Penawar Rasa

Penawar Rasa
03


__ADS_3

"Jangan berbohong Na, kamu nggak pandai dalam hal itu. Tapi aku nggak ingin memaksamu untuk mengatakan." Jawab Aryan menskak alibi Ana."Tapi, aku mohon jangan pergi jauh lagi Na, jangan jauhi aku." Lanjut Aryan dengan tatapan sendu sembari tangannya memegang kedua tangan Ana.


Deg. Satu kalimat yang dapat membuat Ana mematung ditempatnya bahkan nafasnya berhenti beberapa detik setelah kalimat itu meluncur mulus dari mulut Aryan. Memang kondisi jantung Ana tidak pernah normal jika harus berada di dekat Aryan. Tapi Ana pun menyukai hal itu. Berdekatan dengan Aryan. Ana menatap manik mata Aryan mencari kebohongan disana, namun dia tak menemukannya. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Kenapa ?" Tanyanya dengan begitu hati-hati setelah berhasil mengontrol detak jantungnya.


Aryan memutus kontak mata dengan Ana. Menyenderkan punggungnya pada senderan kursi. Tangan nya bersedekap sembari memicing matanya meneliti Ana dari atas sampai bawah.


"Lo masih tanya kenapa ?" tanya Aryan balik. Sifat aslinya mulai keluar. "Ya karena lo masih punya utang ama gue." Jawab Aryan dengan tatapan meremehkan pada Ana.


"Tuh kan baru aja beberapa menit ngomong, sifat aslinya dah nyampe ke permukaan." Gumam Ana hampir tak terdengar, tapi bukan Aryan namanya kalo tidak mendengar gerutuan Ana.


"Ngomong apa lo ?" tanya Aryan yang hanya mendengar samar apa yang dikatakan Ana.


"Nggak kok, gak ngomong apa-apa." Jawab Ana berkilah pada pertanyaan Aryan. Dan untung saja Aryan tidak memperpanjang masalah.


Ana bersedekap menatap Aryan dengan bingung. "Emang Ana pernah utang apa ya kak ama lo ? perasaan gue kagak pernah ngutang deh." Jawabnya sambil memikirkan kiranya hutang apa yang dia lupakan.


"Ck, ternyata setelah satu setengah tahun sifat pikun lo gak ilang ya Na, ni gue ingetin, bukankah lo pernah bilang ke gue, kalo nilai lo bagus pas kelulusan lo bakal traktir gue apapun yang gue minta. Eh ternyata ketika hari lulusan lo malah ngilang gak ada kabar." cerocos Aryan mengingatkan tentang janji yang pernah dibuat Ana.


"Yaelah kak, gitu aja lo masih inget ?" dengus Ana. "Ya udah, kak Aryan mau apa ? ayo biar Ana beliin sekarang." Jawab Ana pasrah, layaknya pengutang yang ditagih oleh rentenir.


"Nggak, gue lagi nggak ingin apa-apa sekarang." Jawab Aryan santai.


"Ni orang keliatannya nagih, ketika mau dibayar malah nggak mau, tapi kenapa gue suka ya ?, mana tambah keren dan ganteng lagi." Batin Ana mendumel tapi diakhiri dengan memuji.


"Ternyata kak Aryan gak pernah berubah ya, tetap nyebelin malah bertambah nyebelin." Ujar Ana yang mulai jengah dengan sifat Aryan yang satu ini.


"Tapi lo suka kaan ?" goda Aryan sambil menaik turunkan alisnya.


Mendengar kalimat Aryan yang tiba-tiba seketika membuat pipi Ana memanas, dia pun langsung membuang muka supaya Aryan tidak menyadari hal itu.

__ADS_1


"Sepertinya motornya dah selesai, aku harus segera pulang kak, takut kesorean nanti bunda nyariin." Ucap Ana mengalihkan pembicaraan.


"Gue antar ya Na ?" tawar Aryan pada Ana yang sudah beranjak dari duduknya. Aryan pun mengikutinya.


"Nggak perlu kak, rumah kakak kan jauh nanti pulangnya kemaleman, pasti tante Fatma khawatir" tolak Ana dengan halus senyumnya mengembang untuk meyakinkan Aryan bahwa dia bisa pulang sendiri.


Aryan sedih mendengar tolakan Ana, tapi dia juga harus menghargai pendapat Ana. Dia tak mau memaksa Ana. Dengan segera Aryan kembali menguasai dirinya dan tersenyum pada Ana.


"Ya udah, kalo gitu aku antar kamu kedepan ya." Kali ini tanpa persetujuan Ana, Aryan langsung menggandeng tangan Ana untuk keluar cafe dan menyeberangi jalan.


"Berapa pak ?" Tanya Aryan pada tukang tambal ban setelah sampai di bengkelnya.


"15 ribu mas." Jawab tukang tambal ban tersebut.


