
"Lo bener ada hubungan spesial dengan Aryan ?" Tanya Dimas to the point. Matanya menatap Ana tajam.
Ana menatap Dimas dengan datar. Sejenak mereka saling bertatapan. Ana tak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan Dimas. Hingga akhirnya Dimas kembali membuka suara.
"Lo nggak mau jawab pertanyaan gue Na ?" Dimas masih keukeh dengan pertanyaannya.
Ana mengalihkan padangannya ke lain arah, asal tak melihat mata Dimas. Ia menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Dimas.
"Bukannya kemarin udah gue jawab kan ?, Udahlah gue mau berangkat. Udah siang, dan gue nggak mau terlambat." Jawab Ana dan segera beranjak meninggalkan Dimas.
Namun, belum sempat Ana melangkahkan kakinya. Dimas mencekal lengannya. "Gue nggk tau kenapa lo begitu menyembunyikan ini dari gue. Tapi gue nggak akan maksa lo untuk menjawab pertanyaanku." Dimas mengulaskan senyum getirnya. "Sepertinya udah hampir jam 7, lebih baik lo berangkat sama gue aja." Tawar Dimas dengan tulus.
"Tapi-"
"Gue nggak menerima penolakan Ana. Ayo cepat naik. Keburu telat !" Ajak Dimas yanh sudah lebih dulu naik ke motor sportnya.
Ana pasrah dan menuruti perintah Dimas. Setelah Ana naik keatas motor, Dimas segera menjalankan motornya.
*****
Motor yang dikendarai Dimas dan Ana memasuki gerbang utama sekolah. Sudah Ana duga bahwa ia akan menjadi pusat perhatian seluruh siswa. Karena ini adalah kali pertamnya Dimas membonceng cewek ke sekolah begitu juga dengan Ana. Membuat Ana hanya menundukkan wajahnya karena saking malunya menjadi pusat perhatian.
Walaupun sudah banyak yang mendengar gosip bahwa Dimas menyukai Ana, tapi tetap saja ada yang menatapnya dengan tatapan sinis. Mereka adalah dari kalangan kaum hawa yang menaruh perasaan pada Dimas.
Aryan yang saat itu tengah bersama dengan seorang perempuan juga ikut menoleh mendengar teriakan para siswi yang histeris. Dan betapa terkejutnya Aryan saat melihat Ana yang tengah dibonceng Dimas dengan motornya.
"Ar... Lo denger gue kan ?" Tanya Manda karena Aryan tak kunjung menanggapi kalimatnya.
"Sorry Da, gue kesana dulu." Aryan meninggalkan Manda dan berjalan menghampiri Ana dan Dimas yang masih berada di parkiran sekolah.
"Iihh... Kok gue ditinggalin sih ?" Manda hanya menatap kesal Aryan yang pergi meninggalkannya.
Sementara itu di parkiran sekolah
"Sumpah Dim, gue malu banget tau nggak ?" Ujar Ana saat telah turun dari motor Dimas.
Dimas mengernyitkan keningnya. "Lo malu barengan ama gue ?" Selidik Dimas.
"Maksud gue... Gue malu jadi pusat perhatian kaya tadi." Jawab Ana menjelaskan maksudnya.
Dimas tersenyum pada Ana. "Ooh Kirain malu jalan ama gue... Iya udah masuk yuk ! 5 menit lagi bel nih" Ajak Dimas dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan parkiran.
"Dim..." Panggil Ana ketika Dimas baru beberapa langkah berjalan. Spontan Dimas menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ana.
"Maafin gue ya..." Lanjut Ana dengan perasaan bersalahnya pada Dimas.
"Oke... Gue akan tunggu lo sampai lo siap bercerita ama gue." Dimas memegang pundak Ana dan tersenyum tulus pada Ana.
"Cerita apa ?" Tiba-tiba suara seseorang dari belakang Ana memutus percakapan mereka.
__ADS_1
Aryan datang dengan wajah kesal melihat Ana dan Dimas. Begitu juga dengan Dimas, selalu saja jika dia dekat Ana ada Aryan yang mengganggu semenjak dia magang disini.
"Bukan cerita penting kok kak, hehe" Jawab Ana sambil nyengir kuda.
"Gue ke kelas dulu Na, disini udaranya panas banget" Katanya dengan tatapan sinis ditujukan pada Aryan.
"Udah, pergi sono." Usir Aryan saat Dimas beranjak pergi.
"Aku ke kelas dulu ya kak ?" Pamit Ana pada Aryan.
"Nanti lo pulang sama gue Na." Tegas Aryan matanya lurus menatap Ana.
Ana bingung dengan maksud Aryan yang tiba-tiba memintanya untuk pulang bersama. Belum sempat Ana menjawab, tetapi Aryan sudah meninggalkannya.
"Aneh banget sih ? padahal kan aku belum jawab iya, kenapa dia pergi begitu aja ?" Gerutu Ana sambil berjalan pergi kekelasnya.
*****
Bel tanda pelajaran berakhir sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Tapi, Ana masih sibuk dengan buku-bukunya yang berserakan diatas meja. Dia melupakan bahwa hari ini tidak mengendarai motor sendiri.
Gerakan tangan Ana terhenti saat sebuah bayangan hitam tiba-tiba menghalangi sinar matahari saat ia menulis. Ana mendongakkan kepalanya dan memdapati Dimas tersenyum manis disampingnya.
