
Malam berhiaskan purnama menyinari hutan yang rimbun nan lebat, suara hewan penghuni hutan saling bersautan seakan sedang menikmati cahaya sang rembulan.
Namun di ketenangan malam itu jauh dari kata tenang, seorang wanita paruh baya kini sedang menghadapi kondisi antara hidup dan mati.
Cucuran keringat membasahi sekujur tubuh wanita paruh baya yang sedang berlari dirimbunnya hutan dengan sekuat tenaga tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Nafasnya memburu dengan hati dan pikiran yang dihantui rasa takut dan kalut. Sekelebat bayangan hitam tiba-tiba menghadang langkahnya, sekilas hanya satu bayangan namun bertambah menjadi lebih dari lima.
Wanita paruh baya sontak terkejut dan menghentikan langkahnya. Seketika itu juga ia mulai waspada akan apa yang menghadangnya.
“Cukup sampai disini kau bisa berlari, serahkan anak yang kau bawa itu!”
Sesosok bayangan hitam yang berada di depan wanita paruh baya perlahan melangkah menuju ke arahnya. Wanita paruh baya sontak mencoba mundur sambil mendekap seorang balita kecil yang sedari tadi bersamanya.
“Tidak akan pernah”, jawabnya singkat.
“Kau akan menyesal wanita tua, apalagi yang kalian tunggu. Bunuh dia sekarang!”
Mendengar perintah tersebut, lebih dari lima orang yang sedari tadi diam kini bergerak ke arah wanita paruh baya itu.
Nafsu membunuh sangat terlihat jelas dari tatapan mata mereka, tidak tanggung-tanggung mereka maju dengan masing-masing memegang mandau yang bilahnya mengkilat karena terkena cahaya rembulan.
Wanita paruh baya kini tidak punya pilihan selain melawan, awalnya ia pikir bisa lolos dari para orang-orang ini. Mereka dikirim oleh seseorang yang ditugaskan untuk memburu dirinya dan balita kecil yang bersamanya sekarang.
Dengan tangan kiri mendekap sang balita dan tangan kanan kini memegang sebuah keris sebagai senjata untuk mempertahankan diri.
Dua orang dari penyerangnya kini maju serempak dan ketika sudah dekat mereka melakukan tebasan menyamping dengan gerakan kombinasi.
Menyadari ia tidak bisa menghindar, wanita paruh baya melompat ke atas. Namun saat masih di udara terdapat seorang lagi yang kini mengayunkan mandaunya mengincar kepala wanita itu.
Serangan yang dilancarkan lawannya itu sangat cepat sehingga ia tidak terlalu siap, dengan segenap kemampuannya ia menahan tebasan itu dengan kerisnya.
TRAANNKKKK.......
__ADS_1
Mandau dan keris saling bertemu menimbulkan bunyi yang cukup kuat. Karena posisi wanita paruh baya tidak diuntungkan alhasil akibat benturan kedua senjata itu membuat keris wanita paruh baya tidak dapat sepenuhnya menahan kekuatan tebasan dari pemilik mandau.
Keris yang ia pegang kini terlempar disusul dengan tebasan mandau yang masih mengarah ke arahnya.
Sontak ia pun memutar badannya sebisa mungkin agar tidak terkena serangan. Nasib baik masih berada bersamanya, tebasan dari musuhnya berada tipis dari lehernya.
Jika terlambat sedikit saja mungkin kini lehernya sudah tergorok mandau yang digunakan musuhnya.
Wanita paruh baya mendarat di tanah sesaat kemudian namun belum sempat ia bersiap, tiga orang lagi dari musuhnya melayangkan tebasan brutal mengincar dirinya.
Mereka seperti kerasukan saat melakukan serangan itu yang membuat wanita paruh baya kini tersudut dan tidak banyak kesempatan baginya untuk menghindar.
Akhirnya karena terus didesak, sebuah tebasan tepat mengenai pahanya. Ia pun tersungkur ke tanah dengan cukup keras sampai membangunkan balita kecil yang sedari tidur dan kini menangis karena terbangun.
Suara tangisannya sontak menambah ramai suasana saat itu. Para penyerangnya kini mengelilingi dirinya dengan senyum semeringai, mereka melihat mangsanya kini sudah terluka dan tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi.
