Penawar Rasa

Penawar Rasa
02


__ADS_3

"Apaan sih ?" Ana pun akhirnya juga penasaran dengan apa yang tengah dilihat oleh kedua sahabatnya itu. Diapun mengalihkan pandangannya dari mangkuk bakso ke arah pandang kedua rekannya itu.


Deg. Seketika Ana pun menjatuhkan sendok yang dia pegang kedalam mangkuk baksonya. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga. ketika netra indah itu menangkap sosok yang begitu dia kenali yang telah lama dia rindukan dan dia harapkan kehadirannya kembali.


"Kak Aryan" Gumamnya begitu pelan. Menatap Aryan yang berjalan di halaman sekolah menuju ruang kepala sekolah dan hilang dibalik pintu kayu bercat putih itu.


"Eh namanya siapa ? kasih tau gue doong" Oceh Jessica menyadarkan lamunan kedua sahabatnya itu.


"Namanya Kak Aryan, Mahasiswa universitas kota yang mengambil jurusan Administrasi Pendidikan" Terang Bina sembari menyambar jus jeruk milik Ana.


Sementara Ana hanya memasang wajah tidak peduli dengan kedua sahabatnya yang tidak berhenti mengghibah Aryan. Karna dia sedang sibuk dengan berbagai pertanyaan dipikirannya bagaimana bisa Aryan disin? apa yang sedang Aryan lakukan ? apakah Aryan tau kalau dia disini ?. Beberapa pertanyaan sukses membuatnya termenung beberapa saat memikirkannya.


"Yaelah... Lo kan bisa pesan minuman sendiri Bi, kenapa harus habisin minuman gue sih ?" omel Ana karena mendapati minumannya yang tandas tanpa tersisa sedikitpun.


"Yah, lo Na gue kan haus, kalo nunggu pesen kan keburu dehidrasi gue nanti" ucapnya sambil nyengir kuda.


"Dehidrasi pale lo, emang mang Udin bikinnya nyampe setahun apa." Ketus Ana sambil menatap iba pada minuman yang sudah habis tanpa dirinya.


*****


Adam Aryan yang lebih dikenal dengan nama Aryan mahasiswa administrasi pendidikan disalah satu universitas yang berada di kota Malang. Berusia 20 tahun lebih tua 3 tahun dari Ana. Putra dari Harun Darmawan dan Fatma pemilik yayasan pendidikan Taruna Bangsa. Sebuah lembaga pendidikan terbesar di kota itu. Wajah tampan, dan kecerdasannya mampu memikat para wanita. Meskipun aura dingin dan tak pernah sirna dari wajahnya namun tak menggoyahkan usaha para perempuan untuk mencuri perhatiannya.


Mempunyai ketampanan yang diatas rata-rata dan ekonomi keluarga menengah keatas tidak menjadikannya sombong dan manja. Hanya satu alasan kini Aryan ada ditempat ini yaitu Dia. Sahabat yang meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.


Hari ini adalah hari pertamanya dia menjalani Magang di SMA Nusa Bangsa. Dan dihari pertamanya dia sudah mendapat tugas menggantikan salah satu guru yang berhalangan hadir untuk mengisi kelas yang ditinggalkannya. Sebagai mahasiswa magang yang baik, Aryan pun menyetujui permintaan itu.


Suasana kelas 11 IPA 1 begitu riuh ketika mendapati guru mapel pagi ini tidak dapat hadir. Namun, suasana berubah 360 derajat ketika Aryan memasuki ruangan tersebut.


"Selamat pagi semuanya" Salamnya tanpa senyum dan terdengar tegas kepada para siswa yang terheran-heran dengan kedatangannya.


"Hari ini Pak Bisma berhalangan hadir, jadi saya disini menggantikan beliau, untuk menyampaikan tugas yang telah beliau buat kepada kalian" imbuhnya dengan senyum tipis.


"Huuuu..." Teriaknya kompak satu kelas tetapi tetap juga mereka mengeluarkan bukunya dari dalam tas masing-masing.


"Tunggu... Bukankah tidak sopan jika anda tidak memperkenalkan diri dulu." teriak seorang siswa dari bangku pojok belakang kelas.

