Penawar Rasa

Penawar Rasa
05


__ADS_3

Interaksi tersebut tak lepas dari pandangan Aryan. Melihat hal tersebut membuat udara pagi yang seharusnya sejuk, tiba-tiba terasa panas yang dirasakan Aryan. Melihat Ana begitu akrab dengan Dimas membuat Aryan merasa tidak nyaman. Aryan yang merasa diabaikan hanya menatap datar keduanya sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan dengan keduanya.


Ana menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang untuk berpamitan pada Aryan. "Kak Aryan, Ana ma-" tetapi sudah tidak ada Aryan dibelakangnya. Ana pun mengedarkan pandangannya mencari Aryan tetapi Aryan seperti hilang tanpa jejak. "Kemana perginya ? nggak bilang lagi kalo mau pergi." Dumel Ana dalam hati.


"Ayoo Naa, kenapa sih ? nyari anak magang itu ?" tanya Dimas yang terus menyeret tangan Ana untuk mengikutinya menuju bangkunya.


Suasana kelas masih sepi, karena memang masih pagi. Hanya ada beberapa tas yang terletak diatas meja yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Ana mengikuti langkah kaki Dimas menuju bangkunya.


"Nih, lo tu kebiasaan ya Dim" ucap Ana sambil memberikan buku PR nya pada Dimas. "Iya kan, lo tu emang baek banget Na sumpah..." Jawab Dimas menerima buku tersebut dengan senyum cengengesannya.


"Udah, gue mau balik ke kelas, lo balikin pas istirahat aja." Perintah Ana dan segera pergi meninggalkan Dimas.


"Na tunggu !" cengah Dimas dengan mencekal pergelangan tangan Ana. "Apa lagi ?" tanya Ana geram dengan tingkah Dimas.


"Lo ada hubungan apa ama tu anak magang ?" tanya Dimas dengan nada serius. "Nggak ada hubungan apa-apa tuh." Jawab Ana santai.


"Tapi keliatannya kalian kok akrab banget. Dia kan baru kemaren masuk magang nya." Selidik Dimas. "Emang iya ya, biasa aja tuh perasaan. Udaah, jangan mikirin hal nggak penting deh, mending tu cepet kerjain, keburu bel nanti. Gue balik kelas dulu, bye." Jawab Ana lalu pergi meninggalkan Dimas menuju kelasnya.


"Gue kok ngerasa aneh ya, gue harus cari tau." Gumam Dimas dalam hati. Dimas memang sudah lama menyimpan rasa kepada Ana sejak pertama kali mereka bertemu ketika Masa Orientasi Siswa. Sehingga ketika ada cowok yang mendekati Ana, dan diketahui oleh Dimas, maka mereka akan segera mundur alon-alon. Karena mereka nggak mau berurusan dengan Dimas. Mengingat Dimas adalah salah satu siswa berpengaruh di sekolah ini.


Iya. Dimas Zakaria adalah putra dari Yusuf Nugraha salah satu donatur tetap di SMA Nusa Bangsa ini. Oleh karena itu, para siswa begitu segan dengan Dimas. Padahal Dimas sendiri juga bukan tipe orang yang mengandalkan kekuasaan dalam bertindak. Hanya saja mereka selalu segan bila harus mengusik sesuatu yang sudah menjadi milik Dimas. Mengingat Dimas yang terlalu baik kepada semua siswa di sekolah tersebut.


*****


Suasana kantin sudah ramai dipenuhi oleh para siswa. Ada yang masih mengular mengantri membeli makanan, ada yang sudah duduk menikmati makanan sambil bertukar cerita dan ada juga yang hanya sekadar membeli minuman lalu kembali ke kelas lagi.


Ana sudah duduk bersama Ica dan Bina. Ditemani oleh 3 mangkuk bakso, mereka memilih untuk mengambil tempat duduk di dekat jendela yang menyuguhkan pemandangan halaman luas sekolah itu.


"Na, lo bener kenal ama Kak Aryan ?" tanya Bina tiba-tiba. Ica pun seketika menoleh pada Ana setelah mendegar pertanyaan Bina. "Kenapa emang ?" tanya Ana balik setelah berhasil menelan kunyahan terakhir baksonya.

__ADS_1


"Kata Dimas tadi pagi lo barengan ama Kak Aryan, jadi bener ya ?" Selidik Bina. "Iya." Jawab Ana singkat.


"Iih... Lo jawabnya kok gitu sih ?" Ucap Bina sebal dengan jawaban Ana. "Ya terus gue harus jawab gimana Binaa ?" tanya Ana dengan santainya.


"Ya critain doong, gimana lo bisa kenal ama Kak Aryan." ucap Bina menggebu-gebu karena geram dengan sikap Ana yang santai.


Ana mengambil gelas es jeruknya yang tinggal sedikit itu. "Gue emang dah kenal dari kecil ama Kak Aryan." Jawab Ana setelah meletakkan gelas kosong diatas meja. "Dia adalah tetangga gue sewaktu gue tinggal dikota dulu. Rumahnya tepat berada didepan rumah gue. Jadi... Ya gue dah kenal ama dia." Cerita Ana pada kedua sahabatnya.


"Oh.." Jawab keduanya bersamaan. Mereka menarik tubuhnya yang semula dicondongkan pada Ana untuk mendengar cerita Ana.


"Eh Na, lo kan deket tu ama Kak Aryan. Kenalin gue dong..." Ucap Ica dengan mengedip-edipkan matanya. "Lah, itukan dulu sewaktu gue masih tinggal di kota. Nah sekarang dah beda Icaa..." Jawab Ana.


