
Kerumunan orang-orang sedari pagi sudah ramai layaknya rimbunan rumput. Semua mata tertuju pada upacara pemakaman laki-laki tua yang telah menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya tadi malam.
Semua orang begitu khidmat dalam upacara pemakaman itu, tidak sedikit yang meneteskan air mata atas kepergian ayahanda dari Dara.
Sosok yang mereka kenal tegas dan selalu melindungi setiap jengkal dari tanah tempat mereka berada. Rela berkorban sampai harus mempertaruhkan nyawa demi kehormatan suku mereka.
"Ritual ini kami namakan dengan Tiwah, ketika seorang manusia meninggal, rohnya tidak akan mati melainkan beralih tempat ke dunia roh, dan akan tetap disana sampai kematian kedua tiba", Dara menghela nafas sejenak, "Untuk itu, mereka yang telah meninggal perlu diantar ke dunia akhirat melalui tradisi Tiwah, agar bisa bersama dengan Sang Pencipta", terang Dara kepada Cakra yang berada di sebelahnya.
Cakra kini berdiri di samping Dara menemani gadis cantik itu dalam ritual pemakaman yang sedang berlangsung. Suasana semakin khidmat dan setelahnya ada beberapa orang yang datang menghampiri keduanya.
"Tunggu disini", pinta Dara.
Setelah berkata demikian Dara segera menghampiri orang-orang yang menghampirinya barusan. Dara melangkah menghampiri tempat dimana tubuh ayahandanya di letakkan di tengah-tengah ritual.
Tidak jauh dari tempat itu terdapat seekor kerbau hitam besar yang diikat di sebuah kayu bulat. Cakra mengamati dengan teliti apa yang akan terjadi berikutnya.
"Nganjanggggg!!!!!", seru ketua adat yang memimpin ritual pemakaman.
Setelah seruan itu terdengar tidak lama kemudian terlihat Dara mulai menari bersama dua orang gadis seusianya sambil mengelilingi tempat ayahandanya berada. Tarian sakral tersebut diiringi rapalan-rapalan yang keluar dari mulut sang ketua adat.
Cakra tidak mengerti akan rapalan-rapalan yang ia dengar sekarang, namun ia yakin itu seperti harapan agar arwah diterima di tempat seharusnya.
Dara mengelilingi tempat ayahandanya sebanyak 3 kali, saat sudah selesai sang ketua adat segera menghampiri Dara dengan sebuah tombak berada di tangannya. Ketua adat menyerahkan tombak itu kepada Dara dan dengan sikap lemah lembut Dara mengambil tombak dari ketua adat.
Kini dengan tombak di tangannya Dara melangkah menuju tempat dimana kerbau hitam besar berada. Dengan satu tarikan nafas Dara menusuk tubuh kerbau dengan tombak di tangannya.
SRRRUKKKKK!!!!!
__ADS_1
Mata tombak menembus jantung kerbau dan membuat elungan kerbau yang kesakitan. Dara tidak menghiraukan apa yang di dengarkannya, mata tombak itu terus ia tekan agar kerbau tersebut segera mati.
Tidak butuh waktu lama kerbau hitam besar itu pun akhirnya mati dan jatuh tersungkur ke tanah.
CRAAATTTT!!!!!
Dara menarik tombak yang ia tancapkan di tubuh kerbau, darah segar mengalir membasahi tanah sekitar kerbau hitam besar berada.
"Apa yang telah dilakukan oleh Dara adalah ritual ke dua setelah ia menari barusan", Sima menerangkan.
Cakra menoleh ke arah Sima yang kini berdiri di sampingnya, "Untuk apa kerbau itu dibunuh?", Cakra menatap ke arah kerbau kembali.
"Kepala kerbau yang sudah mati itu akan dikumpulkan dan digunakan sebagai makanan para roh. Sedangkan dagingnya akan disantap bersama-sama", terang Sima kembali.
Cakra hanya menganggukkan kepalanya tanda paham akan apa yang ia saksikan, setelah kerbau itu mati beberapa orang segera memindahkan tubuh kerbau itu ke tempat lain.