__ADS_1


"Ah iya saya lupa... perkenalkan nama saya Adam Aryan, kalian bisa memanggil saya dengan sebutan Kak Aryan. Saya dari universitas kota, disini saya sedang menjalankan magang untuk mata kuliah semester ini" Tuturnya panjang kali lebar kali tinggi menjelaskan pada seluruh penghuni ruangan tersebut.


"Ooo" Jawaban kompak seisi kelas dengan tatapan kekaguman dari para siswi yang Aryan dapatkan. Hingga celutuk dari siswa yang berada di pojok kembali bersuara.


"Kenalin, nama gue Dimas. Ketua kelas dan merupakan siswa terkeren, tertampan di kelas ini" katanya berdiri dari tempat duduknya sembari berlagak membenarkan tatanan rambutnya.


"Haduuhh..." respon para siswi yang merasa jengah dengan kelakuan ketua kelas yang udah putus urat malunya itu.


"Heee, apa-apaan kalian, kenapa menyakitiku dengan tatapan seperti itu ? Aa' Dimas takut tauu" Omelnya dengan wajah memelas dan kembali duduk ditempatnua semula.


"Yaa... sudah-sudah, sekarang kalian buka bukunya halaman 56, dan silahkan dikerjakan di kertas dan dikumpulkan" Tutur Aryan melerai bibit-bibit pertengkaran yang mungkin akan terjadi antara mereka.


Semua siswapun segera membuka buku masing-masing dan mengerjakan dengan tenang. hingga bel tanda istirahat berbunyi. Merekapun dengan segera mengumpulkan hasil pekerjaannya pada Aryan dan segera keluar meninggalkan kelas.


Aryan pun merapikan kertas-kertas tersebut dan menumpuk jadi satu dan segera mengumpulkan di meja pak Bisma. Namun, ketika dia hendak keluar dari dalam kelas, tiba-tiba dia menangkap sosok gadis yang sangat dia kenali. Tak banyak berubah dari diri gadis itu hanya saja tambah cantik, menurut Aryan. Aryan pun menyunggingkan senyumnya, tetapi dia segera menyembunyikan dirinya dibalik pintu ketika melihat gadis itu berjalan melewati kelas itu. Dan keluar ruangan ketika gadis itu telah berlalu.


*****


Suasana kantin menjadi riuh ketika waktu istirahat tiba. Pedagang yang riweh melayani para siswa yang mengantri untuk membeli sarapan, ataupun hanya camilan untuk mengisi waktu istirahatnya. Namun, hanya satu yang dapat menarik pandangan Aryan. Gadis yang bersama seorang temannya yang duduk dibalik jendela kaca yang menghadap ke arah halaman sekolah. Dia adalah Ana, iya Estrella Oxana gadis yang berhasil merebut hatinya dan pergi sebelum dia mengungkapkan perasaannya.


Aryan duduk dibangku yang berada di depan ruang bagian tata usaha begitu jelas jika untuk melihat Ana. Namun, tidak dengan Ana, karena pandangan ke ruang bagian tata usaha terhalang oleh tiang penyangga bangunan tersebut. Sehingga Ana tidak menyadari bahwa telah ada yang memperhatikan.


"Serius banget, lagi memperhatikan siapa ?" Tanya seorang guru wanita sembari menepuk bahunya pelan.


"Bu Devi, ada apa bu ?" Tanyanya tanpa basa-basi dan segera mengalihkan pandangannya menghadap Bu Devi.


Guru wanita yang diketahui namanya Bu Devi itu hanya mengerutkan kening. Namun, tak lagi bertanya pada Aryan. Dan langsung pada tujuannya mencari keberadaan Aryan.


"Ini, Bu Devi minta tolong, antar surat ini ke ruang kepala sekolah ya, mintakan tanda tangan dan jangan lupa bawa kesini lagi" Aryan menerima map biru yang diberikan Bu Devi dan mengangguk tanda mengerti tentang penjelasan guru tersebut.


"Oke siiap bu, kalo gitu Aryan permisi dulu bu" izinnya pada Bu Devi dan segera pergi menuju ruang kepala sekolah.


Ruang kepala sekolah berada di samping lobi sekolah sementara ruang bagian tata usaha berada di ujung sekolah. Akhirnya mau tidak mau Aryan harus melewati halaman sekolah yang luas untuk sampai di ruang kepala sekolah.