Seorang dari mereka mendekat ke arahnya dan menginjak luka yang ada di kaki mangsanya.
“Aaargggkkh....”, pekik wanita paruh baya.
Tanpa ia sadari kini musuh yang menginjak kakinya telah mengarahkan mandau ke arah lehernya sambil tersenyum menatapnya.
“Bodohnya kau wanita tua, jika saja kau tidak ikut campur dalam urusan kami nasib mu tidak akan menjadi makanan anj*ng-anj*ng kami nantinya, ha ha ha ha ha....”
Tawa dari orang yang berbicara kepadanya mengundang gelak tawa musuh-musuhny yang lain.
Mereka tersenyum puas dengan tatapan mengerikan ke arahnya. Belum lagi suara tangisan balita kecil yang ia dekap bersamanya.
"Serahkan anak itu dan akan ku berikan kematian yang cepat buat mu wanita tua, ha ha ha haaa....”
“Ti-tidaak...”, lirih wanita paruh baya menolak.
Tanpa peduli kat penolakan darinya, musuhnya tersebut meraih balita yang ia dekap secara paksa. Karena sudah tak mampu melawan dan darah serta rasa sakit yang ia terima tangannya tak mampu menahan lagi. Balita kecil itu kini sudah beralih tangan musuhnya.
__ADS_1
“Siapa yang ingin ambil bagian untuk melahap anak kecil ini?”
“Tentu saja aku, aku masih punya dendam pada kedua orang tua anak ini. Walau mereka telah mati di tangan tuan Nabau, tapi tidak ku sangka mereka punya anak jelek seperti ini!”, salah seorang dari mereka mengeluarkan suaranya.
Ia kemudian melangkah ke arah rekannya dan meminta agar temannya menyerahkan anak kecil tersebut. Tentu saja rekannya dengan sukarela memberikan anak kecil itu.
Setelahnya ia dengan teganya melemparkan balita itu ke atas dan bersiap menebasnya dengan mandau miliknya.
Rekan-rekannya yang lain begitu antusias melihat pembunuhan yang akan terjadi sebentar lagi, mereka sudah tidak tahan untuk mencicipi darah anak kecil yang bagi mereka itu adalah kenikmatan tiada tara.
AAAAAUUUUUuuuuuuuuuuuu.....
Aauuu... Auuuu.... Uuuuu....
Dari keheningan malam tiba-tiba terdengar suara yang menyilukan telinga saat mendengarnya, suara sang penguasa hutan di tempat itu. Sontak para pembunuh menjadi kaget dan bergidik ngeri, mereka tau itu adalah apa dan apa yang akan terjadi jika mendengar suara itu di hutan.
Mata mereka menjadi liar dan waspada akan sekitarnya, karena terpaku disebabkan suara itu mereka sampai tidak menghiraukan wanita paruh baya dan balita kecil itu.
Mereka tidak menyadari kalau balita kecil yang di lempar ke udara kini sudah hilang dan tak menampakkan lagi wujudnya.
Sejenak kemudian salah satu dari mereka menangkap sebuah sorot mata merah menyala dari kegelapan hutan yang tak terkena sinar rembulan.
Ggrrrrrrrr....... Ggrrrrrr.....
Sorot mat merah itu terus menyala menatap ke arahnya tanpa berkedip sedikitpun, lantas yang melihat diam terpaku akibat apa yang dilihatnya.
Rekan-rekannya yang melihat gelagat aneh dari salah satu rekannya kemudian menyadari akan apa mengintai mereka.
Sorot mat merah itu terus menyala menatap ke arahnya tanpa berkedip sedikitpun, lantas yang melihat diam terpaku akibat apa yang dilihatnya.
Rekan-rekannya yang melihat gelagat aneh dari salah satu rekannya kemudian menyadari akan apa mengintai mereka.
Nafas mereka menjadi berat dan tak beraturan sebab kini mata merah menyala itu perlahan mulai bergerak menuju ke arah mereka. Perlahan tapi pasti sosok tersebut akhirnya menampakkan wujud aslinya.
__ADS_1
Tubuh para pembunuh bergetar hebat sebab apa yang mereka takutkan sekarang sudah berdiri dengan tatapan mengerikan ke arah mereka.
“Bunuh semua belang!”