Pendekar Bahutai Merah

Pendekar Bahutai Merah
Runtuh


__ADS_3

"Kita harus memeriahkan berita gembira ini, umang bawakan arak terbaik yang kita punya", ayahanda Dara memberikan perintah disertai menyuruh agar Cakra duduk menemaninya.


Dara dengan sukarela pergi mencari arak yang diinginkan oleh ayahandanya. Sementara kini Cakra berhadapan dengan laki-laki tua saja di ruangan itu.


"Maafkan kelancangan kami, sebenarnya kedatangan kami berkaitan dengan sosok bernama Nabau", Cakra menerangkan maksudnya.


Saat kata-kata itu keluar dari mulutnya yang ia rasakan kini sebuah angin kencang bergemuruh di sekitarnya. Membuat barang-barang bahkan rerumputan berguncang tidak karuan.


Cakra baru menyadari angin kencang itu tidak ada yang mengenai sang laki-laki tua di depannya, sementara ia merasakan sesak akibat angin yang sangat kencang melibas-libas tubuhnya.


"NABAU KAU BILANG!!!", mata laki-laki tua tampak merah menyala menatap ke arah Cakra, "APA YANG KAU INGINKAN ANAK MUDA!? APA KAU KESINI SEBAGAI UTUSAN SILUMAN ITU!? JAWAB!!!"


Angin di sekitar Cakra tambah kencang setelah laki-laki tua menyelesaikan perkataannya. Cakra merapalkan tangan dan melakukan gerakan sambil membaca sebuah ajian yang ia kuasai.


Dengan ilmu kanuragan, ia memfokuskan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya. Ketika ia yakin ia kemudian memberikan serangan tapak ke udara, serangan nya ternyata berhasil membuat angin di sekitarnya berhenti dan tidak menyerangnya lagi.


"Hoo.... Hooo.... Anak muda ini ternyata mampu mengimbangi ilmu yang aku miliki, benar-benar pemuda yang menarik", batin laki-laki tua.


Cakra yang baru saja mendapatkan keseimbangannya sontak kembali waspada saat ia melihat sang laki-laki tua sudah tak berada di tempat duduknya. Sesaat kemudian ada sebuah hawa dingin yang begitu kuat mengarah ke lehernya.


Merasa itu sebuah ancaman ia tidak hanya diam, dengan cepat Cakra merunduk sambil memberikan sebuah tendangan ke arah belakang.


Ternyata hawa dingin yang ia rasakan tadi ialah sebuah pedang mandau yang begitu tajam, ia beruntung bisa menghindar dari serangan yang ia hindari tadi.

__ADS_1


Namun tidak hanya itu, kaki yang ia gunakan untuk menyerang ke arah belakang membentuk sebuah kayu yang begitu keras. Ketika ia baru menyadari itu pedang mandau kini mengarah lagi mengincar dirinya.


Gerakan pedang mandau tersebut begitu lincah seolah pedang dan pemiliknya sudah saling menyatu. Cakra akhirnya menyadari bahwa pemilik pedang mandau ialah laki-laki tua.


Laki-laki tua menyerangnya dengan wajah teramat marah, ia tidak hanya menyerang dengan pedangnya namun di tangan kirinya sebuah tameng berbentuk kotak panjang dengan sisi atas dan bawah yang runcing juga ia gunakan sebagai alat untuk menyerang Cakra.


Cakra masih disibukkan dengan serangan demi serangan yang ia terima, untungnya serangan itu masih dapat ia imbangi dan tidak butuh waktu lama ia memiliki kesempatan untuk menggunakan senjatanya yakni pedang Rawaja Putih.


Kedua pedang kini saling beradu menimbulkan percikan api dari setiap pertemuan kedua pedang tersebut. Gerakan lawannya begitu mulus seolah seperti air yang mengalir, laki-laki tua masih menyerang dengan begitu ganas sementara Cakra masih menahan serangan demi serangan yang dilancarkan lawannya saat ini.


Pertarungan keduanya membuat seisi ruangan menjadi rusak, laki-laki tua menyadari bahwa pedang yang digunakan oleh Cakra bukan sekedar pedang biasa.


