Penawar Rasa

Penawar Rasa
07


__ADS_3

Brukk


"Argh." Teriakan seorang perempuan yang tidak sengaja ditabrak oleh Aryan.


"Maaf aku nggak sengaja." Aryan berniat membantu gadis yang ditabraknya untuk berdiri. Namun, gadis itu hanya fokus pada celana trainingnya yang kotor dan tak menyambut uluran tangan Aryan.


"Kalo jalan liat-liat dong, jalanan masih lebar gini masih aja nabrak orang." Gadis itu menunduk membersihkan celana trainingnya dari tanah.


Aryan memperhatikan gadis yang tidak menyambut uluran tangannya. "Ana ?" Tanyanya terkejut ternyata gadis yang ditabraknya adalah Ana.


Ana mendongakkan kepalanya dan segera berdiri. Anapun juga terkejut dengan kehadiran Aryan yang berada dihadapannya.


"Loh kak Aryan ? kok pagi-pagi sudah ada disini ?" Tanya Ana penasaran melihat Aryan yang masih pagi sudah berada disekitar rumahnya. Mengingat Aryan yang selama ini tinggal dikota.


"Rumah lo daerah sini ?" tanpa menjawab pertanyaan dari Ana. Aryan pun malah balik bertanya.


"Iya kak, itu yang pagar hitam" Jawab Ana sembari tangannya menunjuk pada rumah lantai dua dengan pagar yang terbuat dari kombinasi besi dan kayu yang lumayan tinggi.


Aryan mengikuti arah tunjuk jari Ana. Ia pun menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Cepet banget sih lari lo" Tiba-tiba Dito datang dengan napas tersengal-sengal.


Aryan mengambil ponselnya yang terjatuh. Sudah tidak tersambung dengan mamanya, karena terjatuh cukup keras membuat ponselnya mati.


Dito heran dengan kehadiran gadis yang tidak dia kenali disana. Tapi, kelihatannya sahabatnya itu begitu akrab dengan gadis tersebut. Karena sudah dilanda rasa penasaran yang akut akhirnya Dito bertanya pada Aryan.


Dito menyenggol-nyenggol lengan Aryan. "Siapa dia ?"


"Dia Ana. Kenalin ini Dito sahabat gue." Aryan memperkenalkan Dito pada Ana.


Ana dan Dito saling berjabat tangan. Dito tersenyum ramah begitupun dengan Ana.


"Kak tadi belum jawab pertanyaan Ana lo," Ana mengingatkan tentang pertanyaan yang dia lontarkan pada Aryan.


"Pertanyaan apa sih An ?" Tanya Aryan bingung.


"Kakak pagi-pagi kok udah Ada disini ?" Ana mengulang pertanyaannnya lagi.


Sambil melanjutkan jalannya yang sempat terhenti, Aryan menceritakan kronologi kenapa dia bisa ada disana pagi-pagi sekali.


"Ouh jadi kak Aryan pindah ke kos sebelahnya musholla al muttaqin itu" Ana menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Anaa" teriak seseorang yang berada di teras rumah samping rumah Ana.


Mendengar namanya dipanggil, Ana menoleh kearah sumber suara. Ternyata ada Dimas yang baru saja membuka pintu rumahnya.


Dimas berlari keluar pagar ketika mendapati Ana yang berjalan dengan dua orang laki-laki yang begitu tidak asing baginya.


"Hai Dim" Balas Ana setelah Dimas berada didekatnya.

__ADS_1


"Kenapa dimana-mana selalu aja ada lo ya ?" Sindir Aryan dengan ketusnya.


"Ya nggak apa kali Ar, kan nemenin gue daripada gue jadi setan sendirian," Jawab Dito jengkel karena dari tadi hanya diabaikan oleh Aryan.


"Siapa juga yang mau jadi setan ? Yang ada gue tu jadi malaikat penolongnya Ana dari gangguan setan kaya kalian." Jawab Dimas tak mau kalah dengan Aryan.


"Heh lo nggak-"


"Haish.... Sudah-sudah. Kalian ini kenapa sih ?" Sergah Ana memotong kalimat Aryan.


"Dia duluan Na yang mulai." Dimas memberi pembelaan diri.


"Lo tau kan Na, siapa yang sama lo lebih dulu ? Dianya aja yang ikut-ikutan bikin bad mood aja" Gerutu Aryan.


"Stop, udah aku mau masuk kalian boleh pergi sekarang" Lerai Ana untuk mengakhiri perdebatan mereka.


"Gue kan mau ketemu sama tante Ida Na," Ucap Aryan dan segera membuntuti Ana.


Tidak hanya Aryan. Ternyata Dito dan Dimas juga ikut berjalan menyusul Ana yang sudah berjalan duluan. Ana tidak bisa mencegahnya, akhirnya dia hanya pasrah dengan tamu tal diundangnya.


"Assalamualaikum" Ana mengucapkan salam sambil membuka pintu.


"Ayo masuk," Karena sudah dipersilahkan masuk, akhirnya mereka bertiga masuk kerumah Ana.


Aryan kemudian memilih duduk disofa ruang tamu rumah Ana. Kemudian diikuti oleh Dito dan Dimas.


"Lo ngapain sih ikut-ikut kesini segala ?" Tegur Aryan pada Dimas yang juga ikut duduk disebelahnya.


Aryan hanya mendengus kesal. Entah kenapa ketika melihat Dimas selalu saja membuat mood Aryan selalu buruk.


