dua yang didominasi dengan warna putih itu.
"Selamat sore mas Aryan" Sapa Umam penjaga pintu gerbang kediaman keluarga Harun tersebut.
"Selamat sore pak Umam, tolong masukin ke garasi ya pak !" Pintanya memberikan kunci mobilnya pada Umam.
"Siiap mas." Umam segera mengambil kunci mobil Aryan dan segera menjalankan perintah tuan mudanya.
"Makasih pak."
"Sama-sama mas."
Walaupun Umam hanyalah penjaga gerbang, namun Aryan tetap bersikap sopan kepadanya. Karena Aryan memang sejak kecil sudah diajarkan bersikap sopan ke siapapun yang lebih tua darinya. Harun dan Fatma tak pernah lupa untuk selalu mengingatkan tentang hal-hal yang perlu dicontoh dan tidak. Sehingga terbentuklah karakter Aryan yang saat ini.
"Ayo masuk To!." Ajak Aryan yang berjalan lebih dulu memasuki rumahnya diikuti Dito yang berjalan dibelakangnya.
"Assalamualaikum?." Aryan mengucapkan salam ketika melihat Fatma yang berada di ruang keluarga sedang membaca majalah.
"Waalaikumsalam. Kamu sudah pulang sayang." Fatma langsung berdiri menyambut kedatangan putra semata wayangnya.
Aryan segera menghampiri Fatma dan mencium punggung tangan Fatma. Kemudian duduk di sofa yang ada di ruang keluarga tersebut.
"Selamat sore tante?." Sapa Dito pada Fatma dan segera meraih tangan Fatma lalu menciumnya dengan sopan.
"Selamat Sore Dito. Bagaimana kabarnya ? Baik ?" Tanya Fatma pada sahabat anaknya itu.
Radito Ardiansyah. Pria berusia 22 tahun yang menjabat sebagai sahabat Aryan. Aryan dan Dito sudah menjalin persahabatan sejak mereka berada di bangku SMP. Jadi, tidak heran jika Fatma dan Harun sudah sangat akrab dengannya dan menganggap Dito seperti anaknya sendiri. Karena Dito juga sering main ke rumah Aryan.
Dito adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal ketika dia masih duduk dibangku SD karena sebuah kecelakaan. Dia tak punya keluarga dekat di Malang. Dan Aryan lah satu-satunya sahabat yang Dito punya. Walaupun tak sekaya keluarga Aryan, namun Dito masih bisa hidup dengan layak dari harta peninggalan orang tuanya. Dia hanya tinggal bersama seorang ART yang merawatnya sejak kecil. Dialah seorang yang menjadi pengganti orang tuanya hingga kini.
__ADS_1
"Baik tante. Hanya saja, ada sedikit masalah tante." Curhatnya pada Fatma.
Sementara, Aryan yang sudah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya langsung mengalihkan perhatiannya pada Dito dengan tatapan horornya.
"Hmm... Tante tau kok masalahnya. Pasti tadi gak diajak mampir makan kan sama Aryan ?" Goda Fatma yang sudah hafal dengan tingkah Dito.
Sementara, Dito hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir kuda di hadapan Fatma.
Bug
Aryan melempar bantal sofa tepat di kepala Dito. Emang dasar, punya sahabat gak punya malunya kebangetan.
"Emang dasar gak punya malu lo ya ? Belum juga disuruh duduk lo sama yang punya rumah." Cibir Aryan menatap heran Dito yang doyan banget makan tapi gak gemuk-gemuk. Mungkin setiap makanan yang masuk ke tubuhnya salah jalur kali. Sampe-sampe nutrisinya tak terserap dengan baik di tubuhnya.
"Tuh kan tante... Aryan itu slalu bersikap gitu ama Dito." Keluh Dito tentang sikap Aryan padanya selama ini.
"Sudah-sudah... Sana gih pergi ke dapur. Bu Rumini sudah masak tadi." Fatma hanya terkekeh mendengar aduan Dito dan segera menyuruh Dito pergi ke dapur untuk mengisi perutnya yang sudah kelaparan.
"Waahh... Beneran tante ? tante Fatma emang paling the best pokoknya." Ujarnya sebelum melangkahkan kakinya menuju dapur rumah Aryan.