Ana dan Aryan sama-sama mengeluarkan dompetnya. Namun, Aryan langsung mencegah Ana ketika dia ingin membayar tukang tambal ban tersebut.


"Biar gue aja." Cegah Aryan lalu menyodorkan uang 50 ribuan pada tukang tambal ban tersebut. "Kembaliannya buat bapak aja." Pinta Aryan kemudian.


"Tapi kebanyakan mas." Jawab bapak itu yang enggan menerima kembalian yang jauh lebih besar daripada biaya aslinya.


"Terima kasih banyak mas." Ucap bapak itu pada akhirnya.


"Iya sama-sama." Jawab Aryan lagi.


Ana hanya menatap kagum dengan pria di hadapannya ini. Inilah yang paling Ana suka darinya, dia selalu bersikap sopan pada orang yang lebih tua, dan selalu dermawan dengan orang yang kurang mampu. Tanpa sadar Ana senyum-senyum sendiri memperhatikan interaksi keduanya.


"Eh, kenapa lo senyum-senyum sendiri kek orang gila, udah cepet pulang sana, keburu sore ni." Usir Aryan pada Ana. Mendengar itu Ana hanya melengos saja.


"Makasih ya kak." Pinta Ana memperlihatkan senyum terbaiknya.


"Iya sama-sama." Jawab Aryan sambil mendorong motor Ana yang berdiri karena tumpuan bagian tengah.

__ADS_1


Ana pun langsung menghidupkan mesin motornya dan menjalankan motornya membelah jalanan menuju tempat tinggalnya. Aryan hanya menatap Ana dari tempatnya berdiri sambil tersenyum samar. Kemudian dia menuju motor sportnya dan langsung menjalankan motornya untuk kembali ke rumahnya.


*****


Ana tiba dirumah pukul 4 sore, lebih sore dari biasanya. Dia langsung memarkirkan motornya ke garasi rumahnya. Dan langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamualaikum..." Salamnya ketika memasuki pintu utama rumahnya.


"Waalaikumsalam, kamu dari mana aja sayang, kok baru pulang ?" Jawab Ida langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Ana dengan raut wajah khawatir.


"Iya bunda, tadi pas mau pulang ban motornya kempes, jadi harus nunggu di bengkel dulu." Jawab Ana. Dia pun berjalan menghampiri Ida dan meraih tangannya dan menciumnya.


"Ya Allah Ana, kenapa nggak ngabarin bunda ?, ditelfon juga nggak aktif lagi, bunda khawatir sayang..." Berondong Ida pada putri semata wayangnya itu.


"Bundaa... Ana duduk dulu ya ?" Mendengar ceramah bundanya Ana hanya nyengir kuda. Dia pun berjalan menuju ruang makan untuk mengambil air minum.


"HP Ana lowbat bunda, jadi nggak bisa ngabarin bunda, lagian tadi juga ada kak Aryan kok yang bersama Ana." Terang Ana setelah berhasil meneguk segelas air yang diberikan Ida.


"Aryan ? Aryan siapa ?" Tanya Ida yang masih belum mengerti siapa yang dibicarakan Ana.


"Kak Aryan anak nya pak Harun, tetangga kita sewaktu dikota itu lo bun." Ujar Ana mengingatkan kembali Ida pada Aryan.


"Oooh... Iya bunda inget, yang ganteng itu kan anaknya ?" Jawab Ida dengan manggut-manggut setelah mengingatnya.


"Iih, bunda ini, kalo diingetin orang kalo nggak gantengnya ya cantiknya aja." Gerutu Ana dengan mengerucutkan bibirnya.


"Tapi iya kan ?" Tanya Ida balik pada Ana. " Tapi ngomong-ngomong kamu kok bisa ketemu sama Aryan sayang ?" tanya Ida penasaran.


"Jadi kak Aryan itu lagi magang di sekolahnya Ana, dan ketika Ana mendapati ban motor Ana kempes, kebetulan kak Aryan juga mau pulang, terus tau kalau ban motor Ana kempes, kak Aryan yang dorongin sampai ke bengkel dan nemenin Ana nungguin itu motor bun." Cerocos Ana antusias dengan ceritanya itu.


Namun Ida hanya mengerutkan kening ketika mendengar ocehan Ana. "Bukannya papanya Aryan itu pemilik yayasan pendidikan Taruna Bangsa ya ? kenapa harus magang di sekolah kamu yang jauh dari kota ?" tanya Ida membuat Ana diam seketika dengan pertanyaan bundanya.

__ADS_1


"Iya juga ya bun, kenapa harus jauh-jauh ke desa ya magang nya ?" Ana menjadi penasaran, kenapa Aryan tak memilih KPL di sekolahnya sendiri yang notabene lebih dekat dengan rumah dan kampusnya.


Bersambung....


__ADS_2