Api dengan cepat membesar dan membakar tubuh laki-laki tua, semua orang menyaksikannya dengan tatapan sedih dan tidak satupun dari mereka mengeluarkan suara.
Cakra menatap api yang berkobar di tengah-tengah ritual, ia masih membayangkan sosok yang ia temui dalam semalam kini sudah tidak ada lagi.
Alangkah terkejutnya Cakra setelah melihat ke arah Dara yang berdiri tidak jauh dari tempat pembakaran. Gadis itu terus menerus meneteskan air mata sambil melihat api yang membakar tubuh ayahandanya.
Cakra menggigit bibirnya, melihat kesedihan dari sang gadis membuat ia marah akan dirinya. Perasaan marah dan bingung bercampur aduk membuat pikirannya menjadi sakit.
Karena tidak sanggup ia hendak pergi dari ritual itu namun Sima dengan sigap menghadangnya, "Pergi dari sini adalah sebuah penghinaan terhadap para arwah tuan", Sima memegang tangan Cakra.
Cakra menundukkan kepala seraya berucap, "Semuanya salah ku, jika saja aku tidak menuruti kata hati maka...."
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa melawan takdir tuan, ingatlah tujuan tuan dan ingat juga apa yang telah ayahanda Dara berikan kepada tuan", potong Sima.
Cakra menatap tajam ke arah Sima, tatapan keduanya pun kini saling bertemu. Mata Sima begitu tegang menatap ke arah Cakra membuat dirinya kembali diselimuti amarah yang membara.
Ia kini memantapkan hatinya untuk terus melangkah dan terus melangkah. Ia yakin bahwa rintangan akan selalu datang namun semua akan mampu ia hadapi.
***
Tepat matahari sudah berada di puncak, ritual pun kini telah selesai. Beberapa orang sudah mulai beranjak meninggalkan tempat ritual berlangsung. Sementara ketua adat beserta Dara kini menghampiri tempat tubuh laki-laki tua dibakar yang menyisakan abu serta tulang belulang.
Dengan sebuah guci di tangannya Dara mulai memasukkan abu serta tulang belulang ayahanda nya ke dalam guci tersebut. Kegiatannya itu disaksikan oleh ketua adat yang terus menerus merapalkan mantra tanpa henti dari mulutnya.
Setelah semuanya di masukkan guci itupun ditutup rapat-rapat. Dara berdiri dan berjalan masuk ke dalam goa diiringi ketua adat di sampingnya.
Cakra dan Sima tidak tinggal diam, mereka berdua turut mengiringi dengan berjalan di belakang. Mereka terus berjalan sampai akhirnya tiba di tempat dimana reruntuhan goa berada.
Tepat disana ada sebuah bangunan berbentuk rumah kecil terbuat dari kayu. Begitu melihat itu Sima segera memberitahukan kepada Cakra bahwa rumah kecil itu biasa disebut Sangkaraya Sandung Rahung, "Rumah itu berfungsi sebagai tempat penyimpanan tulang belulang. Dengan begitu arwah tidak akan menggangu keluarga maupun orang lain", terang Sima.
Dara meletakkan guci yang ia bawa dalam rumah kecil itu dan sebelum ia pergi gadis cantik itu memberikan penghormatan terakhir kepada sang ayahanda.
Air matanya mulai mengering, ia memantapkan hatinya untuk menerima semua yang telah terjadi. Walau masih sakit tapi ia harus menghadapinya.
Kini ia masih punya tugas untuk membantu Cakra dalam menghadapi lawannya. Ia kemudian beranjak meninggalkan tempat itu meninggalkan Cakra dan Sima serta ketua adat yang kini sedang membersihkan alat ritual yang digunakan.
Sebelum ia meninggalkan tempat itu Dara berpesan agar keduanya tidak kemana-mana. Ia akan kembali sebentar lagi dengan membawa sesuatu.
Setelahnya tidak lama kemudian kini Dara datang dengan membawa sebuah kotak panjang yang terbuat dari kayu Meranti berwarna merah.
__ADS_1