"Malu gue punya temen kayak lo." Ucap Aryan dengan lirikan sinisnya pada Dito.
"Masa bodoh lah Ar, yang penting cacing-cacing di perut gue tetap sehat wal afiyat." Jawabnya sambil terus berjalan ke arah dapur.
"Kamu gak ikut makan sekalian sayang ?" tanya Fatma pada Aryan.
"Nanti aja ma, Aryan ke kamar dulu aja ma." Pamit Aryan sebelum meninggalkan Fatma.
***
Tok tok tok
Ketukan dari balik pintu kamarnya mampu mengalihkan perhatian Aryan pada layar ponselnya. Ia turun dari ranjangnya dengan malas dan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa ma ?" Tanya nya pada Fatma yang tengah berdiri dibalik pintu kamarnya dengan senyum hangatnya.
Hanya anggukan kepala yang Aryan berikan sebagai jawaban. Aryan menutup pintu kamarnya kembali dan menghampiri Dito yang tengah tidur di sofa kamarnya.
"Bangun lo!" Aryan mencoba membangunkan Dito dengan penggaris yang ia ambil di meja kerjanya. Namun beberapa kali ia menoel tubuh Dito tak ada respon sama sekali.
"Huh... Kebo banget sih." Gerutu Aryan dan berjalan pergi meninggalkan Dito.
Byuurrr
"Sial." Dito terlonjak kaget dan hampir saja dia jatuh dari sofa tempat ia tidur dan menatap tajam Aryan.
"Akhirnya bangun juga lo. Gue kira dah mati." Sindir Aryan sambil berjalan meletakkan gelas kosong diatas meja kerjanya.
Dito menatap Aryan dengan kesal karena telah menyiram air pada wajah gantengnya. "Bangunin orang yang berakhlak dikit ngapa sih ? Kalo misal gue jantungan gimana ?. Gue tuntut lo." Omel Dito pada Aryan. Tapi sayang yang diomeli malah cuek dan sibuk dengan ponselnya.
"Lagian lo tidur apa mati sih ? Dibagunin dari tadi gak nyaut-nyaut lo. Udah cepet turun! ikut makan malam dibawah." Ajak Aryan tanpa mengalihkan pandanggannya pada layar ponsel.
"Gak ah. Gue ngantuk mau tidur aja."Jawab Dito malah berpindah ke ranjang berniat meneruskan tidurnya.
"Terserah lo." Jawab Aryan singkat dan langsung pergi meninggalkan Dito yang melanjutkan tidurnya.
Ketika sampai dimeja makan, sudah ada Harun, Fatma, dan tiga orang lainnya yang bukan dari keluarga Aryan. Dua orang paruh baya, dan seorang gadis seumuran dengannya. Aryan sudah tau siapa ketiga orang itu. Dia pun segera menyapa dan meraih tangan dua orang paruh baya tersebut.
"Selamat malam om, tante." Katanya langsung meraih tangan kedua orang tua tersebut dan langsung menciumnya.
"Kamu gak ada niatan nyapa aku gitu ?" Tanya gadis cantik yang tengah duduk disamping maminya.
"Hai." Sapa Aryan memandang dengan datar gadis itu sejenak. Kemudian langsung duduk disamping Fatma yang berada diseberang gadis itu.
"Huh." Balas Manda kesal dengan sikap Aryan yang terlihat tidak peduli dengannya.
Iya. Gadis itu adalah Manda. Amanda Rusdiantoro putri tunggal Roni Rusdiantoro dan Amarta. Gadis cantik berusia 22 tahun teman se-kampus, se-fakultas, se-prodi, dengan Aryan. Mereka pertama kali bertemu ketika menjalani ospek semasa menjadi mahasiswa baru.
__ADS_1
Sejak pertama kali mereka bertemu, Manda sudah menaruh hati pada Aryan. Namun, Aryan hanya cuek dan tak pernah mempedulikan Manda. Walaupun begitu, Manda tak pernah patah semangat untuk bisa mendapatkan hati Aryan. Dia sudah bertekad akan melakukan apapun asalkan bisa bersama Aryan.
"Aryan... Jangan begitu sayang." Nasihat Fatma yang saat Aryan sudah duduk disampingnya.