Pedang itu mampu menahan kekuatan pedang mandau miliknya, ia menemukan bahwa kekuatan pedang Cakra dan pedang mandau miliknya tidak jauh berbeda.


Laki-laki tua mundur beberapa langkah setelah pedangnya berbenturan dengan pedang Rawaja Putih milik Cakra. Ia menancapkan tameng yang ia gunakan dan kini menggenggam pedang mandaunya dengan kedua belah tangan.


Cakra kini merasakan kejanggalan yang sebentar lagi akan terjadi, ia bersiap dengan pedangnya dengan posisi kuda-kuda dan kedua belah tangannya memegang erat pedang Rawaja Putih.


Sesaat kemudian laki-laki tua melompat ke atas dan memberikan sebuah serangan berupa tebasan ke bawah mengincar kepala Cakra.


Melihat serangan yang menuju ke arah dirinya, Cakra diam di tempat dan dalam waktu singkat menahan serangan lawannya menggunakan pedangnya.


Benturan pedang keduanya membuat seisi ruangan itu bergetar hebat, batu-batu kecil maupun besar mulai berjatuhan seiring getaran yang semakin kuat.

__ADS_1


Cakra dengan segenap kekuatannya terus menahan serangan laki-laki tua, sementara lawannya terus menekan pedangnya agar serangannya berhasil menembus pertahanan Cakra.


"Aba, Cakra, hentikan!!!", pekik Dara.


Dara baru saja datang dengan membawa dua buah kendi untuk Cakra dan ayahandanya. Baru saja ia masuk ke ruangan itu, ia disuguhi pemandangan pertarungan sengit antara kedua belah pihak.


Ia yang panik spontan berteriak agar keduanya menghentikan pertarungan yang saat ini masih berlangsung. Teriakannya ternyata di dengar oleh kedua petarung, Cakra dan laki-laki tua kemudian saling memisahkan diri satu sama lain.


Dara masih diam terpaku melihat pertarungan keduanya, tidak ia sangka saat dirinya pergi ayahandanya bertarung dengan Cakra. Dalam pikirannya entah apa yang membuat keduanya bertarung hebat seperti itu.


Belum sempat ia mencerna situasi sepenuhnya, tiba-tiba saja getaran dalam ruangan tersebut menjadi begitu kuat. Tidak lama kemudian ruangan yang menjadi tempat pertarungan mulai runtuh dengan batu-batu besar berjatuhan dari langit-langit goa.


"Ummmaaaannnggggggg!!!!!!!", laki-laki tua memekik ke arah anaknya saat ia menyadari sebuah batu besar kini berada di atas anak gadisnya tersebut.


Dara menatap ke arah ayahandanya sesaat dan tidak lama kemudian batu besar yang jatuh ke arah dirinya kini menimpa tubuh gadis cantik itu.


Laki-laki tua berlari dengan sekuat tenaganya menuju ke arah anak gadisnya tersebut. Sekilas ia melihat saat batu besar hampir mengenai anak gadisnya, anaknya tersebut meneteskan air mata tepat saat menatap dirinya.


Suara gemuruh batu-batu besar yang jatuh akibat runtuhnya ruangan begitu kuat sehingga membuat yang lain bisa mendengar dari jauh. Terutama Sima yang menyadari suara gemuruh itu berasal darimana.


Sima segera meninggalkan tempatnya dan berlari sekuat tenaga menuju ke arah asal suara gemuruh berasal. Sesampainya ia disana betapa terkejutnya ia sebab semua yang ia lihat kini sudah rata dengan tanah.


Batu-batu besar berserakan di tanah tempatnya berpijak sekarang, ia masih tercengang dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sima melihat sekeliling namun tidak ada seorang pun yang ia temui dalam reruntuhan.

__ADS_1


Sampai sebuah tangan keluar dari timbunan tanah dan batu-batu, tangan itu kini penuh dengan luka goresan akibat terkena batu-batu tajam.


Tidak hanya tinggal diam, Sima segera berlari menuju ke arah tangan itu. Ia menangkap tangan itu dan menariknya sampai sosok yang tertimbun akhirnya bisa keluar.


__ADS_2