"Ngapain lo disini ? lo nggak pulang ?" Tanya Ana yang bingung dengan kehadiran Dimas di kelasnya.
Cletak
"Auw" Ana mengusap-usap dahinya yang terasa panas karena jitakan dari Dimas.
"Ya Allah... Gue lupa kalo hari ini nebeng lo" Ana menepuk dahinya setelah dia tersadar karena lupa.
Ana segera memberesi buku-bukunya. "Lo pasti dah nunggu dari tadi ya Dim ? Sorry banget ya Dim ?" Ucapnya sambil mengemasi buku-buki kedalam tasnya.
"Oke... Gue maafin lo tapi ada syaratnya." Ujar Dimas tangannya bersedekap sambil berpikir.
"Hah ? Syarat ?" tanya Ana.
"Sabtu ini lo harus mau jalan sama gue." Kata Dimas dengan penuh semangat.
Ana segera beranjak dari duduknya dan segera berjalan keluar dari ruangan.
"Hem..." Ana hanya tersenyum menanggapi kalimat Dimas.
"Lo nggak setuju Na ?" tanya Dimas lagi. Tak ada senyum lagi di bibirnya.
"Anaa..." Teriak seseorang membuat Dimas dan Ana menghentikan langkahnya dan menoleh pada sumber suara.
"Lo udah selesai ? kita langsung pulang aja ya ?" Ujar Aryan saat tiba lebih dekat dengan Ana.
"Apa maksud lo ? Ana akan pulang sama gue" Ujar Dimas tak terima dengan kalimat Aryan.
__ADS_1
"Nggak, Ana akan pulang sama gue" Aryan tetap keukeh dengan pendiriannya.
"Aryaan..." Tiba-tiba seorang perempuan dengan almamater sama dengan Aryan datang ditengah perdebatan mereka.
"Ngapain lo kesini ?" Tanya Aryan to the point
"Lo kok gitu sih ? lo harus anterin gue pulang Ar." Rengek Manda dengan manja.
"Lo bisa pulang sama yang lain, yang searah dengan lo kan ?" Tanya Aryan geram dengan sikap Manda.
"Ar, kita harus bicarain ini. Ini menyangkut masa depan kita Ar." Paksa Manda.
"Udahlah, mending lo urusin cewek lo itu !" Ucap Dimas dengan senyum remehnya. "Ayo Na, kita pulang !" Ajak Dimas.
Melihat kedekatan Aryan dan Manda, membuat hati Ana tidak nyaman. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang bersama dengan Dimas. Toh, tadi dia juga berangkat dengan Dimas.
"Ana akan pulang sama gue." Ujar Aryan tajam seraya mencekal pergelangan tangan Ana saat hendak pergi dari hadapannya.
"Maafin aku kak. Tapi aku akan pulang bersama Dimas. Kakak anterin dia pulang saja." Kata Ana. Ia melepaskan tangan Aryan dipergelangan tangannya dengan pelan. Kemudian segera pergi meninggalkan Aryan dan Manda.
Aryan diam mendengar penolakan Ana. Walaupun halus tapi mampu membuatnya merasa terluka.
"Lo pulang naik taksi aja. Kita bicara lain waktu. Gue masih ada urusan." Katanya pada Manda sebelum meninggalkan tempat tersebut.
"Aryaan..." Teriak Manda gusar memanggil Aryan. Berharap Aryan akan menghentikan langkahnya dan berbalik padanya. Namun Aryan tetap berjalan pergi menuju tempat dimana mobilnya terparkir.
*****
Dalam perjalanan pulang, tak ada percakapan antara Ana dan Dimas. Karena Ana sedang sibuk menerka-nerka siapa sebenarnya gadis yang bersama Aryan tadi.
"Siapa dia ? apakah dia pemilik liontin itu ?" Gumam Ana dalam hati. Tergambar jelas raut kecewa diwajahnya.
Walaupun Ana tau jika Aryan mempunyai kekasih. Tapi tetap saja hatinya terasa sakit saat melihat Aryan bersama gadis lain. Itulah mengapa dia pergi, karena dia tidak akan bisa melihat Aryan tertawa bahagia sementar bukan dialah alasan dari kebahagiannya. Hal itu membuat hati Ana begitu terluka.
Dimas menghentikan motornya tepat didepan gerbang rumah Ana. Namun, Ana tak kunjung turun dari motornya padahal dia sudah berhenti beberapa menit yang lalu. Akhirnya Dimas memutuskan menoleh kebelakang. Dan dilihatnya Ana sedang melamun.
"Enak banget ya duduk di motor gue ?" Tanya Dimas menyadarkan lamunan Ana.
"Hah udah sampai ya ?" Ana gelagapan menjawab pertanyaan Dimas.
Ana segera turun dari motornya dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada Dimas sebelum masuk kedalam rumahnya.
Melihat Ana yang tampak murung, membuat Dimas tak bisa membendung rasa penasarannya. Akhirnya Dimas putuskan untuk bertanya.
"Ada apa ? bukannya tadi lo baik-baik aja ? kenapa sekarang lo murung gini ?"
Ana hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sebagai jawabannya untuk Dimas.
"Jemput gue jam 7 Sabtu ini." Ana mengulaskan senyumnya sebelum masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Apa ? Jadi lo mau ? Yess ?" teriak Dimas kegirangan dengan jawaban Ana. Dengan semangat Dia menjalankan motornya menuju rumah barunya disebelah rumah Ana.
Bersambung....