"Sekarang masih sama kok Na." Tiba-tiba terdengar suara berat dari belakang tubuhnya. Ana pun terbelalak mendengar suara itu, dan seketika dia langsung membalikkan tubuhnya.


Ternyata Aryan sudah berdiri dengan senyum khasnya yang menunjukkan lesung pipinya. Membuat ketiga gadis itu melongo dibuatnya. "Aku boleh gabung ?" izin Aryan pada ketiganya.


"Lo nggak mau ngenalin temen lo ke gue Na ?" tanya Aryan menyadarkan pikiran Ana. "Ah iya, kenalin kak ini namanya Bina, dan ini Ica." Jawab Ana menunjuk satu-satu sahabatnya. "Dan Bi, Ca ini kak Aryan." Lanjutnya.


Mereka pun saling berjabat tangan. Lalu dilanjutkan dengan ngobrol ringan seputar kuliah dan bagaimana kehidupan sebagai mahasiswa. Terlihat Ica begitu antusias dengan pembahasan tersebut, berbeda dengan Bina yang hanya sesekali mengangguk kan kepala saat Aryan menjelaskan. Sementara Ana hanya diam sambil sesekali memperhatikan Ica yang terlihat berbeda menanggapi Aryan. Terdapat binar kekaguman pada sosok dihadapannya itu. Kekaguman Ica terhadap Aryan seperti merubah cuaca yang semula hangat menjadi lebih panas.


Namun, lagi-lagi ada tamu tak diundang yang ikut bergabung. Dimas datang dengan membawa sebuah buku. Benar. Itu adalah buku catatan Ana yang pagi tadi dia pinjam. "Hay Na..." Sapanya pada Ana.


"Disini bukan cuma Ana ya..." Celutuk Bina dengan suara pedasnya. Entah kenapa ketika ada Dimas, bawaannya jengkel dihati Bina.


"Iih, napa sih lo ? emang gue perlunya cuma ama Ana doang, jutek banget sih lo jadi orang." Omel Dimas jengkel pada Bina. "Suka-suka gue dong." Jawab Bina tak kalah jengkel.


"Ni anak, lama-lama gue hanyutin di sungai baru tau rasa lo." Jawab Dimas lagi. "Haish... Hussh... Kalian ini ya nggak ada bosennya tengkar mulu. Heran deh." Lerai Ana pada keduanya. "Ngapain lo Dim kesini ?" tanya Ana pada Dimas.


"Nih, gue mau balikin buku ke lo Na. Makasih ya ?" Dimaspun mengulurkan buku itu yang langsung diterima Ana. "Oke." Jawab Ana singkat

__ADS_1


Melihat keberadaan Aryan disana, membuat Dimas sedikit tidak suka. Diapun berniat untuk ikut bergabung dengan Ana. Namun Na'as ketika Dimas hendak mendudukkan dirinya disamping Ana bel tanda istirahat berakhir berbunyi.


Krriing... Kriingg...


Ana, Aryan, dan Ica pun beranjak dari duduknya. Hanya Bina yang belum berdiri dan terlihat menahan tawa saat melihat raut wajah Dimas.


"Duluan ya Dim, udah bel tuh." Pamit Ana dan diikuti oleh yang lain kecuali Bina. "Ah iya, hati-hati Na," jawab Dimas. Ana hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Hwahaha... turut berduka ya ?" cibir Bina sambil menepuk bahu Dimas sebelum berlalu menyusul Ana dan Ica. Bina tau betul perasaan Dimas ke Ana karena itu sudah menjadi rahasia umum.


"Sialan lo," balas Dimas. Diapun pergi menuju lemari pendingin untuk membeli minuman sebelum ia kembali ke kelasnya. Dimas sengaja membeli minuman dingin karena dia merasa udaranya tiba-tiba berubah menjadi panas.


*****


Cuaca sore ini begitu cerah tanpa sedikitpun awan mendung yang manggantung dilangit. Ana duduk termenung sendirian dibangku kecil dibawah pohon besar yang rindang. Dari sana tampak ribuan pohon teh yang menghiasi perbukitan itu.


"Nyatanya gue tetap nggak bisa lupain lo kak, saat lo hadir rasa yang selama ini gue kira dah hilang, ternyata masih ada. Padahal gue tau pasti lo dah bahagia dengan pemilik liontin itu." Gumam Ana dalam hati. Tangannya sibuk memainkan sapu tangan berwarna biru muda itu.


"Hanya sapu tangan ini satu-satunya benda yang gue miliki dari lo kak." Gumamnya pelan. Tanpa terasa air mata itu luruh begitu saja saat Ana kembali teringat saat-saat dulu dia bersama Aryan.


Mentari sudah menyelesaikan tugas yang diembannya hari ini. Perlahan dia menenggelamkan dirinya dibalik bukit yang menjulang tinggi menyisakan cahaya kuning keemasan di angkasa bagian barat itu. Itulah saatnya Ana kembali kerumahnya dan harus menyudahi kegiatan mengenang masa lalunya di akhir pekan ini.


Ana pun segera bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan tempat tersebut. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Ana sampai dirumahnya. Namun, pandangannya teralih ketika dia hendak membuka pintu gerbang oleh sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di sebelah rumahnya.


"Anaa... Cepat masuk, udah mau magrib nih." Teriak Ida dari teras rumahnya. "Iya bunda." Balas Ana dan segera membuka pintu gerbang itu.


"Ada yang pindahan ke rumah pak Agung bun ?" tanya Ana pada Ida setelah menjabat tangan Ida.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2