*****

__ADS_1


Bel tanda pelajaran berakhir sudah berbunyi dari beberapa menit yang lalu. Namun, Ana masih belum beranjak dari bangkunya, dia masih menyelesaikan sedikit pekerjaannya agar tidak ada beban tugas yang dibawanya pulang.


Tigapuluh menit berlalu, akhirnya Ana menyelesaikan tugasnya, dia pun segera membereskan alat tulisnya dan memasukkannya kedalam tas. Setelah dirasa tak ada yang tertinggal dia segera meninggalkan ruang kelasnya menuju parkiran motor yang berada di samping bangunan sekolahnya.


Namun, sepertinya hari ini dia berada dalam kesialan. Karena ketika dia sampai di parkiran, ban bagian belakang motornya kehabisan angin.


"Yaahh... Kog kempes sih, Trus gue pulangnya gimana donk ?" Ucap Ana meratapi nasib sambil jongkok disamping ban motornya yang kempes.


"Kenapa dengan motornya dek ?" sapa sebuah suara dari arah belakang tubuh Ana.


"Nggak tau, tiba-tiba aja ban nya kempes." Jawabnya sembari bangun dari jongkoknya dan berbalik ke arah yang sumber suara itu.


"Kak Aryan" Ana membulatkan matanya saat menyadari ternyata Aryan lah yang tengah menyapanya. Jantungnya serasa berhenti berdetak dan tanpa terkontrol matanya hampir saja mengeluarkan air mata.


Kini dia bertemu kembali dengan seseorang yang amat lama dia rindukan, seseorang yang selalu disebutkan dalam setiap alinea doanya, seseorang yang tak pernah hilang dari lubuk hatinya, dan seseorang yang sampai saat ini masih bersemayam di hatinya.


"Iya Ana ini aku" Jawab Aryan dengan senyum khasnya dengan lesung pipi yang menambah ketampanannya.


*****


Setelah mengantarkan motor Ana ke bengkel, Aryan mengajak Ana untuk menunggu motornya didalam cafe yang terletak di depan bengkel tersebut. Karena ada banyak hal yang ingin Aryan bicarakan dengan Ana. Dengan persetujuan Ana, akhirnya mereka melangkahkan kakinya menuju cafe tersebut.


Sudah 30 menit berlalu Ana dan Aryan berada di dalam cafe ini. Makanan pesanannya juga sudah diantar beberapa menit yang lalu. Namun, keduanya tidak ada yang mengawali pembicaraan. Hanya Aryan yang sedari tadi memperhatikan Ana yang sesekali menyeruput minumannya.


"Bagaimana kabar kamu Na ?" Tanya Aryan memecah keheningan.


"Aku baik kak, kakak sendiri ?" Jawab Ana mengalihkan pandangannya dari minuman menatap Aryan.


"Aku juga baik, bagaimana dengan tante Ida dan Om Fariz ?" Tanya Aryan lagi tangannya masih sibuk memainkan sedotan yang berada di minumannya.


"Alhamdulillah, mereka semua baik Kak." Jawab Ana sedikit salah tingkah karena Aryan kembali menatapnya lagi.


"Kenapa kamu pergi Na ? Kenapa kamu pergi tanpa pamit dulu ke aku Na ?" Tanyanya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Heehh..." Ana bingung mau menjelaskan bagaimana pada Aryan. Karena kepergiannya dulu juga karena Aryan. "Nenek meminta kami untuk kembali kesini, karena setelah kepergian kakek, tidak ada yang menjaga Nenek" Terang Ana tak sepenuhnya berbohong karena memang setelah kakeknya meninggal tidak ada yang menjaga nenek. Tapi setahun yang lalu, neneknya juga sudah berpulang kepada Allah. Jadi hanya Ana dan kedua orang tuanya saja yang berada dirumah peninggalan neneknya itu.

__ADS_1


"Jangan berbohong Na, kamu nggak pandai dalam hal itu. Tapi aku nggak ingin memaksamu untuk mengatakan." Jawab Aryan menskak alibi Ana."Tapi, aku mohon jangan pergi jauh lagi Na, jangan jauhi aku." Lanjut Aryan dengan tatapan sendu sembari tangannya memegang kedua tangan Ana.


Bersambung....


__ADS_2