Ana keluar dari arah dapur dengan membawa 3 gelas minuman beserta camilan. Diikuti Ida dibelakangnya yang sudah diberitahu Ana kalau ada Aryan yang ingin bertemu dengan Ida.


"Ya Allah, Nak Aryan bagaimana kabarnya kamu ?" Ida langsung duduk disamping Aryan dan memeluknya.


"Aryan baik tante, gimana kabar tante ?" Jawab Aryan setelah Ida melepaskan pelukannya.


"Silahkan minumannya dan camilannya" Ana mempersilahkan tamunya untuk mencicipi hidangan.


"Tante juga baik, maaf ya tante pergi nggak pamit ke kamu dan keluarga kamu." Jawab Ida tergambar jelas rasa bersalah di raut wajahnya.


"Iya, nggak papa tante Aryan mengerti kok." Jawaban Aryan langsung membuat Ida terkejut.


"Apa Ana memberitahu alasan mereka pindah ?" tanya Ida dalam hati. "Oh iya bagaimana kabar orang tua kamu ?" tanya Ida lagi.


"Alhamdulillah mereka baik tante." Jawab Aryan dengan mengulaskan senyumnya.


Dimas semakin tak mengerti dengan hubungan yang dimiliki Ana dan Aryan. Kemarin saat ditanya ada hubungan apa, Ana hanya menjawab nggak ada apa-apa. Tapi sekarang jika dilihat dari perlakuan orang tua Ana dengan Aryan berbalik 360 derajat.


"Apa sebenarnya hubungan Ana dan Aryan ? Apakah mereka punya hubungan spesial ?" Tanya Dimas dalam hati.

__ADS_1


*****


Aryan tiba dikos sekitar pukul delapan pagi. Setelah sarapan bersama dengan keluarga Ana dan mengobrol yang lumayan lama juga. Akhirnya Aryan memutuskan untuk segera kembali ke kos nya.


Karena keasyikan bertemu dengan Ana, Dia sampai lupa bahwa ponselnya tadi mati ketika mamanya menelpon. Aryan pun segera menghidupkan ponselnya kembali. Dan balik menelpon Mamanya.


"Assalamualaikum ?" Sapa Aryan setelah telpon nya tersambung.


"Waalaikumsalam, ya Allah sayang, kamu darimana aja sih ? kenapa ditelpon tiba-tiba mati tadi ? kamu tau mama udah khawatir banget sama kamu tadi sayang, lain kali jangan begini lagi ya ? Mama kira kamu kenapa-napa lo." Suara Fatma yang terdengar begitu khawatir di seberang telpon.


Aryan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. Setelah Fatma selesai dengan segala macam pertanyaannya, barulah Aryan menjawab satu persatu pertanyaan Fatma.


"Aryan tadi lagi joggging ma, karena Aryan mengangkat telpon sambil berlari, ponsel Aryan jatuh, terus ponselnya mati." Terang Aryan.


"Pantas saja tadi mama telpon lagi nggak bisa." Jawab Fatma sudah lega, karena putra kesayangannya tidak kenapa-kenapa.


"Tapi kenapa kamu baru telpon mama sekarang sih ?" Tanya Fatma lagi.


"Aryan tadi ketemu Ana ma, ternyata kos Aryan dekat dengan rumah Ana, Terus Aryan mampir kerumah Ana dan lupa deh mau telpon mama balik." Aryan menceritakan kejadian tadi pagi ke Fatma.


"Mentang-mentang ketemu cewek jadi mama dilupain gitu ?"


"Bukan begitu Ma... Oh iya mama ada apa telpon Aryan ?"


"Oh iya, lusa bisa pulangkan sayang ? soalnya papa mu mau undang temannya yang baru pulang dari Belanda untuk makan malam bersama dirumah." Ucap Fatma


"Ya Allah mama, Aryan baru kemarin lo berangkat ke kos, udah disuruh pulang ?" Protes Aryan dengan permintaan Fatma.


"Ya nggak apa sayang, usahakan pulang ya mama tunggu, Assalamualaikum" Fatma mengakhiri telponnya karena tidak mau mendengar protes dari anaknya lagi.


"Waalaikumsalam. Ya Allah mamaaa... Heran deh, selalu aja maksain" Aryan meletakkan ponselnya diatas meja dan pergi kekamar mandi.


*****


Ana segera mengemas buku-bukunya yang masih belum sempat ia masukkan setelah belajar tadi malam. Karena hari ini senin, maka dia harus segera berangkat untuk mengikuti upacara rutin yang dilaksanakan setiap hari senin.


Setelah menyantap sarapannya, Ana segera berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Ana barangkat ya ayah, bunda. Assalamualaikum" Ana menyalami satu-satu sebelum meninggalkan meja makan.


"Waalaikumsalam, hati-hati sayang" Jawab Fariz


Ana segera berjalan menuju garasi motornya. Namun, ada sebuah motor terparkir dan seorang laki-laki dengan seragam yang sama dengannya di balik pagar rumah Ana. Anapun segera menghampiri motor tersebut.


"Ngapain lo pagi-pagi dah ada disini ?" Tanya Ana pada Dimas yang terlihat melamun diatas motornya.


"Na, gue dah coba mencari jawabannya semalaman, tapi tetap saja gue nggak nemu." Dimas menatap Ana tanpa ada senyum jahil yang biasa dia tebarkan pada Ana.


"Kenapa sih ? lo sakit ?" Tanya Ana bingung dengan perubahan sikap Dimas yang 180 derajat.

__ADS_1


"Lo bener ada hubungan spesial dengan Aryan ?" Tanya Dimas to the point.


Bersambung....


__ADS_2