Tak ada jawaban dari Aryan hanya senyum samar yang ditujukan kepada Fatma atas nasihatnya.
"Ayo silahkan dinikmati hidangan sederhana ini." Harun mempersilahkan tamunya agar lekas menikmati hidangan didepannya.
Mereka pun menikmati hidangan didepannya dengan tenang. Hanya ada dentingan piring dan sendok yang menjadi iringan musik sebagai pelengkap makan malam dua keluarga tersebut.
"Gimana kuliah kamu Ar ?." Tanya Amarta setelah selesai menikmati makanannya.
"Gak ada masalah tante. Berjalan seperti biasanya." Jawab Aryan sekedarnya saja.
"Kata Manda, kalian ambil magang ditempat yang sama ya ?." Kali ini ganti Roni yang bertanya pada Aryan.
"Iya om." Jawabnya singkat tak berniat untuk menambah apapun pada kalimatnya.
"Om, tante Aryan izin keatas dulu ya ?." Izin Aryan pada Roni dan Amarta.
"Aryan. Sebaiknya kamu ajak Manda ngobrol di taman. Masa ada temennya datang malah kamu tinggal sih ?." Nasihat Harun pada Aryan yang berniat pergi dari ruang makan.
Aryan hanya menatap datar Manda. Sebenarnya Aryan malas jika harus berduaan dengan Manda. Namun, karena permintaan sang papa, maka Aryan tidak bisa menolak. Akhirnya, dengan terpaksa Aryan melangkah pergi menuju taman.
"Om, tante. Manda permisi dulu ya." Pamit Manda pada Harun dan Fatma. Kemudian segera pergi mengikuti langkah Aryan ke taman.
Aryan berjalan menuju sebuah bangku yang berada di sisi kanan taman rumahnya. Dan segera mendudukkan pantatnya disana. Menatap air mancur yang berada ditengah taman tersebut. Hanya lampu-lampu taman yang menjadi cahaya untuk malam yang gelap ini.
Tiba-tiba seseorang duduk disampingnya. Seorang gadis yang memakai gaun selutut tanpa lengan itu juga mengikuti arah pandang Aryan. Menyadari ada yang sedang bersamanya tak lantas membuat Aryan mengeluarkan kata untuk menyapanya, namun dia malah beralih merogoh ponsel yang berada disaku blezernya. Aryan sama sekali tak berniat untuk membuka suara menyapanya.
"Aku seneng banget deh, kita bisa dekat begini sama kamu." Ucap Manda membunuh keheningan diantara keduanya.
Namun, tak ada jawaban yang keluar dari bibir Aryan sebagai balasan dari ucapan Manda. Ia hanya fokus pada ponsel yang berada ditangannya.
Merasa tak ada jawaban, Manda kembali melanjutkan kalimatnya. "Oh iya, Sabtu ini Alya ulang tahun. Kamu datangkan kesana ?" Tanya Manda lagi.
"Aku gak ada undangan." Jawab Aryan singkat masih tetap memainkan ponselnya.
"Hei... Satu kelas diundang tau. Kamu pasti nggak liat di grup kelas." Antusias Manda setelah ada jawaban dari Aryan
Aryan hanya ber oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Kamu datang kan Ar ? Kita datang bersama yaa ?" Rayu Manda dengan bergelayut manja di tangan Aryan.
Aryan nampak risih dengan perbuatan Manda ia pun segera menarik tangannya. "Aku ke toilet dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Manda, Aryan segera pergi meninggalkan Manda di taman.
Bukannya pergi ke toilet, Aryan malah kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Aryan segera membangunkan Dito.
"To. Bangun lo, Manda nyariin lo tuh." Ucapnya yang langsung membuat Dito terduduk.
"Mana ?"
"Ditaman bawah. Udah cepetan sono, dia dah nunggu dari tadi." Usir Aryan, agar Dito keluar dari kamarnya.
Dito pun segera pergi dari kamar Aryan dengan tergopoh-gopoh. Setelah kepergian Dito, Aryan segera mengunci kamarnya.
***
Sementara di lain tempat.
Tok tok tok
Ana segera menghampiri pintu untuk melihat siapa yang bertamu malam-malam begini. Karena nggak biasanya ada tamu malam-malam begini dirumahnya.
Ceklek
Bersambung....
__ADS_1